x

Iklan

putri yulaiqah

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 15 November 2021

Selasa, 30 November 2021 22:45 WIB

Terminal (Telah Engkau Rajut Maskapai Impian Laluku)

MENDESKRIPSIKAN TENTANG PERJUANGAN SEORANG AYAH YANG TANGGUH YANG MEMBANTING TULANG UNTUK NERJUANG MEMPERJUANGKAN MASA DEPAN ANAK-ANAKNYA.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

YULAIQAH

TERMINAL

( Telah Engkau Rajut Maskapai Impian Lamaku)

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Oleh: Putri Yulaiqah

 

Di atas menara,  di samping gedung pencakar langit kota Dubai, aku duduk di atas kursi bermeja sambil menggenggam pena bertinta dan secarik kertas putih tak bergaris, mencoba untuk melampiaskan ungkapan kerinduan yang telah lama terpendam, akan sebuah kenangan tempo lalu,  saat diri ini masih belia, saat diri ini masih berpijak di lurung kehidupan dengan angan harapan yang belum pasti, saat diri ini masih di ambang angan-angan akan sebuah cita-cita di masa depan yang masih samar.

Aku menatap  luar jendela dengan tatapan kosong, seakan di atas awan tergurat jelas pesan-pesan bapak yang dua puluh tahun lalu menguatkanku untuk terus berjuang, menempuh masa strata satuku yang kala itu hampir saja putus direnggut dengan rentannya ekonomi yang naik turun. Aku akan selalu ingat dengan semua kenangan dan seluruh perjuangan bapak mengahantarkanku menjemput mimpiku, membuat semua menjadi ada, hingga sekarang aku sudah menjadi orang yang punya nama.

Petang itu, tak ku temukan dan tak ku jumpai temaram senja bermega seperti biasanya, juga tak ku lihat kawanan burung gereja yang biasanya berlarian bersamaan saat petang telah tiba, sore ini hujan deras, guyuran airnya membanjiri pelataran jalanan.  Awan hitam pekat diiring guntur yang menyalat-nyalat membuat semua manusia enggan untuk keluar menghadap peraduan, begitu juga aku, aku masih sibuk menelisik, mengintip luar jendela, dikecam dengan sejuta ringkasan rasa was-was yang tak dapat diredam.

Jariku menggaruk kepala yang tak gatal, lisanku menggerutu, bibirku membiru pasi, dalam gumamku menguntaikan seribu pinta dan do’a dalam penantian yang tak kunjung tiba. Kedua bola mataku tak sedikitpun lepas dari pandangan arloji yang terus menggulirkan jarum jam dengan porosnya, waktu mulai petang, sebentar lagi adzan maghrib dikumandangkan, tetapi bapak belum jua pulang.

Badanku tersandar di dinding, pikirku melayang di ujung bayang sambil sesekali membuka mata yang terpejam.

Dua jam penantian sudah berlalu, dari kejauhan aku mendengar suara motor tua Astrea Prima tengah menuruni aspal yang terguyur hujan, suaranya khas, berderik, “Ngik…ngiik”, lamunku buyar, was-wasku reda mendahului guyuran hujan yang masih deras adanya.

“Bapak pulang…”, gumamku.

Firasat batinku membenarkan gumamku, akhirnya bapak pulang, aku tak lekas diam menunggu bapak sampai di pelataran halaman, langkahku tunggang langgang membuka selot pintu rumah, berdiri dengan payung abu menyambut bapak, bapak datang, badannya basah kuyup meski sudah mengenakan jas hujan kresek berwarna biru muda. Wajahnya yang paruh baya menanggalkan sesak di hatiku, rautnya yang basah kuyup, jemarinya yang memutih mengeriput terendam perjalanan hujan, kaosnya yang basah membuat tubuhnya melekat transparan, hingga bisa kulihat tulang rusuknya yang bergelitan.

Tanpa ku sadari, batinku telah larut dalam alur fikirku, tak terasa kedua pipiku sudah dibasahi dengan tetesan berlinang air mata yang turut jatuh bersimpuh.

Entah mengapa petang tempo itu merupakan petang yang berbeda bagiku, otakku bak ingin memutar segala kisah dahulu yang pernah  terukir dengan bapak.

