Valentino Rossi - Selalu Berani Mencoba Hal Baru - Hiburan - www.indonesiana.id
x

cover buku What If I Had Never Tried It

Handoko Widagdo

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Kamis, 17 Maret 2022 12:00 WIB

  • Hiburan
  • Topik Utama
  • Valentino Rossi - Selalu Berani Mencoba Hal Baru

    Valentino Rossi adalah legenda MotoGP. Sampai saat ini belum ada pembalap lain yang mampu menyamainya. Mengapa? Padahal banyak pembalap lain yang talentanya setara dengan dia. Sebab dia selalu berani mencoba hal baru yang menjadi tantangan. Ia berani mencoba cara membalap yang berbeda dengan pembalap-pembalap pendahulunya. Ia berani pindah tim. Bahkan ke tim yang dianggap paling lemah. Kini ia berani mencoba membuat tim setelah pensiun sebagai pembalap.

    Dibaca : 1.934 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Judul: Otobiografi Valentino Rossi – Andai Aku Tak Pernah Mencobanya

    Judul Asli : What If I Had Never Tried It – The Authobiography of Valentino Rossi

    Penulis: Valentino Rossi

    Penterjemah Doni Suseno

    Tahun Terbit: 2007 (cetakan VI)

    Penerbit: Ufuk Publishing House

    Tebal: 302

    ISBN: 979-1238-08-1

    Saya sangat senang dengan judul buku ini. “Andai Aku Tidak Pernah Mencobanya” atau dalam bahasa Inggris “What If I Had Never Tried It” memang menggambarkan sosok Valentino Rossi (Vale) dalam menjalani karirnya sebagai pembalap MotoGP. Sepanjang karirnya, orang pertama dan terakhir yang menjuarai kelas 125cc, 250cc, 500cc dan MotoGP itu memang sering mengejutkan banyak pihak karena keputusannya mencoba sesuatu yang baru yang sering dianggap sebagai sebuah keputusan buruk. Namun keputusan-keputusan untuk mencoba hal baru tersebutlah yang membedakan sosok Vale dari pembalap sukses lainnya di MotoGP.

    Vale adalah pelopor dalam cara membalap dan melewati lawan di tikungan. Cara itu digunakannya saat ia melewati Max Biagi di tikungan terakhir di seri terakhir balapan MotoGP kelas 500cc di Philip Island – Australia. Vale meliewati Biagi dengan sukses di tikungan terakhir untuk membawanya menjadi juara kelas 500cc di tahun 2001. Kejuaraan 500cc di tahun 2001 adalah kejuaran terakhir di MotoGP, tetapi itu adalah balapan pertama bagi Vale di kelas tersebut.

    Tiga tahun berikutnya, yaitu di tahun 2004, hal yang sama, di sirkuit yang sama, Vale melewati Sete Gibernau di tikungan terakhir dan membawanya menjadi Juara MotoGP. Sejak itu Vale menjadi idola dalam balap kuda besi paling bergengsi tersebut.

    Bukti bahwa karena keberaniannya untuk mencoba hal baru adalah kunci kesuksesan Vale adalah saat ia pindah dari Honda ke Yamaha pada tahun 2004. Berbeda dengan Mike Doohan yang merasa nyaman dengan motor Honda – dan Doohan memang merajai balapan dengan motor Honda. Sampai-sampai orang berpendapat bahwa keberhasilan Doohan adalah karena ia mendapatkan motor yang tidak dimiliki oleh pembalap lainnya (hal. 66). Padahal sebenarnya motor Doohan tidak jauh berbeda dengan motor-motor pembalap lainnya. Ketika Vale berjaya, orang juga mulai berpendapat seperti situasi Doohan. Vale juara karena mendapatkan motor yang tiada bandingnya.

