x

Ilustrasi Bunga Matahari. Gambar oleh Bruno /Germany dari Pixabay

Iklan

Milfa Yunita

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 7 Desember 2021

Selasa, 7 Desember 2021 14:07 WIB

Cinta Bersemi di Aglomena


Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

CINTA BERSEMI DI AGLONEMA

Oleh : Milfa Yunita

Dewi melirik jam di pergelangan tangannya. Ufh, dia membuang napas. Rasa kesal masih tersimpan di hati. Tadi bosnya marah-marah di depan klien. Enggak punya perasaan, seenak hati aja memarahi karyawan, dasar perawan tua, umpatnya dalam hati.  Perawan tua disematkan gadis manis berperawakan sedang itu, kepada Linda, notaris tempatnya bekerja, karena perempuan yang tadi memarahinya memang masih melajang. Bibir Dewi masih manyun, mengingat harga dirinya yang merasa direndahkan di hadapan karyawan Bank, yang kini lagi berbincang dengan  Linda.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Linda Retnoningtyas, Sarjana Hukum, Notaris sekaligus Pejabat Pembuat Akta Tanah di Kota Medan. Wanita berkulit putih itu masih asyik mengobrol dengan kliennya. Sebagai seorang notaris, dia memang bekerja sama dengan beberapa bank, untuk membuat surat ataupun akte perjanjian kredit antara bank sebagai pihak yang memberikan pinjaman dengan nasabah, selaku debitur.  

Dewi sudah enggak sabar untuk segera keluar kantor. Hatinya masih sakit karena amarah Linda masih tersimpan di ruang hatinya. Dia kesal dengan bosnya itu. Kalau bisa dibicarakan baik-baik kenapa sih harus pakai marah-marah segala, mana di depan klien lagi. Aku kan malu, batin Dewi. Kesalahan yang sebenarnya enggak terlalu fatal, karena kekhilafan Dewi menulis plafon atau pinjaman kredit. Yang sebenarnya kesalahan ketik itu bisa direnvoi atau pun diperbaiki, ketika dibacakan di hadapan para pihak.

Sebentar-sebentar Dewi melihat ke arloji yang melingkar di lengan kirinya. Pukul lima sore, biasanya si bos keluar kantor. Dan para pegawai di kantor ini, yang berjumlah enam orang akan menyusul setengah jam kemudian. Ketika pandangan Dewi tertuju ke jari manis, senyumnya langsung mengembang, seketika rasa kesal yang tadi masih bergelayut berangsur  hilang. Ya, cincin yang melingkar di jari manisnya adalah bukti ikatan dia dengan seseorang.

Seseorang yang tak pernah masuk dalam pikirannya. Menari-nari di benaknya ketika mama menyuruh untuk mampir ke tempat penjualan bunga.

“Wi, Mama minta tolong nih, sepulang kerja kamu singgah ya, ke tempat penjualan bunga.”

“Hah? enggak salah Ma?” tanya Dewi waktu itu.

“Maksud kamu?”

“Ya, Mama suruh aku beli bunga. Mama, kan tau sendiri. Anak mama yang manis ini enggak suka bunga.”

“Loh jadi enggak suka bunga dengan nolongin Mama belikan bunga apa hubungannya, Wi? tanya mama sembari mengernyitkan dahinya.

“Aku mana ngerti Ma. Mana bunga yang bagus, atau yang sesuai dengan keinginan Mama.”

“Kamu itu ya, banyak kali alasan kalau Mamanya minta tolong. Nih, Mama kirim gambar bunga dan namanya sekalian ke ponsel kamu, terus kamu tinggal tunjuki sama penjual bunganya. Gitu aja kok repot,” ujar Mama dan langsung mengirim gambar melalui WhatsApp ke ponsel anak sulungnya itu. Dewi enggak bisa lagi mengelak. Jujur saja sebenarnya dia malas banget berurusan sama yang namanya bunga.

Di rumahnya yang tidak suka bunga selain papanya ya,  si Dewi. Kedua adik perempuannya sama seperti mama, pencinta tanaman. Dia masih mencoba mengelak dengan permintaan mamanya.

