Surga Dunia Bocil Awal 2000-an yang Hampir Punah - Analisis - www.indonesiana.id
x

Gambar oleh Markus Distelrath dari Pixabay

Almanico Islamy Hasibuan

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 22 November 2021

Rabu, 23 Maret 2022 14:39 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Surga Dunia Bocil Awal 2000-an yang Hampir Punah

    Surga dunia bagi bocil di zaman tersebut salah satunya adalah pedagang mainan keliling. Pedagang yang merupakan pahlawan bagi kita jika beliau sering lewat di depan rumah kita dan penguras duit bagi orang tua kita. Bagi mereka yang memiliki orang tua yang berhemat, tenang saja. Silahkan menunggu THR cair di hari raya.

    Dibaca : 585 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

              Surga dunia, bagi anda, tetaplah berpikir positif. Surga dunia memang sering berbau negatif, tapi surga dunia yang saya maksudkan di sini bagi bocil awal tahun 2000an adalah jualan mainan anak berjalan atau jualan mainan anak keliling. Siapa yang tidak ingat surga berjalan ini? Mungkin terlalu berlebihan. Tambang berlian berjalan. Nah, itu ajalah.

              Tambang berlian bagi bocil awal 2000an ini sangat ditunggu-tunggu di depan pintu rumah. Bagi yang banyak rezeki akan lebih mudah untuk mendapatkan berlian itu setiap kali ia lewat di depan rumah. Bagi yang belum banyak rezekinya, bocil awal 2000an akan menabung. Kurangi jajan, kurangi uang layangan, dan kurangi beli es. Bagi anda yang mencuri di masa itu, pasti akan diancam untuk dilaporkan ke polisi oleh orang tua kita. Atau mendapat libasan rotan ke tangan. Mengapa begitu parah? Karena ini merupakan perilaku tidak terpuji. Supaya tidak menjadi kebiasaan, harus diberikan pengingat agar tidak dilakukan lagi.

              Anyway, ada jualan mainan anak keliling yang memiliki musik, ada dengan terompet, ada dengan teriakan abang-abangnya. Pasanglah kedua kuping anda dan fokus. Siapa tahu terompet abangnya mati, abangnya lagi malas teriak, sehingga tidak terdengar jelas tanda-tanda kedatangannya.

              Seketika sampai di depan rumah, semua anak pasti akan mengerumuninya. Khusus bocil awal tahun 2000an. Bagaimana kalau zaman sekarang? Ramainya di gerai hp. Back to the topic, abang penjual mainan keliling juga menganggap kerumunan bocil-bocil ini sebagai pembawa rezeki, apalagi setelah pembagian THR di hari raya. Penjual mainan keliling, toko mainan, semua dipenuhi oleh bocil-bocil dengan dompet tentaranya. “Tidak boleh ke pasar.” Jika kedua orang tua kita melarang untuk beraksi di tempat mainan itu berdiam, masih ada paman penjual mainan keliling, The Hero We Needed.

              Setelah mainan dibeli, langsung dibawa ke dalam rumah tanpa membayar, karena ada emak yang siap sedia jika kita menjadi anak yang baik. Kalau nakal, jangan harap dibelikan mainan, masih diberi izin main keluar rumah aja sudah bersyukur. Bahkan, setelah kita sudah membeli mainannya, kita masih ingin berlama-lama di gerobak mainan itu. Penuh dengan mainan. Bau mainan baru adalah bau termantap di zaman itu. Setelah emak menarik kita dari gerobak baik secara paksa atau tidak, kita bahkan masih melihat gerobak itu pergi meninggalkan kita. Top 10 Sad Moment in Our Childhood.

              Namun, seiring majunya zaman, anak-anak mengalihkan perhatiannya dari tambang berlian ini. Mereka menemukan tambang yang lebih hebat lagi. Hal ini merupakan berita buruk bagi abang penjual mainan anak keliling. Rezekinya akan berkurang hingga harus berganti pekerjaan. Kita tidak akan pernah melihat senyuman abang penjual mainan anak keliling lagi. Kita juga tidak akan pernah melihat gerobak mainan itu lagi. Sama kasusnya dengan toko mainan anak. Walaupun masih ada anak-anak balita yang masih tertarik dengan toko mainan tersebut. Worst case scenario, bahkan anak balita juga memindahkan ketertarikannya ke teknologi.

    Ikuti tulisan menarik Almanico Islamy Hasibuan lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












    Oleh: Dwi Kurniadi

    Sabtu, 13 Agustus 2022 09:06 WIB

    Sajadah Basah

    Dibaca : 2.476 kali

    Sebuah Puisi karya Dwi Kurniadi