    Vale justru ingin mencoba hal baru. “Naiklah Honda jika anda ingin juara.” Itulah pendapat berbagai pihak saat itu. Tetapi Vale justru memutuskan untuk pindah ke Yamaha di tahun 2004. Padahal Yamaha adalah tim yang sedang mengalami masalah. Terpuruk. Tetapi Vale begitu yakin bahwa pembalaplah yang lebih penting. Bukan motornya. Motor harus dikembangkan sesuai dengan pembalapnya. Filosofi ini jelas berbeda dengan yang diyakini oleh Honda dan Ducati. Kedua pabrikan ini begitu yakin dengan kemampuan teknologinya. Sehingga mereka berpendapat siapapun bisa menjadi juara asal motornya hebat. Vale justru membuktikan kebenaran filosofisnya, yaitu pembalaplah yang lebih penting.

    Dalam buku ini Vale menjelaskan bahwa keberaniannya untuk mencoba hal baru adalah bagian dari cara untuk memotivasi diri. Ia sudah sukses di usia yang sangat muda. Jadi dia memerlukan tantangan baru untuk memotivasi diri. “Itulah yang menjadi masalah bagi orag-orang yang seperti aku … karena semuanya terjadi begitu cepat…namun aku mendapati kalau ada banyak hal yang tak bisa lagi kunikmati, banyak situasi yang takbisa kudiamkan saja” (hal. 55).

    Meski Vale berpendapat bahwa pembalap lebih penting dari motornya, namun ia juga menyampaikan bahwa keberhasilan adalah sebuah kerja tim. Tim yang seperti keluarga. Selain ingin membuktikan bahwa pembalap lebih penting dari motornya, alasan Vale meninggalkan Honda adalah karena ia sudah tidak menganggap situasi kerjanya penuh kekeluargaan. “Saya seperti sekrup kecil saja di Honda.” Tugas pembalap dan tim teknis hanyalah untuk mencoba hal baru yang datang dari atas. Masukan mereka tidak didengar lagi.

    Ketika ia pindah ke Yamaha, beberapa mekanik (Jeremy dan team) yang bekerjasama dengannya di Honda ikut pindah. Vale merasa mendapatkan keluarganya lagi. Hubungan yang nyaman dengan pemilik, managemen dan mekanik yang bekerja bagai keluarga adalah suasana yang menurut Vale menjadi kunci keberhasilannya. Vale membeberkan pentingnya peran tim dan suasana kerja dalam satu bab penuh (Bab 9, hal. 172).

    Buku ini ditulis dengan sangat baik. Saat membaca buku ini seakan kita merasa sedang duduk minum teh di hadapat Vale yang sedang bercerita dengan ekspresif. Tiga bab pertama mengisahkan keberhasilannya mencoba hal baru yang membuatnya menjadi legenda.

    Barulah di bab-bab berikutnya ia berkisah tentang masa kecilnya dan masa sekolahnya. Ia juga menceritakan orang-orang yang menurutnya berperan besar dalam karirnya. Bukan hanya orang-orang yang menjadi pendukungnya seperti Jeremy sang mekanik (bab 8) dan Uccio (bab 10, hal. 198) serta tentu saja ibu dan ayahnya (bab 14, hal 272), tetapi juga Biagi yang menjadi seteru (bab 6, hal 102). Bagi Vale Biagi mempunyai peran yang besar dalam karir balapannya. Sebab perseteruan yang hebat di lintasan balap telah memacu motivasinya untuk menjadi lebih baik dari Biagi.

    Otobiografi ini ditulis saat Vale dalam posisi puncak. Setelah 9 kali juara dunia, Vale masih ingin melengkapinya menjadi 10. Setelah gagal dengan Ducati, ia mencoba kembali ke Yamaha. Namun ternyata umur tak bisa dilawannya. Karier Vale sebagai pembalap mulai meredup. Tapi Vale ternyata ingin mencoba hal baru. Bukan sebagai pembalap, tetapi sebagai pemilik sebuah tim balap!

    Ayo Vale, buktikan bahwa berani mencoba hal baru adalah sesuatu yang mengasyikkan dan bisa membawa kepada sebuah keberhasilan. Jangan takut untuk mebcoba hal baru! 662



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.