“Si Ratih aja kenapa sih, Ma,” protes Dewi. Ratih kan suka banget ama bunga, jadi seleranya sama kayak mama. Atau Dian aja, Ma.”

“Mama nyuruh kamu. Eh, kok malah nunjuk adik-adikmu,” sungut mama. Perempuan paruh baya itu membetulkan letak kaca matanya, sambil menatap Dewi.

“Karena Mama tahu kantor kamu itu satu arah dengan tempat penjual bunga hias. Lah, adik-adikmu kan jauh atau enggak searah, Wi. Udah kamu enggak usah ngebantah Mama, nih uangnya Mama kasih ke kamu.”

 “Minggu depan arisan di sini, jadi Mama mau rumah kita enak dipandang, sama teman-teman arisan mama. Kemudian Bu Ani, Mamanya Dewi, mengeluarkan beberapa lembar uang dari dompet dan menyerahkannya ke tangan Dewi.

***

Dewi melajukan motornya membelah jalanan. Seperti yang dipesankan mama sepulang dari kantor, gadis yang usianya dua puluh empat tahun itu, harus singgah ke tempat penjualan bunga. Gadis ini menghentikan motornya tepat di halaman luas yang nampak sejuk itu. Karena dari awal dia memang ogah-ogahan disuruh, makanya waktu sampai di tempat yang dituju, dia masih enggan turun.

Rimbunnya tanaman dan angin sepoi-sepoi yang berembus diantara celah-celah pepohonan, membuatnya merasakan suasana sejuk sesaat. Dia menoleh ke kanan dan ke kiri, bermaksud mencari penjualnya. Netranya dimanjakan dengan beragam jenis bunga yang memesona. Ya Allah, indah nian nih bunga, batinnya. Setelah memarkirkan motornya, Dewi melangkah mendekati pondok-pondok bambu yang dirancang layaknya pondok di pedesaan, yang membuatnya tampak natural. Di dalam pondok-pondok itu berjejer aneka jenis tanaman dan bunga-bunga, dan siapa pun yang melihatnya pasti akan berdecak kagum.

Pasti pemiliknya seorang perempuan yang sangat cinta dan telaten merawat semua tanaman di sini, pikirnya seraya sesekali memegang beberapa bunga yang menarik hatinya. Padahal di rumahnya juga ada bunga yang ditanam Mama. Tapi baru kali ini ia merasa takjub melihat aneka bunga yang begitu subur dan indah. Dari tempatnya berdiri, matanya menangkap bunga dengan dua warna pada kelopaknya. Merah jambu dan hijau. Kalau dilihat dari jauh mungkin orang akan mengira ini bunga plastik. Karena begitu mengkilap.

Dewi masih belum beranjak dari menatap dan menyentuh bunga-bunga aneka bentuk dan warna itu. Gerakannya baru terhenti ketika terdengar suara

“Itu namanya bunga aglonema, Mbak.” Terdengar suara bas dari seorang laki-laki yang berdiri tak jauh dari Dewi. Gadis yang mengenakan blazer khas orang kantoran itu tampak sedikit gugup.

“ Eh-oh, penjual bunganya mana ya?” tanyanya.

“Saya lihat Mbaknya suka ya, dengan aglonema itu. Mau beli berapa pot, Mbak?” si pemuda bertanya sambil tersenyum ramah.

“Iya saya mau beli  bunga, penjualnya mana ya?” Nih orang reseh amat, ditanya mana penjualnya, bukannya ngasi tahu, eh balik nanya. Alis Dewi sedikit terangkat.

“Saya, Mbak, pemilik sekaligus penjualnya,” ucap pemuda itu mengangguk sopan.

“Hah! seru Dewi, mosok laki-laki setampan ini, penjual bunga-bunga disini, bisik hati gadis itu. Bukan hanya rautnya yang menawan, tapi bodynya juga atletis. Masak sih cowok suka bunga, cocoknya nih cowok jadi bintang film atau bintang iklan, Dewi membatin.

“Kok kaget, Mbak? Emang salah ya kalo laki-laki senang bunga,” katanya memberi penekanan seakan-akan dia bisa membaca hati Dewi. Lagi-lagi dengan senyum yang tak pernah lepas dari tampangnya yang keren abis itu. Dewi hanya tersenyum menimpali kata-kata pria yang berdiri di hadapannya. Tak lama dia mengeluarkan gawai dari saku blazer dan menunjukkan gambar bunga-bunga pesanan mama.

