Kita (Tak) Mau Menangis Saat Dia de Los Muertos - Fiksi - www.indonesiana.id
x

Dyah Sekar Purnama

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 7 Desember 2021

Rabu, 8 Desember 2021 22:50 WIB

  • Fiksi
  • Topik Utama
  • Kita (Tak) Mau Menangis Saat Dia de Los Muertos

    Liburan Karin dan Gita sepenuhnya menyenangkan jika tidak ada perbincangan panjang yang terjadi pada hari terakhir perjalanan mereka. Dua sahabat ini membuka luka satu sama lain bersamaan dengan sukacita yang memenuhi perayaan Dia de Los Muertos. Diikutsertakan dalam Lomba Cerpen Indonesiana 2021

    Dibaca : 537 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Berdiri sendirian di antrean taco yang mengular, menemukan fakta bahwa cardigan-nya tertinggal di kasur hotel sementara malam kian dingin, ditatap dengan aneh oleh seorang bocah laki-laki – entah karena ia terlihat ‘terlalu turis’ atau riasan cavalera di wajahnya tidak simetris - dan mengetahui Gita tidak akan menjawab pesan atau telepon darinya sampai entah dua jam atau dua hari ke depan. Karin tidak mau berekspektasi tentang hal buruk apapun yang mungkin terjadi setelah ini, seperti taco ia idamkan sudah habis ataupun bertemu dengan pemabuk penganut machismo saat ia berjalan pulang sendirian.

    Malam ini seharusnya luar biasa, jika perbincangan itu tidak terjadi. Restoran dan pedagang kaki lima berlomba-lomba menyebarkan aroma ketumbar ke udara atau menyetel lagu Selena Quintalla-Perez keras-keras untuk menarik perhatian turis. Hiasan warna-warni dan ornamen tengkorak yang didesain dengan cantik memenuhi jalan, begitu pula bunga marigold keemasan. Para perempuan menyusuri jalan dengan wajah dilukis serupa tengkorak dan menghias kepala dengan bunga mawar besar. Karin akhirnya mendapatkan sesuatu yang telah ia mimpikan sejak masih menjalani semester empat di bangku kuliah – menyaksikan Dia de Los Muertos atau Hari Kematian langsung di tempat asalnya. Namun, mimpi rupanya tak seindah kenyataan. Karin harus menemukan fakta bahwa di hari terwujudnya impian, ia hampir (atau sudah?) merusak hubungan persahabatannya dengan Gita.

    Semua baik-baik saja sejak empat hari yang lalu. Karin dan Gita berangkat dari Soekarno Hatta tanpa ketinggalan pesawat, membawa paspor baru, dan mengantongi visa yang telah disetujui kedutaan besar sejak dua minggu lalu. Gita mendapatkan pina colada dan enchilada yang lezat, Karin mendapatkan 50 lebih foto di kediaman Frida Kahlo. Mereka berhasil mencentang hampir semua daftar keinginan dalam waktu empat hari. Sepertinya tak ada hal buruk dalam perjalanan ini, kecuali mungkin saat Gita asal mengucapkan kata bahasa Spanyol sehingga seorang perempuan paruh baya di toko roti hampir melempar mereka dengan selop atau Karin lupa membawa kunci hotel. Sayangnya, hari terakhir di negara ini seakan merespons celetukan Karin selama ini, “Perjalanan kita kok asyik-asyik saja? Nggak mau ada tantangan atau kejadian buruk sedikit?”

    Selain berat badan dan gantungan kunci berbentuk topi sombrero, Karin juga mendapatkan pelajaran melalui perjalanan ini. Ia harus lebih berhati-hati dalam berbicara. Ia mungkin tidak menyinggung warga lokal seperti Gita, namun ia menyinggung sahabatnya tersebut sehingga kini mereka terpisah. Mengingat nada suara, ekspresi wajah, dan sikap Gita setelah perbincangan tersebut, Karin harus siap jika harus pulang ke Indonesia sendirian.

    Perayaan Dia de Los Muertos termasuk dalam agenda perjalanan mereka. Sebelum berangkat, Karin sudah mengirimkan sejumlah referensi dari National Geographic dan bercerita panjang mengenai alasannya ingin merasakan perayaan tersebut kepada Gita. “Ini adalah sejenis hari raya bagi masyarakat Mexico, dikhususkan untuk mengenang keluarga dan kerabat yang sudah meninggal. Oleh karena itu, mereka menyebutnya sebagai Hari Kematian,” jelas Karin. “Mereka merayakan kematian,” Karin tak menyangka penegasan akan kultur yang mengagumkan tersebut dapat membuat Gita meledak.

