Legasi Berharga dari Nadiem Makarim - Pendidikan - www.indonesiana.id
x

Nadiem makarin jadi tumpuan perubahan pendidikan di Indonesia (sumber foto : kemendibud)

Dr. Dudung Nurullah Koswara, M.Pd

Ketua DPP Asosiasi Kepala Sekolah
Bergabung Sejak: 9 November 2021

Jumat, 22 April 2022 13:47 WIB

  • Pendidikan
  • Topik Utama
  • Legasi Berharga dari Nadiem Makarim

    Akan tercatat dalam sejarah Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi, sosok Nadiem Anwar Makarim.  Ia sangat berbeda dengan Menteri Pendidikan sebelumnya. Legasi Nadiem Makarim berupa kebijakan Merdeka Belajar akan menjadi pondasi perbaikan dunia pendidikan kita. Ini wajib didukung agar terus bertransformasi lebih sempurna. Para kepala sekolah adalah satu diantara “pewaris” yang bakal melanjutkan legasi itu.

    Dibaca : 1.130 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Oleh Dr. Dudung Nurullah Koswara, M.Pd, Dewan Pembina PGRI dan Ketua DPP AKSI

    Akan tercatat dalam sejarah Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi,  sosok Nadiem Anwar Makarim.  Ia sangat berbeda dengan Menteri Pendidikan sebelumnya.  Plus saat pelantikan sebagai menteri, ia paling menarik perhatian publik.

    Sebagai  Dewan Pembina PGRI dan salah satu Ketua Dewan Pimpinan Pusat Asosiasi Kepala Sekolah Indonesia (AKSI), saya mengapresiasi sosok Nadiem Makarim yang punya niat baik membenahi pendidikan di Tanah Air. Tampaknya ia sangat mengerti terkait dengan sengkarut dunia  pendidikan.

    Sudah puluhan tahun dunia pendidikan kita sangat sulit untuk move on menuju lebih baik. Standar Nasional Pendidikan dan tujuan nasional pendidikan kita tak mudah diraih, bahkan masih jauh dari ideal.

    Satu momentum paling  baik yang dilakukan Nadiem Makarim adalah hilangnya Ujian Nasional (UN). UN adalah sejarah kelam dunia pendidikan kita.  UN diganti dengan Asesmen Nasional (AN), diharapkan jauh lebih baik.

    UN menjadi AN adalah lompatan menjungkirbalikkan sengkarut pendidikan kita.  UN telah melahirkan wabah  ketidakjujuran pada mental anak didik.  Bahkan UN masa lalu telah menjadi alat politik pencitraan entitas oknum kepala daerah.

    Dulu, apabila  semua anak didik di suatu daerah lulus 100 persen UN, kepala daerah  dianggap berhasil. Kepala dinas pendidikan, kepala sekolah, guru, dan anak didik menjadi “korban” suksesi UN lulus 100 persen. Ini salah satu noktah dunia pendidikan kita.

    Lahirnya spirit Merdeka Belajar era Nadiem Makarim seolah menjelaskan, niat memerdekanan anak didik, guru, dan kepala sekolah.  Anak didik, guru, kepala sekolah, dan kedaulatan sekolah era Merdeka Belajar diberi tempat.

    Pertama, Merdeka Anak Didik,  anak didik  kini  memiliki “ruang terbuka belajar” yang lebih berpihak pada kebebasan mengembangkan potensi dirinya. Anak didik jauh lebih dihargai dan disiapkan harus  menjadi generasi terbaik kelak.

    Anak didik di era Merdeka Belajar benar-benar diletakkan pada posisi terbaiknya. Ia menjadi pusat dari layanan pendidikan. Semua  layanan pendidikan “berhamba” pada anak didik. Anak didik menjadi utama dan istimewa.

    Nadiem Makarim memahami bahwa anak didik adalah jenis manusia paling berharga di muka bumi.  Tidak ada makhluk manusia di negara mana pun yang lebih berharga, istimewa dan strategis bagi masa depan bangsa selain anak didik.