Keramahan sikap dan raut tampan penjual bunga, yang belakangan baru dia tahu namanya Arif, seakan menjerat hati Dewi. Setelah kunjungan pertama itu, seminggu kemudian dia balik lagi.  Tapi bukan karena permintaan mamanya. Dia mulai tertarik dengan bunga hias, si aglonema, karena rupa indah tanaman yang satu ini.

Ditambah lagi tampang rupawan si abang penjual bunga. Jujur saja, awal jumpa dengan laki-laki ramah ini sudah mencuri hati Dewi. Terpesona dengan pandangan pertama. Terpesona dengan bunga dan penjualnya. Demi misinya ingin berjumpa dengan laki-laki itu, dia paksakan diri membeli bunga dalam jumlah yang banyak. Soal uang bukan masalah, untuk jomlo seperti dirinya. Uang tabungannya selama bekerja sebagai pegawai notaris lebih dari cukup, kalau hanya untuk membeli bunga saja.

 Tentu saja Arif senang, bunga-bunganya laris manis. Semanis perempuan yang rajin memborong  jualanannya belakangan ini. Hubungan yang awalnya hanya sebatas penjual dan pembeli atau produsen dan konsumen berubah secara perlahan, menjadi hubungan antara laki-laki dan perempuan. Tapi sebagai perempuan, Dewi tak ingin terlihat agresif. Karena pemahamannya selama ini, perempuan itu dikejar bukan mengejar.

Pucuk dicinta, ulampun tiba. Apa yang dirasakan Dewi rupanya dialami juga oleh Arif. Laki-laki itu tak mengingkari kalau ada debar-debar kecil di dada yang kian menghebat, manakala gadis itu singgah ke “pondoknya.” Hal yang dulu pernah dirasakannya bersama seseorang yang kini menjauh darinya. Perempuan dari keluarga terpelajar, yang memutuskan hubungan dengan Arif karena merasa tak selevel. Perempuan itu meninggalkan Arif karena merasa telah menemukan pria yang sederajat dengan dirinya, pria dengan jabatan kepala cabang suatu bank swasta. Arif yang hanya seorang penjual bunga dianggap perempuan itu tak cocok menjadi pendamping hidupnya.

***

Dewi sedang membereskan tumpukan berkas-berkas yang menggunung di meja, ketika bosnya melenggang keluar dari ruangannya. Menatap punggung si bos sampai tak terlihat lagi, dia bergegas membenahi lembaran kertas yang masih berserakan. Bersorak kegirangan dalam hati, karena bosnya yang masih betah melajang itu sudah pergi. Usai berbenah, dia berjalan ke arah Santi yang masih menatap layar komputer.

“Udah San, jangan terlalu dipaksakan, kasi istirahat badan kamu, kita ini bukan robot,” ujar Dewi seraya menepuk pelan punggung Santi, teman satu kantor sekaligus sahabatnya.

“Bentar, Wi, nanggung, biar kelar nih kerjaan, jadi besok aku enggak terlalu capek, agak santai dikit,” kilahnya.

“Ya sudah, aku duluan, ya San,” sambil melambaikan tangan  Dewi berlari kecil menuju pintu keluar. Santi hanya tersenyum ke arah Dewi seraya mengangkat tangannya.

 Meski sudah menunjukkan pukul lima sore, namun hangat sinar mentari masih terasa. Nampaknya sang surya masih enggan beranjak. Macetnya jalanan di jam pulang kerja merupakan pemandangan biasa. Dewi berjalan ke arah parkiran. Merogoh kunci sepeda motor matic dari dalam tas. Setelah menemukan benda itu, dia pun  langsung menstarter kendaraan roda duanya. Pelan dia melaju seraya melantunkan doa.