    Karin dan Gita berdiri di depan sebuah altar penuh bunga mawar dan marigold, memperhatikan foto-foto yang dipajang pada altar. Altar tersebut juga dilengkapi dengan piring-piring berisi hidangan menggiurkan, seperti roti, tortilla, hingga kue berbentuk tengkorak yang dihias dengan gula warna-warni. “Ini adalah ofrenda atau altar. Disini, kami memajang foto keluarga dan kerabat yang telah meninggal dan menyediakan hidangan serta benda favorit mereka semasa hidup,” jelas Manuel, lelaki muda yang sudah dua hari merangkap sebagai kawan dan pemandu mereka. “Pada Dia de Los Muertos, kami meyakini bahwa mereka yang sudah meninggal akan berkunjung kembali. Keluarga kami akan pulang ke rumah dan melepas rindu. Oleh karena itu, kami memandang hari ini sebagai hari yang penuh sukacita.” Karin menyadari Gita terdiam cukup lama, garis tipis yang mencerminkan kesedihan timbul di wajahnya. “Kalau begitu, apakah di hari ini ayahku juga bisa hadir menemuiku?” tanya Gita.

                Karin ikut terdiam, bibirnya kini setipis garis. Ia langsung memegang bahu sahabatnya, menarik Gita dalam rangkulan. Karin tahu bahwa perbincangan mengenai ayah Gita membuat perempuan muda itu selalu terluka. Namun, ia berusaha memecah suasana saat melihat Gita yang mulai murung dan Manuel memasang wajah bingung. “Mantanku membunuh diriku yang dahulu. Apakah diriku yang dahulu bisa hadir pada hari ini? Aku ingin merayakannya!” celetuk Karin dalam bahasa Inggris, sehingga Gita ikut mengerti.  Namun bukannya tertawa, Karin menyadari air muka Gita kian keruh.

    Karin langsung mengalihkan pandangan dari ponsel saat namanya dipanggil oleh Gita. “Can you believe it? Mereka merayakan kematian,” tutur Gita. Lingkaran hitam yang menutupi kelopak mata Gita membuat ekspresi cemberut tersebut lebih mengerikan. “Ya… Memang. That’s their culture. Mengagumkan ‘kan?” timpal Karin sambil tersenyum. Ia kembali mematut diri di kamera, mengagumi riasan La Catrina, tengkorak cantik ikon hari Dia de Los Muertos, yang kini menghias wajahnya. “Wow, gue suka banget dengan riasan ini. Punya lo juga bagus deh! Ayo-ayo, mau gue post di story!” ujar Karin sambil merangkul Gita yang masih cemberut, mengarahkan kamera depannya ke wajah mereka berdua. “Rin, nggak sekarang,” tukas Gita sambil menepis tangan Karin. Karin cukup terkejut saat sadar ponselnya hampir jatuh ke tanah. “Lo kenapa sih, Git?” ia menyadari nada suaranya meningkat. Gita menghela napas, ia melemparkan pandangan marah ke segala arah.

    “Gue nggak ngerti dengan konsep ‘merayakan kematian’. How could?! Bagaimana lo bisa merayakan kehilangan seseorang yang lo sangat sayangi dan hargai keberadaannya di kehidupan lo? Bagaimana lo bisa bersukacita dengan anggapan bahwa ada hari khusus dimana arwah orang yang lo sayang mengunjungi lo?” pernyataan Gita membuat Karin mengernyitkan dahi. “Itu kepercayaan dan kultur mereka, Git. Kok lo sewot?” Karin merasakan darahnya mendidih. Udara dingin, musik reggaeton yang terlalu keras, antrean mengular, dan tutur Gita berkolaborasi untuk membuatnya naik darah. Ia menghela napas dan memaksakan sebuah senyum di wajahnya. “Lagipula, perayaan ini keren banget, bukan? Banyak hiasan warna-warni dan makanan enak. Kita nikmati waktu ini, ya?” Karin setengah memohon.

