Juara di Atas Rintihan - Analisis - www.indonesiana.id
x

Muhamad Hariun

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 25 November 2021

Senin, 29 November 2021 05:47 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Juara di Atas Rintihan

    Cerita dalam artikel ini mengambil latar sebuah lapangan yang sering dijadikan arena latihan untuk berbagai kegiatan. Latihan berjalan sesuai dengan rencana sampai pada pencapaian prestasi di ajang perlombaan dalam berbgai level. Namun ironisnya mental berlatih dan mental berlombah tidak sejalan dengan mental peduli khususnya peduli lingkungan. Ketika latihan bubar maka pemandangan akan banyaknya sampah berserakan di area sekitar lapangan tempat latihan dilakukan. Lapangan adalah bagian kecil dari bumi tempat berpijak. Bagian bumi yang lain akan selalu mendapat giliran untuk tersakiti dan merintih akibat ulah kurang pedulinya manusia terhadap lingkungan.

    Dibaca : 177 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    JUARA DI ATAS RINTIHAN

    Seperti biasanya hampir setiap akhir pekan sekumpulan anak rutin latihan. Salah satunya adalah kelompok latihan baris-berbaris. Latihan tersebut telah menjadi program yang tertuang dalam organisasi mereka. Sungguh luar biasa seakan-akan jiwa disiplin berlatih telah terpatri dalam dada. Mulai dari hentakan kaki yang menapak dengan kerasnya hingga pada gerak berirama ayunan tangan dan kaki mereka. Yel-yel diteriakkan dengan lantang dan penuh semangat. Ada Si Putih dan Si Abu dalam barisan itu. Keduanya cukup mencolok diantara teman-temannya.

    Makin bertambahnya hari, kekompakan barisan dan semangat mereka berlatih terus menunjukkan kemajuan. Meski panas terik mendera tubuh mereka tak bergeming sedikitpun. Keringat bercucuran membasahi tubuh mereka. Latihan terus berlanjut dan sesekali diselingi istrahat. Untuk mengembalikan energi dan cairan tubuh yang hilang kebanyakan dari mereka mengkonsumsi makanan dan minuman instant. Tidak terkecuali Si Putih dan Si Abu juga melakukan hal yang sama. Semua menikmati makanan dan minuman terkesan terburu-buru seakan ingin dengan cepat menghilangkan dahaga yang dirasakan saat berlatih. Tapi sayang beribu sayang dan di luar dugaan! Di balik derap langkah yang tegas dan berirama mereka muncul masalah yang begitu miris sekali. Satunya langkah, gerakan, irama, dan yel-yel membuat mereka larut dan mabuk dalam kesenangan. Mereka sampai lupa kalau mereka pernah membaca. Mereka juga lupa kalau pernah mendengar dan bahkan pernah melihat. Apa yang mereka pernah baca, dengar dan lihat? Apa yang terlupakan? Penonton pun mengalami hal sama. “Ssst … ada yang berserakan”. Gerak mereka menjadi tak terkendali saat setelah menikmati snack dan minuman ringan. Entah apa yang terjadi, tapi itu bukan karena pengaruh dari gangguan makhluk halus. Kemasan-kemasan makanan dan minuman terlempar ke berbagai penjuru dan menghentak ke tanah dengan irama yang tak seindah bunyi hentakan kaki. Inikah yang disebut latihan? Latihan apakah ini? Jawabnya yah, itulah pemandangan rutin yang selalu hadir saat latihan. Latihan apapun.

    Akhirnya tibalah saat yang dinanti-nanti. Ada penyelenggaraan lomba baris-berbaris yang diadakan di tingkat kota. Kelompok Si Putih dan Si Abu ikut mengambil bagian dalam perlombaan tersebut. Mereka melakukan persiapan sebaik mungkin demi meraih pernghargaan pada saat lomba nanti. Memang hasil tidak pernah menghianati usaha, kelompok Si Putih dan Si Abu keluar sebagai pemenang pertama dalam perlombaan tersebut. Mereka berhak atas piala dan uang pembinaan. Mereka meluapkan kegembiraan atas keberhasilan tersebut. Si putih dan Si Abu turut larut dalam perasaan yang sama. Pihak sekolah pun turut larut dalam kebahagiaan dengan mengumumkan prestasi tersebut pada saat upacara bendera.

    Sembilan tahun telah berlalu bukanlah waktu yang singkat. Ada kegelisahan  dan ganjalan dalam benak Si Putih dan Si Abu di balik suka cita kemeriahan kemenangan tersebut. Maklum keduanya berasal dari keluarga dengan latar belakang sederhana. Kesederhanaan hidup yang dibalut dengan nilai-nilai religius. Keduannya terbiasa untuk mempraktekkan gerakan peduli sesama, dan peduli lingkungan sekitar. Di saat teman mereka menunjukkan ketidakpedulian terhadap lingkungan dengan membuang sampah di sembarang tempat selama proses latihan, hati dan pikiran mereka bergejolak. Suatu ketika Si Putih membuat pesan di grup WA mereka yang bernada ketidakpuasan dengan prestasi yang selama ini telah diraih oleh kelompoknya.

    Demikian kutipan pesannya.

    “Hay, teman-teman.”

    “Saya turut bangga dengan apa yang telah kita persembahkan buat sekolah kita.”

    “Tapi …. sesungguhnya ada yang kita lupakan.”

    “Selama ini kita rajin dan disiplin dalam berlatih.”

    “Gerakan kita begitu indahnya, menghentak seirama, dan mengayun dengan satu gerakan.”

    “Ada banyak senyuman dan pujian untuk itu.”

    “Tapi, mengapa bumi yang kita pijak seakan menahan senyumannya?”

    “Rasanya kita semua telah melewati kurang lebih 9 tahun untuk mendengar dan membaca tulisan tentang peduli kebersihan.”

    “Aku ingin gerakan, dan irama kita yang indah dan satu tersebut lebih menarik lagi dengan balutan kostum peduli lingkungan.”

    “Menyatu dalam jiwa kita masing-masing.”

    “Kalau tidak, … kita hanyalah sekedar juara yang berbaris di atas rintihan dan tangisan bumi pertiwi yang kian terabaikan.”

                Membaca pesan dari Si Putih tersebut, sontak membuat teman-temannya kagum dan bereaksi positif dengan apa yang menjadi sumber kegalauan Si Putih. Setelah melakukan pertemuan dan pembicaraan maka disepakati kelompok mereka akan menjadi pelopor bagi kelompok latihan yang lain agar bersama-sama mengkampanyekan Gerak Latihan Yang Sebenarnya dengan akronim “GELAYS”.” Gerakan “GELAYS” terus mereka gaungkan dan pada akhirnya diikuti oleh semua satuan kelompok latihan yang lain di sekolah tersebut.

    Dan mulai saat itu “GELAYS" terus menjadi gerakan seluruh warga sekolah dan terus berkembang membangkitkan peduli hal yang lain. Mari selamatkan bumi dengan gerakan peduli, biar bumi tetap menyediakan pijakan yang aman bagi semua kehidupan.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.