Fashion : Meniti Zaman dengan Udeng dan Tanjak - Humaniora - www.indonesiana.id
x

sangpemikir

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 6 Oktober 2021

Jumat, 26 November 2021 21:07 WIB

  • Humaniora
  • Topik Utama
  • Fashion : Meniti Zaman dengan Udeng dan Tanjak

    Pada era baru saat ini, memasuki dekade ketiga milenium, tren mode semakin individual. Ada mode yang dasar yang berlaku umum, namun karena begitu banyak variasi produknya, setiap orang punya kesempatan untuk memilih yang paling sesuai dengan selera pribadinya. Ini berlaku untuk tren baju, gaun, jaket, sepatu, penutup kepala dan banyak lainnya.

    Dibaca : 754 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Masing-masing punya gaya. Kaum urban Amerika Serikat (AS) masih terus menggandrungi jaket dan sepatu model streetwear. Konsepnya kebebasan gerak inndividu. Jaketnya tidak membuat ribet bila dipakai bersepeda atau bergelantungan di MRT. Sepatunya ringan dengan sol empuk, nyaman  buat jalan kaki. Mode itu telah samgat mendunia.

    Topi? Jenisnya masih itu-itu saja. Ada topi baseball, distro, army , snapback, dan seterusnya. Semua banyak pilihan warna, bentuk, aksen, dan harga. Begitu banyak pilihan, dan mudah diakses di gerai-gerai online, membuat semua produk itu melayani keinginan individual.

    Mode-mode yang mendunia itu telah diadopsi pula oleh khalayak muda Nusantara. Pada saat yang sama, muncul inisiatif individu dan kolektif, yang mengusung  gerakan menginkorporasikan atribut tradisional Indonesia dalam gaya sehari-hari. Sebut saja  inisiasi Remaja Nusantara yang mengajak kaum muda-mudi melestarikan kain khas Nusantara, juga disebut wastra.

    Di akun instagramnya, melalui  tagar #BerkainGembira dan #BerkainBersama, para pengikut akun Remaja Nusantara ramai-ramai mengunggah foto mereka yang mepadupadankan  kain batik atau tenun menjadi busana trendi, dipadukan dengan sepatu sneaker atau sejenisnya. Namun, langkah kreatif anak-anak muda itu masih harus  tawar-menawar dengan konsep streetwear yang mampu mendunia karena kepraktisannya.

    Kalangan anak muda yang lain menawarkan mode penghias kepala tradisional berselera milenial. Yang kini banyak terlihat di postingan medsos antara lain udeng Bali, iket kepala Jawa dan Sunda, kopiah batik, blangkon Jawa dan Sunda, Seraung Dayak, Tanjak Palembang, serta Kuluk Beselang Matuo, penutup kepala untuk perempuan neo-tradisional dari Jambi.

    Kepeloporan Presiden Jokowi

    Penghias kepala tradisional ini cukup mendapat sambutan. Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Sandiaga Salahuddin  Uno kerap terlihat mengenakan udeng  khas Bali  di kepalanya, dipadukan dengan kain warna senada dan celana Panjang kasual. Ia memakai sepatu streetwear.

    Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo sering  kali tampil  mengenakan busana adat Jawa lengkap dalam acara resmi daerah. Pada kesempatan lainnya, ia mengenakan busana khas Melayu, Minang, atau Maluku Utara. Pada acara setengah resmi, Ganjar memakai blangkon warok,  atau ikat kepala batik yang dipadu dengan jaket streetwear, celana jeans dan sepatu sneaker.

    Di Instagram pribadinya, Ganjar Pranowo memajang sejumlah foto dirinya dengan busana berbagai daerah, lengkap dengan penutup kepalanya. Ia gencar memperkenalkan busana Nusantara.

    Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil, Gubernur DKI Anies Baswedan, dan Walikota Bogor Bima Arya juga masuk dalam deretan pejabat daerah yang gemar mengenakan busana daerahnya, meski  tak selalu busana lengkap. Ridwan kamil dan Bima Arya suka mengenakan ikat kepala khas Sunda yang simple. Kadang mereka mengkolaborasikan dengan baju pangsi dan celana jeans. Pada acara resmi daerah, mereka pun sering tampil dengan busana adat lengkap.

    Gubernur Anies Baswedan pun tampak nyaman mengenakan busana tradisional Betawi, utamanya pada acara-acara resmi daerah, dengan beskap peci dan kain ala Teluk Belanga. Pada kesempatan yang lebih kasual, ia kenakan peci, baju pangsi dan celana kasual. Ciri kedaerahannya muncul.