Seseorang mengamati Dewi dari kejauhan. Supaya tidak ketahuan lagi membuntuti, seseorang itu memarkirkan Avanza silvernya di depan ruko yang jaraknya sekitar tiga pintu dari kantor notaris Linda Retnoningtyas. Gerak-gerak Dewi masih terus dipantaunya. Dia sudah tahu kemana tujuan gadis itu, sepulang kantor. Lima hari yang lalu, ketika tak sengaja dia melihat mantannya bersama Dewi di sebuah toko emas. Terlihat laki-laki itu memakaikan cincin di jari manis Dewi.

Laki-laki yang telah dicampakkannya begitu saja. Dia memandang rendah profesi laki-laki itu. Kepribadian yang baik dan raut rupawan sang lelaki, tak cukup baginya  memilih laki-laki itu sebagai suami. Titelnya yang sarjana hukum dan sekarang berprofesi sebagai notaris rasanya tak pantas bersanding dengan seorang yang berprofesi “hanya sebagai penjual bunga.”

Perempuan yang usianya kini menginjak tiga puluh enam tahun itu tersenyum senang. Dia merasa puas telah melampiaskan amarahnya tadi sewaktu di kantor pada Dewi. Dia tak rela jika mantannya berhubungan dengan gadis itu. Hati kecilnya sebenarnya masih mencintai Arif. Tapi karena keegoisannya dan rasa sombong akan status sosial mengalahkan semuanya. Sengaja dia memarahi Dewi di depan klien, agar gadis itu terluka. Sama seperti dirinya yang juga terluka, mendapati kenyataan jika mantan yang masih diharapkannya, ternyata akan bertunangan dengan pegawainya.

Sepeda motor yang dikendarai Dewi melaju sedikit kencang. Arahnya ke mana lagi kalau bukan ke tempat pondok bunganya Arif. Dewi sama sekali tak menyadari jika Linda terus mengawasinya dari kejauhan. Senyum dan tawa lepas yang dipertontonkan Dewi dan Arif menggores luka di hati Linda. Keduanya kelihatan sangat bahagia dan keadaan itu berbanding terbalik dengan Linda yang masih terdiam di belakang kemudi.  Bahunya terguncang sementara bulir-bulir bening mengalir deras di pipinya.

Linda merasa telah mengambil keputusan yang teramat sangat disesalinya sekarang. Memilih kepala cabang seorang sarjana ekonomi lulusan perguruan tinggi negeri di kotanya. Dan mencampakkan seorang laki-laki sebaik dan setampan Arif. Apalah guna gelar dan jabatan jika tak ada kejujuran. Laki-laki yang dipilih Linda tak lebih dari seorang penipu. Dia pencuri berdasi. Dengan penampilan kerennya dia sungguh tak ada nilainya dibandingkan Arif. Penjual bunga yang bersahaja, humoris, dan ramah.

Telah tersiar kabar, jika orang yang selama ini dielu-elukannya adalah seorang koruptor. Menjijikkan. Benar-benar sampah masyarakat. Nasi sudah menjadi bubur. Tak mungkin lagi bagi Linda untuk menjalin kembali hubungan dengan Arif. Karena telah ada seseorang  yang  telah menjadi kekasih Arif. Dia sungguh tak menyangka jika perempuan yang menggantikan posisinya adalah pegawainya sendiri. Kemarahan yang tadi siang disemburkannya pada Dewi adalah bentuk pelampiasan kekesalannya  pada gadis itu.

***

  Dewi masih belum beranjak dari ranjangnya. Hari libur begini dia kerap rebahan di kamar. Setelah salat subuh, dia memutuskan bermalas-malasan sebentar. Nanti siang dia sudah janjian sama Arif mau cari souvenir yang akan dibagikan kepada para tamu undangan di acara pernikahan mereka nantinya. Ya, Arif sudah melamarnya. Dan lebih kurang dua bulan lagi, mereka akan mengikat janji sehidup semati. Menggelar resepsi pernikahan.

 Walaupun terpaut jarak dua belas tahun dengan Arif, tak menjadi masalah buat Dewi. Justru dia senang berjodoh dengan laki-laki yang lebih tua darinya. Sifat Arif yang sangat pengertian, santun, bersahaja dan yang paling buat Dewi tertarik adalah pesona raganya. Dulu, waktu awal jumpa dia sempat berpikir, Nih cowok cocoknya jadi artis, bintang film atau bintang iklan bukan jadi penjual bunga. Dia senyum-senyum sendiri mengingat itu.

