Ding - Fiksi - www.indonesiana.id
x

rosa nina

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 5 Desember 2021

Senin, 13 Desember 2021 14:38 WIB

  • Fiksi
  • Topik Utama
  • Ding

    Keluarga Dong --kucing liar dengan tiga anak Dang, Ding, Deng —hidup di tempat yang salah. Mereka bertetangga dengan manusia yang bukan penyayang binatang. Satu persatu karnivora itu mati oleh rupa-rupa tragedi. Hanya Ding, yang paling ringkih, mati paling akhir dalam suasana bahagia.

    Dibaca : 784 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Anak kucing itu akhirnya mati.  Tubuhnya terbujur kaku berbantal empal goreng. Aku percaya, Ding--si anak kucing liar itu kunamai-- kini telah bahagia.  Di jasadnya membekas senyuman. Perjalanan hidup  Ding yang penuh tragedi itu berakhir damai.  Ia selayaknya anak kucing gedongan dengan perawatan mahal sedang tertidur pulas di dalam keranjang khusus.  Kuletakkan selonjong batu hitam di atas tanah makamnya.  Maafkan aku Ding.   

    “Kurang ajar!” teriak Bu Syam suatu pagi.  Dari balik pagar rumahku, kulihat ia melemparkan sandal ke arah Dong, induk si Ding. Lemparan itu meleset.  Terbakar emosi membuat Bu Syam kian kalap mengejar Dong.  Selanjutnya ia serabutan mencari-cari batu. Teeeng...! Kali ini pagarku  menjadi kurban.

    Aku melongok keluar pagar.  “Kucing itu lagi!” teriaknya ke arahku, “Sudah saatnya aku masak ikan rasa sianida,” ancam Bu Syam  padaku.  Seakan-akan akulah  pemiliknya.   

    Jawabanku yang memperingatkan agar  ide sembrononya itu sebatas omongan saja, tak ia gubris.   “Meracun kucing sialan itu rencana Pak Trisumpomo, bukan aku, sebab dia kehilangan sepotong daging goreng setiap hari,” tegas Bu Syam sambil berlalu.

    Pak Trisumpomo adalah tetangga yang tinggal persis di depan rumahku. Sementara aku dan Bu Syam bersebelahan. 

    Seperti Bu Syam, dendam Pak Trisumpono kepada Dong tak pernah padam.  Aku sering melihat tetangga berpostur gendut itu melemparkan apa saja yang bisa disautnya ke arah Dong.  Kasusnya sama persis dengan pengalaman Bu Syam, kehilangan lauk. 

    “Sialan!” teriaknya suatu pagi sambil berlari dari dalam rumah.  Maksud hati mengejar Dong lantas melemparkan batu hias yang ia saut serampangan dari sebuah pot bunga, tetapi tubuh tambunnya malah  menggelundung  di rerimbunan pohon soka yang sedang lebat-lebatnya berbunga.

    Tingkah polah Pak Tris demikian nama sapaanya dan Bu Syam yang bernama lengkap Syami Luhingati itu sering kulihat semenjak Dong tinggal di rerimbunan pohon bambu sekitar  dua puluhan meter di selatan rumahku.

    Tak ada yang pernah berani mendekati pohon bambu yang terletak di ujung gang buntu ini.  Tekstur tanah tempat tumbuhnya yang miring di tepi kali irigasi membuat siapa saja tak nyaman untuk mendekat.  Apalagi ditambah cerita horor yang beredar liar bahwa di semak bambu itu tinggal  jin wanita tua berkepala dua.     

    Bu Syam  masuk rumah bersamaan dengan Dong keluar dari persembunyiannya, di atas pohon kersen di depan rumah Pak Trisumpomo.  Untunglah rumah itu lagi  kosong. Pemiliknya  sedang menjalani rawat inap akibat gangguan jantung, darah tinggi, diabetes  dan kolesterol. Istri dan anak semata wayangnya menemani. 

    Seandainya seluruh penghuni sedang ada di rumah, mungkin nasib Ding, Dang, Deng ketiga anaknya menjadi sebatang kara.  Sebab, bila urusannya adalah mengejar-ngejar Dong, kedua tetanggaku itu seratus persen kompak.  Seperti yang sudah-sudah, niat mereka melukai atau bahkan membunuh Dong tak pernah terkabul.     

    Dong turun dari pohon kersen. Pelan ia berjalan menuju rerimbunan bambu tempatnya berteduh bersama ketiga anaknya.  Tak kulihat ada lompatan jumlah energi di tubuhnya. Wajahnya pucat memelas. Perutnya tampak kempis, tak ada tanda-tanda ada asupan seekor nila goreng.

