x

Iklan

DANU DARPITO 2020

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 9 Desember 2021

Sabtu, 18 Desember 2021 15:44 WIB

Sapardi Djoko Damono di Balik Puisinya Penuh Dengan Kisah-Kisahnya

Di antara ratusan pujangga karya pujangga kelahiran Surakarta pada 20 Maret 1940, "Aku Ingin", bersama dengan "Juni Hujan", sudah sangat populer dan digandrungi penikmatnya secara turun temurun. Namun, Sapardi Joko Damono mengaku sangat menikmati puisi "Meister" dan "Berjalan ke Barat di Pagi Hari". Puisi pertama yang menerima penghargaan dari Malaysia pada tahun 1983 atau 1984. “Ini adalah hadiah terbaik yang pernah saya terima, dan itu adalah tawaran yang bagus ketika saya membeli mobil,” kata penulis yang kuliah di Fakultas Sastra Universitas Gadjah Mada Yogyakarta ini.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Di antara ratusan pujangga karya pujangga kelahiran Surakarta pada 20 Maret 1940, "Aku Ingin", bersama dengan "Juni Hujan", sudah sangat populer dan digandrungi penikmatnya secara turun temurun. Namun, Sapardi Joko Damono mengaku sangat menikmati puisi "Meister" dan "Berjalan ke Barat di Pagi Hari".

Puisi pertama yang menerima penghargaan dari Malaysia pada tahun 1983 atau 1984. “Ini adalah hadiah terbaik yang pernah saya terima, dan itu adalah tawaran yang bagus ketika saya membeli mobil,” kata penulis yang kuliah di Fakultas Sastra Universitas Gadjah Mada Yogyakarta ini.

Puisi kedua dengan bangga mewakili Asia Tenggara yang termasuk dalam kumpulan puisi dunia. Puisi itu kemudian diterjemahkan menjadi jalan-jalan ke barat di pagi hari.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Sapardi mengaku melihat nama Kahlil Gibran di bawah puisi "Aku Ingin" yang dikutip dalam undangan pernikahan. Kahlil Gibran adalah seorang seniman dan penulis Lebanon yang meninggal pada tahun 1931. Dia mengatakan itu tidak pernah menjadi masalah. "Buat saja dia mau melakukannya," katanya.

Saat ditanya tentang inspirasi menulis puisi "Aku Ingin", Sapardi Djoko Damono mengatakan puisi itu memiliki dua unsur. Puisi adalah gambar dan puisi adalah suara. “Jadi ketika kita membaca puisi, tidak ada gambarnya, karena puisi adalah kata, dan kata itu sifatnya bunyi, jadi puisi adalah bunyi yang bisa menghasilkan gambar,” ujarnya. "Ketika saya menulis, itu tidak berarti bahwa itu penting bagi saya. Tapi gambarnya adalah Anda. Ada pohon, ada api. Pohon itu terbakar dan menjadi abu. Apa yang harus saya lakukan? Anda harus berpikir. Lakukan dengan gambar ini. Menurut pendapat saya, ternyata cinta yang sangat intim antara api dan kayu.

Kata cinta disebutkan dua kali  dalam puisi "Aku Ingin". Saat membuat puisi, Sapardi mengakui bahwa ada cinta yang sangat mendalam antara api dan kayu saat itu. Sapardi Djoko Damono, bagaimanapun, mengatakan karyanya  bukanlah  puisi cinta. "Tapi menurut saya itu bukan puisi cinta," jelas Sapardi.  Tapi dia memberikan kebebasan kepada setiap orang untuk menafsirkan. Bahkan Sapardi tidak mempermasalahkan ketika ada yang menafsirkan puisi itu menceritakan soal keputusasaan penyairnya.

Sapardi menulis pukulan hujan pada bulan Juni berdasarkan pengalaman hidup yang singkat. Saat masih muda bersama Yoga, ia ingat bahwa Juni adalah bulan kering di malam yang sangat dingin. Tidak akan hujan bulan ini.Tetapi ketika dia pindah ke Jakarta, dia melihat bahwa hujan turun di bulan Juni. Ini harus kering. "Ketika musim kacau di seluruh dunia. Ini adalah yang saya gunakan untuk sajak hujan di bulan Juni. Hujan, pepohonan, imajinasi saya bermain di sana,” kata Sapardi Joko Damono.

Penyair yang memuji WS Lendra mengaku lebih memilih musim hujan daripada musim kemarau. Selain panasnya musim kemarau, Sapardi Joko Damono mengaku mengenang masa kecilnya bersolo karier di  musim hujan. "Hujan adalah salah satu pengalaman yang paling tidak biasa dan telanjang. Kami seperti itu dengan dua teman. Hujan sangat deras dan ada kereta. Ada tempat untuk menggantung di belakangnya. Kami berjalan di sekitar sana. Sampai tidak hujan di satu tempat. Jadi aku berjalan telanjang. Saya ingat  itu," katanya.

Sapardi mengaku bisa menulis puisi di mana saja. Beberapa puisinya ditulis di kantor, kereta api, atau pesawat. Namun, menurut Sapardi Djoko Damono, proses penulisan puisi  harus menunggu suasana hati yang positif. "Menulis di mana-mana tidak ada bedanya bagi saya, tetapi suasana hati adalah yang paling penting," katanya.

Ikuti tulisan menarik DANU DARPITO 2020 lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Terkini

Terpopuler