Menilik Kisah-kisah Wayang dari Tiga Puisi Eyang Sapardi Djoko Damono

Jumat, 24 Desember 2021 07:49 WIB
Bagikan Artikel Ini
img-content0
img-content
Iklan
img-content
Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Ada tiga puisi Eyang Sapardi yang rupanya menyelipkan dengan rapi kisah-kisah wayang di dalamnya. Apa saja? Mari langsung simak dan cari tahu!

Eyang Sapardi, atau Sapardi Djoko Damono, memang tidak pernah membosankan untuk dibahas. Entah karyanya, riwayat hidupnya, atau apapun tentang beliau memang sangat menarik menjadi topik. Meskipun larik jasadku tak akan ada lagi dari puisi Pada Suatu Hari Nanti milik beliau sudah menjadi telah, karya-karyanya tetap tak kenal usia.

 

Melalui artikel ini, akan ada tiga puisi ciamik Eyang Sapardi yang dibahas. Ketiganya berkaitan dengan wayang. Mengapa wayang? Bagi sebagian orang yang belum tahu mengenai Eyang Sapardi mungkin agak heran apa hubungan beliau dengan wayang. Padahal, pemilik nama asli Sapardi Djoko Damono yang merupakan kelahiran Surakarta tahun 1940 ini tumbuh akrab bersama wayang.

 

Eyang Sapardi akrab dengan wayang melalui kakeknya. Kakek beliau merupakan abdi dalem Kraton Kasunanan Surakarta yang juga seorang pengrajin wayang kulit. Eyang Sapardi juga gemar menonton sekaligus mahir memainkan wayang kulit. Itulah seberapa akrabnya Eyang Sapardi dengan wayang.

 

Ternyata, kegemarannya terhadap wayang tidak hanya dituangkan melalui memainkannya saja. Namun, Eyang Sapardi juga menuliskan kisah-kisah wayang dalam karya puisinya. Apa saja kira-kira? Ini dia tiga di antaranya!

 

KISAH DEWA RUCI DAN BIMA DALAM PUISI “TELINGA”

 

Sebagian besar orang mungkin tahu siapa Bima, ia adalah salah satu anggota Pandawa. Bima merupakan anggota Pandawa yang terkenal kuat perkasa dengan senjata andalan gada dalam epik Mahabharata.

 

Tapi siapa Dewa Ruci? Dalam kisah Mahabharata nama Dewa Ruci memang tidak ada, karena tokoh ini hanya dikenal di cerita pendalangan Jawa.

 

Dewa Ruci adalah seorang dewa bertubuh kerdil yang dikisahkan dapat memasukkan tubuh Bima yang besar ke dalam telinganya. Dewa Ruci ini diceritakan meminta Bima masuk ke telinganya ketika ia sedang berwujud menyerupai Bima itu sendiri. Hal inilah yang menjadi premis dalam puisi Telinga karya Eyang Sapardi, sebagaimana lariknya:

 

"Masuklah ke telingaku," bujuknya.

Gila

ia digoda masuk ke telinganya sendiri

agar bisa mendengar apa pun

secara terperinci -- setiap kata, setiap huruf, bahkan letupan dan desis

yang menciptakan suara.

"Masuklah," bujuknya.

Gila! Hanya agar bisa menafsirkan sebaik-baiknya apa pun yang dibisikkannya kepada diri sendiri.

 

Dalam kisah Dewa Ruci, setelah Bima masuk ke dalam telinga Dewa Ruci, ia kemudian mendapatkan banyak pengajaran di sana. Hal itu sesuai dengan puisi yang dituliskan Eyang Sapardi.

 

KISAH RADEN SUMANTRI DAN ADIKNYA DALAM PUISI “PESAN”

 

Raden Sumantri, dalam puisi, atau biasa disebut Bambang Sumantri adalah tokoh kesatria dalam perwayangan. Ia diceritakan memiliki senjata andalan berupa panah Cakra. Raden sumantri juga memiliki seorang adik yang parasnya berupa raksasa kerdil, namanya Bambang Sukrasana.

 

Kisah Raden Sumantri yang dikutip oleh Eyang Sapardi dan dijadikan puisi adalah sebagai berikut:

 

Tolong sampaikan kepada abangku, Raden Sumantri, bahwa memang kebetulan jantungku tertembus anak panahnya.

Kami saling mencinta, dan antara disengaja dan tidak disengaja sama sekali tidak ada pembatasnya.

Kalau kau bertemu dengannya, tolong sampaikan bahwa aku tidak menaruh dendam padanya, dan nanti apabila perang itu tiba, aku hanya akan .....

 

Perahu Kertas,

Kumpulan Sajak,

1982.

 

Dalam puisi Pesan karya Eyang Sapardi tersebut, adegan yang dimaksud adalah ketika Bambang Sukrasana terpanah oleh Raden Sumantri, kakaknya. Dikisahkan, Raden Sumantri diperintahkan oleh Harjuna Sasrabahu untuk membangun taman Sriwedari. Bambang Sukrasana, sebagai adik pun menolong Raden Sumantri untuk mengerjakan perintah itu.

 

Namun, sayangnya panah Cakra Raden Sumantri tidak sengaja terlepas dan menewaskan Bambang Sukrasana. Dari kematian Bambang Sukrasana inilah kemudian menjadi premis puisi Pesan karya Eyang Sapardi.

 

KISAH RAMA DAN SITA DALAM PUISI “BENIH”

 

Saya pikir hampir semua orang tahu siapa Rama dan Sita. Siapa lagi kalau bukan tokoh utama kisah Ramayana? Dalam kisah ini, Rama dan Sita digambarkan sebagai sepasang suami istri. Keduanya diasingkan selama 14 tahun di hutan, dan di sanalah Sita kemudian diculik oleh Rawana atau Prabu Dasamuka.

 

Penculikan dan penahanan Sita oleh Rawana terjadi selama 12 tahun. Ketika Sita berhasil dibebaskan oleh Rama, Rama meragukan kesucian Sita. Dari sinilah premis puisi Benih karya Eyang Sapardi muncul. Sebagaimana puisinya:

 

“Cintaku padamu, Adinda,” kata Rama, “adalah laut

yang pernah bertahun memisahkan kita, adalah

langit yang senantiasa memayungi kita, adalah

kawanan kera yang di gua Kiskenda. Tetapi...,”

Sita yang hamil itu tetap diam sejak semula, “… kau

telah tinggal dalam sangkar raja angkara itu

bertahun lamanya, kau telah tidur di ranjangnya,

kau bukan lagi rahasia baginya.”

 

Sita yang hamil itu tetap diam: pesona. “Tetapi,

si Raksasa itu ayahandamu sendiri, benih yang

menjadikanmu, apakah ia juga yang

membenihimu, apakah ...” Sita yang hamil itu

tetap diam, mencoba menafsirkan kehendak para

dewa.

 

Itulah dia salah tiga puisi Sapardi Djoko Damono yang menyimpan kisah wayang di dalamnya. Kita bisa bilang bahwa semua puisi beliau ciamik dan sarat makna, tetapi ketiga puisi di atas bagi saya ada lagi poin tambahannya: unik!

Bagikan Artikel Ini
img-content
Nada Hanifah

Mahasiswa, relawan, dan bisa jadi apa saja asal saya mau.

0 Pengikut

Baca Juga











Artikel Terpopuler











Terpopuler di Peristiwa

img-content
img-content
img-content
img-content
Lihat semua