Kisah Cinta di Pulau Bacan - Fiksi - www.indonesiana.id
x

Frank Jiib

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 11 November 2021

Minggu, 26 Juni 2022 12:06 WIB

  • Fiksi
  • Topik Utama
  • Kisah Cinta di Pulau Bacan

    Sebuah cerpen yang mengisahkan perkenalan Fahad dan Fahna yang mana, perkenalan ini berawal dari aplikasi Facebook di sebuah bangku taman. Siapa sangka hubungan yang berawal dari sebuah perkenalan, ternyata berubah menjadi sebuah cinta yang tulus. Namun, Fahad dan Fahna dipisahkan oleh tempat yang begitu jauh. Apakah Fahad berhasil menyatukan cintanya dengan Fahna?? Jangan lupa baca juga "Pernikahan nan Syahdu, Indahnya Malam Pertama" yang merupakan kelanjutan dari "Kisah Cinta di Pulau Bacan". Dan ikuti terus perjalanan rumah tangga Fahad dan Fahna selanjutnya.

    Dibaca : 809 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

       Suara kicau burung terdengar saling bersahutan dengan riang menyambut datangnya pagi hari yang cerah. Deretan pohon yang berdiri menjulang ke atas dengan rimbunan daun berwarna hijau yang saling menyatu tampak seperti membentuk kanopi alami terlihat mengelilingi taman kota yang menjadi kebanggaan warga kota Jombang. Taman kota ini memiliki hamparan rumput luas yang berwarna hijau serta terpotong rapi, di tengahnya terdapat sebuah jalan kecil yang memisahkan hamparan rumput menjadi dua bagian. Taman kota ini telah menjadi tujuan bagi orang-orang yang ingin berolahraga, juga bersantai menghabiskan waktu bersama keluarga tercinta. Pada pagi yang cerah ini terlihat beberapa anak kecil sedang bermain sepatu roda, ada juga anak-anak yang berlarian dengan riang gembira di hamparan rumput hijau yang memanjakan mata. Sedangkan di bagian luar taman kota ini, terdapat deretan bangku yang berada di bawah naungan pohon Tabebuya yang biasa digunakan untuk bersantai juga membaca buku. Saat itu waktu menunjukkan baru pukul tujuh pagi, terlihat sebuah sepeda motor dari arah timur berbelok masuk ke area taman kota lalu berhenti di tempat parkir yang telah disediakan. Setelah memarkir sepeda motor yang dikendarainya, terlihat seorang pemuda berjalan menuju ke deretan bangku dan memilih salah satu yang persis di bawah naungan pohon Tabebuya yang sedang bermekaran. Pemuda itu terlihat sedang duduk bersantai sambil menikmati indahnya pagi ini, terdengar suara riang anak-anak yang sedang bermain di area dalam taman kota, semua suasana ini telah membuat hati pemuda itu menjadi ceria. Dari sebuah bangku yang berada di taman kota inilah, terjalin sebuah kisah cinta yang mengharukan antara dua insan manusia. Tidak ada yang pernah menduga, bahwa suasana pagi yang cerah akan menjadi awal munculnya benih-benih cinta.

       Pada saat ini internet telah menjadi kebutuhan sehari-hari yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan masyarakat modern. Dengan adanya internet inilah, menjadi awal munculannya berbagai aplikasi pertemanan dan salah satu yang paling digemari anak-anak muda pada saat ini adalah Facebook. Dengan adanya aplikasi Facebook inilah, hubungan juga perkenalan antar sesama orang dapat dengan mudah terjalin, bahkan hingga sampai ke seluruh penjuru dunia. Seakan pada saat ini dunia tidak lagi memiliki batas pemisah, semua dapat terhubung hanya dengan sebuah aplikasi dan jaringan internet. Pagi itu pemuda yang terlihat sedang duduk bersantai seorang diri di bangku taman kota mengeluarkan ponsel dari dalam saku celananya dan dengan santai mulai membuka aplikasi Facebook. Pemuda itu masih penasaran dengan aplikasi yang sekarang begitu digemari oleh anak-anak muda. Dengan duduk bersantai sambil bermandikan cahaya matahari pagi, pemuda itu menekan aplikasi Facebook di layar ponselnya dan segera masuk ke area beranda. Di area beranda ini tersedia beberapa pilihan menu yang bisa digunakan. Karena belum terbiasa menggunakan aplikasi Facebook dan pada saat yang sama juga belum memiliki banyak teman, akhirnya pemuda itu memilih menu ‘tambah teman’ dengan menekannya.

       Setelah masuk ke dalam menu ‘tambah teman’, muncullah berbagai foto beserta nama yang tertulis di bawahnya. Dengan sabar pemuda itu melihat juga membaca sekilas info yang ditampilkan. Pemuda itu terus menggulir foto demi foto, karena sampai sejauh ini belum ada foto yang menarik perhatiannya. Hingga pada akhirnya, muncullah sebuah foto seorang wanita cantik, berkulit putih dengan senyum menawan yang langsung menusuk ke dalam hati pemuda itu. Sejenak pemuda itu memandangi foto yang begitu menarik perhatiaannya. Ia pandangi wajah yang sedang tersenyum ke arahnya dengan sebuah tulisan nama yang ada di bawah foto itu. Nama yang tertulis di bawah foto itu adalah Fahna. Karena didorong rasa penasaran yang membuncah di dalam hatinya, akhirnya pemuda itu menekan ikon ‘lihat info lainnya’ dan mulai membaca dengan seksama. Setelah puas membaca info lainnya mengenai Fahna, kembali pemuda itu menatap foto yang sedang tersenyum kepadanya dan seakan foto itu begitu menghipnotis jiwanya. Tanpa sadar senyum bahagia merekah di wajah pemuda itu dan dengan yakin, pemuda itu akhirnya menekan ikon ‘tambah teman’ kepada Fahna. Kini permintaan pertemanan telah dikirim kepada Fahna, tidak ada yang bisa pemuda itu lakukan selain menunggu permintaan pertemanan darinya diterima atau ditolak oleh Fahna. Hanya sebuah harapan dan juga kesabaran yang pemuda itu miliki saat ini. Setelah selesai bermain Facebook, pemuda itu bangkit dari tempat duduknya lalu memasukkan kembali ponsel ke dalam saku celananya dan berjalan meninggalkan bangku taman kota. Apakah ini sebuah kebetulan yang tidak disengaja atau ini merupakan suratan takdir yang pasti terjadi. Nama pemuda itu memiliki awalan huruf yang sama dengan perempuan yang baru saja ia kirimi permintaan pertemanan, yaitu huruf ‘F’. Dan nama pemuda itu adalah Fahad.  

