Motor Anakku - Fiksi - www.indonesiana.id
x

rosa nina

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 5 Desember 2021

Senin, 6 Desember 2021 06:40 WIB

  • Fiksi
  • Topik Utama
  • Motor Anakku

    Aku hidup bersama suami dan anak semata wayang yang sangat menyayangiku. Di sebuah pagi buta yang penuh firasat buruk, aku kehilangan kedua orang tercintaku itu dalam tempo yang hampir bersamaan. Motor anakku menjadi biang tragedi itu.

    Dibaca : 1.343 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Kudengar suara motor anakku memasuki halaman rumah.  Baru sekitar tiga puluh     menit yang lalu ia berangkat.  Pasti  ada benda penting ketinggalan.  Duh, sembrono sekali.  Bayanganku, belum separuh perjalanan lewat jalan Barat, Bondan putar balik.  Kalau melewati jalan baru, pasti ia balik arah setelah menempuh separuh lebih perjalanan.  Alternatif kedua itu mustahil.  Tak mungkin  anakku  melanggar larangan agar tak melewati jalan tembus di saat hari gelap.  Kalaupun tak ada larangan,  aksi brutal begal motor yang marak di tempat itu sudah otomatis mencegahnya untuk melintas.                

    Seperti adat setiap kali pulang kerja, ia memarkir motor matik baru berukuran jumbo itu di teras.  Posisi beranda yang lebih tinggi dibanding halaman sempit di depannya membuatnya menambah tarikan gas. Ini ia lakukan  agar memiliki daya dorong yang cukup.  Namun, irama suara mesin motor anakku  pagi itu berbeda.  Jantungku berdetak lebih cepat terpicu firasat buruk yang tiba-tiba membelenggu hatiku. Kalau urusannya untuk mengambil benda yang ketinggalan, mengapa ia memarkir motor di teras? Atau dia sakit lalu memutuskan untuk pulang?          

    Rumahku tipe 36.  Suara-suara  yang bersumber dari titik-titik mana pun di rumah ini lumayan  bisa didengar. Apalagi suara mesin motor. Aku tak bisa langsung melihatnya, karena kala itu aku sedang jongkok di WC dan belum akan menyudahi BAB.  Perutku tak sekuat biasanya, kali ini mulas oleh tongseng koyor super pedas yang dibelikan Bondan kemarin.  

    Aku ragu,  si pengendara bukan   Bondan atau itu  bukan motor anakku.      

    Kendati anak semata wayangku itu  acapkali brak bruk brak bruk saat meletakkan benda apa saja, namun untuk urusan motor ia berlaku halus. Apalagi itu motor impiannya.    

    “Aku tidak mau kuliah, belikan saja motor untuk bekerja,” jawab Bondan menjelang kelulusan SMK-nya. Ia jurusan desain grafis.  Membuat poster, mendesain produk atau kemasan, menyusun power point dll, ia lihai. Sebuah perusahaan percetakan khusus kemasan dan iklan  produk menerimanya bekerja.  Pabrik yang tergolong besar itu menjalin kerja sama dengan sekolah Bondan.  Sebagai siswa terbaik yang nagkring di ranking 1, Bondang mendapatkan prioritas.  Ia menjadi karyawan tanpa melalui tes.

    Pagi hingga sore Bondan bekerja.  Malam harinya, ia menerima order pribadi.  Selama ini kulihat ia konsisten dengan janjinya saat permintaannya memiliki motor baru dikabulkan. 

    “Motor itu tak boleh kau gunakan untuk kebut-kebutan apalagi balapan dengan anak-anak geng motor,” pesan suamiku sebelum keduanya pergi ke dealer.  Ia mengingatkan Bondan bahwa kurban sudah berjatuhan di jalan baru, jalan tembus yang menghubungkan kecamatan tempat kami tinggal dengan pusat kota. 

    Jalan baru itu semula tanah perkebunan penduduk.  Lewat berbagai tawar-menawar yang alot disertai demo-demo warga yang menolak, akhirnya lahirlah jalan selebar delapan meter dengan aspal hot miks.  Kiri kanannya dominan kebun tebu, ladang tanaman sayur atau palawija.  Karakter wilayah kami yang minim hujan dan bertanah kering membuat petani enggan menanam padi bila tak ingin merugi, kecuali di musim penghujan yang benar-benar basah.

    “Kalau kamu pulang malam,  lewatlah jalan barat, hindari jalan baru, banyak begal motor di tempat itu!” pesan suamiku di hari pertama Bondan memiliki motor. Melewati jalan barat agak berputar dan pasti lebih jauh.  Namun, demi pertimbangan keamanan, jalan ini menjadi pilihan tepat di malam hari atau pagi buta, sebab  24 jam lalu lintasnya ramai dan telah dipadati bangunan di kiri kanannya.