Menjelang siang, Dewi mulai berkemas-kemas dan pamitan pada mama. Dia menyalami mama yang lagi asyik memotong bunga-bunga yang tampak menguning di halaman belakang rumah. Ah, semenjak kenal dengan Arif, gadis lajang ini pelan-pelan mulai suka bunga. Sejenak dia memandangi bunga-bunga mama yang subur dan indah.

“Ma, kalau capek biar entar aku yang siram bunganya nanti selepas pulang.”

Mama tersenyum setengah mengejek, “Alah kamu mentang-mentang si Arif penyuka bunga, kamu sok ikutan suka bunga juga.” Mama tertawa sambil menjulurkan lidahnya.

“Biarin, namanya juga cinta, apapun yang disenangi pasangan pasti aku berusaha menyukainya juga.” Dewi tertawa lepas menanggapi mama yang memajukan bibirnya.

“ Aku pergi dulu ya, Ma, Assalamualaikum.”

“Waalaikumsalam nak,” jawab mama seraya menatap punggung anak gadisnya.

***

Dewi membawa ke tepi motornya untuk diparkirkan di halaman samping pondok bunga Arif. Tapi dia dibuat terbelalak oleh keberadaan mobil seseorang yang amat dikenalnya. Dia membatin, kenapa Avanza Bu Linda di sini? Bosnya itu mau beli bunga? Tapi kenapa Bu Lindanya enggak ada? Apa dia di dalam lagi ngomong sama tunangannya? Tapi setahu Dewi selama ini, pembeli selalu disambut oleh Arif, di luar atau di depan pondok. Atau jangan-jangan Bu Linda pelanggan spesial Arif, jadi mereka ngobrolnya di dalam. Berjuta tanya singgah dan datang di pikirannya.

Pelan dia berjalan ke arah masuk pondok. Sepatu high heels yang dikenakannya sengaja dilepas biar tidak menimbulkan suara. Berjalan mengendap-ngendap seperti maling yang takut ketahuan. Telinganya mulai mendengar ada yang bercakap-cakap dari dalam pondok.

“A-aku menyesal dengan keputusanku waktu itu, Rif...Aku mohon kita balikan lagi. Aku masih cinta sama kamu.”

Dewi terperangah, i-i-itu...suara Bu Linda, apa yang dibilangnya barusan, dia masih mencintai bang Arif. Dia minta balikan sama bang Arif. Jadi?...

Dewi baru ingat sekarang. Ketika dia dan Arif jalan-jalan dan singgah di cafe, Arif menanyakan di mana Dewi bekerja. Jawaban Dewi bahwa dia bekerja di kantor notaris sempat membuat Arif menatap tunangannya itu agak lama.

“Siapa nama notarismu, Wi?” tanya Arif mulai mengorek keterangan dari Dewi.

“Linda Retnoningtyas, Bang.”

Dewi menatap keterkejutan di mata sang kekasih, lantas dia balik nanya.

“Kenapa, Abang kenal? Kok aku lihat Abang kayak kaget gitu,” timpal Dewi sambil terus mengamati raut Arif.

“Ah-eh, namanya persis sama dengan temanku dulu waktu SMA,” jawabnya datar.

“Oh ya? Bisa aja Bu Linda itu memang teman lama Abang. Kalau Abang mau, aku bisa bawa Abang ke kantorku.”

“Eng-enggak perlu Wi...menurut kabar terakhir yang kudengar, dia udah menetap di luar negeri. Mungkin saja kebetulan namanya sama.”

Dewi masih terpaku dan makin menajamkan pendengarannya. Jadi Bu Linda mantannya bang Arif? Sebentar, Dewi masih ingin tahu reaksi Arif. Kenapa laki-laki itu masih membisu. Tak ada keberaniannya masuk apalagi di dalam sana ada bosnya. Dewi masih penasaran menunggu jawaban Arif. Terdengar lelaki itu mulai buka suara.

 “Maaf Lin, aku bukan tipe laki-laki yang suka ingkar janji. Aku sudah bertunangan dengan seseorang. Insha Allah dua bulan lagi kami segera menikah. Aku doakan kamu dapat laki-laki yang jauh lebih baik dari aku.”