Pikirku melesat ke tahun 1999 silam, saat dimana aku hendak menempuh studi lanjutanku untuk jenjang sekolah menengah pertama di sebuah pesantren ternama, namanya saja sekolah ternama tentu biayanya juga tinggi nominasinya. Sebelumnya aku ragu untuk mendaftarkan diriku masuk ke pesantren tersebut, menuruti kuatnya keinginan bapak  kala itu. Hatiku dilema hebat, keputusan yang berat bagiku untuk memutuskan skenario kehidupan yang akan ku tempuh nantinya, yang dimana hal tersebut belum pasti adanya. Perasaan dilema itu mengguncang saat suatu ketika seluruh sekolah, termasuk sekolah menengah Internasional, mengundangku suka rela untuk melanjutkan pendidikanku di sekolah tersebut, ya… mereka memperebutkanku kala itu, karena mereka bilang, aku adalah murid paling cerdas dengan IQ dibilang cukup tinggi, ditambah dengan DANEM akhir ku saat itu mencapai 28,5, serta nilai Pendidikan Agama Islam UNAS saat itu dapat ku tangguhkan dengan pencapaian nilai sepuluh bulat.

Prestasiku saat itu melambung tinggi, berbagai macam perlombaan dengan devisi yang berbeda bukan masalah bagiku, mulai dari lomba menyanyi, cipta baca puisi, mengaji, cerdas cermat, dokter kecil, olimpiade MIPA, kaligrafi, hingga pidato. Puluhan pengharrgaan, termasuk perunggu dan medali emas aku taklukkan saat itu, akademis non akademisku bisa di acungi jempol.

Bapak andil dalam itu, saat itu tahun 1995, saat usiaku masih berumur 8 tahun, bapak menghantarku menjemput mimpiku. Pagi buta sekali, saat dimana ada sebuah festival Qur’ani yang diselenggarakan oleh Menteri Agama Indonesia di seluruh kota di Provinsi Jawa Timur. Sebelum lomba dimulai, bapak sudah menyiapkan segala persiapan untukku, termasuk juga dengan dagangannya yang sudah ia tata semalaman di dalam kotak biru muda ukuran sedang yang diisi dengan bermacam jenis permen dan minuman seadanya, khalayak pedagang asongan lainnya. Bapak menyeruku bergegas, motor astrea prima tua bapak sudah siap, dagangan bapak juga sudah dikemas di dalam karung beras berukuran besar yang diatasnya telah disusun tumpukan terompet dan puluhan bola jahit yang sudah di pompa.

Aku duduk di depan bapak, karena jok bagian belakang sudah tidak memungkinkanku untuk duduk, aku berangkat menuju kota kabupaten, selama perjalananan tak sedikit orang-orang yang melihat lantas menertawakan terbahak, mungkin mereka nampaknya melihat sebuah panorama lucu yang belum pernah mereka terka sebelumnya, bahkan dari mereka ada yang mengatakan bahwa bapak khalayak seperti orang gila.  Aku dan bapak yang saling berbagi tempat duduk, aku rasanya bak seperti terbang melayang, dengan puluhan balon yang sudah menggembung di belakang punggung bapak, ditambah dengan karung berisikan dagangan yang hendak dijajakan di bawah tumpukan terompet dan bola jahit tersebut, aku yang saat itu masih kecil sudah nalar, sudah mengerti perasaan bapak, masa itu aku sempat mengingat lamat, aku pernah berikrar dalam gumam dan bisuan diam, bahwa suatu saat nanti aku ingin menjadi bola jahit yang berada tepat di belakang punggung bapak, membumbung tinggi menatap angkasa dan berwarna-warni,  seperti halnya nanti aku mewarnai hidup bapak dengan suksesku.

Sampai di pelataran masjid agung kabupaten Batu tempat aku akan melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur’an menjadi yang terbaik, membanggakan harum nama kotaku, aku mencium tangan bapak, meminta do’a agar diberi kelancaran dari Allah Azzawajalla.

Bapak melambaikan tangannya memberikan isyarat menyemangati meski bapak tak dapat menemaniku, dan mendampingiku selama perlombaan. Aku membalas lambaian tangan bapak dan membubuhkan senyuman simpul yang ku tebarkan, lantas aku segera beregegas mempercepat langkahku menuju kawanan kotaku yang tengah duduk menunggu di pelataran masjid Agung, hendak membaca do’a bersama.