    Sebaliknya, jalan baru sepi dan lengang.  Bangunan pabrik berdiri dengan sangat jarang.  Kendati tipe bangunannya besar-besar, gedung-gedung itu tak serta merta terlihat pengendara  dari jarak jauh.  Entah terhalang  perkebunan tebu atau memang jarak pandang mata manusia yang tidak mungkin menjangkaunya.

    Selama ini kabar begal motor dan kecelakaan para pengebut jalanan yang melaju tanpa pengamanan diri  sering kudengar.  Paling tidak, sekali sebulan.  Merinding aku. Bahkan aku bisa sampai muntah-muntah ketika menerima kabar bahwa setiap kurban begal selalu terpotong raganya, bisa menjadi dua atau tiga bagian.   Karena itu aku rajin  mengulang pesan Mas Luhung, suamiku, kepada Bondan.  

    Pagi itu Bondan berangkat pukul setengah tiga dini hari.  “Seandainya lewat jalan baru aman, aku akan berangkat sejam lagi,” pungkas Bondan.  Aku paham, anakku lelah dan bisa jadi ia akan mencuri tidur ketika memungkinkan untuk berangkat lebih lambat.  Stiker proyek pribadi itu ia lembur nyaris tanpa tidur.

    Melihat ritme kerja Bondan aku jadi teringat pada perjuangan suamiku yang bekerja tanpa lelah untuk keluarganya. Air menetes ke bawah, begitu kata pepatah.    

    Belum puas aku dengan kegiatan BAB-ku.  Karena itu, untuk memastikannya, kupanggil Bondan dari dalam kamar mandi.  “Ini aku,” jawab Mas Luhung dengan suara parau. Ternyata suamiku yang pulang.  Lega hati ini, namun aku penasaran terhadap suara seraknya dan bunyi mesin motornya.   Kendati suara  serak itu kurasa cukup parah, namun  tak penting kukonfirmasi sebab begitulah adatnya jika suamiku lembur bekerja.  

    “Kau bawa motor siapa lagi? Suara mesinnya mirip milik Bondan.” 

    “Motor Jino yang baru saja digunakan tabrakan kawannya.  Aku diminta membawa ke bengkel, lantas mengantarkan ke rumahnya. Motor yang pernah kutawarkan ke Bondan, tapi keinginan anakmu memiliki motor baru tak mampu kau cegah.” 

    Untunglah Bondan menolak motor Pak Jino.  Suara mesinnya  lebih kasar kendati merek dan serinya sama.  Dengan harga yang tidak terpaut jauh, keputusan untuk membeli motor baru bulat.  Bondan pun menuruti semua pesan bapaknya.

    Kuteruskan jongkok dengan lebih tenang.

    Bondan pergi membawa empat kardus bekas wadah mie instan yang berisi stiker ke Kecamatan Kelorandu. Itu pesanan kliennya. Jika ditempuh lewat jalan barat tempat itu berjarak 40-an kilometer.  Jika lewat jalan baru, jaraknya terpangkas menjadi  25-an kilometer saja.  setelah urusan selesai, Bondan akan langsung bertolak ke tempat kerjanya, menempuh jarak 25 km.   

    Larut malam ketika  aku membantunya menempatkan kardus-kardus di atas boncengan motor agar besok ia siap berangkat. 

    Selain membuatkan stiker pesanan, Bondan mendesain stikernya sendiri. Ia tampak bangga melihat motornya tampil beda. Delapan   stiker menempel di bodi kiri kanan dan tebeng kiri-kanan-depan-belakang. Pada bagian jok, hampir menutupi seluruh permukaannya,  ia tempeli stiker abstrak yang sulit kunikmati keindahannya.  Ruwet kesanku melihat gambar itu. Aku tak paham selera remaja.  Gambar lidah melet plus sepasang  mata beda ketinggian dan ornamen abstrak yang tak jelas  itu, menurutku malah mengotori.  Apalagi di bagian bawah kelopak mata itu ada cipratan air mirip tetesan darah.  Hanya satu stiker yang menurutku paling bagus, gambar sapi yang tersembunyi di bawah lampu depan.

    Untungnya, tempel-menempel stiker di motor ini tak termasuk larangan. Jika iya, bisa dibayangkan peristiwa dua tahun lalu akan terulang.