    Anak didik adalah “telor emas” yang harus dijaga, dilayani dan dierami sampai menetas menjadi generasi emas kelak. Nadiem Makarim memahami di internal satuan pendidikan masih  terjadi “tiga dosa besar”.

    Tiga dosa besar ini  adalah masalah yang merusak “telor emas”.  Bisa jadi gegara tiga dosa besar ini anak didik kita gagal meraih sukses. Gegara berbiaknya intoleransi, kekerasan seksual, dan perundungan di satuan pendidikan anak jadi bermasalah.

    Kedua, Merdeka Guru, guru diberi peluang untuk lebih bebas mengekpresikan kemampuan dalam melayani sukses pembelajaran anak didik.  Guru diberi “ruang terbuka mengajar” dengan khas dan gayanya.

    Guru secara fleksibel bisa mengajar dan mendidik sesuai realitas dinamika anak didik.  Asesmen diagnostik yang dilakukan guru pada anak didik memberi pelung pada setiap guru lebih mengenali setiap anak didiknya.

    Tuntutan administrasi guru tidak utama. Hal yang utama adalah tuntutan proses pembelajaran guru  pada anak didik. Guru tidak harus menuangkan semua materi pada anak didik, cukup  materi esensial dan mana yang dianggap terbaik, terpenting oleh guru.

    Program Guru Pengerak adalah di antara apresiasi dan penghormatan pada entitas guru  dari Nadiem Makarim. Guru-guru yang punya energi, kebiasan berbeda, unik, multitalenta dan sedikit nakal kreatif diwadahi dalam Program Guru Penggerak.

    Faktanya, Nadiem Makarim berharap “guru guru nakal” yang terhimpun dalam entitas Program Guru Penggerak, kelak menjadi kepala sekolah.  Dari guru-guru penggerak yang multitalenta dan punya unikasi, diharapkan dunia pendidikan kita akan lebih baik.

    Ketiga, Kepala Sekolah Merdeka, kini kepala sekolah lebih bebas dalam berkreasi dan berinovasi. Terutama kepala sekolah yang tergabung dalam pelaksana Program Sekolah Penggerak. Kelak semua  sekolah akan menjadi pelaksana Program Sekolah Penggerak.

    Kini Bantuan Operasional Sekolah (BOS) langsung ke rekening sekolah, dulu tidak demikian. Kepala sekolah diberi otomomi lebih  luas dari sebelumnya.  Kepala sekolah adalah menyiapkan satuan pendidikan yang harus punya keleluasan manajerial di satuan pendidikan.

    Nadiem Makarim memahami bahwa entitas kepala sekolah adalah aktor utama untuk menyelesaikan masalah pendidikan kita.  Bila saja semua kepala sekolah kompeten dan merdeka maka 50 persen dunia pendidikan kita “termerdekakan”.

    Hadirnya regulasi baru bahwa seorang kepala sekolah harus punya sertifikat Guru Penggerak menghindarkan pengangkatan kepala sekolah dari politisasi, setidaknya “jalan tengah”.  Sengkarut pengangkatan kepala sekolah diduga publik  masih berbau politis.

    Sebelumnya kepala sekolah di daerah 3T (terdepan, tertingga;, dan terpencil) dan sekolah “normal’ diperlakukan sama. Nadiem Makarim “memerdekakan” perhitungan biaya BOS. Kini perhitungan BOS didasarkan pada Indeks Kemahalan Kontruksi (IKK) dan Indeks Besaran Peserta Didik (IPD).

    Legasi  Nadiem Makarim terkait Merdeka Belajar akan menjadi pondasi perbaikan dunia pendidikan kita. Ini sebuah legasi yang wajib kita dukung untuk terus bertransformasi lebih sempurna. Kepala sekolah adalah di antara “pewaris” melanjutkan legasi di atas.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.