Masa Lalu Adalah Masa Lalu - Fiksi - www.indonesiana.id
x

Nadhifah Zahran Laili

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 November 2021

Selasa, 4 Januari 2022 14:55 WIB

  • Fiksi
  • Topik Utama
  • Masa Lalu Adalah Masa Lalu


    Dibaca : 1.023 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Di bawah sinar lampu jalan, Nayra melangkahkan kakinya di atas trotoar yang basah karena hujan sore tadi. Matanya fokus pada rumah dengan dua lantai dan halaman luas yang tampak sunyi di ujung jalan, yang menjadi tujuannya. Hembusan angin begitu kencang hingga terdengar jelas bagai bisikan di telinganya. Ia memasukkan tangannya ke dalam saku jaketnya, dinginnya suhu udara malam itu bisa aja membekukan kedua tangannya, pikirnya. Sesampainya di rumah tersebut, dia langsung membuka kunci pintu dan memasuki rumah tersebut. Sudah lama rumah itu tidak ditempatinya, tetapi masih terasa akrab baginya. Setiap kali berada di sana, Nayra merasa telah pulang.

    Nayra melepas sepatunya dan menaruh tasnya di atas meja kecil yang berada di samping pintu. Dia menyandarkan punggungnya ke pintu, melihat sekeliling. Aroma rumahnya yang tidak pernah berubah, selalu membuat kenangan masa kecilnya terputar kembali di benaknya. Yang mana pada masa itu, senyumannya selalu terpatri di wajahnya. Melewati ruang keluarga, ia berjalan menuju dapur dan mengambil sapu untuk mulai membersihkan rumah tersebut. Biasanya Nayra mengunjungi rumah tersebut sebulan sekali, hanya untuk sekadar bersih-bersih. Tetapi karena kesibukkannya akhir-akhir ini, membuatnya tidak bisa mengunjungi rumah tesebut selama sepuluh bulan. Saat Nayra telah hampir menyelesaikan pekerjaan bersih-bersihnya, ponselnya berdering. Diihatnya nama Sheilly terpampang di layar ponselnya.

    "Halo, Sheil?"

    "Kamu di mana, Ra? Kenapa belum pulang jam segini?" Tanya Sheilly dengan nada suara yang terdengar khawatir di telinga Nayra. Nayra melihat sekilas ke arah jam tangannya, menunjukkan waktu sudah hampir tengah malam.

    "Oh, ya ampun, aku akan segera pulang,"

    "Hah… kamu sedang berada di rumahmu, ya? Sebaiknya kau menginap di sana, terlalu bahaya untuk perempuan berada di luar sendiri jam segini."  

    Nayra akhirnya setuju dengan Sheilly setelah beberapa saat mereka berdua beradu mulut. Tak lama kemudian, Sheilly memutuskan panggilannya setelah mengingatkan Nayra untuk mengunci pintu. Setelah Nayra menyelesaikan pekerjaannya, dia bergegas berisap-siap untuk tidur.

    Dia merebahkan dirinya di kasur dan matanya bergerak melihat sekeliling. Fokusnya teralihkan saat melihat sebuah album foto yang tergeletak di atas meja belajarnya. Keningnya berkerut, dia yakin album foto tersebut tidak ada di sana saat dia membersihkan kamarnya tadi. Nayra beranjak dari tempat tidurnya, meraih album tersebut dan membawanya ke sofa, yang berada di samping tempat tidurnya. Hatinya membuncah ketika melihat foto-foto yang terdapat di dalam album tersebut. Dia merindukan mereka, namun hatinya bagaikan tersayat pisau setiap kali dia melihat kembali foto-foto kedua orang tua serta adiknya. Tak jarang, melihat senyuman yang terukir di wajah kedua orang tua dan adiknya justru membuatnya semakin jatuh ke dalam jurang rasa bersalah. Nayra tahu, dia tidak akan bisa tidur malam ini. Ingatannya tentang kejadian tersebut kembali terbayang di benaknya dan rasa penyesalan semakin membesar menghantuinya. 

