Menilik Budaya dalam Film KKN di Desa Penari - Hiburan - www.indonesiana.id
x

Salah satu poster film KKN di Desa Penari yang diambil dari akun instagram \x40KKNMovie, yang dimana foto ini sebagai icon film.

Nur Fuji H.

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 10 Juli 2022

Selasa, 12 Juli 2022 06:32 WIB

  • Hiburan
  • Topik Utama
  • Menilik Budaya dalam Film KKN di Desa Penari

    Artikel yang berjudul Menilik Budaya dalam Film KKN di Desa Penari merupakan artikel yang berisi mengenai beberapa budaya yang telah diangkat dalam film ini.

    Dibaca : 1.159 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Film KKN di Desa Penari, sebuah film horor yang disutradarai Awi Suryadi berhasil menarik lebih dari 9 juta penonton. Film yang dibintangi Aulia Sarah ini diangkat dari kisah nyata sekelompok mahasiswa yang tengah melakukan program KKN (Kuliah Kerja Nyata) di sebuah Desa Penari. Disebut-sebut desa ini berada di wilayah Jawa Timur.

    Latar pada film ini digambarkan dengan sebuah desa yang jauh dari keramaian kota, serta dengan mengusung kebudayaan daerah setempat yang masih sangat kental. Salah satu budaya daerah yang diangkat jelas dalam film ini adalah pola hidup masyarakat setempat, di mana masyarakat masih kekeh membawakan tarian adat daerah sebagai hal yang sakral, penyajian sesajen yang diletakkan pada tempat-tempat tertentu yang mereka anggap sakral, hingga masyarakat juga melestarikan benda-benda serta tempat yang memiliki mitos tertentu, seperti halnya sendang, punden, tapak tilas serta alat musik yang terdapat di sanggar tari dalam film tersebut.

    Hal ini tentu menggiring keyakinan penonton bahwa keyakinan animisme masih sangat melekat pada masyarakat desa tersebut. Di mana hubungan antara manusia dan roh halus di daerah tersebut masih diyakini secara kental. Salah satunya adalah persembahan sesajen pada tempat-tempat tertentu dengan membacakan doa atau mantra, hal ini diyakini sebagai sarana percakapan dalam rangka penghormatan kepada roh-roh dunia lain.

    Selain itu, adanya aturan-aturan pada tempat tertentu yang dipercaya masyarakat setempat adalah sebuah pantangan juga terjadi pada dalam film ini, hal ini dibuktikan dengan musibah yang menimpa Bima dan Ayu yang dikaitkan dengan ulah mereka yang melakukan hubungan intim di tapak tilas, sebuah tempat yang dikeramatkan oleh warga sekitar dan dilarang untuk mendekatinya. Yang terakhir adalah kepercayaan warga desa terhadap penguasa atau penunggu desa tersebut, yang diyakini adalah arwah seorang penari yang mereka sebut-sebut adalah sosok Badarawuhi yang diperankan oleh Aulia Sarah. Di mana dalam film ini sosok Badarawuhi terbiasa diagungkan oleh warga sekitar dalam setiap acara apapun dengan tariannya yang khas.

    Ikuti tulisan menarik Nur Fuji H. lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.