    Aku pun membenci Dong.  Sebab, ia selalu mengotori halaman rumahku dengan tahinya.  Aku tak pernah paham, mengapa kucing liar itu memperlakukan halaman rumahku selayaknya WC.  Padahal, di sekitaran rerumpunan bambu ada beberapa bidang tanah yang bisa ia jadikan sebagai lokasi BAB. 

    Setiap pagi aroma busuk tahi kucing menusuk hidungku.  Setiap pagi pula aku membuang tahi Dong ke kali irigasi.  Pagi ini tak kulihat ada tahi kucing di tempat biasanya.  Aku lega, sebab, mungkin saja Dong telah mendapatkan WC baru yang lebih nyaman. 

    Atau mungkin juga pagi ini ia tak memiliki stok tahi.  Dugaanku ini bisa saja benar sebab, selama sepekan terakhir aku memperhatikan volume tahi Dong semakin berkurang.  Apakah tahi Dong telah habis akibat tak makan? Entahlah.

    Pertahanan ketat telah dijalankan Pak Tris dan Bu Syam agar terhindar dari intervensi Dong.  Bu Syam memasang pintu  kawat pada setiap pintu rumah yang menghadap ke luar.  Itu pula yang dilakukan Pak Tris.  Pintu-pintu dobel itu mengingatkan siapa saja pada jeruji besi di sebuah rumah sakit jiwa atau bangunan penjara. 

    Namun, bakat semesta yang memberikan kemampuan lebih pada Dong sebagai pemanjat ulung membuat ia menemukan pintu masuk melalui atap.  Lewat pohon kersen, Dong memiliki akses untuk masuk ke rumah Pak Tris.  Lewat pohon mangga, Dong teramat mudah masuk ke rumah Bu Syam.  Pintu penjara itu hanya sukses menahan Dong semingguan saja. 

    Kedua tetanggaku itu tahu trik si Dong.  Tetapi entah mengapa keduanya tak ingin menebang pohon itu. “Mangga Golek itu asli Bangkok, suamiku membawa bibitnya langsung dari Thailand, tak mungkin aku tebang,” jawab Bu Syam menolak mentah-mentah saranku.

    Demikian pula Pak Tris.  “Jangan Bu Sekar, pohon kersen itu ibarat payung raksasa peneduh halaman.”  

    “Kan bisa dicari peneduh lain yang rantingnya lurus supaya tidak digunakan kucing untuk naik ke atap, cemara misalnya,”  jawabku.

    Kata Pak Tris, “Dulu istriku bersedia menerima cintaku ketika kami berdua duduk mesra di bawah pohon kersen di bukit Hohaho  Wonosari.”  

    Manusia memang makhluk yang tak pernah mampu melepaskan kenangan. Masa lalu yang membanggakan dipuja dan disunggi ibarat barang antik mahal. Sangat berbeda dengan keluarga Dong.     

    Aku pernah melihat Dong keluar dari persembunyian.  Ia bercanda dengan tiga buah hatinya yang kunamai Dang, Ding, Deng.  Warna mereka berbeda-beda, Deng hitam total, Dang kecoklatan dan Ding plentong-plentong putih kelabu.  Ketiga anak kucing itu pasti memiliki ayah yang berbeda-beda.  Akal yang nihil membuat mereka bersaudara berdasarkan naluri, tak ada rasa saling benci.

    Ketika mendapatkan seekor katak hasil buruan, Dong membagi rata.  Ia membiarkan ketiga buah hatinya itu memperebutkan makanan bersama.  Tak ada hak khusus untuk anak yang lahir dari suami paling ganteng.  Tak ada larangan bagi anaknya yang lahir dari jantan yang pernah meninggalkannya akibat rayuan betina lain.

    Kenangan masa lalu tak pernah merusak keakraban keluarga Dong.  Tak ada niat untuk saling mendominasi atau menyakiti.  Kalaupun canda mereka melibatkan gigi dan cakar runcing, aku yakin itu sebatas cara  mereka berinteraksi.  Tak pernah kudengar jerit kesakitan.  Kejar-kejaran dan cakar-cakaran pun tampak hanya sekadar main-main.  Karena hanya gigi dan cakar itulah organ tubuh yang bisa mereka gunakan untuk bercanda.            

    Suatu malam Dong menjadi tamu tak diundang saat keluarga Pak Tris menggelar hajatan.  Kucing betina itu mengusung tulang ayam dan kepala ikan untuk ketiga anaknya. Tak ada penolakan tuan rumah.  Nihil orang yang mengusirnya.  Paling-paling hanya kata-kata hus... hus... yang dilontarkan para petugas kebersihan katering pada saat mereka melemparkan sisa makanan ke arah kantong plastik hitam.  