    Tidak kuasa melihatnya, dia kembali berdiri, meletakan album foto tersebut ke tempat sebelumnya. Namun, ketika hendak kembali ke tempat tidurnya, pandangannya teralihkan oleh sebuah buku yang memunculkan sebagian dirinya dari dalam laci yang berada di bawah meja tersebut. Nayra membuka laci tersebut dan meraih buku dengan gambar jam yang menghiasi sampul berwarna hitam itu. Dia yakin tidak pernah memiliki buku itu sebelumnya. Rasa penasaran membuat tangannya bergerak membuka buku itu. Pada halaman pertama buku tersebut terdapat tulisan ‘Apa penyesalan terbesarmu?’. Kening Nayra tampak berkerut. Dia membalikkan halaman berikutnya, namun tidak ada apapun. Hanya ada halaman kosong setelahnya. Nayra meraih tasnya dan mengambil pensil. Mungkin dia bisa meredakan rasa penyesalan yang menghantuinya pada saat itu dengan menuangkannya dalam tulisan pada buku tersebut, pikirnya. 

    Nayra merebahkan dirinya di kasur setelah ia menuliskan penyesalannya di buku tersebut. Hati dan pikirannya terasa membaik dari sebelumnya. Nayra memejamkan matanya, ketika rasa kantuk menghampirinya. 


    Keesokkan paginya, setelah bangun dari tidur, Nayra bergegas bersiap-siap untuk kembali ke apartmentnya, tempat di mana dia dan temannya, Sheilly, tinggal bersama. Saat mengecek kamarnya kembali, untuk memastikan bahwa dia telah merapikannya, dia melihat buku yang semalam dia temukan, tergeletak di atas kasurnya. Nayra meraih buku tersebut, berniat untuk membawa buku tersebut. Ketika ingin memasukkan buku tersebut ke dalam tas, tampak sebuah cahaya muncul dari buku itu dan mengarah ke arah cermin yang berada di sudut ruangan. Seketika cermin itu tidak lagi memantulkan bayangan benda-benda yang ada di depannya, namun justru terdapat bayangannya dirinya ketika berumur 14 tahun. Rasa penasaran yang besar, membuat Nayra melangkahkan kaki menuju cermin tersebut untuk memastikan penglihatannya.

    Nayra teringat kembali bahwasannya itulah hari di mana peristiwa tersebut terjadi. Hari di mana orang tuanya meninggalkannya untuk selamanya. Hari yang menjadi penyesalan terbesarnya. Perlahan tangannya terangkat mengarah untuk menyentuh cermin tersebut. Tembus, tangannya dapat masuk ke dalam cermin itu. Nayra teringat kembali dengan buku hitam yang ada di genggamannya itu. Dia membuka halaman yang semalam dia tulis tentang hari itu. Matanya terbelalak, tulisannya tidak ada. Dan tergantikan dengan sebuah tulisan ‘Masa lalu adalah masa lalu’. Nayra kembali membalikkan halaman-halaman buku tersebut, namun ia tetap tidak menemukan tulisannya. Pandangannya kembali tertuju kepada cermin yang berada di hadapannya. Tangannya kembali terangkat ke arah cermin tersebut, namun seluruh tubuhya justru terseret ke dalam cermin itu.  


    Bip bip bip... 

    Bunyi alarm menggema di seluruh ruangan tersebut. Membangunkan Nayra dari tidurnya. 

    "Nayra," 

    Nayra tercekat. Itu suara ibunya.

    "Nayra, sudah bangun?" Tak hanya suaranya, kali ini sosok tersebut memunculkan dirinya dari ambang pintu. Sosok yang Nayra rindukan. Nayra menganggukan kepalanya sebagai jawaban.

    "Cepat cuci muka dan turun untuk sarapan, ya." Ujar ibunya sembari tersenyum sebelum beranjak kembali ke ruang makan, menyiapkan sarapan.

    Nayra sangat senang bisa kembali melihat Ibunya. Tetapi di satu sisi, dia juga merasa aneh. Rasanya dia ingin menangis begitu melihat Ibunya, tapi tubuhnya bereaksi lain. Air matanya pun tidak mengalir sedikit pun.

    Keanehan tersebut terus berlanjut. Saat dia memutuskan untuk tetap berada di kamarnya, namun lagi-lagi tubuhnya melakukan hal yang berlawanan dengan yang dia inginkan. Dia justru bergegas turun mengikuti Ibunya menuju ruang makan. Setelah selesai makan pun, secara otomatis tubuhnya kembali membawanya ke kamarnya dan dengan sendirinya membersihkan tempat tidurnya itu. Tubuhnya terus bereaksi sendiri dan seakan-akan berada di luar kendalinya. Dan lagi, tak hanya gerak tubuhnya, tapi semua hal yang dia ucap pun juga bukanlah hal-hal yang dia inginkan. Seolah hal yang dia lakukan telah di atur.

