x

ilustr: ArtPics

Iklan

RAMANDA OKTAVIANI 2020

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 2 Desember 2021

Jumat, 3 Desember 2021 05:12 WIB

Interpretasi Puisi “Pada Suatu Hari Nanti” Karya Sapardi Djoko Damono

memaknai salah satu puisi fenomal karya Sapardi Djoko Damono: Pada Suatu Hari Nanti. puisi ini menggambarkan walaupun kelak penyair telah tiada, karyanya akan tetap hidup bersama orang-orang tercintanya.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Siapa yang tidak mengenal Sapardi Djoko Damono, beliau adalah seorang sastrawan sekaligus seorang penyair. Selain itu, beliau merupakan dosen terkenal, pengamat sastra, kritikus sastra, dan pakar sastra. Sapardi Djoko Damono lahir sebagai anak pertama pasangan Sadyoko dan Saparian, di Solo, Jawa Tengah, tanggal 20 Maret 1940. Beberapa karya-karyanya begitu fenomenal, salah satunya puisi Pada Suatu Hari Nanti.

Saya rasa diksi yang digunakan pada puisi ini cukup sederhana sehingga mudah dipahami pembaca. Namun, tidak menghilangkan kesan khusyuk dan indah sebagai sebuah karya sastra. Sapardi juga menambahkan semua baitnya dengan akhiran "i" yang menciptakan kesan romantis, kesetiaan dan pengandaian. Lebih dari itu, puisi ini merupakan wasiat.

Pada tanggal 19 Juli 2020 dunia kesusatraan sedang berkabung karena kehilangan sastrawan besar Indonesia, saat itu Sapardi wafat dalam usia 80 tahun. Secara bersamaan dengan kabar dukanya Sapardi, puisi-puisi beliau mulai disebarluaskan dan dibaca kembali termasuk puisi berjudul;

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

PADA SUATU HARI NANTI

(Sapardi Djoko Damono)

Pada suatu hari nanti

Jasadku tak akan ada lagi

tapi dalam bait-bait sajak ini

kau takkan kurelakan sendiri

Pada suatu hari nanti

Suaraku tak terdengar lagi

Tapi di antara larik-larik sajak ini

Kau akan tetap kusiasati

Pada suatu hari nanti

Impianku pun tak dikenal lagi

Namun disela-sela huruf sajak ini

Kau takkan letih-letihnya kucari

Pemahaman setiap orang dalam memaknai sebuah puisi tentu akan berbeda-beda tergantung perspektif masing-masing individu. Berikut tafsiran saya terhadap puisi ini.

Pada bait pertama, kematian sifatnya pasti, semua makhluk hidup yang bernyawa pasti akan mengalami kematian. Terlepas dari itu, Sapardi ingin memberi tahu bahwa melalui puisi-puisinya ia akan selalu menemani orang-orang tercintanya. Sesuai dengan larik “kau takkan kurelakan sendiri” artinya Sapardi tidak ingin orang tercintanya larut dalam kesedihan karena kepergiannya. Romantis bukan? Saya merasa penyair memberikan sentuhan romansa dalam puisi ini.

Pada bait kedua, larik “suaraku tak terdengar lagi” mengartikan suara-suara kehidupan yang berkaitan dengan hal batiniah manusia yang tidak bisa dirasakan lagi oleh panca indra, yang artinya kematian. Kemudian, dengan larik “kau akan tetap kusiasati” artinya apapun akan dilakukan agar orang-orang tercintanya merasakan kehadiran penyair dalam karya-karyanya walaupun nanti penyair telah tiada.

Pada bait ketiga, berbicara soal mimpi, mimpi erat kaitannya dengan harapan, setiap yang bermimpi pasti memiliki secercah harapan di dalamnya. Mimpi adalah ambisi atau keinginan untuk masa depan. Harapan adalah keinginan atau pengharapan agar terjadinya hal tertentu.

Pada larik “impianku pun tak dikenal lagi” maksud dari “impian” disini adalah cita-cita, hasrat, keinginan yang merupakan bentuk dari kehidupan. Lalu, apabila seseorang sudah tidak memiliki mimpi, artinya sama saja dengan mati. Kendati demikian, pada larik 3 dan 4 menggambarkan dengan karya-karyanya, penyair tetap berusaha mencari mimpinya agar kehidupannya kekal melalui karyanya.

Secara umum maksud dari puisi ini menggambarkan walaupun penyair telah tiada, karyanya akan tetap hidup bersama orang-orang terkasihnya. Seperti pepatah mengatakan menulislah, maka kau akan abadi dan dikenang.

Ikuti tulisan menarik RAMANDA OKTAVIANI 2020 lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Terpopuler