Jangan Seret Aku ke Neraka

Rabu, 8 Desember 2021 20:54 WIB
Bagikan Artikel Ini
img-content0
img-content
Iklan
Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Ilmu-ilmu itu tak akan selamanya menjadi jubah kebesaran yang menutupi aib-aibmu. Tingginya ilmu dan pendidikanmu pun tak akan mampu membawamu terbang dari hitamnya kubangan dosa-dosa itu.

Jangan Seret Aku ke Neraka

Oleh: Roudhotul Jannah*

 

Ilmu-ilmu itu tak akan selamanya menjadi jubah kebesaran yang menutupi aib-aibmu. Tingginya ilmu dan pendidikanmu pun tak akan mampu membawamu terbang dari hitamnya kubangan dosa-dosa itu.

***

“Bangun kau, sudah mau magrib begini, sana ke masjid!!”

“Abis salat asar kok tidur, sana mengaji!

Sebilah rotan dihentakkan Mak Rahmi ke tubuh anak bujangnya. Remaja bertubuh kurus itu pun lekas-lekas bangun. Sarung dan kopiah dipakainya dengan asal sambil mengaduh kesakitan, tapi si emak tak memberinya ampun. Ia pun tak mandi. Ia langsung bergegas ke masjid setelah menyambar sajadah dan kitabnya, meninggalkan rumahnya yang riuh dengan lengking kicau si emak.

Di tengah perjalanan, remaja itu melihat sebuah jalan setapak. Jalan itu merupakan jalan pintas menuju masjid. Dengan melewati jalan itu, ia akan cepat sampai dan ia akan punya waktu untuk mandi terlebih dahulu di sana. Remaja itu pun melangkahkan kaki menyusuri jalan tanpa penerangan itu. Beruntung hari belum cukup gelap.

Nyamuk-nyamuk mulai mengerumuni badan remaja yang tak mandi itu. Tak terhitung, sudah berapa kali tangannya menepuki lengan, pipi, kaki serta lehernya yang dihinggapi nyamuk-nyamuk menyebalkan. Belum selesai dengan keruwetannya melawan nyamuk, remaja itu mendengar sayup-sayup suara rintihan seorang perempuan. Bulu kuduknya meremang. Dengan langkah yang dipercepat, ia mencoba mengabaikan suara itu. Tapi, semakin ia melangkah, suara itu terdengar kian jelas. Suara perempuan menangis, menjerit, dan melolong minta tolong. Ah, ia semakin merinding.

Tak bisa dipungkiri, suara itu justru membuat sang remaja penasaran. Jiwa mudanya bergejolak namun ketakutan juga menyergapnya. Remaja kurus itu mendekati sebuah pohon besar. Dari balik semak belukar Nampak seorang perempuan muda dan tiga lelaki bertubuh besar. para garong!

Ia hampir memekik karena terkejut.

Ketiga lelaki itu menyeramkan, air liurnya berceceran, matanya berapi-api, seringai tawa puasnya membuat burung-burung bergegas terbang menjauhi. Remaja itu hampir berpikir ketiga lelaki itu bukan manusia tetapi setan atau iblis yang lepas dari neraka. Sedangkan perempuan muda itu, ya Tuhan, sekaratkah ia?

Tubuh remaja itu gemetaran, rasanya semak belukar tempatnya bersembunyi ikut bergetar karenanya. Ia bingung harus bagaimana. Kakinya tak bisa diajak berlari. Sekarang ia hanya bisa menyesal–bahkan untuk seumur hidupnya. Seharusnya ia tak pernah menuruti rasa penasarannya, seharusnya ia tak melewati jalan setapak ini, seharusnya ia tidak tidur selepas salat ashar. Tapi penyesalannya terlambat, mata sengit salah seorang garong itu melihatnya. Ia bahkan telah terkencing-kencing ketakutan dalam cengkraman para manusia kesetanan itu. Mereka berkata tidak akan melukai, asalkan remaja itu menuruti titah mereka.

Titah pertama sederhana, sang remaja hanya harus bungkam atas apa yang dilihatnya, sang remaja pun menurut. Namun, andai ia tahu apa yang akan dipertontonkan dihadapannya, mungkin remaja itu lebih baik tak punya mata. Ah, tapi ia tak punya daya lain selain menurut.

Tubuhnya tak berhenti gemetar. Satu persatu lelaki itu kembali menghampiri mangsanya, tak puas-puas birahinya pada tubuh perempuan sekarat itu. Sang remaja itu hanya bisa memejamkan matanya agar tak menyaksikan kejadian paling biadab dalam hidupnya. Dari balik jemari tangannya yang menutupi wajah, remaja itu melihat mata sayu sang perempuan malang yang bahkan tak kuasa lagi menangis. Mata itu menusuk hatinya. Dan lagi-lagi ia berpikir, ia bisa apa?