    ***  

       Tidak terasa hari-hari terus berlalu dan sampai saat ini Fahad belum mendapat pemberitahuan jika permintaan pertemanan yang telah ia kirimkan kepada Fahna diterima. Setiap malam sebelum tidur, Fahad selalu membuka aplikasi Facebook untuk melihat apakah sudah ada pemberitahuan, dan setiap malam pula, hatinya selalu gelisah manakala tidak ada pemberitahuan yang begitu ia nantikan selama ini. Hingga pada suatu malam tepatnya di hari ketujuh, saat sebelum tidur Fahad membuka aplikasi Facebook, alangkah terkejutnya ketika melihat sebuah tanda merah di menu notifikasi. Dengan jantung berdebar Fahad menekan menu notifikasi dan tampaklah sebuah pesan pemberitahuan yang menyatakan bahwa ‘permintaan pertemanan telah diterima oleh Fahna’. Malam itu juga setelah membaca isi pemberitahuan yang telah ia nantikan selama ini, perasaan Fahad bagai melayang di angkasa yang bertabur dengan germerlap bintang-bintang, karena rasa bahagia juga kesabarannya selama ini akhirnya membuahkan hasil. Fahad sudah tidak sabar ingin segera mengirim pesan kepada Fahna untuk mengucapkan rasa terima kasihnya karena sudah diterima sebagai teman. Pada saat itu Fahad belum mengetahui dimanakah Pulau Bacan itu berada, yang ia ketahui selama ini, jika Pulau Bacan adalah daerah penghasil batu Bacan yang begitu terkenal ke seluruh Indonesia. Namun, suatu hari nanti Pulau Bacan akan menjadi saksi perjalanan kisah cinta Fahad dan Fahna. Akhirnya malam itu Fahad jatuh tertidur dengan rasa bahagia yang membuncah di hatinya.

    ***    

       Hari ini Fahad begitu bersemangat menjalani aktivitasnya sebagai seorang pegawai di sebuah toko parfum isi ulang. Tepat pada pukul delapan pagi, Fahad telah tiba di tempat kerja dan langsung membuka toko, kemudian membersihkan lantai juga meja dan setelah semua itu selesai, Fahad dengan sabar menunggu pembeli datang. Selama bekerja pikiran Fahad selalu disibukkan dengan sebuah nama yang telah membuat hatinya berbunga-bunga sejak semalam. Ketika memasuki waktu istirahat, Fahad akhirnya memberanikan diri untuk mengirim sebuah pesan melalui aplikasi Facebook kepada Fahna.

       ‘Assalamualaikum, selamat siang Fahna apa kabar hari ini?’ Tulisnya singkat lalu mengirim pesan itu dari ponsel yang selalu dibawanya.

       Dengan sabar Fahad menunggu balasan dari Fahna yang ternyata tidak kunjung ada balasan. Ketika waktu istirahat telah habis, kembali Fahad melanjutkan aktivitasnya bekerja dengan penuh semangat, sambil menanti pesannya dibalas oleh Fahna. Tidak terasa waktu telah menunjukkan pukul empat sore dan ini saatnya Fahad untuk menutup toko lalu pulang ke rumah agar dapat bersantai sejenak.

       Ketika telah berada di rumah, Fahad membuat teh hangat di dapur, lalu duduk di teras belakang rumah sambil menikmati suasana sore yang cerah. Fahad mengambil ponsel yang sedari tadi tergeletak di atas meja, lalu membuka aplikasi Facebook untuk melihat apakah sudah ada balasan dari Fahna. Ketika melihat beranda Facebook, matanya langsung tertuju ke menu pesan yang berwarna merah. Seketika perasaan Fahad menjadi tegang karena penasaran dengan siapa orang yang telah mengirim pesan kepadanya. Dengan tidak sabar, Fahad segera menekan menu pesan dan terbukalah daftar pesan masuk yang hanya berisi satu nama dan nama itu adalah nama yang telah dinanti selama ini.

       Ternyata Fahna yang mengirim pesan kepada Fahad, dan seketika perasaan Fahad menjadi lega. Fahad segera membuka dan membaca pesan yang telah Fahna kirimkan.

       ‘Waalaikumsallam, selamat sore Fahad. Alhamdulillah kabar Fahna baik-baik saja di sini. Bagaimana dengan kabar Fahad di sana?’ Setelah membaca pesan dari Fahna, Fahad langsung membalasnya.

       ‘Alhamdulillah, aku juga kabar baik di sini Fahna. Tidak lupa aku ucapkan terima kasih banyak telah menerima aku sebagai teman. Semoga pertemanan ini bisa membawa kebaikan untuk kita berdua.’ Fahad langsung mengirim pesan itu ke Fahna.

       Tidak menungga lama, balasan dari Fahna langsung masuk ke kotak pesan.

       ‘Iya sama-sama Fahad. Aku juga terima kasih banyak, Fahad sudah mau berteman dengan aku.’  Fahad membaca pesan yang dikirim oleh Fahna dengan wajah berseri-seri.

       Sore itu Fahad dan Fahna saling bertukar pesan melalu aplikasi Facebook. Dan setelahnya mulai terjalin komunikasi diantara keduanya walaupun masih sebatas perkenalan, atau hanya sekedar saling menanyakan kabar. Fahad dan tentunya Fahna masih merasa canggung dan malu dengan perkenalan ini, apalagi diantara mereka berdua tidak pernah saling mengenal sebelumnya, tentu semua ini butuh proses untuk mencairkan suasana.

    *** 

       Tidak terasa pertemanan yang awalnya bermula dari sebuah aplikasi Facebook, kini telah berjalan selama satu setengah tahun, dan sekarang hubungan Fahad dan Fahna mulai menapaki jenjang yang lebih serius. Hingga pada suatu hari, karena sudah tak mampu menahan isi hatinya lebih lama lagi, Fahad akhirnya mengutarakan isi hatinya kepada Fahna melalui sambungan telepon.

       “Assalamualaikum selamat malam Fahna. Lagi apa nih sekarang di sana?” tanya Fahad sambil berbaring di dalam kamar yang gelap. Malam itu hujan sedang turun dengan deras. Di luar terdengar suara air hujan yang menampar-nampar jendela kamar Fahad.

       “Waalaikumsallam Kak Fahad. Ini Fahna lagi tiduran di kamar karena badan Fahna terasa mau demam,” jawab Fahna dengan suara merdunya.

       “Iya Fahna,” ujar Fahad. “kalau bisa Fahna pakai tiduran dulu di kamar tidak apa-apa. Karena besok Fahna juga harus bekerja lagi, ‘kan?”