    Tak lama kulihat keberadaan Dong di pesta itu.  Sejauh ingatanku, hanya dua atau tiga kali saja ia hilir mudik di seputar kantong hitam.  Mungkin bersama Ding, Dang, Deng ia telah pulas akibat kekenyangan. Andai binatang berakal selayaknya manusia, mungkin Dong memanfaatkan kesempatan itu untuk menimbun makanannya.  Tetapi tidak.  Paginya Dong tetap kelayapan dan seperti adatnya, duet Pak Tris Bu Syam, kompak mengusir Dong dengan rupa-rupa jurus.

    Suatu pagi aku melihat tragedi kematian Dong. Kala itu aku bersiap membersihkan halaman.  Yang pertama adalah agenda membuang kotoran Dong, tetapi dari baunya aku yakin tak ada jejak-jejak tahi Dong di halaman rumahku.  Apakah Dong kehabisan stok tahi atau dia telah menemukan WC baru? Entahlah.            

    Tiba-tiba aku mendengar letupan senapan angin disusul bunyi byur.  Sekedipan mata kemudian, terdengar gelegar tawa lelaki dewasa.  Kulihat Pak Tris masuk ke rumahnya menenteng senapan angin.     

    Aku meneropong rerimbunan bambu.  Kulihat Ding, Deng, Dang sedang bercanda.  Di mana Dong? Ini jam-jam Dong kelayapan mencari makanan atau berburu mangsa.  Mungkin induk penyayang anak-anak itu sedang mengendap-endap masuk rumah Bu Syam atau Pak Tris.  Rumahku bebas dari incaran Dong.  Karnivora itu menghidari meja makanku yang hanya  menyediakan menu vegetarian.

    Tak pernah aku tergelitik menelisik.  Tetapi pagi ini aku ingin tahu di mana Dong.  Seingatku, Bu Syam belum mengeluarkan suara soprannya disertasi dengan bebunyian sambitan material berat berukuran kecil.  Suara bentakan dan riuh lelemparan dari arah rumah Pak Tris pun nihil.

    Jangan-jangan bunyi byur tadi....! Dugaanku benar.  Skenario kejam pak Tris telah merenggut nyawa Dong.  Kulihat ada tulang iga sapi di bibir kali irigasi.  Pasti pada saat Dong mendekat, gotri melesat dari senapan angin Pak Tris.

    Tak tega aku menyaksikan ketiga anak kucing itu kelaparan.  Kubeli makanan instan khusus binatang peliharaan berbentuk mirip kapsul. Rasa belas kasihanku ini muncul pada tempo yang terlambat.  Seharusnya dulu-dulu aku menyelamatkan keempat nyawa makhluk Tuhan itu.  Cupet finansial selalu saja menjadi pertimbanganku.  Seandainya ekonomiku berlebih seperti Pak Tris dan Bu Syam..... ah sudahlah.  Penyesalan membikin hidup menjadi tak nyaman.  Satu tekadku, Dang, Deng, Ding harus hidup.  

    Ketakutan mendekati rerimbunan bambu membuatku setengah hati dalam bertindak.  Kulempar-lemparkan saja butir-butir kapsul itu.  Ada yang bisa ditangkap Ding, Dang, Deng, tetapi lebih banyak yang hanyut tercebur ke sungai. 

    Begitulah, sejak kematian Dong dan kujatah ketiga yuniornya dengan makanan instan, suasana gang buntu yang berisi tiga rumah tempat kami tinggal  terasa sepi, nyaman dan sehat.  Nihil gubrak-gubrak pengusiran Dong.  Tak ada pula bau tahi menyengat Dong di halaman rumahku.  Lega rasanya.

    Hidup manusia ibarat roda yang berputar, kadang berada di puncak terkadang pula terempas.  Siklus hidup nyaman  kami tak berlangsung lama.  Ia  terpelanting kembali ke dasar.  Penyulutnya, Ding, Deng, Dang yang mulai beranjak remaja. 

    “Kurang ajar! Pencuri! Babat iso bacemku digondol kucing!” teriak Pak Tris suatu pagi.  Pot bunga janda bolong di teras ia saut dan lemparkan sekuat tenaga.  Dang dan Deng sigap menghindar.  Celakanya, babat iso terlepas dari  mulut keduanya.  Lauk favorit Pak Tris itu bercampur dengan media tanam yang berhamburan. 

    Sekunyahan nasi berikutnya, kulihat Pak Tris yang tersungkur akibat terpeleset pot itu sudah mampu menguasai diri.  Dibantu istrinya ia berdiri dan berusaha menepuk-nepuk bajunya yang belepotan tanah.  Namun, dendam itu belum  padam.  Saat sang istri mendorongnya masuk ke rumah, kepalanya menengok-nengok ke belakang.  Dari mulutnya keluar sejuta sumpah serapah. 

