x

Iklan

Syarifudin

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 29 April 2019

Senin, 17 Januari 2022 06:32 WIB

Jangan Salah Mendengar, Jangan Banyak Omong

Zaman begini, jangan salah mendengar. Agar tidak gusar. Karena banyak orang omong tujuannya menakutkan atau mencari kesalahan. Hati-hati ya

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Jangan salah mendengar. Karena hari ini, terlalu banyak informasi yang tidak bertangggung jawab. Banyak orang omong melimpah padahal hanya tahu sedikit. Banyak omong besar padahal nol besar. Dan banyak yang bicara, tapi dasarnya kebencian atau sentimen. Semua yang keluar dari mulutnya negatif; fitnah, gibah, gosip, kebencian bahkan keluhan. Maka, jangan salah mendengar.

 

Sekali lagi, jangan salah mendengar. Sama seperti: "Lihatlah ke bawah, jangan melihat ke  atas, agar tidak meremehkan nikmat Allah yang telah diberikan" (HR Bukhari dan Muslim). Sama seperti “dengarkan kata hatimu, jangan dengarkan kata orang lain”. Agar siapapun tetap berani dan mau menebar kebaikan, menyebar manfaat kepada orang lain. Maka lakukanlah, apa yang menurut kita baik dan tepat. Tidak udah peduli, apa kata orang lain?

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

 

Orang zaman now memang makin aneh. Ada orang berbuat baik kok malah jadi bahan gunjingan. Ada orang meng-update amal perbuatan yang baik kok malah berpikir negatif. Ada yang menasihati yang baik kok malah baperan. Mungkin mata hatinya sudah tertutup kabut duniawi? Atau memang hidupnya gemar gibah dan jarang berbuat buat baik kepada sesama. Lalu tiap melihat perbuatan baik, bukan doa baik yang terucap malah omongan buruk yang tidak berarti. Maka jangan salah mendengar perkataan orang lain.

 

Jangan salah mendengar. Itulah spirit taman bacaan dan pegiat literasi. Seperti yang dilakukan Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Lentera Pustaka di kaki Gunung Salak Bogor. Agar ikhtiar meningkatkan tradisi membaca anak dan budaya literasi masyarakat dapat tegak berdiri. Sekalipun bersifat sosial, taman bacaan harus terus berjuang dan ikhtiar yang baik. Tanpa perlu mendengarkan celoteh orang-orang di sekelilingnya yang negatif. Apalagi mereka yang pandai omong tapi tidak pandai berbuat. Datang ke taman bacaan tidak, bantu taman bacaan tidak. Tapi banyak omong, ya silakan saja dinilai sendiri.

 

Di taman bacaan, tidak semua orang harus didengarkan. Pegiat literasi pun tidak perlu mendengarkan omongan orang yang nadanya negative. Tapi dengarkanlah hal-hal yang membaikkan. Mendengarkan apa saja yang menyebut aksi nyata dan peduli di taman bacaan adalah pilihan tepat. Sebagai ladang amal, sebagai wadah untuk menebar manfaat kepada orang lain.

 

Jangan salah mendengar. Karena hari ini, banyak orang “pasang kuping” mendengar bukan untuk mengerti atau memahami. Tapi justru untuk menyanggah realitas baik. Banyak yang mendengar tapi niatnya untuk berkomentar buruk. Maka penting, jangan salah mendengar. Soal apa pun dan dari siapa pun.

 

Memang tidak mudah sih. Untuk mendengarkan orang lain tentang hal-hal yang baik. Karena kebaikan tidak hanya butuh logika tapi juga hati. Apalagi untuk orang-orang yang merasa punya “status sosial” lebih tinggi. Seperti orag kota yang malas mendengarkan orang kampung. Seperti orang pintar “menutup telinga” saat orang bodoh berbicara. Seperti oarng kaya malas mendengarkan orang miskin.  Maka biarkanlah, mungkin karena orang kota, orang pintar, dan orang kaya itu tidak literat. Terbiasa hidup dalam egosime dan tidak peduli pada orang lain. Biarkan nanti waktu yang akan membuktikannya. Jangann salah mendengar.

 

Jangan salah mendengar. Tapi lebih fokus pada amal perbuatan. Itulah yang kini dialami TBM Lentera Pustaka. Siapa sangka, sejak berdiri tahun 2017 lalu, TBM Lentera Pustaka telah berkembang pesat dan  kini telah mengelola 12 program literasi seperti: 1) TABA (TAman BAcaan) dengan 160 anak pembaca aktif dari 3 desa (Sukaluyu, Tamansari, Sukajaya) dengan waktu baca 3 kali seminggu, kini setiap anak mampu membaca 5-8 buku per minggu, 2) GEBERBURA (GErakan BERantas BUta aksaRA) yang diikuti 9 warga belajar buta huruf agar terbebas dari belenggu buta aksara, 3) KEPRA (Kelas PRAsekolah) dengan 26 anak usia prasekolah, 4) YABI (YAtim BInaan) dengan 14 anak yatim yang disantuni dan 4 diantaranya dibeasiswai, 5) JOMBI (JOMpo BInaan) dengan 8 jompo usia lanjut, 6) TBM Ramah Difabel dengan 3 anak difabel, 7) KOPERASI LENTERA dengan 28 ibu-ibu anggota koperasi simpan pinjam agar terhindar dari jeratan rentenir dan utang berbunga tinggi, 8) DonBuk (Donasi Buku), 9) RABU (RAjin menaBUng), 10) LITDIG (LITerasi DIGital) untuk mengenalkan cara internet sehat, 11) LITFIN (LITerasi FINansial), dan 12) LIDAB (LIterasi ADAb) untuk mengajarkan adab ke anak-anak seperti memberi salam, mencium tangan, berkata-kata santun, dan budaya antre. Tidak kurang dari 250 orang menjadi penerima layanan literasi TBM Lentera Pustaka setiap minggunya. Dan itu semua terjadi karena TBM Lentera Pustaka tidak salah mendengar. Hanya berbuat dan melakukan yang baik.

 

Maka penting untuk siapa pun. Jangan salah mendengar. Bila akhirnya memancing pikiran yang buruk. Bila akhirnya mengundang omongan yang jelek. Lalu mudah mencari-cari kesalahan orang lain. Atau untuk menambah kebencian lalu merasa sah untuk menghakimi orang lain. Apalagi mereka yang tidak sepaham atau sepergaulan dengannya.

 

Sekali lagi, jangan salah mendengar. Tapi dengarkan apa yang baik, bukan apa yang menakutkan. Untuk apa mendengarkan sesuatu yang tidak manfaatnya? Apalagi datangnya dari mulut-mulut kotor. Salam literasi #TamanBacaan #PegiatLiterasi #TBMLenteraPustaka #BacaBukanMaen

Ikuti tulisan menarik Syarifudin lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Epigenesis

Oleh: Taufan S. Chandranegara

5 hari lalu

Terkini

Semangat

Oleh: Malik Ibnu Zaman

7 jam lalu

Terpopuler

Epigenesis

Oleh: Taufan S. Chandranegara

5 hari lalu