Tidak Naik Kelas - Pendidikan - www.indonesiana.id
x

Kondisi Apip selanjutnya setelah dinyatakan naik kelas, saya bimbing dengan anak -anak yang lain. Untuk mengisi waktu luang agar anak - anak terhindar dari learning loss

eem ratnaningsih

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 23 November 2021

Kamis, 25 November 2021 08:42 WIB

  • Pendidikan
  • Topik Utama
  • Tidak Naik Kelas

    Setelah melalui perjuangan yang cukup sengit, akhirnya Apip dinyatakan Naik Kelas. Tak lama setelah yakin Apip dinyatakan naik kelas, kutemui Apip dan keluarga. Ekspresi gembira terlihat dari raut wajah Apip, ibu dan kakaknya yang ada saat itu. Ucapan terimakasih kepadaku tak hentinya diucapkan. Tak berhenti sampai disitu perjuanganku. Aku masih harus mengurus dan memfasilitasi Apip sampai lulus SD. Setiap hari Apip kerumah untuk belajar, kulaporkan kegiatan pembelajarannya kepada walas barunya di kelas VI. Buku tulis, pulpen dan alat tulis lainnya bahkan buku tema ku siapkan untuk Apip belajar. Ku jamu dengan segelas susu dan makanan ringan yang mungkin jarang sekali Apip temukan. Setiap selesai belajar dirumahku, kuberi beberapa rupiah uang saku untuk jajan. Tidak seberapa tapi cukup memotivasi Apip. Ucapan terimakasih tentunya Apip ucapkan. Hampir setahun Apip bersamaku, sudah seperti anak sendiri. Sekarang Apip sudah menyelesaikan semua kegiatan pembelajaran selama kelas VI dan akan melanjutkan kejenjang yang lebih tinggi. Terus ku bangun semangatnya, agar suatu hari dapat menunjukan kesuksesannya kepada siapapun. Apip yang dulu tidak naik, hanya karena tidak memiliki Hp untuk belajar.

    Dibaca : 43 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Tidak Naik Kelas

    “TIDAK NAIK KELAS”

    Oleh : Eem Ratnaningsih, S.Pd

     

    Tugas muliaku adalah mengampu kelas X untuk mapel Fisika, sebuah sekolah SMK swasta paling ujung kota Bekasi, karena hampir berbatasan dengan Kabupaten Bogor dan juga paling ujung dari Provinsi Jawa Barat yang lebih dekat dengan Provinsi DKI Jakarta. Sejak pandemi melanda seluruh dunia, termasuk Indonesia, saat itulah banyak waktu luang yang dimiliki para guru. Ada pepatah mengatakan waktu bagaikan pedang. Memaknai dari pepatah tersebut tak ingin melewatkan waktu luang ini dengan sia-sia, banyak kegiatan yang dilakukan. Salah satunya lolos mengikuti seleksi beasiswa S2 bagi guru yang diadakan oleh salah satu universitas yang cukup ternama. Selain kegiatan kuliah dan KBM daring, diisi pula waktu luang ini dengan mengikuti beberapa pelatihan online.

    Pandemi bukan hanya memporak-porandakan ekonomi dunia, bahkan dunia pendidikan. Sejak pandemi awal, kegiatan sekolah di semua jenjang dilakukan secara daring. Untuk kegiatan daring tentunya dibutuhkan alat canggih seperti smartphone. Smartphone atau telpon pintar, agar bisa mengikuti pembelajaran online harus terisi kuota. Tidak akan menjadi masalah untuk anak-anak yang orangtuanya mampu. Namun, ada beberapa anak yang jangankan untuk punya Smartphone yang terisi kuota, untuk makan sehari-hari saja sudah sulit.

    Seperti yang terjadi pada seorang anak SD kelas V, sebuah sekolah SD Negeri yang berada tidak jauh dari tempat tinggalku. Apip berasal dari keluarga yang tidak seberuntung anak lain. Apip anak ke 8 dari 9 bersaudara. Adiknya yang bungsu kelas I SD, kakak diatas Apip persis SMP kelas VII, diatasnya lagi SMK kelas XII. Kakak – kakak diatasnya lulusan SD dan SMP bekerja serabutan ada juga yang sudah berumahtangga dengn segala keterbatasan. Ayahnya tukang ojek sayur disebuah pasar di Kabupaten Bekasi yang dilakukan pada malam hari. Penyakit diabetes yang dideritanya membuatnya kadang harus berhenti mengojek karena ada luka yang tak kunjung sembuh dikakinya karena terjepit standar motornya ditambah dengan pola makan yang tidak terkontrol. Ibunya ibu rumah tangga yang hanya mengandalkan pendapatan suami.