Dengan tubuh yang koyak-moyak disantap ketiga iblis itu, si perempuan malang hanya bisa minta tolong dengan sisa-sisa suaranya yang parau sambil beringsut mengumpulkan pakaiannya yang tercerai-berai.

Usai dengan hal menjijikan yang mereka lakukan, harusnya remaja itu memilih mati saja sebelum manusia binatang itu memberikan titah kedua, perintah yang sungguh lebih menjijikan, tapi celakanya remaja itu lebih takut pada kematiannya!

Sambil tertawa seolah sedang mengatakan gurauan, garong-garong itu menyuruh si remaja untuk melakukan hal sama dengan yang baru saja mereka lakukan. Tentu si remaja menolak. Katanya, ia tidak akan pernah mau melakukan hal keji dan penuh dosa semacam itu sebab ia suci, sebab ia seorang santri. Tapi nyatanya, santri itu telah takluk pada sebilah belati yang diacungkan ke lehernya sebelum menantang maut seperti ucapannya. Dalam ambang kelemahan tubuhnya yang lemas ketakutan, remaja itu dihempaskan ke tubuh polos si perempuan yang diterangi remang rembulan. Pada akhirnya, rasa takut ditambah bisikan setan-setan membuat sang remaja menyetujui titah kedua. Ketiga iblis itu pun tertawa melengking-lengking.

Hari semakin gelap. Wajah sang bulan muram setelah menyaksikan tingkah binatang manusia bumi. Remaja itu tergolek, ia baru saja menjelma jadi binatang. Dengan sisa-sisa tenaganya, ia meraih sarung dan kitab sucinya yang tercecer di tanah. Tawa ketiga garong itu menggema, bersahutan dengan kumandang adzan magrib. Hujan pun turun, memeluk perempuan malang yang baru saja dilempar ke dasar jurang. Tubuh itu sudah tak bernyawa.

***

Di suatu pondokan yang halamannya bertabur dedauanan kering pohon sukun, kau sibuk menyapuinya. Memastikan anak-anak murid mengajimu, hanya akan melihat halaman yang bersih nan rapi. Kau teramat mereka banggakan, “Pak ustad, Pak ustad,” begitulah mereka memanggilmu. Pemuda matang yang terus melajang karena sibuk mengemban tugas fitrah, barangkali seperti itu orang-orang mengelu-elukan pribadimu yang luhur. Ibu-ibu yang beranak gadis, berbondong-bondong menawari kau jadi menantunya, tapi rupanya kau belum minat menunaikan penyempurnaan agama yang disunnahkan oleh Junjunganmu itu.

Seorang Ibu tua kebingungan di jalan. Kau nampak iba, kau silakan ia untuk singgah di pondokmu yang reyot, kau suguhi ia minum dan rebusan buah sukun, selayaknya yang disyari’atkan dalam agamamu, yaitu memuliakan tamu.

Dengan sopan, kau bertanya, “Ibu dari mana dan hendak kemana?”

Sang Ibu tua itu menjawab, “saya dari Desa Puri, hendak mencari anak saya yang hilang, Pak ustad.”

Kau pun turut prihatin. Dengan khidmat kau dengarkan Ibu tua itu bercerita tentang penyebab gundah gulana di hatinya, “anak saya sebenarnya sudah hilang sejak lama. Tapi, saya tidak pernah berhenti mencarinya. Lebih-lebih, saya bermimpi aneh terus akhir-akhir ini, Pak ustad,” lalu, sambung Ibu tua itu, “dalam mimpi itu, saya melihat anak gadis saya yang hilang berada di depan sebuah pintu besar. Seseorang bertubuh besar yang menjaga pintu itu, tidak mengizinkan anak gadis saya masuk ke pintu itu, maka anak gadis saya itu menangis dengan begitu sedihnya.”

Ibu tua itu mengelap air matanya. “Tapi anehnya, anak gadis saya itu hampir tidak berbusana, bahkan tubuhnya itu dilumuri oleh kotoran! Karena itulah Pak ustad, saya selalu merasa sedih,” tutur Ibu tua itu dengan lirih.