    Ia tahu bahwa fakta bahwa Gita kehilangan ayahnya dua tahun yang lalu itu meninggalkan luka yang masih segar di hatinya. Ia tak sengaja mengintip struk layanan psikiatri yang terlempar dari dompet Gita. Ia tahu Gita menahan diri dari gemetar ketika perbincangan mengenai ayahnya diangkat. Tetapi, ia cukup heran bahwa perayaan sebuah hari kultural dapat membuat Gita terpancing bahkan bersikap cenderung menyebalkan. “Gue nggak suka perayaan ini, Rin. Mereka nggak tahu bagaimana sakitnya kehilangan seseorang yang begitu lo cintai. Kematian merenggut banyak hal dari gue. Ayah gue, sinar di mata nyokap, hari-hari gue, dan masih banyak lagi. Ini bukan hal yang cocok untuk dirayakan, Rin,” tukas Gita.

    “Git, don’t take it personally. Jangan menganggap bahwa perayaan ini menyerang lo,” ucap Karin lembut. “Anggaplah Dia de Los Muertos sebagai suatu festival yang menyenangkan. Kenangan manis dari Mexico yang lo bisa bawa pulang ke Indonesia, bisa lo tulis di sosial media ataupun ceritakan ke teman-teman. Nggak semua punya pengalaman, lho..”

    Karin mengunci mulut ketika melihat sorot mata Gita berubah sedingin es. “Tolonglah jadi empatik, Rin. Lo nggak mengerti perasaan dan luka gue. Lo hanya peduli dengan suasana, perayaan, dan bucket list lo,” tukas Gita. “Lo sangat ingin merasakan Dia de Los Muertos, bukan? Oke, lo sangat bahagia dan terlarut dalam sukacita disini. Tapi apakah lo nggak sadar bahwa perayaan ini bakal jadi sesuatu yang ‘memantik’ gue?” Karin merasakan tenggorokannya seperti dihuni ular tembaga, mencegah kata untuk terlepas. “Maaf Git, gue tak bermaksud untuk membuat lo terluka,” ucap Karin. “Ya, karena lo hanya memikirkan diri sendiri,” tukas Gita tajam. “Dari awal, gue tahu perjalanan kita ke Mexico ini untuk melupakan Toby dan menyembuhkan diri. Selama perjalanan, lo selalu cerita tentang Toby dan bagaimana dia menyakiti lo. Bahkan, lo selalu menepis dan mengganti topik setiap kali gue mengenang ayah.”  

    Kalimat dan nama yang disebut oleh Gita berhasil menggodok darah Karin. Ia sangat terpukul.  “Gue selalu dengar tentang bagaimana lo sangat terluka karena Toby. Tetapi di sisi lain, lo nggak peduli dengan luka yang gue alami sejak kehilangan ayah gue, kan’?” tanya Gita sinis. Karin mengerjapkan mata untuk menyingkirkan air panas yang mulai menumpuk di pelupuknya. “Iya. Gue nggak peduli tentang luka lo. Iya, gue mengajak lo untuk berlibur bersama ke Mexico untuk melupakan Toby. Dan hari ini, gue mau merayakan kematian persahabatan kita,” tukas Karin. Mata dingin Gita adalah hal terakhir yang Karin tatap sebelum sahabatnya itu melenggang pergi.

    Senorita!” suara berat itu langsung menarik Karin kembali ke dunia nyata. “Si?” Karin langsung mengarahkan pandang ke pria paruh baya bercelemek yang menatapnya tajam. “Mau pesan apa?” tanya pria itu. “Anda membuat antrean terhambat.” Karin menemukan lusinan tatapan sinis menghujamnya, termasuk dari bocah laki-laki yang sedari tadi menatapnya aneh. “Ay, lo siento! Satu taco dengan daging saja. Pakai tortilla,” pesan Karin cepat.

    Taco terbaik di pasar malam khusus Dia de Los Muertos terasa hambar di lidah Karin. Kalimat yang diluncurkan Gita seperti rudal untuk meruntuhkan pertahanan hatinya. Pikiran Karin kembali melayang ke hubungan yang sudah ia jalani selama dua tahun dan ia selesaikan sebulan lalu. Hubungan yang membuatnya merasa tak berharga. Hubungan yang membuatnya tidak bekerja selama hampir dua bulan, demi membuat sang kekasih merasa ‘aman’ karena Karin tak lagi terlalu mandiri. Lelaki yang memusnahkan rasa percaya sejak ia memilih meninggalkan Karin untuk perempuan lain. Karin tahu sesuatu telah mati– cintanya pada Toby, rasa percayanya pada cinta, dan bagian besar dari dirinya sendiri.