    Selama pembelajaran jarak jauh hanya satu telepon genggam yang dimiliki oleh keluarga itu. Itupun bukan telepon genggam bagus seperti yang dimiliki oleh anak lain. Bayangkan, satu telepon genggam  untuk empat anak yang sekolah pada saat itu, menggunakan secara bergantian. Apip lebih memilih mengalah, sehingga hampir tidak mengikuti kegiatan pembelajaran jarak jauh sama sekali. Alhasil, ketika pembagian raport kenaikan kelas, Apip dinyatakan tidak naik kelas  dengan alasan tidak mengikuti kegiatan daring sama sekali selama tiga bulan menjelang ujian kenaikan kelas. Bak petir disiang bolong pasti orangtua mendengarnya. Seolah tak percaya, tapi nyata. Saat itu yang pertama kali selama tiga bulan pembelajaran online dari pihak sekolah datang mengunjungi Apip kerumah, itupun yang datang dari bagian tata usaha, dengan membawa berita yang membuat lemas semua keluarga. Sebelumnya tidak pernah dilakukan kunjungan untuk sekedar mengetahui kenapa Apip tidak mengikuti pembelajaran daring. Bukan hanya terjadi pada Apip, namun ada beberapa anak lain. Apip pasrah dengan keputusan sekolah. Beberapa anak lain yang bernasib sama dengan Apip memilih pindah dari sekolah itu atau ada istilah naik terbang.  Apip bersekolah di salah satu SD negeri yang berjarak tidak mencapai satu kilometer dari rumahnya.

    Memasuki bulan Juli, tahun pelajaran 2020/2021 pemerintah belum mengizinkan sekolah tatap muka. Berdasarkan data jumlah yang terpapar covid-19 meningkat, sebagai ikhtiar untuk memutus rantai penyebaran virus corona PJJ tetap dilakukan untuk semua jenjang, bahkan Work From Home pun dilakukan. Selogan 3M (mencuci tangan, menghindari kerumunan, memakai masker) marak di gembar-gemborkan baik di sosial media atau melalui spanduk yang bertebaran ditepi jalan. Sepekan setelah memasuki ajaran baru, terdengar suara sumbang pembelaan untuk Apip dari beberapa tetangga terdekat. Seolah supaya ada yang memperjuangkan karena dirasa tidak adil dan logika yang tidak masuk akal. Keesokan harinya terdengarlah masalah itu ke telinga saya. Mencoba mempelajari dengan seksama, dengan mengajak ngobrol keluarganya. Apip benar – benar pada kondisi yang sangat memprihatinkan seperti cerita pada bagian atas. Sedikit banyak saya tahu persis kondisi keluarga Apip dengan segala keterbatasan ekonomi.

    Jiwa sosial ku bergejolak. Kudatangi sekolah tempat Apip menimba ilmu. Banyak guru-guru hadir yang mungkin hanya sekedar absen finger, namun tak kutemui walikelas Apip. Ku temui bagian tata usaha untuk berbincang dengan Kepala Sekolah. Ku ceritakan musibah yang menimpa Apip. Kepala sekolah kukuh dengan pendiriannya bahwa Apip tidak naik kelas, karena selama tiga bulan sama sekali tidak melakukan pembelajaran. Ku tanyakan apa yang sudah bapak atau pihak sekolah lakukan terhadap Apip selama pembelajaran daring ? Kepala sekolah terdiam. Terus ku timpali dengan argumen-argumen yang menguatkan. Sedikit kewalahan untuk menjawab, beliau melemparkan aku untuk menemui Walikelas Apip.

    Tidak semudah itu untuk menemuinya , setelah beberapa hari kedepan baru bisa bersua. Hal sama kulakukan, kucecar bertubi-tubi pertayaan dan argumen pembelaan untuk Apip. Sama halnya beliau tetap kukuh. Tidak adakah penghargaan untuk Apip yang selama sembilan bulan kebelakang sudah mengikuti pembelajaran sebelum corona muncul. Perlu diketahui raport semester genap Apip tidak dibuatkan oleh walikelasnya, hanya dinyatakan tidak naik kelas. Kuceramahi beliau tentang kurikulum 13, yang lebih mengedepankan akhlak atau budi pekerti. Ku yakin beliau pasti lebih paham.” Apip anak yang baik, dia rajin sholat dan mengaji. Apip anak yang tidak seberuntung anak lain, tahukah bapak, jangan HP apalagi kuota buat makan saja mereka kesulitan. Tidak empatikah bapak yang sudah bertahun-tahun mengenal Apip disbanding saya yang hanya mengenal Apip sekilas”. Tetap pada pendirian. Dikeluarkan kamera hp nya untuk mengambil gambarku, aturan aku yang mengambil gambarnya, gumamku dalam hati. Silahkan Pak ambil saja, ku katakan padanya demikian.

