x

masalah \x3d teman

Iklan

Sahran

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 9 Desember 2021

Kamis, 23 Desember 2021 17:19 WIB

Bercerminlah, Tapi Jangan Asal Bercermin

Siapa yang tidak pernah bercermin? hampir dipastikan semua pernah bercermin, tapi dari sekian banyak yang bercermin berapa persen diantara kita yang mengambil pelajaran aktifitas rutin ini? bercermin bukan sekedar rutinitas untuk memperindah penampilan fisik melainkan juga sebagai saran introspeksi diri untuk terus memperbaiki diri.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Belajar dari Cermin 

Siapa yang tidak pernah bercermin? Hampir bisa dipastikan bahwa semua pernah melakukannya, bercermin adalah salah satu sarana untuk menilai kekurangan penampilan kita. Mulai dari penampilan apakah sudah rapi, rambut apakah sudah disisir dengan rapi, perpaduan warna celana dan baju apakah sudah sesuai, parfum apakah sudah wangi.

Belum lagi jika yang bercermin adalah seorang wanita tentu koreksi penampilan dirinya akan lebih banyak, mulai dari urusan bedak apakah sudah pas atau ketebalan, gincu, alis, perhiasan, dan lain-lain akan menjadi perhatian serius untuk dipercantik sebelum beraktifitas.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Begitu seriusnya kita mengoreksi diri dan memperbaikinya agar terlihat indah tidak hanya dihadapan teman-teman tetapi juga di mata orang-orang yang melihat kita. kita seakan tidak sanggup, risih atau mungkin malu jika dipandang dan dinilai jelek oleh orang lain.  

Begitulah perasaan kita saat berhadapan dengan cermin. Sebuah benda yang banyak memberikan pelajaran bagi kita jika kita sedikit merenung. Beberapa pelajaran yang dapat kita serap dari cermin adalah :

  1. Cermin mengajarkan kita untuk lebih banyak melihat kekurangan pada diri sendiri, sehingga tidak punya waktu untuk mengoreksi kekurangan orang lain. Renungkanlah saat kita bercermin apa yang dicari? Jawabannya adalah kekurangan, kita sibuk membenahi setiap sudut tubuh yang menurut kita masih kurang pas untuk dilihat oleh orang.
  2. Cermin mengajarkan kita untuk hati-hati dalam berpenampilan. Berpenampilanlah yang sesuai dengan kemampuan jangan berlebihan karena yang terpenting adalah terlihat indah.
  3. Cermin mengajarkan kejujuran, hitam kulit kita akan tetap hitam di cermin, gundul kepala kita akan tetap gundul di depan cermin, berjerawat wajah kita akan tetap berjerawat di cermin, pesek hidung kita akan tetap pesek di cermin. Maka tampil lah dengan kejujuran. Tidak usah memaksakan diri melakukan sesuatu di luar batas hanya karena ingin dikenal yang justru sebaliknya berakibat menjatuhkan diri sendiri dalam kebinasaan.
  4. Cermin mengajarkan apa yang berada di depannya maka itulah yang akan dipantulkan. Begitu pula dengan kita, apa yang kita perbuat maka sebenarnya akan kembali ke diri kita sendiri. Jika kita sering berbuat jahat maka pantulan kejahatan akan senantiasa menghampiri kita. Begitu pula sebaliknya jika kita berbuat baik, maka pantulan kebaikan akan selalu menghampiri kita. Maka pilihan ada pada diri kita, apakah akan berperilaku baik atau sebaliknya berperilaku buruk.
  5. Yang muncul di cermin adalah bayangan, sedang kita yang bercermin lah yang asli, maksudnya bahwa jadilah diri sendiri dengan amal kebaikan, jangan sibuk memikirkan penilaian orang lain yang terkadang justru menjerumuskan. Ambillah penilaian seseorang jika penilaian itu bisa menjadikan kita pribadi yang lebih baik, sebaliknya buang penilaian tersebut jika justru akan mencelakakan kita. Baik kecelakaan yang ditimbulkan pada fisik maupun psikis kita.
  6. Setelah bercermin dan meninggalkannya, cermin tidak pernah bercerita kepada orang lain tentang kekurangan kita. Berapa banyak orang yang menggunakan cermin tersebut setelah kita, ternyata tidak satupun yang mendapat bocoran aib kita. Begitulah sebaiknya kita, harus pandai menyimpan aib orang lain. Boleh membaca aib, tapi jangan membacakannya.

Setiap orang punya aib dan sebaik-baik saudara/teman adalah mereka yang mampu menjaga aib saudaranya/temannya  sehingga tidak tersebar ke orang lain.

Jadi bercerminlah dan merenunglah bahwa diri kita adalah diri kita bukan bayangan yang muncul pada pantulan cermin.

Ikuti tulisan menarik Sahran lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Terpopuler