    Tren pejabat mengenakan busana tradisional itu tentu tak lepas dari kepeloporan Presiden Jokowi. Di puncak upacara peringatan Hari Kemerdekaan RI 17 Agustus di Istana Merdeka, Presiden Jokowi tampil dengan busana daerah, berselang-seling, mulai  dari Lampung,  Aceh, Nusa Tenggara Timur, Bali, dan seterusnya. Pada acara yang sama, para Menteri dan pimpinan Lembaga negara yang ikut hadir, juga mengenakan busana tradisional pilihan masing-masing.

    Namun, apakah busana daerah itu hanya untuk dikenakan pada acara-acara seremonial, atau bisa dikenakan sebagai bagian dari busana sehari-hari. Presiden Jokowi memeloporinya, dan sejumlah pejabat seperti Menteri Sandiaga Uno, Gubernur Ganjar Panowo, Guburnur Ridwan Kamil, dan Pak Walikota Bogor Bima Arya, mencoba membawa ke tataran yang lebih praksis yakni sebagai bagian dari busana kasual.

    Inkorporasi Atribut Budaya

    Sebagai negara multikultural, jenis atribut khas Nusantara begitu beragam. Setiap daerah memiliki atribut dan busananya sendiri, termasuk untuk penutup kepala. Di Bali, kaum prianya mengenakan udeng. Belakangan, busana tradisional Bali dilirik orang dan dikenakan sebagai bagian dari busana sehari-hari. Bukan hanya Menteri Parekraf Sandiaga Uno, sejumlah pesohor seperti Raffi Ahmad, Ananh  Hermansyah, Irfan Bachdim, Stefan William dan banyak lainnya, memamerkan foto  yang mengesankan betapa mereka nyaman mengenakan udeng Bali.

    Tentang, seberapa penting atribut tradisional ini bagi kemajuan masyarakat, pertanyaan itu tentu membutuhkan kajian tersendiri. Namun, di balik warna, corak kain, serta bentuk dari busana dan atribut itu ada narasi tersendiri. Tidak ada salahnya mencoba membunyikan narasi lokal di tengah serbuan narasi asing yang bertubi-tubi.

    Udeng Bali misalnya, ia bukan hanya aksesoris. Udeng sesungguhnya memiliki makna filosofis bagi masyarakat Hindu Bali. Ada 3 macam udeng yang ditemui. Ada yang warna hitam, warna putih dan yang berwarna-warni serta bercorak. Masing-masing warna punya  tersendiri.

    Menurut Parisadha Hindu Darma Indonesia (PHDI) Bali, untuk acara keagamaan di Pura, ketentuan yang berlaku adalah pemakaian udeng berwarna putih. Ini membawa makna kembali kepada fitrah, kejernihan, kedamaian pikiran serta kemurnian diri. Untuk berkabung, udeng hendaknya berwarna hitam. Untuk kegiatan sosial udengnya boleh berwarna warni, dan bukan hitam atau putih.

    Udeng dibuat  dari lipatan kain, didesain  sebagai  karya seni, dan dijahit melingkar. Pemakaiannya tinggal menceploskan di kepala seperti topi dengan posisi  agak miring. Sisi kanan agak ditinggikan, yang dimaknai makna bahwa setiap orang harus berusaha mengarah pada kebajikan, yang ditandai dengan arah kanan. Ikatannya diposisikan persis di bagian tengah kening. Ini memaknai pemusatan pikiran.  Ujung ikatan dibentuk menjuntai lurus ke atas sebagai pemaknaan pemujaan Tuhan YME.

    Selain dari warnanya, udeng memiliki beberapa variasi model yang sedikit berbeda dengan masing-masing mengandung makna berbeda. Jenis-jenis tersebut di antaranya:

    Udeng jejateran

    Merupakan udeng dengan fungsi untuk aktivitas ibadah. Ssimpul hidup di bagian depan yang ada pada sela mata itu  melambangkan mata ketiga atau cundamani.

    Udeng dara kepak

    Udeng jenis ini ditujukan bagi tokoh pemimpin. Ciri khasnya adalah adanya penutup kepala, yang menjadi lambang pemimpin yang handal dalam melindungi rakyatnya.

    Udeng beblatukan

    Udeng ini secara khusus dipakai oleh pemangku adat dan tak disertai bebidakan. Memiliki ciri khas dengan simpul di belakang yang diikat ke arah bawah. Pemakaian ini memiliki makna harapan bagi pemakainya agar bersikap mendahulukan kepentingan khalayak katimbang pribadinya.