    Sebenarnya tak ingin membuka diri kalau aku juga seorang pendidik. Sedikit banyak tahu tentang aturan dunia pendidikan. Kuanalogikan dengan muridku  selama pandemi. Ada beberapa murid saya Pak, yang tidak mengumpulkan tugas. Saya cari tahu kenapa tidak mengumpulkan tugas. Ternyata anak tersebut mengisi pandemi dengan bekerja sebagai kuli bangunan. Lalu saya minta anak untuk mengumpulkan tugas foto ketika anak tersebut bekerja. Itu salah satu penilaian yang saya lakukan. Anak sudah belajar bertanggung jawab dengan keadaan. Dari cerita tersebut, beliau terdiam tanda mengiyakan. Oh ibu guru juga, tanya nya. Itu penilaian yang ibu lakukan, iya jawabku. Setelah melalui perdebatan cukup sengit, akhirnya beliau memberikan lampu hijau. Tetapi beliau tidak mau menerima Apip dikelas VI  yang menjadi perwalian beliau. Apip dilempar kekelas satunya. Pikirku tak apalah yang penting Apip naik kelas VI.

    Dua hari berikutnya kutemui kepala sekolah untuk memastikan. Sangat kecewa dengan keputusannya. Apip dinyatakan naik kelas dengan catatan harus pergi dari sekolah tersebut. Tentu saja aku marah dengan keputusan itu, karena itu bukan solusi. Entah kenapa baik walas atau pun kepala sekolah seolah tak mau menerima Apip lagi. Bagaimana dengan temannya yang sudah tahu Apip tidak naik, tiba-tiba Apip sekarang naik kelas VI. Sudah kuduga itu pasti alasannya. Toh pembelajaran masih daring dan mungkin sampai kelulusan Pak, jadi tidak ada pertemuan anak dikelas, jelasku pada beliau. Mereka lebih mengedepankan egonya daripada kondisi psikis Apip. Akupun tetap pada pendirian, jika keputusan demikian saya tidak berkenan. Kuajukan beberapa syarat, jika Apip harus naik terbang, pihak sekolah harus mencarikan sekolah dan memfasilitasi semua kebutuhan Apip. Syarat yang pertama disetujui, namun syarat yang kedua beliau keberatan. Ku lihat wajahnya sangat kesal dengan ke ngeyelan ku. Seolah kehabisan cara atau argumen untuk menghadapiku. Tak lama, beliau berkata  ya sudah besok saya akan rapatkan dengan guru-guru lain. Ya Alloh dimana hati nuraninya. Saya berdiri dari posisi duduk, hahh masih mau dirapatkan, selama kurang lebih 10 hari kebelakang bapak ngapain saja. Keputusan ada di bapak, saya yakin semua guru setuju, kata ku waktu itu dengan sedikit nada emosi. Sedikit ku ancam, ku minta keputusan hari ini detik ini juga, Apip naik kelas dan tetap sekolah disini atau Apip naik terbang. Sepertinya beliau mulai paham dengan pendirian ku, aku tak kan tinggal diam jika tidak dikabulkan. Ada rasa ketakutan dan viral, dengan raut keterpaksaan akhirnya beliau menyatakan Apip naik kelas saat itu juga. Kenapa tidak dari kemarin-kemarin pak, gumamku. Tapi ku yakin ini cara Alloh untuk mempertemukan aku dengan mereka.

    Tak lama setelah yakin Apip dinyatakan  naik kelas, kutemui Apip dan keluarga. Ekspresi gembira terlihat dari raut wajah Apip, ibu dan kakaknya yang ada saat itu. Ucapan terimakasih kepadaku tak hentinya diucapkan. Tak berhenti sampai disitu perjuanganku. Aku masih harus mengurus dan memfasilitasi Apip sampai lulus SD. Setiap hari Apip kerumah untuk belajar, kulaporkan kegiatan pembelajarannya kepada walas barunya di kelas VI. Buku tulis, pulpen dan alat tulis lainnya bahkan buku tema ku siapkan untuk Apip belajar. Ku jamu dengan segelas susu dan makanan ringan yang mungkin jarang sekali Apip temukan. Setiap selesai belajar dirumahku, kuberi beberapa rupiah uang saku untuk jajan. Tidak seberapa tapi cukup memotivasi Apip. Ucapan terimakasih tentunya Apip ucapkan. Hampir setahun Apip bersamaku, sudah seperti anak sendiri. Sekarang Apip sudah menyelesaikan semua kegiatan pembelajaran selama kelas VI dan akan melanjutkan kejenjang yang lebih tinggi. Terus ku bangun semangatnya, agar suatu hari dapat menunjukan kesuksesannya kepada siapapun. Apip yang dulu tidak naik, hanya karena tidak memiliki Hp untuk belajar. 

     

     



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.