       “Iya Kak Fahad, terima kasih atas saran dan perhatiaannya ke Fahna.”

       Mendengar ucapan terima kasih dari Fahna, sontak membuat perasaan Fahad bagai menaiki roller coaster. Banyak perasaan yang sedang berkecamuk di dalam diri Fahad dan semua itu ingin segera Fahad luapkan. Dan malam ini adalah momen yang tepat untuk melakukannya. Dengan jantung berdegup kencang, Fahad berusaha memberanikan diri mengutarakan isi hatinya kepada Fahna.

       “Fahna …,” kata Fahad memulai, “apakah aku boleh mengatakan sesuatu kepadamu?”

       Mendengar pertanyaan Fahad yang tidak biasa membuat hati Fahna mulai berdegup kencang. Karena rasa ingin tahu yang begitu dalam, akhirnya Fahna menjawab.

       “Boleh Kak Fahad. Silahkan kalau Kak Fahad ingin menyampaikan sesuatu ke Fahna.”

       “Ehm … aku sebenarnya ingin mengatakan satu hal, tapi aku bingung harus memulai dari mana,” ujar Fahad yang terdengar seperti orang bingung dan tidak percaya diri.

       “Memang Kak Fahad mau mengatakan apa sih? Jangan buat Fahna bertanya-tanya di sini, ayo cepat katakan!”

       “Baiklah, aku akan mengatakannya sekarang.” Kemudian terjadi jeda yang terasa begitu panjang, manakala Fahad merasa tidak yakin dengan dirinya sendiri. Lalu terdengar suara Fahna yang memangil-manggil di telepon.

       “Kak Fahad … Kak Fahad … kenapa diam saja?”

       “Maaf Fahna tadi aku masih ….” Kembali Fahad tidak tahu harus mengatakan apa ke Fahna.

       “Ya sudah kalau Kak Fahad tidak mau mengatakannya ke Fahna, tidak apa-apa.” Terdengar suara Fahna begitu kesal dengan tingkah laku Fahad yang begitu aneh malam ini.

       Karena merasa bersalah telah membuat Fahna kecewa malam ini. Akhirnya Fahad menyampaikan isi hatinya ke Fahna dengan perasaan takut serta tidak percaya diri.

       “Fahna, sebelumnya maafkan aku yang telah bertingkah aneh malam ini. Jujur, aku hanya ingin menyampaikan tiga kata malam ini,” ujar Fahad memulai, lalu berhenti sejenak untuk menarik napas panjang. Setelah itu kembali melanjutkan, “tiga kata itu adalah ‘Aku Mencintai Dirimu’.”

       Mendengar tiga kata yang baru saja disampaikan oleh Fahad, sontak membuat dunia Fahna seakan berputar tak karuan. Fahna tidak pernah menduga jika kata itu yang akan ia dengar malam ini. Kini giliran Fahna yang tidak tahu harus mengatakan apa dan hanya bisa diam karena terkejut. Namun sejujurnya, Fahna juga sudah memendam rasa kepada Fahad sejak pertama mereka berkenalan. Dan sekarang, Fahad telah mengungkapkan isi hatinya kepada Fahna dan ungkapan itu, Fahna meyakini dengan sepenuh hati tulus dari hati yang paling dalam.

       “Kak Fahad,” kata Fahna selepas keheningan yang terasa begitu lama, “jujur Fahna tak pernah menduga jika tiga kata itu yang kakak sampaikan ke Fahna. Malam ini Fahna benar-benar merasa bahagia sekali, karena akhirnya Kak Fahad menyampaikan isi hatinya ke Fahna.” Kemudian terdengar tawa bahagia dari Fahna yang berada di ujung sambungan telepon.

       “Fahna, apakah cinta kakak diterima?” tanya Fahad dengan tidak meyakinkan.

       Dengan mantap Fahna langsung menjawab, “Iya, cinta Kak Fahad Fahna terima. Dan satu hal lagi, sejak dulu Fahna sudah memendam rasa ke Kak Fahad, tapi tidak mungkin bagi seorang wanita untuk menyampaikan isi hatinya kepada seorang pria lebih dulu,” kata Fahna juga menyampaikan isi hatinya yang selama ini terpendam.

       “Jujur malam ini aku adalah laki-laki yang paling beruntung dan berbahagia di dunia, karena sekarang aku telah memiliki seroang wanita cantik yang sangat aku cintai,” ujar Fahad dengan perasaan bahagia yang tidak lagi ditutup-tutupi.

       Malam itu adalah malam yang begitu berkesan bagi Fahad dan Fahna. Karena malam itu cinta mereka seakan menemukan jalan untuk saling mendekat, saling memiliki dan saling membutuhkan. Setelah selesai melakukan obrolan santai dengan Fahna yang ternyata memakan waktu lebih dari satu jam, akhirnya Fahad kembali meletakkan ponsel di atas meja kecil semping tempat tidur, lalu kembali berbaring di kasur. Di luar hujan masih terus turun dan kini disertai dengan angin yang menderu-deru.

       Malam itu ketika tengah berbaring di atas kasur sambil mendengar suara hujan di luar, tiba-tiba pikiran Fahad melayang ke sebuah pulau indah nan jauh di sana, tempat dimana pujaan hatinya tinggal. Dalam bayangan yang ada di pikirannya, saat itu Fahad tengah berada di Pulau Bacan dan dengan penuh percaya diri datang ke rumah Fahna seorang diri untuk memberi kejutan yang begitu spesial. Alangkah indahnya jika momen itu benar-benar terjadi, tanpa sadar seulas senyum bahagia menghiasi wajah Fahad yang sedang membayangkan dirinya bertemu dengan pujaan hatinya. Kemudian muncul sebuah keinginan serta kemauan yang menggebu-gebu untuk bisa pergi ke Pulau Bacan nan jauh di sana.

    ***   

       Pada malam berikutnya, setelah makan malam berdua bersama ibu tercinta, yang dilanjutkan dengan duduk bersantai di teras belakang rumah sambil menikmati suasana malam yang hangat. Ketika sedang duduk berdua dengan ibunya itulah, Fahad ingin memberi tahu ibunya mengenai hubungannya dengan Fahna, wanita yang telah membuatnya jatuh cinta. Dengan memberanikan diri, Fahad akhirnya bercerita kepada ibunya.

       “Ibuku sayang,” kata Fahad memulai, “aku ingin memberi tahu sebuah berita yang semoga bisa membuat ibu senang.”

