Menyelami Makna Mencintai Pada Puisi Dalam Doaku Karya Sapardi Djoko Damono

Sabtu, 18 Desember 2021 05:58 WIB
Bagikan Artikel Ini
img-content0
img-content
Iklan
Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Puisi adalah cara  pengarang  menyampaikan sesuatu Dia merasakan melalui pilihan kata-katanya yang indah. Puisi "Dalam doaku" Sapardi Djoko Damono adalah puisi yang ditulis pada tahun 1989 dan kemudian diterbitkan. PT Gramedia Pustaka Utama Anggota IKAPI, Jakarta,  2013. Sapardi Ada cara unik untuk menyampaikan makna tersirat  puisi "Dalam doaku." Untuk mengetahui makna  puisi yang dalam Saya perlu belajar "dalam doa saya". 

Puisi adalah cara  pengarang  menyampaikan sesuatu Dia merasakan melalui pilihan kata-katanya yang indah. Puisi Dalam Doaku Sapardi Djoko Damono adalah puisi yang ditulis pada tahun 1989 dan kemudian diterbitkan PT Gramedia Pustaka Utama Anggota IKAPI, Jakarta,  2013. Sapardi memiliki cara unik untuk menyampaikan makna tersirat  puisi tersebut.  Untuk mengetahui makna  puisi yang dalam Saya perlu belajar "dalam doa saya". 

Secara pribadi, saya salah satu penggemarnya. Salah satu puisi yang sudah berkali-kali saya baca  adalah puisi berjudul "dalam doaku".  Puisi ini adalah  puisi sederhana dengan kata-kata sederhana, tetapi begitu Anda membacanya, Anda diajak untuk menggunakan idiomnya untuk mengeksplorasi luasnya imajinasi Anda, termasuk antropomorfisme, depersonifikasi, integrasi, pengulangan, dan perumpamaan. Gambaran yang digunakan dalam puisi ini dimulai dengan gambar melihat, mendengar, dan bergerak, dan bersifat lengkap.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Puisi Dalam Doaku

Dalam doaku subuh ini kau menjelma langit yang semalaman tak
memejamkan mata, yang meluas bening siap menerima
cahaya pertama, yang melengkung hening karena akan
menerima suara-suara

Ketika matahari mengambang tenang di atas kepala, dalam doaku
kau menjelma pucuk-pucuk cemara yang hijau senantiasa,
yang tak henti-hentinya mengajukan pertanyaan muskil
kepada angin yang mendesau entah dari mana

Dalam doaku sore ini kau menjelma seekor burung gereja yang
mengibas-ibaskan bulunya dalam gerimis, yang hinggap di
ranting dan menggugurkan bulu-bulu bunga jambu, yang
tiba-tiba gelisah dan terbang lalu hinggap di dahan mangga
itu

Maghrib ini dalam doaku kau menjelma angin yang turun sangat
perlahan dari nun di sana, bersijingkat di jalan dan
menyentuh-nyentuhkan pipi dan bibirnya di rambut, dahi,
dan bulu-bulu mataku

Dalam doa malamku kau menjelma denyut jantungku, yang
dengan sabar bersitahan terhadap rasa sakit yang entah

batasnya, yang setia mengusut rahasia demi rahasia, yang tak
putus-putusnya bernyanyi bagi kehidupanku

Aku mencintaimu. Itu sebabnya aku takkan pernah selesai
mendoakan keselamatanmu

Kekuatan cinta dalam puisi ini sangat kuat. Bait yang paling menarik tentu saja adalah bait terakhir. Dicintai dan dicintai berarti bisa saling bereinkarnasi dan merasakan  baik kebahagiaan maupun penderitaan orang yang dicintai, dan berdoa agar kita mencintai kelemahan yang lama setidaknya lima kali  sehari setiap saat.

Jika diamati lebih dekat, jelas bahwa puisi ini tidak ditujukan untuk orang-orang dengan status yang hanya dapat dianggap sebagai kekasih atau teman. Tetapi ditujukan kepada orang yang  kita cintai sepenuhnya, yaitu suami/istri yang menjadi pasangan hidup kita. Bisa juga ditujukan pada bayi/anak-anak yang  mengisi jiwa kita sepenuhnya.

Jadi bagaimana Anda bisa mencintainya? Jawabannya adalah  doa. Doa  dipanjatkan setiap pagi (bait ke-1), siang (bait ke-2), sore (bait ke-3), maghrib (bait ke-4), dan malam (bait ke-5). Dengan kata lain, doa dilantunkan setiap hari dari pagi, siang hingga malam, dan pagi. Bukankah menyenangkan mencintai seseorang sepanjang hari? Dan puncak dari bait terakhir adalah penulis berdoa untuk keselamatan orang yang dicintainya.

Ungkapan hati ini menegaskan bahwa Tuhan selalu ada dan  dekat dengan kita, meskipun detak jantung setiap  manusia seperti counter Dzikir berdoa kepada Sang Pencipta. Pikiran juga berhubungan dengan seberapa dekat kita dengan kematian. “Dalam doaku malamku, kau degup jantungku,  sabar menahan rasa sakit yang tak berkesudahan, dengan setia menjelajahi misteri demi misteri, dan bernyanyi terus-menerus untuk hidupku.” Dijelaskan pada bait itu.

 

Bagikan Artikel Ini
img-content
DANU DARPITO 2020

Penulis Indonesiana

0 Pengikut

Baca Juga











Artikel Terpopuler