    Kala itu, Bondang lagi senang-senangnya mendesain stiker hasil dari pelajaran digital art.  Ia menempeli seluruh pintu rumah dengan gambar-gambar sesuai seleranya.  Bapaknya yang tak suka, mengelupas semuanya saat Bondan tidur.  Paginya, Bondan protes dengan tidak berangkat sekolah selama seminggu. 

    Menurut pengakuan Bondan, gambar sapi rupa-rupa pose ciptaannya itu justru dalam rangka menghormati bapaknya.  “Mengapa Bapak  membenci sapi Bu?’ tanya Bondan.

    “Kita hidup dari kerja Bapakmu sebagai penjagal sapi.  Tetapi, sebenarnya hati Bapak itu penuh cinta. Ia mengaku tak tega mengalungkan belati ke leher sapi.  Karena itu, saat tidak sedang berada di tempat kerja, Bapak tak ingin melihat sapi, juga gambarnya.   Kebohonganku ini meyakinkan Bondan.

    Akhirnya terjadi kesepakatan. “Kau boleh menempelkan stiker apa saja, asal bukan gambar sapi,”  kata Mas Luhung. Bondan setuju.

    Di awal pandemi, bisnis kuliner anjlok.  Dapur rumahan pun menghindari bahan makanan  mahal.  Pedagang di los penjualan daging sapi memangkas order ke rumah potong.  Ekonomi penjagal sapi terpuruk.  “Aku dirumahkan,” tutur Mas Luhung lemas. Jadilah hidup kami   “mantab”, makan tabungan.

    Masih untung, Mas Luhung di-PHK dengan pesangon yang dicicil. Di tempat lain, ada kasus pengusaha merumahkan karyawan tanpa pesangon, pun masih mengutang gaji pegawai.  Untung pula sebelum  berita PHK itu tiba, Bondan lulus SMK dan langsung bekerja.  Keuntungan selanjutnya adalah,  ada dana cukup untuk membelikan motor anakku.

    Banyak untung diterima keluargaku.  Keuntungan terakhir yang nomplok enam bulan lalu adalah Mas Luhung  mendapatkan pekerjaan.  Setiap minggu, dua minggu atau saban bulan, ada saja orang kaya yang menggunakan jasanya. 

    Sebelumnya, dalam banyak hitungan bulan, hidup  kami disokong oleh hasil kerja Bondan.  “Ndan, bulan depan gajimu kau tabung saja, Bapakmu sudah memiliki penghasilan,” kataku kepada Bondan  lima bulan lalu.  

    Bondan mengamini.  Tetapi, ia masih saja memberiku sebagian dari gajinya.  Aku menolak tetapi ia bersikukuh.  “Aku menuruti pesan Ibu untuk menabung semua gajiku.  Terimalah, ini bukan gaji tetapi uang hasil proyek pribadi.  Klienku baik-baik, mereka selalu memberi bonus karena puas,” jelas Bondan.

    Ini keuntungan keempat.  Anak dan Bapak bisa membangun kepuasan pelanggan. Mas Luhung selalu bercerita bahwa para pelanggannya puas dengan hasil kerjanya yang rapi dan cepat.  Ia berkata bahwa tak ada jerit sapi kesakitan saat eksekusi berlangsung. 

    Pantaslah, saat rumah pemotongan hewan kembali bergeliat, Mas Luhung tak mau menanggapi surat permintaan agar ia masuk kerja lagi. Suamiku itu memilih menjadi jagal sapi pocokan.  Tren orang kaya menyembelih sapi di rumah, membagi-bagikan dagingnya kepada masyarakat terdampak covid kian marak.   Kini hampir tiap minggu suamiku mendapat order. 

    Kemarin pagi buta, Mas Luhung berangkat ke rumah juragan Cwan.  Ia orang terkaya di kabupaten sebelah.   “Aku menginap dan besok baru pulang.  Sebelas ekor sapi akan  kusembelih,” pamitnya. 

    “Baiklah. Bawakan aku daging,” pintaku.  Namun, suamiku selalu berdalih tak enak hati. “Semua yang meminta jasaku memberi banyak bonus, masak aku harus minta bagian daging?”  

    Aku maklum walau hatiku merasakan aneh. Sudah selayaknya jagal mendapatkan bagian seperti dulu ketika masih bekerja dan ia mendapatkan order pribadi di luar rumah potong resmi. Ah, sudahlah.             

    Aku menyangka suamiku akan kembali setelah matahari terbit.  Ternyata duagaanku meleset.  Ia pulang dini hari  dan masuk rumah sebelum ayam berkokok.  Seandainya Bondan diperbolehkan melewati jalan tembus, sebelum berangkat pasti  ia akan bertemu bapaknya.  Untunglah, Bondan anak penurut.  Ia tetap setia janji kendati sebenarnya pagi itu waktunya teramat mepet.  