       Mendengar ucapan yang baru saja Fahad sampaikan, membuat ibunya merasa penasaran lalu bertanya. “Kalau boleh ibu tahu, berita apa yang ingin engkau sampaikan anakku? Tidak biasanya kamu seperti ini, pasti ini sesuatu yang rahasia, ‘kan?” Ibuku seakan bisa membaca pikiranku dengan jelas.

       “Sebenarnya, saat ini aku sudah memiliki seorang kekasih ibu. Dan hubungan kami berdua telah berjalan selama kurang lebih satu setengah tahun,” kata Fahad menyampaikan dengan seulas senyum karena melihat reaksi ibunya yang begitu terkejut.

       “Oh iya? Kenapa selama ini kamu tidak pernah memberi tahu ibu, jika kamu telah memiliki seorang kekasih?” tanya ibuku penasaran.

       “Alasan aku belum memberi tahu ibu selama ini adalah karena aku masih takut dan malu,” jawab Fahad dengan jujur.

       “Kenapa kamu harus malu kepada ibu? Ibu sangat mendukung jika kamu sudah memiliki kekasih dan semoga saja bisa menjadi jodohmu di dunia dan juga di akhirat.”

       “Alhamdulillah dan terima kasih banyak kalau ibu mendukung dan tidak marah dengan hubungan yang aku jalani selama ini.”

       “Anakku sayang, ibu malah ingin kamu segera memiliki seorang istri yang akan menjadi pendamping hidupmu. Ibu khawatir jika kamu tidak segera menikah, nanti kamu akan semakin malas untuk mencari pendamping.

       “Kalau boleh ibu tahu, siapa nama kekasih anakku ini?” tanya ibuku dengan senyum bahagia yang terpancar jelas di wajahnya.

       “Namanya adalah Fahna ibu. Ia adalah anak bungsu dari enam bersaudara. Dia juga bekerja di toko onderdil kapal motor milik orang tuanya,” jawabku dengan terus terang kepada ibuku.

       “Fahna,” ujar ibuku dengan senyum yang masih menghiasi wajahnya, “nama yang indah, pasti secantik dengan orangnya.”

       Mendengar kalimat yang baru saja ibuku sampaikan membuat aku tak dapat menahan tawa. Ibuku seakan bisa membaca mengenai Fahna, padahal ibuku belum pernah sekalipun berkenalan juga mengetahui wajah Fahna. Karena tidak ingin membuat ibuku semakin penasaran, aku akhirnya menunjukkan foto Fahna kepada ibuku.

       Setelah mengetahui beberapa foto Fahna yang aku simpan di dalam ponsel. Ibuku langsung menatapku dengan wajah berseri-seri sambil berujar. “Semoga Fahna ini kelak akan menjadi jodohmu, dan ibu yakin dia adalah anak yang baik, sehingga bisa menjadi istri yang baik pula untuk anakku ini.”

       Mendengar kata-kata yang baru saja ibuku sampaikan, seketika membuat aku terharu dan langsung aku memeluk ibuku dengan erat. Aku begitu menyayangi ibuku dan karenanya aku ingin bisa membahagiakannya.

       “Ibu,” kataku dengan lembut, “aku mempunyai satu permintaan kepada ibu, bolehkah aku mengatakannya?”

       “Silahkan anakku, katakan apa permintaan kamu? Ibu sangat ingin mendengarnya,” jawab ibuku masih dengan senyum di wajahnya.

       “Begini ibuku sayang,” kataku memulai, “aku ingin meminta ijin kepada ibu, karena aku ingin sekali pergi ke Pulau Bacan untuk berjumpa dengan Fahna. Apakah ibu mengijinkan aku pergi ke Pulau Bacan?”

       Ibuku tidak langsung menjawab pertanyaanku, tetapi hanya diam sambil memandang wajahku yang menanti dengan cemas. Kemudian tangan kanan ibuku membelai rambut dan pipiku sambil berkata, “Anakku sayang, ibu ijinkan kamu pergi ke Pulau Bacan untuk berjumpa dengan Fahna wanita yang begitu engkau cintai.”

       Mendengar jawaban dari ibuku, aku seakan tidak bisa berkata apa-apa. Aku hanya diam membisu sambil menatap wajah bahagia ibuku dan tanpa sadar air mata mulai menggenang di mataku. Aku segera memeluk kembali ibuku sambil tak kuasa menahan tangis bahagia, akhirnya aku bisa pergi ke Pulau Bacan untuk berjumpa dengan Fahna.

       “Terima kasih banyak ibu atas ijin dan doa yang ibu berikan kepada anakmu ini,” ujarku masih sambil memeluk ibuku.

       “Sama-sama anakku. Ibu juga merasa bahagia malam ini setelah mendengar semua cerita yang baru saja engkau sampaikan,” jawab ibuku sambil kedua tangannya terus menggosok punggungku, seakan tak ingin melepaskan aku dari pelukannya.

       Setelah bercakap-cakap dengan ibuku di teras belakang rumah, aku berjalan masuk ke dalam kamar dan langsung merebahkan tubuhku di atas kasur sambil pandanganku menatap langit-langit kamar. Namun, pikiranku sudah melayang jauh ke Pulau Bacan tempat yang akan aku kunjungi untuk berjumpa dengan wanita yang aku cintai, yaitu Fahna.

       Sebelum aku pergi tidur, aku sempat memberi tahu berita gembira ini kepada Fahna, bahwa ibuku sudah mengetahui hubungan kita berdua dan ibuku sangat mendukung juga merestuinya. Dan ada satu hal lagi yang sengaja aku sampaikan belakangan, karena aku ingin memberi kejutan yang spesial malam ini kepada Fahna. Aku mengatakan kepada Fahna, jika aku akan berkunjung ke Pulau Bacan untuk berjumpa dengannya dan aku telah mendapat ijin dari ibuku. Mendengar kejutan yang baru saja aku sampaikan, langsung membuat Fahna terharu hingga tanpa sadar air mata kebahagiaan turun membasahi pipi cantiknya. Setelah menyampaikan berita baik itu kepada Fahna, aku langsung pergi tidur dengan perasaan bahagia yang meliputi hatiku. Malam itu adalah minggu terakhir di bulan Januari dan tujuh bulan dari sekarang, tepatnya pada bulan Agustus aku akan pergi ke Pulau Bacan.