Wajahmu terlihat sedih, hanyut dalam cerita Ibu tua itu. Dan seperti biasa, kau ucapkan-kata-kata bijaksana, sebagaimana kau berkata-kata kepada murid-murid mengajimu, sebagaimana kau berpetuah kepada ibu-ibu di majelis-majelis ta’alim. Dengan senyuman mengembang di wajah, kau sarankan Ibu tua itu agar tak usah merisaukan sebuah mimpi, karena boleh jadi, mimpi itu datangnya dari setan. Kau nasihati Ibu itu, agar terus bersabar, dan mengiringi usaha pencariannya dengan berdoa. Kau katakan pula, jangan terlambat salat lima waktu, kalau bisa ditambah salat sunnah juga, sedekah juga, berzakat jangan lupa, berdzikir jangan putus, berderma pada kaum duafa, yatim piatu, orang miskin, juga fisabilillah. Terakhir kau mendoakan, supaya anak si Ibu tua cepat ditemukan dan baik-baik saja.

Ibu tua itu manggut-manggut dan berjanji akan manut pada petuahmu. Setelah mengicip jamuan yang kau suguhkan. Ibu tua itu menyerahkan sekantong selembaran dalam sebuah plastik hitam. Ia meminta tolong agar kau sudi menyebarkan selembaran itu. Selembaran berisi foto anak gadisnya yang hilang dan alamat si Ibu tua. Kau pun mengiyakan, ber-insyaallah akan melaksanakan. Maka, usai berterima kasih banyak, Ibu tua itu mohon diri dan pamit pulang.

Setelah punggung wanita tua itu hilang ditelan tikungan jalan. Kau buka plastik hitam itu, kau lihat kertas bergambar seorang gadis, di kertas itu juga kau baca:

Nama  : Seruni

Umur   : 20 Tahun

Ciri-ciri : …

Kau perhatikan lamat-lamat wajah lugu gadis yang hilang itu. Dahimu berkerut, nampak tak asing, gumam kau. Hingga sebuah kilasan ingatan membuat kau mengingat gadis itu. Seketika kau lemparkan selembaran itu, wajahmu ketakutan, badanmu gemetaran. Kau berlari masuk kedalam pondokmu dan menyambar sebuah tasbih. Komat-kamit bibirmu merapalkan wirid yang panjang.

Ya, tak salah, itu memang gadis yang selalu membuatmu tak putus-putus beristighfar dan salat taubat berkali-kali. Wajah yang selalu membayangi kau akan dosa di masa lalu. Tasbihmu berputar terus. Dzikirmu panjang sekali. Tanpa sadar matamu memejam.

Tiba-tiba dalam penglihatanmu, kau merasakan kau tidak berada dalam pondok reyotmu. Kau berada dalam sebuah tempat yang sangat silau. Setelah mengerjap berkali-kali, menyesuaikan diri, kau pun bisa melihat tempat itu. Begitu asing bagimu. Semerbak keharuman menyeruak di penciumanmu. Aroma surgawi itu membuat kau terpana dan membimbing kakimu melangkah menuju sumber bau wangi itu.

Kau pun berdiri tepat di ambang sebuah pintu besar. Belum usai kau dalam ketercengangan pada megahnya pintu itu, seseorang muncul dan mencekik kau tiba-tiba! Kau terpental jatuh, tapi sosok itu masih terus mencekikmu. Kau terengah-engah, bukan hanya karena kehabisan napas. Namun, karena kau lihat siapa yang membelit lehermu. Wanita dalam selembaran itu, anak gadis si Ibu tua yang hilang itu, sosok perempuan malang pada malam itu. Seruni. Sepasang sorot mata perempuan itu begitu bengis menembus matamu.

“Ampuni aku, Seruni!”

“Aku mohon ampuni aku!!”

Gadis dengan pakaian tak utuh itu tertawa, tawanya menggema.

“Mohon ampun?” tanya perempuan itu sinis, “pada malam itu, aku juga sudah memohon padamu. Aku tahu kau dengar suaraku yang lemah tak berdaya. Tapi, kau tetap melakukannya!” ucap wanita itu lantang sebelum kembali melempar tubuhmu penuh amarah.

“Orang-orang itu memaksaku, aku juga tidak berdaya,” tukas kau dengan lemah dan tangis ketakutan. Sirna sudah semua kegagahan yang kau pelihara selama ini.

“Omong kosong dengan ketidakberdayaan! Kau bukannya tidak berdaya pada orang-orang itu, tapi pada hawa nafsumu! Bukannya kau bantu aku, kau malah ikut menanam kotoran pada tubuh suciku! Bukannya kau terus berontak untuk menolongku, kau malah mematung, seolah terpaku dengan pertunjukan pelemparanku ke dasar jurang. Bukannya kau berusaha mencari bantuan, kau malah lari tunggang langgang menyucikan diri, membiarkan aku meregang nyawa di dalam sana dan mati berlumuran kotoran!!!!” teriak wanita itu berapi-api.