    Nayra senang dan takut di saat yang bersamaan. Dia senang karena bisa melihat kembali keluarganya, bertemu dengan Ibunya, Ayahnya, dan Adiknya. Rasa rindunya kepada keluarganya terbayar. Namun, dia juga takut. Takut bahwa dia kembali ke masa tersebut, tetapi tidak ada yang dapat dia ubah. Dia takut hanya kembali mengulang kejadian sebelumnya.

    "Nayra," mendengar namanya dipanggil, Nayra yang sedang membaca buku sekolahnya, langsung menengok ke arah sumber suara.

    "Ada apa, Bu?" Tanyanya sambil menghampiri sang Ibu.

    "Ini Ibu dapat kabar tante Emily sakit, tetapi om Hans sedang tugas ke luar kota. Jadi Ibu dan Ayah berencana mengantar tantemu ke rumah sakit. Kamu di rumah aja ya, tolong jaga Sarah." Ujar Ibu sambil mengelus kepala Nayra. Nayra berusaha keras untuk menggeleng kepalanya dan berusaha untuk meminta ikut pergi bersama Ibunya. Tetapi justru sebaliknya yang terjadi, dia menganggukkan kepalanya dan mengiyakan ucapan Ibunya.

    Setelah orang tuanya pergi, tinggallah dia dan adiknya di rumah. Nayra berpikir, tak apa jika orang tuanya pergi, tapi dia harus benar-benar menjaga adik kecilnya itu. Dia tidak boleh membiarkan adiknya yang baru berumur 5 tahun itu bermain sendirian lagi. Cukup dengan hal itu, Nayra yakin dia bisa menghindari kematian orang tua dan kehilangan adiknya. Nayra meyakini dirinya, kecelakaan yang menyebabkan kematian kedua orang tuanya karena mencari adiknya yang hilang dari rumah, tidak akan terjadi.

    Walau begitu, hal yang dipikirnya tak berjalan sesuai rencana. Nayra lupa bahwa tubuhnya sepenuhnya tidak di bawah kendalinya. Untuk kedua kalinya, dia mengulang kesalahan tersebut. Tubuhnya membawanya pergi kembali ke kamarnya, meninggalkan adiknya bermain sendirian, dan pintu depan yang tak terkunci. Dia sekarang tahu, semua gerak tubuhnya, merupakan hal-hal yang dia lakukan di masa lalu. 

    Nayra benar-benar ingin menangis, bukan ini yang dia inginkan dengan kembalinya dirinya ke masa lalu. Dia ingin memperbaiki semuanya, bukan mengulang kejadian ini lagi. Nayra menangis di dalam hatinya, dia ingin kembali ke masa depan. Tak ingin lagi melanjutkan semua pengulangan tentang peristiwa tersebut. Secara tiba-tiba, dirinya kembali terseret ke dalam cermin tersebut.


    Nayra membuka matanya, mendapati dirinya kembali ke masa sekarang. Tubuhnya terduduk di depan cermin, dengan pipi yang basah karena air matanya yang terus mengalir. Lagi-lagi cermin itu tidak memantulkan bayangannya. Cermin itu menampilkan sosok kedua orang tua tersenyum ke arahnya. 

    "Sudahi penyesalanmu, masa lalu adalah masa lalu. Kita tidak akan bisa mengubah masa lalu, tapi kita bisa merubah masa depan. Fokuslah dengan masa depanmu." Ucap Ibunya dengan suaranya yang lembut itu.

    Bahunya semakin berguncang dengan cepat, isak tangisnya semakin kencang. Nayra menganggukkan perlahan kepalanya sebagai jawaban.

    "Berjanjilah." Ujar Ibunya sekali lagi.

    "Ya, aku berjanji." Kedua sosok tersebut menghilang setelah Nayra mengucapkan janjinya. Air matanya semakin membasahi pipinya. Rasa penyesalan yang terus menghantuinya selama lima tahun, perlahan menghilang. Bagaimanapun Nayra sudah berjanji, dia kembali mengucapkan janji tersebut kepada dirinya. Dia berjanji menjadi pribadi yang lebih baik lagi di masa yang akan datang.

     



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.