     Karin tiba-tiba merasa egois. Kehilangan Toby meruntuhkan dunianya selama hampir tiga bulan. Ia sibuk merepotkan teman-temannya dengan ajakan jalan, permintaan untuk mengobrol, ataupun menemaninya saat ingatan mulai mendorong Karin untuk melukai dirinya sendiri. Salah satu yang paling sering ia hubungi adalah Gita. Perempuan itu siap sedia untuk ditelepon oleh Karin, membawakan kue red velvet kesukaan Karin atau sebotol kecil anggur saat hari sedang tidak baik-baik saja, hingga menemani Karin berpergian. Karin sadar bahwa ia terlarut dalam lukanya hingga tidak bisa sepenuhnya ada untuk Gita. Ia sibuk menyembuhkan dirinya tanpa sadar bahwa Gita juga terluka, jauh lebih dalam darinya.

    Karin baru menyadari kursi kosong di sebelahnya telah dihuni. “Sendiri saja, dimana Gita?” tanya Manuel. “Dan tolong untuk segera memakan taco­-mu. Jauh lebih enak dimakan hangat-hangat.” Karin langsung menyodorkan taco-nya ke Manuel, yang ia terima dengan girang. “Buatmu saja, aku kehilangan nafsu makan,” ucap Karin getir. “Kalau boleh kutebak, kalian sedang bertengkar,” celetuk Manuel. “Tidak menebak juga sih… Aku mendengar ibu-ibu di antrean taco ngomel karena ada dua perempuan bertengkar dengan bahasa asing dan membuat antrean terhambat.”

    “Kau tahu, Senorita… Dia de Los Muertos memang tentang sukacita. Namun, kau boleh-boleh saja menangis di hari ini. Kematian bisa dirayakan dengan kesedihan,” tutur Manuel. “Saya pun berpikir kematian itu beragam. Kematian secara harfiah, dimana seorang yang kau sayang meninggal dunia. Ada juga kematian lain, seperti hubungan yang mati, rasa percaya yang mati, ataupun kehilangan diri sendiri. Semua mendatangkan kesedihan dan tak ada kesedihan yang boleh dibandingkan.”  

    Mariachi memainkan musik yang gembira dengan gitar mereka. Pemuda dan pemudi berputar-putar di lantai dansa. Papel picado warna-warni tergantung di atas kepala, menegaskan rasa gembira. Namun, setelah berdansa dua lagu dengan Manuel, Karin memutuskan untuk mengasingkan diri. Menikmati sukacita tersebut sambil membiarkan pandangannya kabur oleh air mata. Menangisi Toby, menangisi ayah Gita, dan menangisi persahabatannya dengan Gita.

    “Rin,” suara familiar itu membuat Karin merinding. Gita duduk di sebelahnya dan langsung menggenggam tangannya. “Gue mau minta maaf karena tadi gue bersikap kekanakan dan emosi. Harusnya gue tidak terpelatuk karena perayaan ini, harusnya gue bersikap lebih respect,” tutur Gita, suaranya bergetar. “Seharusnya lo bisa menikmati malam ini. Tapi gue membuatnya jadi buruk dengan membahas luka gue dan mengangkat topik tentang Toby. Gue tahu lo juga terluka, Rin. Dan luka lo nggak boleh gue bandingkan dengan luka gue. Maafin gue banget, Rin.”

    Karin lekas menghapus air mata yang mulai menetes ke pipinya. Ia menyodorkan sebatang marigold ke tangan Gita. “Masyarakat Meksiko percaya bahwa bunga marigold dapat mengantarkan arwah orang terkasih untuk pulang di malam Dia de Los Muertos. Lo boleh anggap bunga ini apa saja, baik hiasan, sekadar bunga cantik, ataupun adanya rasa percaya bahwa malam ini ayah lo datang berkunjung,” jelas Karin cepat. “Tapi satu hal, lo juga boleh merayakan kesedihan sekarang. Kita boleh menangis di Dia de Los Muertos.”

    Riasan Karin dan Gita tumpah di sudut bar yang nyaring dan penuh tawa. Riasan cavalera meleleh oleh air mata. Dalam dekapan satu sama lain, mereka merayakan luka yang mereka gunakan untuk melukai satu sama lain. Mereka menangis di Dia de Los Muertos, hari yang penuh sukacita untuk merayakan perihal yang penuh dukacita.

     

               

    Ikuti tulisan menarik Dyah Sekar Purnama lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.