“Aku tak menyangka, kau bisa menyucikan diri sampai seperti ini, sampai menjadi guru mengaji,” wanita itu tertawa dengan keras, lalu, sambungnya, “guru mengaji? Saat kau mengajari murid-muridmu cara bersuci, tak ingat kah kau padaku? Gadis yang kau biarkan mati dalam junub, tanpa dimandikan, tanpa disucikan, tanpa dikuburkan?! Bahkan pintu suci itu tidak menerimaku! Maka, kau harus menerima balasannya!!” Wanita itu mulai menyeret kau yang terus berteriak, “jangan! jangan!” Tapi, wanita itu tidak menghiraukan kau.

“Akan kuseret kau ke neraka!!!”

“Jangaaaan!!!!”

“Jangan bawa aku ke nerakaaa!!!!!”

“Bangun, Pak ustad!! Bangun!!

Kau terkesiap. Menyaksikan murid-murid mengajimu mengerumuni dirimu. Hari sudah petang, waktunya mereka mengaji padamu. Dengan pikiran yang masih limbung, kau nampak seperti orang tolol. Pudar kebijaksaanmu. Salah satu muridmu yang pintar, memanggil seorang Kiai. Mungkin, kau dianggap mereka kesurupan.

Tak lama, datanglah Kiai itu, yang tak lain adalah guru mengajimu sewaktu remaja. Murid-muridmu sudah pulang, tapi kau belum mampu menceritakan permasalahan yang kau alami pada Kiai berwajah arif itu. Ditunggu sampai hampir larut, kau tak bercerita juga. Kau disuruh mengaji, berdzikir, meminum air yang telah didoakan. Kau pun sedikit tenang. Tapi, mungkin kau terlampau malu menceritakan buruknya dosa yang membayangimu.

Akhirnya, kau minta Kiai itu untuk berpetuah padamu perihal dosa. Ia pun berpetuah dengan suara tuanya. Ia bacakan untukmu penggalan surat Al-Baqarah ayat 222 dan ayat-ayat lainnya. Ia katakan padamu perihal taubat, ampunan, serta tentang permohonan maaf. Kau pun mencukupi. Dari wajahmu yang mulai tenang, kau telah tahu harus berbuat apa.

Keesokan harinya, kau bertandang ke sebuah rumah di Desa Puri, rumah Ibu tua itu, Ibu dari Seruni. Diantar Kiai. Segenap permohonan maaf sudah kau niatkan dalam lubuk hatimu. Kau ketuk pintu rumah yang sudah lapuk itu. Tak lupa, kau ucapkan salam. Bibirmu tersenyum ketika kau dengar sahutan jawab salam. Pintu itu perlahan dibuka pemiliknya, derit pintu terdengar nyaring. Lalu, seketika senyum di wajahmu berubah menjadi ketakutan.

Kau lihat gadis yang kerap menghantuimu itu. Seruni. Ia bersiap mencekikmu sambil berkata ia akan menyeretmu ke neraka.

Kiai heran melihat tingkahmu yang tiba-tiba gemetar ketakutan. Padahal, sebenarnya Ibu tua itulah yang nampak di hadapanmu. Kiai menyuruh kau beristighfar. Tapi, kau malah berlari, seolah ada yang mengejarmu. Kiai mengejarmu tapi kau malah semakin terbirit-birit, kau berlari sambil terhuyung-huyung jatuh berkali-kali. Tasbih di tanganmu terpental, kopiah di kepalamu pun entah terbang kemana, kedua benda itu jatuh bersama kebijaksanaan dan citra pemuda suci yang selama ini melekati dirimu. Orang-orang mulai menjadikan kau tontonan. Bibirmu tak henti-hentinya berteriak.

Jangan seret aku ke nerakaaa!

Jangan seret aku ke nerakkaaaaa!!![*]

 

Cilegon, 24 Januari – Serang, 9 November 2021

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

 

*) Roudhotul Jannah. Lahir di Cilegon, 3 Januari 2002. Sedang menempuh pendidikan S-1 Pendidikan Bahasa Indonesia di Universitas Sultan Ageng Tirtayasa. Aktif berkegiatan di HMJ PBI, UKM BELISTRA. Beberapa cerpennya pernah menjuarai perlombaan, dicetak dalam Antologi, dan dimuat dalam koran Banten Raya. Email: r.lamara22@gmail.com.

 

Bagikan Artikel Ini
img-content
ROUDHOTUL JANNAH

Penulis Indonesiana

0 Pengikut

img-content

Jangan Seret Aku ke Neraka

Rabu, 8 Desember 2021 20:54 WIB

Baca Juga











Artikel Terpopuler











Terpopuler di Peristiwa

img-content
img-content
img-content
img-content
img-content
Lihat semua