Pukul 09.00 WIB namaku terpanggil lantang dari microphone, “Annisa Syahra…nomor urut terakhir 26, di harap untuk segera masuk ke podium masjid!”, panggil seorang lelaki tanggung berbaju koko warna putih selaku MC lomba HTQ antar kota.

Mbak Tutik selaku pembimbing dari kotaku, menepuk bahuku, tersenyum menyemangati, “Ra… semangat…! harus pede, suaranya jangan disendat-sendat, harakatnya jangan di panjangin, jangan di pendekin, pokoknya harus pas, Mbak Tutik yakin, kamu pasti bisa!’’

Aku berjalan menunduk, sesekali mengangkat kepala melihat jalan, sampainya di atas podium, aku segera membuka Qur’an ku, membuka halaman surat Al-A’raf ayat enam sampai sepuluh yang sudah dibagikan juri sebelumnya. Aku mengambil nafas dalam-dalam, dengan percaya diri ku lantunkan ayat-ayat tersebut dengan lantang, tak peduli kanan kiri, dan suara-suara yang tengah berbisik.

" صَدَقَ اللهُ الْعَظِيْمِ... وَالسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكاَتُهُ"

 

Usai aku bacakan Surat Al-A’raf, dan mengucap salam aku segera menuruni podium hendak menemui Mbak Tutik yang sudah menunggu di ambang pintu serambi masjid. Sepuluh menit selanjutnya kami diarahkan untuk segera berkumpul menjadi satu di pelataran masjid, para juri dan MC telah berdiri, sudah siap memberikan piala warna emas bermarmer.

Hatiku kala itu berdebar, jantungku berdegup cepat, suara lantang menyiarkan pemenang terdengar jelas di belahan telingaku, takdir mengatakan, bahwa usaha tak mengkhianati proses adalah sebuah pepatah yang memang benar adanya, aku menyabet juara satu dari seluruh kota di Jawa Timur. Tangis haru, tepukan, dan pelukan sontak seketika, hati dan jantungku yang semula berdegup dan berdebar kencang kini telah mencair seperti bekuan es batu yang di cairkan. Tak sabar rasanya aku untuk pulang dan mempersebahkannya kepada bapak dan ibuk sore nanti, bilamana bapak sudah pulang menyisir petang.

Ya… semua usaha dan semua jerih payahku semata-mata hanyalah untuk bapak dan ibuk, aku tak ingin sedikitpun dan setetes air mata jatuh dari kedua matanya sebab kesedihannya, namun aku ingin semua air mata yang terpancar adalah air mata haru yang terlampiaskan.

Di sini, tahun 2021 di kota Dubai aku berdiri merajut asa, menjadi seorang wanita muda berkarir diplomator wakil dari negara Indonesia untuk mengurusi program economic and education perbankan, setelah usainya bertugas di negara Gajah Putih. Aku tak akan pulang sebelum semua usai, sebelum semua mimpiku yang kini terajut menjadi nyata, tekadku akan ku kuatkan sebagaimana persis seperti tekad dan usaha bapak salama hidupku. Seperti setiap tahunnya, aku, kakakku dan kelima adikku tak pernah merasakan nuansa indahnya kesucian Idul Fitri bersama bapak khalayak yang lainnya.

Bapak selalu mengendap-endap sebelum fajar menyingsing, sebelum ibuk terlepas dari ikatan tidurnya. Baju koko sederhana dan sarung bermerek Gajah Duduk, lengkap dengan kopyah berwarna hitam merek Slondok yang sudah di siapkan ibuk tadi malam di atas kursi ukir coklat ruang tamu, diam-diam bapak memasukkannya ke dalam kantong plastik berwarna hitam. Bapak menjalankan motor tuanya pelan, mesin motor sengaja tidak dinyalakan hingga tidak ada suara yang terdengar bahwa bapak sudah berangkat.

            Aku yang disitu tahu hal itu terulang kesekian kalinya mencoba bergegas membangunkan ibuk, tapi apa daya sorot mata bapak mendelik berkata tidak, melarangku untuk tidak mengatakan sepatah kata apapun kepada ibuk. Batinku menangis bak teriris, kedua mataku berlinangan air mata, nafasku tersengal sesak, rasanya tenggorokanku kering terhimpit menghalangi nafasku.

