Novel Nh Dini: Perempuan yang Tidak Bahagia - Analisis - www.indonesiana.id
x

NH Dini. Wikipedia

atmojo

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Jumat, 29 Juli 2022 14:50 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Novel Nh Dini: Perempuan yang Tidak Bahagia

    Novel ini mengungkapkan perasaan-perasaan wanita dari sudut pandang wanita. Kisah para wanita yang tidak bahagia dan perkawinan yang hancur. Tapi di La Barka juga ada harapan yang muncul.

    Dibaca : 1.493 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Novel bertajuk La Barka ini layak ditahbiskan sebagai salah satu karya terbaik Nh Dini. Awalnya novel ini diterbitkan oleh PT Dunia Pustaka Jaya (Cetakan pertama pada 1975 dan cetakan kedua pada 1976).  Cetakan ketiga diterbitkan oleh PT Grasindo.pada 2000.  

    Nh. Dini adalah sastrawan perempuan Indonesia yang menonjol. Nama lengkap bungsu dari lima bersaudara ini adalah Nurhayati Sri Hardini, yang lahir pada  29 Februari 1936 di Semarang, Jawa Tengah. Nh. Dini menulis berbagai genre sastra, yaitu puisi, drama, cerita pendek, dan novel.

    La Barka  disajikan dalam lima bab, yang masing-masing bab diberi judul sesuai dengan nama tokoh yang ada dalam bab tersebut, yaitu Monique, Francine, Sophie,  Yvonne, dan bab kelima berjudul Christine.

    Novel ini merupakan catatan harian Rina, perempuan yang dibesarkan di sebuah yayasan yatim piatu. Perkawinanya  dengan lelaki Prancis memberinya harapan akan kehiduan keluarga tenang dan berkecukupan, yang tidak pernah dia miliki sebelumnya. Namun harapannya meleset.

    Kelahiran anak yang biasanya menjadi perekat hubungan suami-istri, justru menjadi neraka baginya karena ternyata suaminya tidak menyukai anak-anak. Suaminya mulai tidak setia kepadanya dan memperlakukan dia semaunya. Kata-kata suaminya sering tidak senonoh. Rina, meski sudah terbiasa bergaul dengan orang asing, dia belum dapat meninggalkan ikatan adat dan susila yang masih umum berlaku bagi perempuan  Jawa. Budaya dan alam pikir Jawa masih berpengaruh besar pada sikap dan pandangannya.  Merasa perkawinanya gagal, sambil menunggu proses perceraian, Rina pergi ke Trans, di Prancis Selatan. Di sana dia tinggal di La Barka, rumah Monique, sahabatnya.

    Di rumah itulah Rina menulis buku harian. Lama-lama buku harian Rina tidak hanya berisi curahan batinnya, melainkan juga cerita tentang temannya, morang yang dikenalnya, dan tamu-tamu yang bergantian datang berkunjung atau menginap di La Barka. Semua diceritakan dengan sifat dan perilaku berbeda, serta berbagai peristiwa yang terjadi di sana.

    Di La Barka juga akhirnya Rina bertemu dengan Robert. Lelaki terpelajar yang hampir sepuluh tahun lebih mudah darinya itu terpikat oleh pesona ke-Timur-an Rina.

                                                                       ***

    Bagian pertama yang diberi judul “Monique”, dibuka dengan cerita   kedatangan Rina (asal Indonesia) bersama anaknya di stasiun Les Arcs. Mereka datang dari Athena dengan pesawat  ke Jenewa, kemudian dari sana naik kereta api ke Prancis. Kedatangan Rina bertujuan untuk berlibur sambil menanti penyelesaian urusan perceraiannya dengan suaminya, seorang insinyur Prancis. Monique, sahabat lama yang hendak ditemui, menjemput mereka di stasiun kemudian bersama-sama menuju desa Trans, Prancis Selatan. Rina dan anaknya akan tinggal di rumah Monique yang diberi nama La Barka, sebuah rumah besar dengan halaman yang luas.

    Lalu dikisahkan bagaimana pertemuan Rina dengan Monique.  Mereka bertemu ketika Rina bekerja sebagai pengasuh anak-anak pada satu keluarga insinyur yang kembali ke Prancis dari Indonesia.  Ketika sampai di Prancis, Monique sering datang ke keluarga tersebut. Dia banyak membantu Rina dalam perbendaharaan bahasa Prancis Rina yang masih sangat terbatas. Sejak itu persahabatan mereka  tidak pernah putus. Bahkan ketika Rina kembali ke Indonesia, mereka tetap saling berkirim surat. Juga saat perkawinan Rina, dan pertemuan tidak sengaja mereka di Vietnam,. Rina mengikuti suaminya, demikian juga Monique mengikuti suaminya, Dan disusul dengan pertemuan-pertemuan berikutnya.

