Sihir Challenge di Media Sosial yang Melenakan - Urban - www.indonesiana.id
x

ilustr: Internet Matters

Rachma Tri Widuri

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 25 November 2021

Sabtu, 27 November 2021 06:03 WIB

  • Urban
  • Topik Utama
  • Sihir Challenge di Media Sosial yang Melenakan

    Aneka tantangan yang hilir-mudik di lini masa begitu menyihir pengguna Instagram. Bermula dari sekadar melihat story Instagram temannya, tiba-tiba mereka tergerak mengikuti. Antusiasme dan dorongan untuk tidak mau ketinggalan ini kadang kala membuat pengguna Instagram terlena. Mereka ingin ikut meramaikan lini masa. Apalagi, mereka merasa tantangan itu tidak ada masalah. Hati-hati, karena di balik ini kadang ada praktik penipuan.

    Dibaca : 770 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Lini masa di media sosial Instagram beberapa minggu terakhir tampak meriah dengan aneka challenge atau tantangan yang disediakan di story. Lewat fitur Add yours, pengguna Instagram dapat mengikuti jejak teman-temannya untuk mengunggah foto, sesuai dengan yang diminta oleh pemrakarsa challenge. 

    Beragam tantangan tersedia di sana, dari yang sekadar lucu-lucuan hingga menyerempet privasi, bahkan akhirnya membahayakan data pribadi. Sebut saja tantangan “Foto terakhir di galerimu”, “Anak perempuan teman cerita dan berantem”, “4 negara yang kamu kunjungi”, hingga “Sebutkan nama-nama panggilan akrabmu.”

    Aneka tantangan yang hilir-mudik di lini masa itu bisa begitu menyihir pengguna Instagram. Bermula dari sekadar melihat story Instagram temannya yang lucu-lucu itu, tiba-tiba mereka ikut tergerak untuk mengikutinya dengan mengunggah story yang sama dengan tantangan yang dibagikan teman-temannya. Antusiasme dan dorongan untuk tidak mau ketinggalan ini kadang kala membuat pengguna Instagram terlena, tidak lagi waspada, karena ingin buru-buru ikut meramaikan lini masa. Apalagi, mereka merasa tantangan itu tidak ada masalah, toh hampir semua temannya sudah ikut meramaikan dan baik-baik saja. Yang penting tak ketinggalan tren, alias tetap trendy.

    Namun, euforia tantangan ini seketika berganti menjadi keraguan bahkan ketakutan setelah seorang warganet mengunggah pesan di Twitter bahwa temannya baru saja tertipu setelah ikut meramaikan pesta challenge di Instagram.  Ternyata, temannya tersebut telah mentransfer sejumlah uang kepada seorang penipu.

    “Pagi td temen sy tlp, nangis2 abis ditipu katanya. Biasalah, penipu yg tlp minta transfer gtu. Yg bikin temen sy percaya, si penipu manggil dia “pim”. “Pim” adlh panggilan kecil tmn sy, yg hanya org deket yg tau,” kicau akun @ditamoechtar_ pada Selasa 23 November 2021 pagi.

    Awalnya penipu menyakinkan korbannya tersebut dan berpura-pura sebagai kawan lamanya. Korban percaya saja karena penipu mengetahui nama panggilan masa kecil korban yang biasa dipanggil dengan sebutan ‘Pim’. Setelah dana tertransfer, barulah ia sadar bahwa sebelumnya ia baru saja “Yang bikin temen saya percaya, si penipu manggil temen saya ‘Pim’ itu adalah panggilan kecil temen saya,” @ditamoechtar_ menjelaskan.

    Meski Meta (induk perusahaan Instagram) belakangan menyatakan telah menghapus konten yang membagikan, menawarkan, serta mengumpulkan informasi identitas pribadi atau informasi pribadi lain yang dapat menyebabkan kerugian fisik atau keuangan, the damage has done. Terlambat.

    "Privasi dan keamanan informasi data pribadi pengguna merupakan hal fundamental yang sangat penting bagi Instagram. Kami berupaya keras untuk menjaga informasi dan identitas pribadi pengguna, dan kami tidak memperbolehkan pengguna memposting informasi pribadi atau bersifat rahasia, baik tentang diri mereka sendiri maupun orang lain," kata representatif Meta dalam keterangan pers, Rabu 24 November 2021. Tapi nasi sudah menjadi bubur. 