    ***   

       Pagi itu bandara Juanda terlihat begitu sibuk dengan aktivitas calon penumpang yang akan bepergian menuju ke berbagai daerah yang ada di Indonesia. Diantara para calon penumpang pesawat pagi itu, terlihat seorang pemuda sedang berjalan dengan penuh percaya diri dan begitu bersemangat, seperti sedang mengejar sesuatu yang begitu berharga. Saat itu Fahad sedang berjalan menuju ke bagian check-in untuk dapat masuk ke bagian dalam area bandara. Setelah melalui beberapa prosedur pemeriksaan bandara yang ketat, akhirnya Fahad tiba di ruang tunggu keberangkatan. Tidak menunggu waktu lama, para penumpang akhirnya dipersilahkan untuk naik ke dalam pesawat yang telah tersedia di area parkir landasan. Bersama para penumpang lainnya, Fahad berjalan santai menuju ke pesawat Lion Air, lalu menaiki tangga dan masuk ke dalam kabin pesawat. Setelah berada di dalam kabin pesawat, Fahad segera mencari tempat duduk yang sesuai dengan nomor kursinya. Setelah menemukan nomor kursi yang dicarinya, Fahad langsung memasukkan tas ransel yang dibawanya ke ruang bagasi kabin yang ada di atas tempat duduk, kemudian Fahad duduk santai di kursi pesawat sambil mengenakan sabuk keselamatan.

        Pagi itu cuaca terlihat begitu cerah di bandara Juanda, ditandai dengan langit biru sejauh mata memandang dan cahaya matahari pagi yang berwarna kuning keemasan di sebelah timur. Fahad duduk dengan tenang di kursi pesawat sambil diliputi perasaan bahagia yang tidak bisa ia tutupi. Karena pagi ini, akhirnya Fahad dapat mewujudkan mimpinya pergi ke Pulau Bacan untuk bejumpa dengan pujaan hatinya Fahna. Tetapi, sampai sekarang Fahna masih belum mengetahui jika pujaan hatinya pagi ini sedang melakukan perjalanan ke Pulau Bacan untuk menemuinya. Yang Fahna ketahui sejauh ini, jika Fahad masih melakukan aktivitasnya seperti biasa, yaitu bekerja di toko parfum isi ulang.

       Kurang dari sepuluh menit pesawat telah berada di landas pacu bandara untuk memulai take off. Beberapa saat kemudian pesawat sudah melaju dengan kecepatan penuh di landas pacu bandara hingga akhirnya pesawat berhasil terbang dengan anggun di udara pagi yang cerah. Di dalam kabin pesawat, Fahad berusaha memejamkan mata karena sejak semalam ia belum tidur. Kurang dari duapuluh menit setelah pesawat mengudara, Fahad akhirnya jatuh tertidur di kursi pesawat dengan seulas senyum bahagia menghiasai wajahnya.

    ***

       Pada pukul tujuhbelas lebih tigapuluh menit petang, pesawat Wing’s Air bermesin baling-baling akhirnya berhasil mendarat dengan selamat di bandara Oesman Sadiq Labuha setelah melakukan penerbangan singkat dari Ternate. Untuk pertama kalinya, setelah tururn dari pesawat, Fahad akhirnya bisa menginjakkan kakinya di Pulau Bacan. Fahad segera berjalan keluar dari dalam area bandara yang tidak begitu besar, lalu menuju ke deretan taksi yang sedang terparkir menunggu calon penumpang. Fahad memilih taksi yang berada paling depan dan segera masuk ke kursi belakang, kemudian taksi segera berjalan meninggalkan area bandara Oesman Sadiq Labuha, Pulau Bacan. Ketika duduk di dalam taksi yang sedang melaju, Fahad melihat untuk pertama kalinya jalanan kota Labuha. Di sepanjang jalan terdapat deretan rumah-rumah yang saling berhimpitan satu dengan lainnya. Saat itu matahari sudah hampir terbenam di balik Gunung Sibela sehingga langit kota Labuha berwarna merah keemasan di sebelah barat. Lampu-lampu penerangan yang ada di sepanjang jalan terlihat sudah mulai menyala, namun ada beberapa lampu penerangan jalan yang mati. Jalanan kota Labuha petang ini tidak terlalu ramai, hanya ada beberapa kendaraan yang berlalu-lalang. Taksi yang sedang Fahad tumpangi saat ini sedang berjalan menuju ke sebuah hotel yang berada di pinggir pantai. Dalam temaram senja yang semakin gelap, taksi terus melaju di jalan dua arah menuju ke selatan menjauhi pusat kota Labuha. Dan saat ini taksi tengah berada di daerah pinggir pantai yang terlihat sunyi dan gelap. Taksi yang Fahad tumpangi melewati pelabuhan Kupal yang terlihat masih sepi dengan para calon penumpang, juga area parkir pelabuhan yang terlihat suram dengan tiang-tiang lampu penerangan yang memancarkan cahaya redup. Taksi terus melaju hingga akhirnya tiba di sebuah hotel berlantai dua dengan papan nama yang menyala terang. Hotel yang Fahad pilih untuk menginap memiliki pemandangan yang langsung menghadap ke arah laut, karena bagian belakang hotel berbatasan langsung dengan pantai berpasir putih. Taksi akhirnya berhenti di depan pintu masuk hotel, Fahad segera turun dari taksi beserta barang bawaannya lalu membayar ongkosnya. Setelah membayar ongkos dan mengucapkan terima kasih kepada sopir yang duduk di balik kemudi. Taksi segera melaju perlahan keluar dari area hotel dan langsung kembali menuju ke kota Labuha dan meninggalkan Fahad yang berdiri seorang diri di depan pintu masuk hotel.

       Fahad segera berjalan masuk menuju meja resepsionis hotel untuk mengambil kunci kamar yang telah ia pesan sebelumnya. Setelah kunci kamar berada di tangan, Fahad kemudian berjalan menuju ke kamar yang berada di lantai dua. Setelah tiba di depan pintu kamar dan membuka pintunya, Fahad langsung masuk ke dalam kamar lalu menyalakan lampu kamar. Setelah lampu menyala, barulah Fahad mengetahui keadaan kamar tempat ia akan bermalam. Kamar hotel ini memiliki desain yang elegan dan bernuansa minimalis, bagian dalam kamar didominasi dengan waran putih sehingga menampilkan kesan bersih. Di tengah terdapat satu tempat tidur dengan meja nakas yang berada di sampingnya. Kemudian menempel pada dinding samping kamar, berdiri sebuah lemari pakaian berwarna karamel dengan pintu geser. Serta sebuah televisi layar datar yang terpasang di dinding tepat di depan tempat tidur dengan dilengkapi meja kerja beserta dua botol air mineral yang berada di bawahnya. Dan sebuah kamar mandi yang berada di lorong samping tempat tidur dengan pilihan air panas atau dingin. Fahad segera meletakkan tas bahu yang dikenakannya di atas kasur, lalu berjalan ke jendela kamar dan membukanya lebar-lebar. Fahad lalu menarik sebuah kursi dan duduk sambil melihat pemandangan laut yang ada di hadapannya.

