Peran Guru dalam Membangun Budaya Jujur

Rabu, 22 Desember 2021 15:49 WIB
Bagikan Artikel Ini
img-content0
img-content
Iklan
img-content
Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Pendidikan merupakan pintu utama untuk melahirkan generasi-generasi handal dalam berbagai bidang kehidupan. selain ahli dalam bidang tertentu harapan besar lain setiap orang tua adalah lahirnya dari dunia pendidikan generasi-generasi yang memiliki prilaku baik. salah satu perilaku yang penting untuk diajarkan dan dibudayakan pada peserta didik adalah sifat jujur. sebuah karakter yang perlahan mulai pudar tidak hanya pada generasi tua tetapi juga pada generasi muda. oleh karena itu, menumbuhkan perilaku jujur ini harus menjadi tugas bersama.

Coba kita perhatikan fenomena di traffic ligh berapa banyak pengendara yang menerobos lampu merah sebelum lampu hijau menyala, begitu juga berapa banyak pengendara motor yang sudah tidak mengenal rambu-rambu lalu lintas dengan menerobos penuh kecepatan tanpa melihat pejalan kaki atau pengendara lain di sekitarnya. Apakah ini hasil pendidikan kita? Bukankah pendidikan sudah semakin maju tapi mengapa tidak berjalan seimbang dengan perilaku para pelajar kita? pertanyaan ini diajukan oleh dosen ketika saya masih duduk di bangku kuliah. Sebuah pertanyaan yang patut menjadi renungan kita bersama baik yang berkecimpung dalam dunia pendidikan maupun masyarakat umum.

Perkembangan dunia pendidikan saat ini tidak disanksikan lagi sudah menempati posisi ideal yang diharapkan mampu mencetak generasi-generasi unggul. Hal ini terlihat misalnya dari semakin banyaknya lembaga pendidikan dengan jaminan lulusan yang berkualitas. Baik dari segi skill maupun kognitif. Masyarakat yang dahulunya tidak mampu melanjutkan pendidikan pun saat ini sudah diberikan akses yang mempermudah mereka melanjutkan pendidikanya. Walaupun tidak dipungkiri bahwa disisi lain masih banyak kekurangan yang perlu terus dibenahi.

Pendidikan merupakan pintu utama untuk melahirkan generasi-generasi handal dalam berbagai bidang kehidupan. Oleh sebab itu, pendidikan senantiasa menjadi prioritas untuk dapat dilalui oleh setiap orang dalam kehidupannya. Dengan ketersediaan lembaga pendidikan saat ini baik yang formal maupun non formal setidaknya memberikan angin segar akan lahirnya pribadi-pribadi unggul untuk kemudian menjadi tonggak perubahan.

Untuk melahirkan pribadi-pribadi unggul tersebut manajemen dan ketersediaan fasilitas sekolah menjadi salah satu penunjang. Namun guru tetaplah menjadi titik central bagaimana lulusan yang akan dicetak menjadi lulusan yang unggul dalam segala bidang kehidupan.

Pendidikan saat ini yang dengan segala kelebihan yang diberikan tidak disanksikan sudah memberi harapan akan melahirkan generasi unggul. Tapi kenyataannya lulusan-lulusan yang dihasilkan masih sebatas unggul dalam pengetahuan teori tapi belum dalam tataran perilaku. Hal inilah yang menurut penulis penting untuk menjadi perhatian kita bersama. Mengapa perilaku lulusan-lulusan berpendidikan kita masih menjadi perbincangan dalam tataran perilaku yang kurang baik. Banyak masyarakat yang mulai mengeluhkan bagaimana perilaku pelajar kita yang tidak sesuai dengan tingkat kependidikan yang mereka dapatkan.

Kembali lagi, guru menjadi sorotan. Mengapa? Karena gurulah yang paling berperan untuk mencetak lulusan-lulusan tersebut menjadi lulusan yang unggul.

Saat ini sudah waktunya pendidikan tidak hanya fokus bagaimana agar lulusan sekolahnya menjadi lulusan unggul dalam prestasi, tetapi juga sudah harus mulai menciptakan dan membangun budaya kejujuran dalam lingkup sekolah. Dengan terciptanya perilaku kejujuran dalam pribadi setiap siswa lulusan pendidikan kita pun akan memberikan nuansa baru yang sebenarnya menjadi harapan inti dari setiap orang tua yang menitipkan anaknya dalam lembaga pendidikan.

Selanjutnya bagaimana membiasakan perilaku jujur dalam pribadi siswa/i menjadi tantangan tersendiri bagi dunia pendidikan. Tantangan ini terasa berat karena harapan tumbuhya kejujuran tersebut masih diberikan dalam batas teori di kelas dan arahan guru yang terkadang hanya sekali dua kali. Teori yang diberikan belum menyentuh dan melekat dalam pribadi siswa.

Lalu bagaimana caranya? Selain teori, guru sebagai pribadi yang harus dicontoh setidaknya memberikan teladan dengan prilakunya terlebih dahulu. Pendidikan perilaku tidak membutuhkan teori yang muluk-muluk melainkan contoh yang dapat ditiru. Dengan teladan yang diperlihatkan guru, guru akan sangat enjoy dalam mengarahkan perilaku kejujuran siswa/inya bahkan dengan guru berprilaku demikian, guru tidak akan sungkan memberikan teguran bagi siswa/i yang melanggar tata tertib budaya yang telah disepakati.

Menumbuhkan budaya kejujuran jika tidak dimulai dari guru tidak akan memberikan efek positif dalam pribadi siswa/i. Merujuk pada Rasulullah Muhammad SAW Islam dipeluk dan diperjuangkan para sahabat awal bukan karena rasulullah membawa al-Qur’an dan hadits, karena pada masa awal al-Qur’an belum turun. Sejarah mencatat para sahabat awal memeluk Islam karena melihat perilaku rasulullah dalam sehari-hari. Rasulullah dikenal sebagai sosok yang jujur, amanah dan berbagai perilaku baik lainya. Perilaku rasulullah ini mengajarkan kepada kita bahwa untuk menarik simpati dan mendidik seseorang terlebih dahulu kita harus menjadi teladan yang bisa menjadi contoh.

Sebuah keniscayaan mengajak siswa berperilaku jujur apabila kejujuran itu tidak diberikan guru melalui perbuatan yang dapat dilihat oleh siswa/i baik di sekolah maupun di luar sekolah.

Bentuk kejujuran seperti apa yang perlu dibudayakan? Pertayaan ini penting untuk kita jawab. Karena kejujuran bukan hanya milik lingkungan sekolah tetapi milik seluruh aspek kehidupan seseorang. Perilaku jujur tidak hanya di lingkungan sekolah tetapi juga di luar sekolah. Jadi kejujuran yang perlu dibudayakan adalah kejujuran dalam interaksi sosial (orang tua, guru, masyarakat), kejujuran dalam amanah serta kejujuran dalam tugas. Sekali lagi kejujuran ini hanya akan tercipta jika teori yang diberikan digandengkan dengan perilaku kejujuran yang diperlihatkan oleh guru-guru di sekolah maupun di luar sekolah.

Contoh yang paling mudah adalah bagaimana guru berperilaku jujur dalam menyusun perangkat pembelajaran, jujur dalam mengajar dan jujur dalam berbicara. Dengan budaya kejujuran seperti ini nyakinlah bahwa menghidupkan budaya jujur di sekolah bukan hanya angan-angan semata tetapi akan benar-benar tercipta.

Bagikan Artikel Ini
img-content
Sahran

Penulis Indonesiana

0 Pengikut

Baca Juga











Artikel Terpopuler