    Perasaan ingin selalu terhubung dengan komunitas atau teman-teman di media sosial lagi-lagi telah menelan korban. Tapi, teman pengguna Twitter itu masih sedikit beruntung karena hanya mengikuti challengenama panggilan masa kecil. Di luar itu, ternyata juga ada tantangan “Siapa nama ibu kandungmu”, “Sebutkan tanggal lahir” dan aneka pertanyaan lain yang mengarah pada data-data yang biasa digunakan sebagai alat verifikasi perbankan. Bayangkan jika orang itu ikut tantangan seperti itu juga, kerugian akibat rekening banknya dibobol pasti lebih besar.

    Hakikat media sosial sendiri memang berfokus pada eksistensi pengguna dan memfasilitasi mereka dalam beraktivitas maupun berkolaborasi. Dalam buku “Understanding Social Media Logic” (2013), José Van Dijk menyebut bahwa media sosial dapat dilihat sebagai medium (fasilitator) online yang menguatkan hubungan antarpengguna, sekaligus sebagai sebuah ikatan sosial. Ikatan sosial inilah yang kadang tanpa sadar mendorong seseorang untuk membagi “terlalu banyak” kepada komunitasnya (oversharing). Batas tegas data pribadi menjadi pudar jika sudah terikat secara sosial dengan komunitas, pun di dunia maya.

    Fenomena challenge Add yours di Instagram yang dalam waktu singkat telah berhasil membuat semua orang dengan sukarela berpartisipasi, bahkan terkesen berlomba-lomba dan adu cepat itu nyata membuktikan bahwa logika media sosial menurut Van Dijk benar adanya. Sesuai pendapat Meike dan Young (2012), media sosial benar-benar nyata menjadu wujud konvergensi antara komunikasi personal dalam arti saling berbagi di antara individu (to be shared one to one) dan media publik, untuk berbagi kepada siapa saja tanpa ada kekhususan individu.

    Terhipnotis oleh mantra “segera berbagi ke orang-orang sedunia Instagram”, alarm kehati-hatian dan nalar warganet untuk menjaga data-data pribadi pun terabaikan. Hal ini diperparah oleh fenomena FOMO (Fear of Missing Out).  Dalam bukunya “Fear of Missing Out” (2020), Patrick McGinnis mengatakan bahwa saat ini FOMO sudah merasuki setiap kelas sosial, bukan lagi isu yang dialami segelintir orang dari kelas tertentu saja. FOMO sudah berubah menjadi penyakit massal yang bisa menjangkiti siapa saja di seluruh dunia, berkat kuasa media sosial yang luar biasa.

    Oxford English Dictionary bahkan telah memasukkan FOMO sebagai kosa kata baru pada 2013 silam.  Oxford mengartikan FOMO sebagai kecemasan akut akan ketinggalan. Kecemasan mereka timbul karena khawatir bahwa mungkin ia telah ketinggalan peristiwa yang menarik atau menarik mungkin terjadi di tempat lain.

    Kecemasan ini sering kali dibangkitkan oleh unggahan yang terlihat di berbagai media sosial. Dalam kasus ini, fitur Add Yours di Story Instagram lah yang membangkitkan FOMO penggunanya, sehingga mereka tak lagi hati-hati, tak selektif dan bahkan cenderung ceroboh dalam memilih tantangan.

    Di Indonesia, hal ini mungkin juga terkait dengan literasi digital masyarakat yang masih rendah. Data Kementerian Dalam Negeri, Indonesia menempati peringkat ke-62 dari 70 negara berkaitan dengan tingkat literasi. Artinya, Indonesia berada di posisi 10 negara terbawah yang memiliki tingkat literasi rendah. Hal ini berdasarkan survei yang dilakukan Program for International Student Assessment (PISA) yang di rilis Organization for Economic Co-operation and Development (OECD) pada 2019.

    Ironisnya, Indonesia boleh rendah di tingkat literasi, tapi tingkat aktivitasnya di media sosial justru tertinggi di dunia. Data We Are Social 2020 menempatkan warganet Jakarta (belum termasuk kota-kota lain di Indonesia), sebagai pengguna Twitter yang paling cerewet dan aktif di dunia. Total, minimal 10 juta cuitan dilontarkan oleh warganet dari Jakata dalam sehari. Angka ini jauh melebihi cuitan warganet dari kota-kota besar lain di dunia seperti Tokyo, London, New York dan Sao Paulo. Padahal tentunya, penduduk kota-kota besar ini memiliki tingkat literasi yang jauh di atas Indonesia.