“Aku mohon beri aku kesempatan, Rif,” pintanya.

Dewi yang masih menguping pembicaraan dua orang itu melongo dan geram demi mendengar perkataan bosnya barusan. Apa-apaan sih Bu Linda, apa belum jelas perkataan Bang Arif kalau mantannya itu sudah tunangan? Kasi kesempatan dia bilang? Cih, enggak tahu malu, tiba-tiba saja rasa muak pada bosnya itu timbul.

“Stop, Lin, hentikan! Suara Arif meninggi dan wajahnya memerah. Kamu yang memutuskan hubungan kita waktu itu. Aku terluka, Lin...aku enggak menyangka dengan apa yang kamu lakukan. Tapi yah sudahlah, itu masa lalu. Itu sudah usai. Ini takdir yang harus kita terima. Sekarang aku minta kamu pergi, sebentar lagi tunanganku datang. Enggak pantas kita berduaan di sini.”          

Dewi yang lagi bersandar pada dinding pondok bambu, buru-buru beranjak ketika didengarnya high heels Bu Linda menuju ke luar. Dia bersembunyi di balik rindang pepohonan mangga yang berdiri kokoh di sebelah pondok itu. Gadis itu lama diam mematung, sambil mengintip di balik batang pohon mangga, menatap Bu Linda bergegas melangkah dan masuk ke dalam mobilnya.

***

 Sakit yang pernah ditorehnya di hati laki-laki sebaik Arif sekarang juga dirasakannya. Penyesalan memang selalu datang belakangan. Takdir memang tak akan tertukar, karena semua telah digariskan oleh yang Mahakuasa. Dirinya yang sudah hampir lima tahun menjalin kedekatan dengan Arif ternyata tak bisa bersatu. Sementara gadis itu yang tak lain adalah pegawainya, baru beberapa bulan menjalin hubungan dengan Arif, tak lama lagi akan bersanding dengan mantannya itu.

Ah, Linda meremas ikal rambutnya. Kepalanya mendadak pusing. Pesona laki-laki lain yang dirasanya memiliki banyak kelebihan dari Arif, melumpuhkan rasa dan pikirnya. Kalau soal tampang, baik laki-laki itu maupun Arif sama tampannya. Namun satu yang tak dimiliki Arif,  yaitu jabatan. Dan Linda memilih meninggalkan Arif yang bersahaja tanpa embel-embel jabatan.

Linda menatap dengan nanar sekeliling kamarnya yang berhias wall paper dengan aksen bunga-bunga kecil. Ada nyeri di ulu hati mengingat bayang-bayang Arif yang akan duduk di pelaminan bersama pegawainya, Dewi.

Dari pagi hingga menjelang sore, perempuan lajang ini masih mendekam di balik selimut. Tak ada semangat melakukan apa pun. Hari ini dia memutuskan tidak masuk kantor. Perlahan dia bangkit dan menyibakkan selimut yang menutupi tubuhnya. Berjalan mondar-mandir di kamarnya seraya sesekali melihat ke arah jam dinding. Hasrat di hati ingin menghubungi Arif sebagai salam terakhir. Tapi melihat amarah Arif beberapa hari yang lalu menciutkan nyalinya.

Sungguh, dia teramat menyesal dengan keputusannya beberapa tahun yang lalu. Namun, penyesalan itu kini tiada arti. Dia melangkah dan duduk di tepi ranjang sambil mengusap pelan bulir bening yang tumpah. Tangisan itu kian menjadi dan bahunya terguncang keras.

Teringat ia  status seorang teman di dunia maya pagi tadi, yang membuat isaknya makin keras.

Jika seseorang sudah ditakdirkan menjadi jodohmu, maka menikah dengannya tak akan kamu lewatkan. Namun, jika orang itu bukan ditakdirkan menjadi jodohmu, maka menikah dengannya tak akan menjadi kenyataan. 

Selesai

Ikuti tulisan menarik Milfa Yunita lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Penumbra

Oleh: Taufan S. Chandranegara

10 jam lalu

Terpopuler

Penumbra

Oleh: Taufan S. Chandranegara

10 jam lalu