    Kali lain, jeritan kehilangan terdengar dari arah rumah Bu Syam. “Rasakan ini...!”  Lengkingan suara sopran yang sangat kuhafal  itu pecah disusul bunyi lemparan rupa-rupa  benda tak jelas menghantam pagar rumahku. Teng...teng...teeng!

    Sekelebatan kulihat Dang dan Deng berlari menuju rerimbuan bambu.  Minim pengalaman membuat keduanya melaju kencang seperti truk rem blong.  Keinginan agar cepat sampai di tempat persembunyian merangsang mereka menambah kecepatan secara serabutan.  Hasil akhirnya adalah ketidakmampuan kedua makhluk itu mengerem laju.  Sungai irigasi yang sedang tinggi debitnya menjadi tempat pendaratan terakhir.  Nasib membawa keduanya mengulang kisah kematian Dong namun dengan latar yang berbeda.  Dong mati baru tercebur, Dang dan Deng tercebur, terhanyut dan   aku yakin keduanya makhluk mungil itu mati.  Aku membayangkan, bagi mereka tercebur di kali irigasi yang sedang pasang ibarat manusia terseret ombak  laut selatan.          

    Ding sendirian.  Ia paling ringkih.  Tak seperti saudaranya yang kelayapan, Ding memilih bertahan di rerimbunan.  Lemparan makanan kapsul dariku lebih banyak yang hanyut dibanding yang masuk ke perut. 

    Akhirnya aku kehabisan makanan instan.  Cupet finansial mengurungkan niatku untuk membeli yang baru.

    Keinginan bertahan hidup, membakar nyali Ding.  Dari yang semula hanya mengeong-ngeong lemah di dekat tempat persembuyiannya, akhirnya ia mencoba berburu mangsa.  Jangkerik,  anak  katak dan anak tikus menjadi sasarannya.  Aku pernah memergoki Ding menyantap ketiga binatang kecil itu. Namun, itu berlangsung tak lama.

    Mungkin populasi binatang-binatang itu kian menyusut. Atau di tempat Ding hidup, ada predator seperti ular dan burung hantu yang juga berburu mangsa.  Yang membuatku heran adalah, mengapa Ding juga Dang dan Deng selamat dari incaran predator? Di tempat yang dingin, gelap dan tersembunyi seperti rerimbunan bambu di tanah miring pinggir sungai, tentu banyak ular.

    Saat masih ada Dong, bisa jadi perlindungan si induk menjadi penyelamat.  Tetapi, pascakematian Dong, mengapa ular tak mengincar anak kucing bersaudara yang kala itu masih bayi-bayi?  Mungkin jin tua si penunggu bambu  ikut berperan menyelamatkan. Entahlah.

    Pagi itu Ding kulihat keluar agak jauh dari tempat persembuyiannya. Kurus raganya, kempis perutnya, cekung matanya. Ia mengeong lemah ke arah  Pak Tris yang sedang  membuang reranting. Kaget oleh suara lemparan dahan-dahan kering ke kali irigasi, dengan sisa  tenaganya, Ding  lari bersembunyi. Aku bergegas masuk rumah berniat mengambilkan telur rebus sisa sarapan.

    Terlambat! 

    Aku hanya bisa mereka-reka ulang.  

    Merasa akan mendapatkan ancaman baru, pria gaek itu bertindak. Sepotong empal goreng ia relakan untuk memancing Ding keluar dari rerimbunan.  Ia pun bersiap dengan senapan anginnya.

    Mungkin bayangan mendapatkan asupan gizi dalam kondisi perut kelaparan, memompa semangat Ding.  Ia berjalan  mendekati sasaran.            

    Melihat Ding berhenti di tempatnya menaruh umpan,  Pak Tris tampak puas.   Namun, saat akan menarik peletup, dadanya nyeri.  Tujuh ring  tak kuat menghadapi  laju darah yang melonjak cepat dipicu kesumat. Penyakit degeneratif semestinya menuntut ia agar hidup tenang tanpa gejolak emosi.  Pak Tris  ambruk dan wafat seketika.  

    Ding juga roboh.  Ia mati bahagia berbantal daging impiannya.***

          

    Ikuti tulisan menarik rosa nina lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.





    Oleh: Arif Munandar Prayitno

    13 jam lalu

    Senja

    Dibaca : 87 kali


    Oleh: Farhanaang__

    13 jam lalu

    Cikepuh

    Dibaca : 136 kali