x

Gambar para pekerja di kawasan industri Morowali. Sumber foto: daerah.sindonews.com

Iklan

Lukman Budhi Purnomo

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 28 November 2021

Kamis, 2 Desember 2021 16:28 WIB

Merdeka Belajar dalam Tuntutan Dunia Industri? Sebuah Refleksi untuk SMK

Artikel ini merupakan pendapat pribadi tentang merdeka belajar dalam tuntutan dunia industri

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Istilah Pendidikan Kejuruan sudah tidak asing lagi di telinga kita. Pendidikan Kejuruan merupakan penyebutan untuk Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Pendidikan kejuruan di Indonesia merujuk pada pendidikan di tingkat menengah, sedangkan pada Pendidikan Tinggi menggunakan istilah Pendidikan Vokasi. Pendidikan Kejuruan merupakan salah satu program kebijakan prioritas pemerintah Indonesia. Hal ini bisa dilihat dari berbagai program pemerintah untuk SMK, mulai dari SMK Revitalisasi, SMK Center of Excellence, dan yang paling baru adalah SMK Pusat Keunggulan.

Kalau kita boleh menarik benang merah antara berbagai program pemerintah untuk SMK, maka dapat disimpulkan bahwa fokus program untuk SMK adalah peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM). Kualitas SDM yang dimaksud di sini adalah kualitas sumber daya manusia Indonesia yang dibentuk melalui pendidikan kejuruan. Dengan sumber daya manusia yang berkualitas, tentu akan berdampak pada peningkatan kualitas hidup dan kesejahteraan masyarakat Indonesia.

Akan tetapi, jika kita mengamati dan merefleksikan kondisi pendidikan kejuruan di Indonesia saat ini atau beberapa tahun terakhir, tentu perlu dilakukan pembenahan-pembenahan dibeberapa hal. Seperti kualitas tenaga pendidik di SMK, kualitas sarana praktik, hingga hubungan SMK dengan dunia industri. Pada bahasan ini, kita ambil contoh hubungan SMK dengan dunia Industri.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Dunia industri atau dunia usaha (DUDI) adalah tempat untuk melakukan kegiatan ekonomi. Nilai ekonomi tercipta melalui kegiatan yang bersifat menghasilkan nilai lebih atas produk barang atau jasa. Industri menerapkan standar untuk produk barang/jasa mereka, sehingga masyarakat dapat menggunakan produk secara konsisten dan terstandar. Untuk dapat memenuhi proses produksi yang berjalan dengan baik, dibutuhkan sumber daya manusia yang kompeten. Kompetensi ini menjadi syarat bagi lulusan SMK yang akan bekerja di Industri. Sehingga, proses belajar di SMK harus mengarah pada pencapaian standar kompetensi yang dibutuhkan Industri selaku stake holder yang akan menjadi tempat bekerja lulusan SMK.

SMK harus mampu menyiapkan lulusan yang dapat memenuhi keinginan dan standar ketenagakerjaan di  industri. Dengan kata lain, para siswa yang memilih SMK harus memliki kesadaran bahwa proses belajar mereka di SMK mengarahkan mereka agar memiliki kompetensi tertentu di dunia kerja. Sehingga, untuk bisa lulus dari pendidikan di SMK, siswa harus memiliki standar kompetensi pada bidang studi atau jurusan yang mereka pilih. Implikasi dari sistem belajar di SMK tersebut, tentu memberikan batasan pada siswa SMK bahwa proses belajar mereka di SMK adalah untuk menguasai kompetensi pada jurusan yang mereka pilih. Sehingga, kemerdekaan belajar yang dimaksud disini bukanlah kemerdekaan untuk mempelajari apa yang para siswa sedang suka, melainkan kemerdekaan pada proses belajar yang mengantarkan para siswa untuk mencapai kompentensi dunia kerja. Jika mereka tidak mengikuti ketentuan ataupun persyaratan kurikulum jurusan yang ditetapkan, maka mereka tidak bisa diluluskan dari jurusan yang mereka pilih..

Berangkat dari penjelasan tersebut, terkadang kita sering mendengar pendapat ataupun kritik terhadap sistem belajar di SMK, bahwa proses belajar SMK hanya mengarahkan siswa menjadi pekerja atau buruh di industri dengan bekal keterampilan dasar yang mereka peroleh selama proses pembelajaran. Meskipun sebenarnya, lulusan SMK banyak juga yang melanjutkan ke pendidikan tinggi atau membuka usaha. Ada lagi pandangan bahwa pendidikan di SMK tidak memerdekakan siswa untuk mengembangkan diri atau potensi yang mereka miliki. Siswa diharuskan mengikuti proses belajar dan mengusai kompetensi tertentu yang mungkin setelah lulus mereka tidak tertarik bekerja di bidang yang mereka ambil selama di SMK. Tentu hal ini menciptakan situasi yang tidak merdeka bagi siswa dalam belajarnya. Hal ini bisa dimaklumi karena seusia siswa SMK masih berada di masa pencarian terhadap apa yang menjadi tujuan hidup mereka. Sehingga, bukan istilah asing kalau kita mendengar banyak siswa atau bahkan mahasiswa merasa salah dalam memilih jurusan.

Kemudian, citra SMK diperparah dengan pandangan para stake holder yang kurang obyektif terhadap SMK. Anggapan umum tentang SMK yang pertama adalah SMK merupakan penyumbang angka pengangguran tertinggi di Indonesia. Jika melihat statistik memang benar, karena memang jumlah siswa SMK itu lebih banyak dibanding SMA atau jenis pendidikan lain. Sehingga potensi lulusan untuk menganggur juga lebih tinggi. Yang kedua adalah kompetensi siswa SMK tidak sesuai dengan kompetensi yang dibutuhkan Industri. Ini bisa dipahami karena memang perubahan dan perkembangan di Industri itu sangatlah cepat. Bahkan sesama pelaku industri juga harus saling bersaing untuk menciptakan perubahan, kalo tidak, maka mereka juga akan ditinggalkan oleh masyarakat. Jika SMK dituntut untuk mengikuti perubahan di Industri yang begitu dinamis, maka dibutuhkan sumber daya yang sangat besar dan juga peran kontributif dari masyarakat, dunia industri, dan pemerintah. Jika tidak, maka selamanya SMK akan terus tertinggal dan tidak link and match dengan industri.

Akhir kata, kemerdekaan belajar dan standar industri di SMK adalah sebuah keniscayaan yang harus berjalan beriringan. Proses belajar harus memerdekakan pemikiran, sedangkan kemerdekaan berpikir juga harus diarahkan untuk memenuhi standar kompetensi bidang studi. Karena tujuan dari SMK adalah menyiapkan siswa agar dapat bekerja pada bidang tertentu. Sedangkan tujuan berikutnya adalah melanjutkan pendidikan dan berwirausaha. Meskipun pada kenyataannya, banyak lulusan SMK yang bisa sukses di luar jurusannya. Karena yang terpenting adalah kemerdekaan proses belajar di SMK, sehingga menghasilkan lulusan secara jernih dan merdeka dalam berpikir. Sementara pilihan jurusan boleh jadi menjadi batu berpijak dalam mengantarkan pada perjalanan hidup siswa selanjutnya. Tidak masalah.

Ikuti tulisan menarik Lukman Budhi Purnomo lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Terpopuler