x

Tanaman Hias. Gambar oleh Karolina Grabowska dari Pixabay

Iklan

Alfiyatul Yusriyah

Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Bergabung Sejak: 13 Desember 2021

Selasa, 14 Desember 2021 06:19 WIB

Memaknai Puisi Sajak Putih Karya Sapardi Djoko Damono

Tulisan ini berisi narasi tentang makna-makna dan pesan moral yang terkandung dari puisi ciptaan sang pujangga legendaris Indonesia yaitu Sapardi Djoko Damono yang berjudul "Sajak Putih".

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Puisi dengan judul Sajak Putih merupakan salah satu karya sastra hasil ciptaan dari seorang pujangga legendaris Indonesia, yakni Sapardi Djoko Damono. Puisi-puisi Sapardi Djoko Damono memiliki ciri khas tersendiri, selain pada keindahan sajaknya namun juga berisi hal-hal sederhana tetapi sarat akan makna mengenai amanat dan nilai-nilai kehidupan. Tidak heran jika puisi-puisinya tersebut selalu abadi menempati tempat istimewa di hati para pembacanya.

Dalam larik-larik puisi “Sajak Putih”, Sapardi Djoko Damono ingin menyampaikan pelajaran kehidupan tentang sejatinya hubungan manusia dengan lingkungan sangat erat berkaitan. Untuk dapat memahami makna secara menyeluruh dari puisi tersebut, maka penulis akan memaparkan interpretasi makna perbait dari puisi “Sajak Putih. 

Bait ke-1:

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Beribu saat dalam kenangan

Surut perlahan

Kita dengarkan bumi menerima tanpa mengaduh

Sewaktu detik pun jauh

Dalam bait pertama berisi makna tentang begitu banyak momen indah yang dilalui manusia di setiap episode kehidupannya. Tidak terasa momen-momen tersebut telah menjadi kenangan yang tidak dapat terulang kembali. Bumi menjadi rumah yang selalu menerima segala perlakuan dan perbuatan manusia. Begitu tulusnya dalam menerima, bumi tidak pernah terdengar oleh indra pendengaran manusia bahwa bumi mengeluh dari masa ke masa.

Bait ke-2:

Kita dengar bumi yang tua dalam setia

Kasih tanpa suara

Sewaktu bayang-bayang kita memanjang

Mengabur batas ruang

Pada bait kedua berisi makna ajakan kepada manusia untuk bersimpati memahami bahwa bumi sudah menua dengan kesetiaannya terhadap manusia, menua dengan ketulusannya menaungi dan mengasihi tanpa mengharap balasan dari manusia. Hingga ketika memasuki waktu usia senja sang bumi, keindahan segala isi batas ruang dalam bumi menjadi samar-samar atau dalam kata lain bahwa bumi akan segera memasuki fase kehancuran.

Bait ke-3:

Kita pun bisu tersekat dalam pesona

Sewaktu ia pun memanggil-manggil

Sewaktu kata membuat kita begitu terpencil

Di luar cuaca

Pada bait ketiga berisi makna bahwasanya manusia tidak memiliki kepekaan terhadap fase yang akan dialami oleh bumi. Manusia tidak menyadari bahwa hal itu terjadi karena ulah tangannya sendiri. Seakan-akan terjebak oleh keterbatasan akal dan cara pandangnya, sehingga manusia tidak menghiraukan kekacauan dan rintihan yang dialami oleh bumi padahal bumi telah memanggil-manggil sebagai panggilan agar manusia berhenti melakukan kerusakan dan bertindak memperlakukan bumi dengan baik. Akan tetapi, tiba masanya ketika kata-kata penyesalan tidak lagi berarti bagi kehidupan manusia, yang tersisa hanyalah manusia terus dalam keadaan ketakutan dan terasing di bumi.

Itulah makna dari puisi yang dapat penulis interpretasikan. Adapun amanat dari puisi “Sajak Putih”  ini ialah manusia dianjurkan untuk selalu menjaga bumi yang sudah renta ini dengan tidak merusak ekosistem dan senantiasa menciptakan kenyamanan bagi setiap lingkungan di bumi. Sadarilah bahwa setiap kekacauan atau kerusakan bumi merupakan hasil dari ulah manusia sendiri. Semoga pesan yang terkandung dalam puisi "Sajak Putih" bisa kita terapkan di kehidupan sehari-hari. 

Ikuti tulisan menarik Alfiyatul Yusriyah lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Pagan

Oleh: Taufan S. Chandranegara

3 hari lalu

Terkini

Terpopuler

Pagan

Oleh: Taufan S. Chandranegara

3 hari lalu