Sosial Media; Toxic tetapi Candu - Pilihan Editor - www.indonesiana.id
x

Dian Rini

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 1 Juli 2022

Minggu, 3 Juli 2022 06:21 WIB

  • Pilihan Editor
  • Topik Utama
  • Sosial Media; Toxic tetapi Candu

    Sosial media itu ibarat pisau. Ia bisa jadi senjata atau bisa juga melukai diri sendiri. Dan dalam medsos kita punya pilihan untuk logout serta mem-block orang yang toxic demi kesehatan mental. Daripada kita terus-menerus membandingkan diri kita dengan orang lain, lebih baik fokus dengan hal hal positif yang bisa membuat kita bahagia.

    Dibaca : 575 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Sosial Media Toxic Tetapi Candu!

    Etika di Sosial Media

     

    Kita sudah tidak asing lagi dengan kata sosial media atau biasa yang kita sebut sosmed. Jutaan bahkan milyaran manusia di dunia sudah memiliki sosial media mulai dari anak kecil hingga orang tua. Sosial media merupakan platfrom digital untuk kita berkomunikasi atau bersosialisasi satu sama lain tanpa dibatasi ruang dan waktu serta mencari informasi hingga mancanegara. 

    Di zaman era digital sekarang, sosial media sudah lebih maju dan pastinya lebih berbahaya. Bahkan dengan adanya sosial media kita jadi sering membanding-bandingkan kehidupan kita dengan kehidupan orang lain. Bukan hanya itu saja, di dalam sosial media banyak terdapat cyber bullying contohnya seperti: berkomentar dengan tidak baik, membully orang yang dikenal bahkan tidak dikenal dan mencari celah kesalahan orang lain. 

    Ada apa dengan sosial media? Mengapa sosial media menjadi lebih toxic di zaman sekarang daripada zaman dahulu?
    Jawaban nya bisa saja tidak toxic, karena jika tidak ada sosial media tidak akan ada industri-industri yang baik untuk memberikan informasi, semua bergantung kepada sikap dan pikiran manusia dalam menjalankan sosial media tersebut. 

    Di dalam sosial media banyak terdapat oknum-oknum tidak bertanggung jawab yang membagikan informasi tidak sesuai dengan fakta. Sehingga kita yang melihat hal tersebut menjadi lebih mudah percaya dan termakan hoax yang beredar. Mengingat akan dampak buruknya, setiap orang harus paham cara untuk menghindari nya. 

    Apa saja hal yang harus dihindari dalam sosial media? 
    1. Menyindir orang lain di sosial media
    2. Kerap membagikan konten yang menimbulkan pro kontra
    3. Asal dalam membagikan informasi, sehingga banyak yang termakan hoax
    4. Berkata terlalu kasar
    5. Menyinggung suku,ras dan agama

    Sosial media sangat melekat pada kehidupan manusia. Kita ingin terus memainkan sosial media, ingin membuktikan diri kita disana, dan bahkan kita membutuhkan pada era digital sekarang. Contoh, jika kita tidak mempunyai sosial media sulit mendapatkan pekerjaan dan sulit mendapatkan teman. Kita bisa menggangap bahwa apa yang terjadi di dunia sosial sama dengan apa yang terjadi di dunia nyata, karena otak kita memersepsikan kedua hal yang sama.

    Menurut Alfred Alder, "Manusia pada dasarnya adalah makhluk yang mempunyai inferiority to be human is to have inferiority feelings." Rasa Inferior atau rasa lebih rendah daripada orang lain adalah rasa yang bisa membuat kita terkena mental atas pencapaian orang lain untuk menutupi rasa inferior yang kita punya kita berusaha untuk mengikuti trend berusaha menampilkan yang terbaik. Namun kenyataan nya hampir semua orang merasakan hal tersebut bahkan orang yang kita kagumi. 

    Mengapa sosial media bisa membuat candu? 

    Karena di dalam sosial media banyak terdapat hal-hal menarik yang membuat kita menetap disana. Seperti melihat kehidupan para artis, selebgram, youtuber, dan lain sebagainya. Di dalam sosial media pun kita banyak mengharapkan perhatian dari orang lain seperti ingin dipuji orang lain ketika kita memposting sesuatu serta takut tertinggal hal yang baru. Kita terkadang tidak bisa mengontrol waktu sehingga banyak waktu terbuang sia-sia.

    Sosial media itu ibarat seperti pisau ia bisa dijadikan senjata atau bisa jadi melukai diri kita sendiri. Dan kita mempunyai pilihan untuk logout serta memblock orang yang toxic untuk kesehatan mental. Daripada kita terus-menerus membandingkan diri kita dengan orang lain, lebih baik fokus dengan hal hal positif yang bisa membuat kita bahagia.

    Detox social media itu penting, dapat mengubah perspektif hidup baik dari psikis maupun fisik. Secara emosional bisa lebih stabil, pikiran lebih tenang dan lebih menghargai hidup. 

    Setiap perubahan itu harus tetap diikuti dan harus tahu, tetapi kita tetap harus mempunyai kontrol atas diri kita sendiri.

    Ikuti tulisan menarik Dian Rini lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.