    Kalau sampai bapaknya tahu salah satu stiker yang menempel di bawah lampu depan adalah gambar sapi,  pasti ia protes keras.  Biarlah protes memprotes itu terjadi pada malam hari.  Ini penting agar tak mengganggu konsentrasi Bondan di perjalanan.  Aku perempuan paling beruntung. 

    Mules perutku nyaris hilang.  Kusudahi BAB-ku.  Kubuka pintu kamar mandi.  Aku melangkah ke meja dapur yang jaraknya hanya setegukan air untuk menyeduh kopi.  Sisa air di thermos yang digunakan untuk membuat teh  Bondan tadi  masih sangat panas untuk membuat kopi.   Kubawa secangkir kopi panas ke depan.  

    Suamiku duduk bersandar di kursi  ruang tamu. Ia seperti tidur tetapi saat kuperhatikan sebenarnya ia terjaga.  Ia mirip orang yang ingin terlelap tetapi tak bisa.  Kulihat ia gelisah.  Belum tahu aku apa penyebabnya.  Kuraba wajahnya yang dingin.  Kucium pipi dan keningnya.   Ia membuka mata.  Pelan dan berat pergerakan kelopaknya.  “Kopi dulu Mas?” pintaku.     

    Ia menurut.  Tetapi panasnya gelas membuatnya urung. 

    Kupeluk dia. Bau darah masih tercium. 

    “Duh Gusti, lembur sampai jam berapa suamiku? Membasuh diri pun ia tak sempat.  Mengapa pula ia buru-buru pulang?” batin hatiku.  Jantungku berdetak lebih cepat ketika di jaketnya ada bercak darah dan firasat buruk itu kembali merebak.  Ini pengalaman pertamaku.  Selama ini sebotol alkohol kadar 70 persen selalu ia bawa untuk berjaga-jaga seandainya jaket kulit satu-satunya itu terciprati darah sapi.  Mungkin kemarin ia kelupaan membawanya. 

    “Mas, pindah ke kamar, aku akan bersih-bersih, biar tidak terganggu,” pintaku.  Mas Luhung  tak juga beranjak.  Rasa lelah dan enggan seperti menahannya.

    Aku memberikan penjelasan. Pagi ini aku harus bersih-bersih ekstra karena pukul 08.00 WIB akan ada rapat kader Posyandu di rumah.  Bersih-bersih ini harus segera rampung sebelum aku menyiapkan sejumbo teh jahe dan mengambil pesanan snek ke pasar.   

    Aku seperti dikejar-kejar waktu menyaksikan kertas limbah stiker Bondan  berserakan.  Gelas kopi dan mangkuk mie instan pun masih di lantai.  Demikian pula piring gorengan dan platik bekas bungkus roti.   Beberapa puntung rokok menyebar di sekeliling asbak. Mules perut menahanku untuk bersih-bersih selepas kepergian Bondan tadi.

    Rumahku tusuk sate.  Bila kubuka pintu, maka akan ada aliran angin kuat ke arah ruang tamu.  Ini pasti akan mengganggu tidur suamiku.  Kasihan. Tapi ya sudahlah, apa boleh buat.

    Masih remang-remang pagi itu ketika aku membuka pintu dan menginjakkan kaki di teras.  Antara percaya dan tidak aku menatap motor Pak Jino.  Patah sebelah spionnya, lecet-lecet sepanjang bodinya, pecah lampu-lampunya. Ya ampun!  Stiker-stiker  itu! Sepasang mataku langsung melototi  plat nomornya, 8768.

    Seperti ada bom meledak di jantungku. Spontan aku berteriak.  Kencang suaraku membangunkan Mas Luhung dari tidur tak nyenyaknya, “Mas ini motor  anakku, di mana Bondaaan...?!”

    Sebelum pingsan, aku masih bisa menyaksikan Mas Luhung beranjak dari tidur duduknya, merogoh kunci di saku, membantingnya tepat menghantam pelat nomor bagian belakang, membuka jaket kulitnya, menghunus belati yang masih basah oleh darah sapi. Belati itu menghunjam cepat  dan menyasar tepat ke jantungnya sendiri.

    Sepeninggal Mas Luhung tak terdengar kabar begal motor beraksi di jalan baru.     

    Bondan menjadi kurban terakhir.***

    Ikuti tulisan menarik rosa nina lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.





    Oleh: Arif Munandar Prayitno

    12 jam lalu

    Senja

    Dibaca : 84 kali


    Oleh: Farhanaang__

    12 jam lalu

    Cikepuh

    Dibaca : 134 kali