Bapak menarik tanganku sambil berbisik, “Minal aidzin wal faidzin ya nduk…maaf,  bapak ga bisa sholat bareng, nanti maaf-maafannya maghrib ya… kalo bapak udah pulang”,  hatiku runtuh, trenyuh seketika, luput kesedihan yang ku pendam tak dapat diurai dengan kata-kata. Sudah sekian lama, dari tahun ke tahun, setiap hari kemenangan disitu seakan tak seperti hari kemenangan, namun sebaliknya. Sejuta bongkah kesedihan bergelanyut dalam sebuah penantian petang. Kecamuk rasa bersalah sudah mendarah daging dalam tubuhku, kepergian bapak bukanlah sebuah ungkapan rasa tak sayang, aku bisa melihat dari raut bapak yang sebenarnya ingin merayakan kemenangan bersama sanak saudara. Namun semua berada dalam lingkup keterpaksaan, dan keterbatasan.

Sepuluh Syawwal nanti aku harus melanjutkan belajarku, ditambah dengan biaya daftar ulang yang bagi kami adalah biaya yang membutuhkan perjuangan yang lebih ekstra. Empat setengah juta nominalnya, belum lagi ditambah dengan biaya daftar ulang perkuliahan kakak sulungku, dan biaya sekolah adik-adikku.

Itulah sebab dan alasan bapak berangkat, itulah sebab bapak meruput pagi dan menyisir petang, tiada kata sarapan bagi bapak meski ibuk telah menyiapkan dari petang. Bapak tak pernah menyentuh sarapan, paling tidak hanya menyeruput setengah gelas seduhan teh gopek panas, ia lebih memilih untuk berbekal seadanya. Hanya satu kotak makan kecil berisikan nasi putih dengan bersandingkan lauk sambal korek dan tahu gembos goreng dua buah.

Bagi bapak itu sudah spesial, tanpa lauk pauk yang muluk-muluk. Berhemat katanya, lebih baik pahit di awal dan menuai manis di akhir.

Kebutuhan kami, kebahagiaan kami adalah nomor satu bagi bapak, tekadnya bulat, tak ingin anak-anaknya bernasib sama dengan dirinya, yang hidup bergantungkan reputasi jalanan. Bila jalanan sepi akan sedikit penghasilan, bila jalanan ramai disitu ada keberkahan, bapak rela melakukan apa saja, tidak terpaku pada berjualan, dan tukang sapu bus, langkah bapak andil dalam semua tantangan, hingga kuli panggul pun ia tempuh, memindahkan berpuluh-puluh gas melon tiga kiloan hingga beras yang berkarung-karung, demi mendapatkan secarik Rupiah. Lika-liku halang rintang sudah menjadi santapan keseharian bapak, itulah nasib bapak, seorang pelita bertitel asongan sang penangguh hari yang penuh harapan.

            Kini usaha bapak terjawab sudah, angan-angan bapak lambat laun menjadi kenyataan, sedikit demi sedikit peluhnya telah terbayarkan. Tekadnya yang kuat, ketabahannya yang besar, mendarah daging kepada semua anak-anaknya. Semua bergerak tak ada yang diam berpangku tangan, semua saling membantu, tak ada yang bermalas-malasan, tak ada yang mengeluh apalagi menggerutu dalam keadaan sesempit apapun. tidak ada kata manja bagi kami apalagi untuk merengek meminta ini dan itu, karena kami ingin membalas peluh bapak dengan air mata haru nantinya.

Hingga tibalah sekarang, aku, kakakku, dan kelima adik-adikku sudah menginjak usia dewasa, semua dari kami menggenggam kesuksesan, semua dari kami punya nama. Kakakku menjadi dosen Matematika di Universitas Gajah Mada, adikku yang pertama sudah mendapat gelar S2 usai menempuh jenjang perkuliakan bidang kedokteran di Pakistan, adikku yang kedua baru saja mendapat gelar S1 bidang ekonomi di Universitas Airlangga kota Malang, dan adikku yang ketiga, keempat, dan kelima, sama-sama masih menempuh pendidikan S1 nya di Universitas Indonesia Jakarta dengan semester yang berbeda. Kalimat syukur akan selalu tercurah kepada Allah Ta’ala yang telah menciptakan scenario yang begitu indah untukku dan bapak, habis gelap terbitlah terang…

 

 

 

 

 

Ikuti tulisan menarik putri yulaiqah lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Terpopuler