       Tampak di sebelah timur bulan purnama mulai naik ke langit malam dengan cahaya kuning keperakan, ditambah deburan kecil ombak yang menyapu bibir pantai, dan di kanan, terlihat sebuah kapal motor dengan lampu warna-warni sedang berlayar meninggalkan pelabuhan menuju ke laut lepas. Sungguh sebuah pemandangan yang luar biasa melihat keindahan alam Pulau Bacan pada malam hari. Malam ini Fahad merasa begitu dekat dengan pujaan hatinya dan rasanya ingin segera menuju ke rumah Fahna untuk memberi kejutan yang spesial, namun, semua itu harus menunggu hingga esok hari. Setelah puas memandang laut yang disinari cahaya bulan purnama, Fahad bangkit dari tempat duduknya lalu menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah dari kamar mandi dan berganti pakaian, barulah Fahad ingat jika ia belum makan sama sekali sejak pagi tadi hingga sekarang. Terakhir kali Fahad makan kemarin malam di sebuah warung pinggir jalan ketika sedang menunggu bus yang akan menuju ke Surabaya.

       Kini setelah hampir duapuluh empat jam, Fahad mulai merasakan perutnya keroncongan dan jika harus keluar kamar untuk mencari makan malam rasanya sudah sangat berat. Ditambah lagi, Fahad tidak mengetahui daerah di sekitar sini dan juga tidak ada kendaraan yang dapat ia gunakan untuk mencari makan. Jadi pilihan terakhir yang tersedia adalah memakan roti coklat yang telah ia bawa sejak dari rumah untuk bekal selama perjalanan panjang ini. Fahad segera membuka tas bahunya dan mengeluarkan roti coklat yang nampak begitu menggugah selera, lalu Fahad kembali duduk di samping jendela kamar hotel memandang laut hitam yang berhias pantulan bulan purnama sambil memakan roti coklat yang langsung dihabiskannya.

       Setelah menghabiskan roti coklat dan sebotol air mineral, Fahad segera bangkit dari duduknya lalu menutup kembali jendela kamar hotelnya serta mengembalikan kursi ke tempat semula. Fahad kemudian berjalan mematikan lampu kamar hotel dan langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur hotel. Dalam gelap, pikiran Fahad selalu teringat wajah cantik pujaan hatinya, dan esok hari adalah hari bersejarah baginya karena akan memberikan kejutan yang sangat spesial kepada Fahna. Tak terasa senyum bahagia merekah di wajah Fahad menantikan momen indah yang akan terjadi beberapa jam dari sekarang. Hingga tanpa sadar Fahad jatuh tertidur dengan sinar bulan purnama menerobos masuk ke dalam kamar melalui gorden yang terbuka.

    ***  

       Sinar matahari pagi menerobos masuk melalui jendela kamar yang menghadap ke laut. Fahad akhirnya membuka mata dan mendapati kamarnya telah dibanjiri dengan sinar matahari pagi yang menyilaukan mata. Fahad berusaha meregangkan tubuhnya terlebih dahulu sebelum bangun dari kasur yang telah membuainya dalam mimpi indah semalam. Fahad melihat jam digital yang berada di atas meja nakas, dan waktu menunjukkan pukul enam pagi waktu Labuha. Fahad segera bangkit dan berjalan menuju ke jendela kamar hotelnya, membukanya lebar-lebar dan membiarkan tubuhnya terkena sinar matahari pagi yang begitu menyilaukan mata, serta merasakan hembusan lembut angin yang bertiup dengan sesekali tercium aroma asin air laut.

       Perasaan bahagia bercampur rasa cinta telah membuncah sejak kedatangan Fahad di kota Labuha kemarin petang. Pagi ini adalah hari yang begitu dinanti oleh Fahad, tidak lama lagi ia akan memberi kejutan kepada Fahna yang sampai saat ini masih tidak mengetahui jika pujaan hatinya telah berada di Pulau Bacan. Fahad membiarkan pikiranya berkelana membayangkan reaksi Fahna saat mengetahui siapa yang berdiri di depan pintu rumahnya. Gambaran-gambaran indah yang saling bermunculan akhirnya membuat Fahad tersenyum kepada dirinya sendiri. Fahad masih berdiri sambil memandang panorama indah yang terbentang dihadapannya. Terlihat langit berwarna biru muda membentang sejauh mata memandang, dan di bawah, terlihat air laut yang begitu tenang serta tidak nampak ombak yang menyapu bibir pantai, ditambah matahari yang sedang bersinar terang membuat air laut tampak begitu berkilauan bagaikan permata yang tersembunyi.

       Setelah puas memandang lautan yang berkilauan serta merasakan sinar matahari yang mulai terik, Fahad akhirnya beranjak dari jendela kamar hotelnya dan berjalan menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah selesai mandi dengan air dingin yang menyegarkan, Fahad segera menyiapkan baju yang akan ia kenakan untuk bertemu dengan Fahna. Dengan penuh ketelitian, Fahad memerhatikan setiap detail penampilannya melalui cermin yang berada di dalam kamar hotel. Setelah puas dengan penampilannya pagi ini, tak lupa Fahad menyemprotkan parfum kesukaannya ke beberapa bagian tubuh supaya penampilannya lebih percaya diri dan menarik, dan terakhir Fahad mengenakan sepatu sebagai pelengkap penampilannya pagi ini. Setelah semua persiapan selesai, Fahad dengan santai dan penuh percaya diri berjalan keluar kamar hotel, menutup pintu dibelakangnya serta menguncinya.

       Fahad lalu berjalan turun ke lantai satu dan menuju ke ruang makan yang berada di sebelah meja resepsionis. Di ruang makan yang kecil dan sederhana ini, terlihat ada beberapa tamu hotel lainnya yang sedang menikmati makan pagi. Fahad segera menuju ke meja makan tempat hidangan telah disiapkan, dan mengambil jatah makan pagi yang disediakan oleh pihak hotel. Setelah menyelesaikan makan paginya, Fahad bergegas keluar dari hotel dan menuju ke pinggir jalan raya untuk mencari ojek motor. Butuh beberapa menit sampai seorang pengemudi ojek motor datang, lalu Fahad memberi tahu alamat yang akan ia tuju dan segera naik ke atas motor.