    Di luar Bali, masih ada banyak ragam model penutup kepala lannya dari berbagai daerah dan suku lain di Indonesia. Masing-masing dengan pemaknaannya sesuai budaya setempat. Sebut misalnya :

    Blangkon

    Penutup kepala bermotif batik asal Jawa dan Sunda itu biasa dipakai sebagai atribut upacara adat atau kegiatan sosial tertentu. Salah satu pemaknaan blangkon ialah pengendalian diri. Sementara pribadi dengan nafsu yang tid ak terkendali disimbolkan oleh lelaki dengan rambut panjang  yang awut-awutan. Blangkon menutup rambut yang riap-riap itu.

    Blangkon dibuat dengan lipatan yang serba teratur dan simetris. Detail dari desain blangkon bisa berbeda dari satu ke subkultur yang lain. Di Jawa saja ada Blangkon Jawa Timuran, Blangkon Solo, Jogya, Kedu, Banyumasan dan yang lain. Di samping itu ada pula blangkon Sunda dengan segala variasinya.

    Iket

    Iket kepala itu juga ada dalam budaya Jawa dan Sunda. Bahan iket adalah kain persegi, biasanya bermotif batik, ukuran sekitar 80 x 80 cm. Di Jawa, tali iket umumnya di belakang. Untuk tradisi Sunda ada yang tali ikatnya di depan, di tengah kening.

    Seraung

    Bentuknya persis caping di masyarakat  Jawa atau Sunda, yang terbuat dari anyaman bambu. Tapi, Seraung Dayak dibuat dari bahan yang berbeda, yakni dari daun pandan atau daun biru yang lebih lembut tekturnya. Seringkali seraung dilapisi kain, dihias dengan motif tertentu dan diperkaya oleh susunan manik-manik yang membentuk motif warna-warni.

    Seraung biasa dipakai untuk aktivitas di luar ruangan, bahkan bisa digunakan untuk perjalanan di dalam hutan atau berlayar menyusuri sungai.  Bentuknya yang lebar berfungsi untuk melindungi kepala dari terik matahari, hujan dan resiko serangan ular pohon.

    Tanjak

    Penutup kepala asal Palembang yang dibuat dari kain songket. Tanjak biasa dikenakan pada acara resepsi pernikahan oleh keluarga pengantin pria. Selain di upacara pernikahan, di berbagai acara adat tanjak juga kerap digunakan. Dengan motif dan warnanya yang keren, anak-anak muda kini sering mengenakan tanjak dalam acara-acara tidak resmi, yang dipadukan dengan busana kasual dan sepatu sneaker.

    Kuluk Beselang Matuo

    Dalam tradisi Jambil, dalam seremoni adat seperti resepsi perkawinan, kaum perempuan, tua atau muda, sering tampil dengan kepala dibalut kuluk beselang matuo. Untuk keperluan kuluk beselang matuo ini diperlukan kain panjang seperti selendang, satu atau dua helai. Bentuknya bisa beragam, namun ciri khasnya adalah adanya satu ujung kain yang dibiarkan terjuntai sebagai aksen.

    Di atas lipatan kain itu bisa dipasang aksesori manik-manik atau hiasan logam. Kualitas aksesori itu dapat  menggambarkan status sosial pemakaianya. Kuluk beselang matuo ini mirip dengan  turban, lilitan kain di kepala perempuan bangsawan dari Kesultanan Mugal di India abad-16. Belakangan, model lilitan kain ala kuluk beselang ini sering terlihat dikenakan anak-anak muda dalam berbagai acara, yang yang resmi maupun yang kasual.

    Masih banyak hiasan kepala tradisional lainnya. Semuanya bisa dirancang ulang, tanpa mengubah filosofinya, dan dikenakan sebagai fashion. Ada sentuhan estetika, pesona etnik dan simbol budaya, di sana. Bila memenuhi tuntutan kepraktisan, berbagai macam penutup kepala khas  Nusantara itu bisa menjadi produk yang  diterima secara lintas negara dan lintas budaya.

    Kekayaan budaya bisa tumbuh menjadi kekuatan budaya. Bila merasa  memiliki budaya yang kuat dan adaptatif, warga masyarakat tak akan gamang berpijak pada budaya sendiri seraya meniti jalan  melintasi zaman yang cepat berubah dan penuh tantangan.

    Ikuti tulisan menarik sangpemikir lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.