x

Nostalgia Senjapun menyeruak Merangsak ke-dalaman bathin ini Anginpun seakan berhenti bercanda Aku bilang “tak akan menyerah” Lampu-lampu terawang jalan Nan raya saja ,,,, Dulu “mah” tak begitu Ketika aku bermimpi membawa rembulan Aku beranjak dari lamunan Seperti mereka yang mempunyai harapan Hidup itu haruslah diperjuangkan Begitulah kata sang kebenaran Ku tembus dada ,bukan membunuh diri Aku disini masih punya mimpi Kota Tasikmalaya 11/07/2019 Asep Muhammad Rizal

Iklan

Miri pariyas

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 13 November 2021

Minggu, 17 April 2022 10:36 WIB

Suara Itu, Tak Mungkin Redup

Apa hakikhat kuliah? Apa hakikat hidup? Jika semua menghamba kepada uang itu? Lantas, kami tak punya kuasa tentang itu. Tentang hidup yang memaksa kita melakoni apa yang dikatakan publik.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

 

“Sudah ku bilang dari awal, kamu ingin kuliah atau kerja!”

Percakapan yang begitu indah, ditemani sebuah kopi untuk menghangatkan tubuh, sebab malam ini terlalu dingin hingga membuat bulu kuduk ku berdiri. Kata mereka semua memiliki jalan yang berbeda tak usah risau.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Tidak ada kata yang pantas untuk menimpali kembali. Barangkali hanya cukup diam dan mencoba mengali kembali memorian yang hampir terkubur sebab kondisi yang memaksa hal tersebut.

“Mengapa kamu terdiam?”

“Apa yang pantas untuk menjawab pertanyaanmu itu? Sedangkan, hari ini, dunia menawarkan segala kemegahan yang luar biasa. Kita dipaksa untuk mengikuti tren hari ini. Jika, tidak begitu! Dianggap norak dan segala kata yang disematkan bagi kami yang tak mengikuti jejak hari ini. Bahkan kita dipertontonkan dengan crazy rich yang akhir-akhir ini amat gila dan tak bisa dinalar oleh akal sehat,”

“Itu beda konteks, aku hanya mempertanyakan tentang tujuan awal mu untuk kuliah?”

Sedari awal tujuan hanyalah untuk belajar dan membenah tak ada kilas balik selain itu. Namun, tujuan makin hari makin degredasi entah apa yang menyebabkan itu. Seakan-akan bergelar menuntut kita menjadi sukses.

Sukses ala-ala publik yang kerjanya di kantor, memakai sepatu fantofel, ataupun menduduki posisi yang strategis itu, atau paling banter menjadi penguasa muda yang sukses yang pada akhirnya menjadi motivator dimana-mana.

“Kenapa kamu kembali diam? Aku ingin cerita temanku yang dia tidak memiliki gelar sama dengan kita bisa mendapat gaji sebesar Rp4 juta, lalu kita akan mengasumsikan bahwa kita yang bergelar seharusnya lebih dibandingkan itu, Bukan?!”

Aku mencoba menelisik perkataannya begitu apik, hingga mata ini susah tuk bergedip. Tiap perkataannya aku hanya mengangguk dan tak ada bantahan atas itu.

Ia meneruskan kembali “Banyak sarjana hari ini kesusahan untuk bekerja, alhasil dia menjadi pengangguran, sedangkan kita selalu memberi stigma bahwa kuliah akan mempermudah lapangan pekerjaan. Tapi begini, kalau korelasinya hanya bekerja mending tak usalah kamu kuliah! Untuk apa?”

“Kamu merendahkan kamikah? Kita di mata publik punya tanggung jawab berat. Kalau kita tak punya pekerjaan kasihan orang tua kami yang kena ampasnya, cemooh masyarakat mesti ada?. Aku tak sanggup menerima itu,”

“Ah sial, kamu ini sudah bergelar, namun tetap saja tak memahami tujuan mengapa dan kenapa kamu kuliah? Kamu terlalu termakan budaya kita yang kental menilai namun luput untuk menjadi pembelajar yang ulung, sudahlah aku sudah susah payah menjelaskan sesuatu hal kamu sedari awal saja tak memahami itu”

“Tapi, keluhku ini realita, kamu pun menyadari itu, hal itu bukan?”

“Realita memang kebenaran. Kebenaran yang kamu sampaikan itu adalah kebenaran yang bergedok kebohongan,”

“Maksudmu?”

“Kita ini menjadi manusia amat sangat susah untuk bahagia, mensyukuri, belajar legowo, kita ini tamak semua ingin kita miliki. Ya, tentu bahagia memang soal uang bukan soal kita. Apa yang kita jalani hari ini sebablah sistem. Sistem hari ini tak pernah membicarakan sesuai dengan kebutuhan kita, akan tetapi soal segelintiran orang saja. Kita dipaksa mengikuti mereka yang seyoginya kita tak sanggup mengikuti itu.”

Betulah ini soal sistem, kuliah selalu dikorelasikan dengan menyiapakan colon pekerja di semua lini, hingga melupakan hal yang paling krusial soal kuliah. Apabila, kita mengamiinkan bahwa pendidikan merupakan episentrum peradaban semestinya kita mampu merangkai hal itu dari apa yang kita bisa.

Namun, ini lagi-lagi soal hidup, bagaimana kita bisa merakit itu. Kita saja masih kesusahan untuk hidup. Bahkan ada pengharapan yang tak sengaja diletakkan di diri kita. Walupun, lisan tak mampu berucap hanya gerak gerik tubuh yang memberikan signal yang amat sedih jika memikirkannya.

“Kenapa kamu tak membantah perkataanku?”

“Apa yang harus dibantah? Kebahagian saja sukar didapati, katanya negeri ini menjamin kejahteraan sedangkan melukiskan senyuman saja sudah tak mampu,”

“Memang memegang nilai dalam konteks hari ini tak semudah lisan berucap, akan tetapi itulah fungsi dari pendidikan yang seharunya kita dapati di kuliah. Kuliah itu bukan soal menjadi calon pekerja tapi bagaimana menerapkan nilai menjadi tindakan. Tindakan yang kamu yakini kamu mampu menjalani tanpa paksaan, soal gaji apapun itu, akan mengikutinya, terpenting tetaplah memegang nilai,”

“Kamu terlalu optimis!”

“Tidak begitu. Aku tau ini terlalu ideal dalam kehidupan kita. Dibalik optimisku aku seringkali meletakkan pesimisku. Aku menyakini pula bahwa tindakanku belum tentu dapat menyelesaikan permasalah sosial hari ini. Permasalahan hari ini amat kompleks,”

“Lalu?”

“Aku tetap menyiapkan perahu itu,”

“Itu sukar”

“Sukar itu mesti ada sebab aku selalu menyakini menyelesaikan satu kontradiksi akan menciptakan kontradiksi lainnya, kita patut lah berbahagia dengan melakukan hal yang bermanfaat, semua punya fase dan kamu harus yakini itu. Tak usah berburu-buru,”

“Apakah kamu yakin suara mu itu tak pernah redup?”

“Itu bukan hak kita untuk mengklaim diri kita, walupun kita memilih hak atas diri kita. Tugas kita hanya berusaha”

 

 

 

 

 

 

Ikuti tulisan menarik Miri pariyas lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Pagan

Oleh: Taufan S. Chandranegara

2 hari lalu

Terpopuler

Pagan

Oleh: Taufan S. Chandranegara

2 hari lalu