Kebudayaan Gotong Royong di Tapanuli Selatan - Humaniora - www.indonesiana.id
x

Almanico Islamy Hasibuan

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 22 November 2021

Sabtu, 2 Juli 2022 15:56 WIB

  • Humaniora
  • Topik Utama
  • Kebudayaan Gotong Royong di Tapanuli Selatan

    Kebudayaan gotong royong merupakan kebudayaan rakyat Indonesia yang masih diterapkan dalam kehidupan sosial sampai sekarang, namun seperti budaya lainnya, budaya ini juga kian luntur dimakan perubahan zaman. Kali ini kita melihat kebudayaan gotong royong apa saja yang ada di daerah asal saya, Tapanuli Selatan.

    Dibaca : 796 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Gotong royong merupakan budaya khas Indonesia, bahkan sampai dibuat menjadi nama sebuah kabinet masa kepresidenan ibu Megawati Soekarnoputri. Budaya ini telah tertanam di kehidupan sosial masyarakat Indonesia. Hari-hari libur akan selalu diisi oleh kegiatan kerja sama ini. Kaum bapak-bapak dan pemuda akan bekerja sama melakukan sesuatu seperti memperindah lingkungan sekitar atau memperbaiki fasilitas-fasilitas tertentu. Semuanya bercengkerama dan saling mempererat tali silaturahminya. Kaum belia bergaul dengan kaum yang sudah uzur.

    Bagi kaum ibu-ibu sendiri, mereka menyiapkan makanan dan cemilan untuk para pekerja yang sudah kelelahan. Semuanya berbaur, tidak terkecuali anak-anak yang bebas bermain bersama teman-temannya.  Kebiasaan itu memang terdengar sangat memberikan banyak hal positif, namun seiring pergerakan zaman kebudayaan ini sedikit demi sedikit mengalami kelunturan. Peristiwa ini sudah jarang terlihat, terutama di kota-kota besar. Hal ini berbeda di pedesaan, di mana budaya gotong royong masih kental di dalamnya.

    Salah satu budaya gotong royong di daerah Tapanuli Selatan adalah Marsialapari. Budaya gotong royong ini sudah dilakukan sejak dahulu, di mana para petani saling membantu pekerjaan mereka masing-masing terutama dalam hal membajak sawah. Pekerjaan membajak sawah sangat membutuhkan tenaga dan biaya. Hal ini wajib dilakukan petani untuk kembali menggemburkan tanah setelah masa panen selesai. Petani biasanya menggunakan tenaga kerbau, traktor, dan tenaga manusia.

    Salah satu faktor mengapa budaya Marsialapari ini masih diterapkan di daerah Tapanuli Selatan adalah dikarenakan masih banyak petani di daerah Tapanuli Selatan, terutama di desa Hutaimbaru, yang belum memiliki traktor ataupun kerbau. Petani di sana akan memanggil teman-teman seperjuangannya dan bersama-sama membajak sawah. Upah tentu saja diberikan kepada mereka setelah pekerjaannya selesai, namun di beberapa peristiwa, upahnya juga dapat berbentuk sebagai makan siang bersama. Kebudayaan ini juga perlahan luntur di desa Hutaimbaru, kabupaten Tapanuli Selatan dikarenakan sudah banyak petani yang mampu membeli kerbau dan traktor untuk membajak sawah-sawah mereka.

    Budaya gotong royong lainnya di daerah Tapanuli Selatan adalah saat pembukaan lubuk larangan. Lubuk larangan itu sendiri merupakan budaya menutup suatu lubuk atau sungai supaya masyarakat sekitar tidak beraktivitas dan mengambil sumberdaya ikan di dalamnya. Lubuk atau sungai tersebut akan ditutup untuk beberapa bulan ke depan. Banyak kisah di dalamnya yang mengatakan bahwa siapa yang melanggar aturan ini akan jatuh sakit saat memakan hasil panen ikannya.

    Ada juga yang mengatakan bahwa ada seorang juru kunci yang menjaga lubuk larangan itu agar tidak dimasuki oleh masyarakat sekitar. Namun, dibalik cerita tersebut terdapat sebuah budaya di dalamnya. Masyarakat akan berbondong-bondong saling membantu satu sama lain dalam memanen ikan di lubuk larangan jika telah dibuka oleh pak kepala desa. Bapak-bapak, ibu-ibu, anak-anak, tua, dan muda, semua ikutserta mengambil ikan-ikan yang sudah besar dan bisa dipanen. Hari yang sama, masyarakat juga akan memakan ikannya bersama-sama, di mana di hari itu masyarakat sekitar menikmati hasil dari alam dengan cara yang lestari dan berkelanjutan.

    Ada juga budaya gotong royong di daerah Tapanuli Selatan, terutama di kecamatan Sipirok, di mana pada saat acara pesta pernikahan, ada satu kegiatan yang unik. Para pemuda-pemudi atau biasa disebut naposo nauli bulung di daerah Tapanuli Selatan akan pergi bersama-sama ke suatu sungai yang jernih dan bersih untuk membersihkan beberapa karung beras yang akan dikonsumsi saat hari pestanya digelar. Mereka akan pergi dengan sebuah truk sambil membawa beberapa karung berasnya ke sebuah sungai untuk membersihkan beras tersebut. Budaya ini biasa disebut mambasu dahanon. Hal ini wajib dilakukan saat pesta-pesta pernikahan.

    Beberapa budaya gotong royong yang berada di daerah Tapanuli Selatan yang sudah disebutkan merupakan kebudayaan yang harus dipertahankan. Jika tidak, generasi selanjutnya hanya mengetahui budaya tersebut sebagai cerita. Beberapa dari mereka sudah mulai luntur, terutama budaya kerja sama saat pembukaan lubuk larangan dan budaya mambasu dahanon. Faktor utamanya adalah sungai-sungai yang sudah mulai tercemar.

    Budaya-budaya tersebut masih bertahan di desa-desa terpencil yang jauh akan pabrik dan individu yang tidak bertanggung jawab akan lingkungan hidup kita. Budaya-budaya tersebut juga akan mempererat hubungan sesama manusia dan menjauhkan kita sejenak dari cengkeraman teknologi yang mengisolasi kita sendiri dengan orang-orang dekat kita.

    Ikuti tulisan menarik Almanico Islamy Hasibuan lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.