       Ojek motor yang Fahad tumpangi segera berjalan menuju kembali ke arah kota Labuha. Pagi itu Fahad melihat jalanan yang ia lewati terlihat lebih ramai daripada saat ia datang kemarin petang. Banyak kendaraan yang berlalu-lalang, juga para nelayan yang baru pulang dari melaut. Ojek motor yang Fahad tumpangi kembali melewati pelabuhan Kupal dan kali ini pelabuhan terlihat lebih ramai yang ditandai dengan beberapa mobil pribadi sedang terparkir, juga beberapa mobil angkutan umum berwarna biru muda, dan ada dua kapal motor yang sedang bersandar dengan keramaian para calon penumpang yang akan turun dari kapal.

       Ojek motor terus melaju dengan kecepatan standar hingga kota Labuha mulai terlihat di depan. Kini jantung Fahad mulai berdegup kencang karena perasaan bahagia juga ketegangan yang semakin meningkat karena akan berjumpa dengan pujaan hatinya. Saat memasuki kota Labuha, Fahad melihat keramaian juga kesibukan dari warga masyarakat. Ini bisa dimaklumi, mengingat kota Labuha merupakan kawasan bisnis dan juga sebagai pusat pemerintahan. Ketika ojek motor yang Fahad tumpangi berada di jalan dimana rumah Fahna berada, Fahad segera menepuk bahu pengemdui ojek untuk menepi. Setelah pengemudi ojek berhenti, Fahad segera turun dari motor lalu membayar ongkosnya.

       Saat ini sinar matahari mulai terasa panas dan waktu menunjukkan pukul sembilan lebih tigapuluh menit. Fahad lalu berjalan santai menyusuri salah satu jalan utama kota Labuha, di sini terdapat berbagai macam toko yang menjual berbagai jenis kebutuhan sehari-hari. Mulai dari kebutuhan dapur, elektronik, hingga suku cadang mesin kapal motor, dan ada beberapa toko yang menjual bahan material bangunan. Fahad terus berjalan sambil mencari keberadaan rumah Fahna hingga pandangannya melihat sesuatu yang membuatnya berhenti.

       Fahad ingat pernah melihat di salah satu unggahan Fahna di Facebook yang menampilkan sebuah paket dengan tulisan tangan alamat rumah Fahna. Diunggahan itu, tertulis jelas alamat rumah Fahna yang menyatu dengan sebuah toko yang bernama ‘Toko Platina’. Dan saat ini, Fahad sedang menatap Toko Platina yang berada tepat di seberang jalan tempatnya berdiri. Perasaan Fahad semakin berkecamuk, karena tujuan perjalanan panjangnya datang ke Pulau Bacan akan berakhir. Fahad berusaha menenangkan dirinya sendiri supaya tidak gugup ketika berjumpa dengan Fahna atau yang lebih buruk berjumpa dengan orang tua Fahna.

       Setelah meyakinkan dirinya sendiri untuk siap menghadapi apa pun yang akan terjadi, Fahad segera menyeberangi jalan dan langsung berjalan menuju ke rumah Fahna yang tepat berada di sebelah Toko Platina. Ketika telah berada di depan pintu rumah Fahna, Fahad menarik napas panjang dan mulai mengetuk dengan pelan. Tidak terdengar jawaban dari dalam rumah dan Fahad merasakan waktu seakan berhenti bergerak. Fahad berusaha mengetuk sekali lagi dengan pelan dan kali ini terdengar suara yang menjawab dari dalam rumah. Kemudian, Fahad mendengar suara langkah kaki yang berjalan menuju ke pintu depan, lalu suara lubang kunci diputar dan sejurus kemudian pintu terbuka.

       Ketika pintu dibuka itulah yang membuat Fahad hampir jatuh tak sadarkan diri karena ketegangan yang semakin memuncak menanti siapa yang berada di balik pintu. Setelah pintu terbuka lebar, barulah terlihat siapa orang yang tengah berdiri menyambut Fahad. Itu adalah momen yang tidak akan pernah Fahad lupakan sepanjang sisa hidupnya. Momen dimana untuk pertama kalinya, Fahad memandang wajah Fahna yang berdiri tepat dihadapannya. Tidak ada yang berbicara atau mengucapkan salam, karena rasa terkejut yang menguasai Fahad dan Fahna secara tiba-tiba. Entah sudah berapa lama kesunyian berjalan diantara Fahad dan Fahna. karena pada saat itu waktu bagaikan berjalan dengan kecepatan siput.

       Setelah berhasil mengendalikan dirinya kembali. Akhirnya Fahad yang pertama berbicara dengan suara terbata-bata.

       “Assalamualaikum selamat siang Fahna, bagaimana kabar hari ini?”

       Fahna masih berdiri termenung seakan tidak percaya dengan apa yang sedang dilihatnya, seakan semua kejadian ini adalah mimpi di siang bolong. Fahad juga tidak tahu harus berbuat apa dengan kejadian yang di luar dugaan ini. Setelah beberapa saat, barulah Fahna kembali sadar dengan semua kenyataan yang sedang dilihatnya.

       Dengan sambil menutupkan sebelah tangannya ke mulut karena terkejut, Fahna berkata dengan suara pelan dan bergetar. “Waalaikumsallam Kak Fahad. Apakah ini benar-benar Kak Fahad yang sedang berdiri dihadapan Fahna?”

       “Kau benar sayang,” jawab Fahad singkat, “aku sengaja datang kemari hanya untuk berjumpa dengan pujaan hatiku, yaitu dirimu.” Terlihat seulas senyum terpancar di wajah Fahad.

       Mendengar jawaban yang baru saja Fahad sampaikan, akhirnya membuat Fahna salah tingkah hingga kedua pipi Fahna merona merah seketika.

       “Ya Allah Kak Fahad! Kakak benar-benar datang ke Pulau Bacan hanya untuk bertemu dengan Fahna?”

       “Benar sekali Fahna. Aku datang kemari hanya untuk bertemu dan memandang wajah cantikmu,” ucap Fahad apa adanya karena terbuai rasa bahagia yang memenuhi hatinya.

       “Kak Fahad kapan tiba di Pulau Bacan?” tanya Fahna dengan sorot mata bahagia yang terlihat jelas.

       “Kakak tiba di Pulau Bacan kemarin malam dan langsung menuju ke hotel untuk beristirahat.”

       “Kenapa Kak Fahad tidak memberi tahu Fahna jika akan pergi ke Pulau Bacan? Dengan begitu, Fahna bisa meminta tolong Kak Faris untuk menjemput kakak di bandara.”

       “Sebelumnya aku minta maaf karena tidak memberi tahu Fahna terlebih dahulu. Aku sengaja melakukan ini karena ada alasannya,” kata Fahad menjelaskan. “Alasannya adalah, karena aku ingin memberi kejutan yang spesial buat Fahna pujaan hatiku.”