    Dua hal kontradiktif inilah yang menurut penulis membuat warganet Tanah Air sering abai dan tidak berhati-hati dalam bermedia sosial. Ujung-ujungnya, data pribadi terkuak, lalu akhirnya menjadi korban penipuan.

    Bagaimana tidak? Literasi kurang, sementara hasrat untuk mengunggah apa saja agar mereka terikat secara sosial dengan komunitasnya di media sosial, sangat menggelegak. Hal ini masih ditambah dengan kecemasan warganet yang takut atau merasa kurang update (kudet) jika tak mengikuti apa yang telah dilakukan teman-temannya (FOMO).

    Salah satu solusi atau jalan tengah di zaman yang serba digital dan serba media sosial ini adalah dengan mengedepankan prinsip kehati-hatian (prudent) dalam berelasi di dunia maya. Sejak dini,  pengguna media sosial sudah harus selalu diingatkan untuk tak hanya hati-hati saat bertemu langsung dengan orang asing, namun justru lebih waspada jika berada di dunia maya yang melibatkan komunitas tak terbatas. Prinsip perlindungan data pribadi harus dipegang teguh, sehingga tak mudah tergoda jika ada tantangan segala model di media sosial manapun. Jangan sampai oversharing, atau berlebihan membagikan data, foto, video, atau keterangan apa saja tentang diri dan keluarganya di jagad maya. Dengan demikian, warganet bisa tetap eksis, namun tak tersihir aneka tantangan yang menjebak di media sosial, yang bisa merugikan mereka.

    Rachma Tri Widuri S.Sos., M.Si
    Pengajar dan Pegiat Literasi Media Digital
    Dosen Produksi Media Politeknik Tempo Jakarta



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.

    Oleh: Nadilla Madjid

    1 hari lalu

    6 Tanda Kamu Cocok Menjadi Teknososiopreneur ala Mahasiswa Universitas Trilogi

    Dibaca : 107 kali

    Hadirnya virus COVID-19 sampai saat ini merupakan suatu tantangan yang besar bagi seluruh masyarakat di penjuru dunia begitupun di Indonesia, kemunculan virus tersebut bahkan berhasil mengguncangkan perekonomian hingga jatuh merosot di beberapa negara. Dan nasib terburuknya adalah terkena PHK dikarenakan pendapatan perusahaan kian menurun drastis. Berdasarkan data Kementerian Ketenagakerjaan yang dirilis 11 April, lebih dari 1,5 juta orang Indonesia telah kehilangan pekerjaan karena imbas pandemi COVID-19. Sebanyak 10,6 persen atau sekira 160 ribu orang kehilangan pekerjaan karena PHK, sedangkan 89,4 persen lainnya dirumahkan. Dengan adanya peristiwa tersebut mengakibatkan tulang punggung keluarga harus mengurangi jatah kebutuhan keluarganya. Dan berdampak pengurangan jatah uang saku atau kebutuhan anaknya yang menjadi mahasiswa. Lantas, apa solusi yang bias dipertimbangkan untuk mahasiswa tersebut? Alangkah baiknya apabila kita mampu melihat masalah ini semua dengan bijak, bisa menjawab tantangan, dan tangguh menghadapi semua persoalan. Salah satu cara yang dirasa cukup ampuh adalah menumbuhkan dan menguatkan jiwa wirausaha terutama dikalangan milenial. Banyak mahasiswa yang tidak memiliki penghasilan sendiri untuk memenuhi kebutuhannya, hanya mengandalkan uang saku dari orangtua saja. Hal tersebut menjadi beban tersendiri untuk mahasiswa tersebut. Karena kebutuhan terus bertambah sedangkan pendapatan hanya itu-itu saja. Penghasilan bisa dicari dari mana saja. Salah satunya menjadi seorang teknososiopreneur. Lalu, apa ajasihh tanda kalau mahasiswa tersebut cocok dan bisa menjadi teknososiopreneur. Disusun oleh : Kelas INOVASI ( Nadilla Madjid, Anik Kristiana, Winda Dwi Oktaviani, Wulandari Purnama Santi, Yasmin Fitria )