       Mendengar alasan yang Fahad sampaikan, membuat Fahna berkaca-kaca dan mungkin tidak lama lagi air mata itu akan turun membasahi pipinya. Fahna masih tidak percaya dengan semua ini. “Kak Fahad, kakak telah memberi kejutan yang sungguh luar biasa pagi ini dan di luar dugaan aku. Jujur, aku tadi tidak pernah menyangka jika orang yang tengah mengetuk pintu rumahku adalah Kak Fahad.”

       “Tapi Fahna,” kata Fahad dengan masih tersenyum, “aku juga masih punya satu kejutan lagi untukmu dan ini yang sungguh spesial.”

       “Kak Fahad masih punya kejuatan lagi buat Fahna? kejutan yang baru saja kakak berikan sudah lebih dari cukup. Dan ini Kak Fahad masih menyimpan sebuah kejutan lagi,” ujar Fahna begitu penasaran dengan kejutan yang Fahad siapkan.

       “Fahna pasti sudah tak sabar ingin segera mengetahui kejutan apa yang telah aku siapkan?” kata Fahad dengan menggoda.

       “Iya Kak Fahad,” jawab Fahna sambil tersenyum malu. “Aku sungguh-sungguh penasaran dengan kejutan ini. Cepat kasih tahu apa kejutannya!” pinta Fahna dengan manja.

       Melihat Fahna yang bertingkah manja dan seperti anak kecil membuat Fahad semakin cinta dan sayang kepadanya. Inilah saat yang paling ditunggu oleh Fahad selama ini, memberikan kejutan yang mungkin pertama kali Fahad berikan kepada seorang wanita.

       “Tapi ada satu syaratnya jika Fahna ingin mengetahui kejutannya,” kata Fahad yang semakin membuat Fahna tidak sabaran.

       “Kak Fahad katakan apa syaratnya? Pasti Fahna ikuti,” jawab Fahna dengan manja.

       “Syaratnya adalah Fahna harus menutup mata dan tidak boleh membukanya sebelum aku mengatakan buka. Bagaimana, Fahna siap?” tanya Fahad.

       “Baiklah kalau begitu. Sekarang Fahna akan langsung menutup mata.” Fahna segera menutup matanya dan menunggu dengan hati dan jantung yang berdebar tak karuan.

       Fahad segera mengeluarkan sebuah bungkusan kecil berbentuk persegi yang dibungkus dengan sangat rapi, lalu dengan perlahan Fahad meletakkan bungkusan itu di tangan kanan Fahna dan setelahnya Fahad memberi tanda kepada Fahna untuk membuka matanya.

       Setelah membuka matanya, alangkah terkejutnya Fahna mengetahui ada sebuah kotak kecil di telapak tangan kanannya, dengan perasaan bingung, Fahna menatap Fahad dan berkata. “Ini apa Kak Fahad yang ada di tangan Fahna?”

       “Kalau Fahna ingin mengetahui itu apa? Silahkan dibuka sendiri,” jawab Fahad dengan senyum yang selalu mengembang di wajahnya.

       Akhirnya Fahna mulai membuka bungkus kertas terlebih dahulu dan setelahnya tampaklah sebuah kotak persegi berwarna merah. Dengan tangan sedikit gemetar, Fahna mulai membuka kotak itu hingga terlihat isi yang ada di dalamnya. Seketika pandangan mata Fahna menyiratkan tidak percaya dengan apa yang sedang dilihatnya, lalu dengan tangan yang semakin gemetar, Fahna menunjukkan isi yang ada di dalam kotak itu kepada Fahad.

       Fahad hanya mengangguk sekali. Dan pada saat itulah, karena sudah tak mampu lagi membendung luapan emosi yang meledak-ledak di dalam dirinya, akhirnya tangis Fahna pecah dan air mata kebahagiaan turun membasahi pipi cantiknya. Melihat momen yang begitu menguras emosi, tanpa sadar Fahad juga ikut menangis bahagia di depan pujaan hatinya.

       Tidak ada yang tahu dengan pasti apa yang sebenarnya terjadi antara dua orang yang sedang berjumpa di depan sebuah teras rumah. Momen itu begitu menguras emosi dan perasaan, hingga akhirnya membuat Fahad dan Fahna seperti saling terikat oleh sesuatu yang alami, kuat serta bersemanyam di dalam diri mereka berdua. Sesuatu itulah yang disebut dengan cinta yang sedang bermekaran dan kini sedang mencari jalan untuk menyatu dan bersama. Itulah yang terjadi kepada Fahad dan Fahna, semua berjalan bagaikan air yang mengalir menuju ke satu tujuan. Fahad tiba-tiba melingkarkan tangannya ke pinggang Fahna dan tanpa diduga, Fahna langsung menghambur ke dalam dekapan Fahad.

       Air mata Fahna masih terus turun membasahi pipi cantiknya dan Fahad dengan lembut mengusap punggung Fahna untuk menenangkan pujaan hatinya. Terdengar isak tangis Fahna yang masih tidak percaya dengan semua ini. Dan dengan suara pelan Fahad berkata.

       “Fahna sayang, janganlah engkau menangis lagi, ya!” Sambil sesekali tangan Fahad membelai kepala Fahna.

       “Aku tidak tahu harus mengatakan apa dengan semua yang telah Kak Fahad berikan ini,” jawab Fahna dengan suara pelan yang nyaris tak terdengar.

       “Tidak ada yang perlu dikatakan Fahna sayang. Aku memberikan semua ini khusus untukmu, karena aku begitu mencintaimu dengan tulus dan apa adanya.”

       “Aku juga sangat mencintaimu dengan tulus dan seutuhnya sayangku,” ucap Fahna dengan suara bergetar dan disusul suara tangisan bahagia.

       Setelah itu tidak ada lagi yang berbicara, Fahad dan Fahna seolah menyatu dengan perasaan cinta dan kasih sayang. Bagaikan sebuah kisah Romeo dan Juliet yang begitu masyhur, begitu juga dengan kisah cinta Fahad dan Fahna saat ini. Mereka masih terus berpelukan meluapkan semua emosi yang sudah lama terpendam. Dan seandainya dunia di sekitar mereka seketika runtuh dan pecah menjadi berkeping-keping, mereka berdua masih tetap akan berpelukan karena mereka telah mempunyai dunianya sendiri dan terpisah dengan dunia yang ada saat ini.

     

    Labuha, Pulau Bacan, ‘kenangan indah yang tak akan terlupa’.

    Ikuti tulisan menarik Frank Jiib lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.



    Oleh: Merta Merdeka

    12 jam lalu

    Haha huhu~

    Dibaca : 83 kali