    Dikisahkan, ketika bekerja sebagai penggambar disain di pabrik keramik, Monique berkenalan dengan Daniel, seorang mahasiswa arsitektur. Tanpa banyak waktu pacaran, mereka menikah setahun kemudian. Monique ikut suaminya ke ibu kota. Dia menjalani kehidupan barunya dengan ketabahan yang mengagumkan. Tanpa sadar, dia mulai berani mengolah segala persoalan seorang diri. Biaya kuiah Daniel dan pondokan dikirimi orangtua Daniel. Dari pekerjaan-pekerjaan sampingan, kadang-kadang  Daniel mendapat uang dari pembuatan rencana buku dan model-model majalah arsitektur. Sedangkan Monique membantu menerima jahitan baju dari kenalan di sana-sini. Meski secara ekonomi kehidupan mereka memprihatinkan, tetapi mereka cukup bahagia.

    Demikianlah hidup Monique, hingga Daniel memperoleh ijazah. Orangtua Daniel meminjami uang untuk membayar sebagian harga rumah yang akan mereka beli. Pilihan mereka akhirnya jatuh pada La Barka, bekas rumah peternakan yang dikelilingi tujuh hektar tanah kering tapi penuh pohon cemara dan zaitun. Dengan kesigapan seorang ahli bangunan, Daniel merencanakan perubahan, penambahan, serta penggantian yang harus dikerjakan di dalam rumah tersebut.

    Dua tahun kemudian, Daniel mendapat tawaran untuk bekerja di sebuah perkebunan di Vietnam. Pekerjaan itu amat menguntungkan bagi tambahan pengalaman dan keuangan Daniel. Sebelum berangkat ke Vietnam, Daniel tinggal di Paris selama beberapa bulan agar mengetahui seluk-beluk pekerjaan yang akan diserahkan orang kepadanya.

    Rina sendiri telah menikah dengan seorang insinyur bangsa Prancis yang secara kebetulan mewakili bagian penjualan hasil perkebunan di mana Daniel akan bekerja. Suaminya mendapat kota perwakilan di Saigon, mengawasi penjualan hasil karet ke negeri-negeri pembeli.

    Kareran garis nasib, ditambah keberuntungan, Monique dan Rina bertemu kembali. Kali itu dalam keadaan yang mapan bagi Rina. Suaminya mendapat rumah besar. Rina menjadi nyonya rumah dan pengatur segala yang bersangkutan dengan keberesannya. Hal ini berbeda sekali keadaaanya beberapa tahun yang silam, ketiika dia bekernelan denganh Monique sebagai pengasuh kanak-kanak, yang hanya menuruti perintah majikannya.

    Rina senang dapat bertemu kembali dengan Monique. Bersama suaminya dia sering menghabiskan waktu liburan akhir pekan di rumah perkebunan, di rumah Monique dan Daniel, yang jaraknya hanya beberapa kilometer dari Saigon. Pada tahun ketiga perkawinan Rina, anaknya lahir. Monique datang dan tinggal bersama Rina selama seminggu untuk menolong mengurus bayi.

    Beberapa hari setelah dia kembali ke perkebunan, dia menelepon Rina. Dikatakannya bahwa akhir bulan itu dia akan berlayar pulang ke Prancis. Rina sempat menanyakan sebab-sebab keberangkatan yang tiba-tiba itu. Tetapi dia tidak menjawab dengan tegas. Dikatakannya bahwa dia akan pulan seorang diri.

    Ternyata hidup di perkebunan merupakan neraka bagi Monique. Padahal di sana tersedia segala macam alat untuk perintang waktu. Kolam renang yang luas, taman bacaan, tempat bermain tenis, dan bioskop sekali seminggu. Tidak terhitung perkumpulan permainan kartu dan catur. Tetapi itu semua tidak cukup untuk menyebabkan Monique marasa kerasan.

    Selama dua tahun di perkebunan, dia menjadi bayangan Daniel, mengikutinya dari satu tempat ke lain tempat, berkunjung dari rumah satu ke rumah laim, sambil acapkali menelan segalas dua gelas anggur, minuman yang tidak menyehatkan di udara tropis yang panas. Obrolan mereka itu-itu juga. Kalau tidak, mempergunjingkan orang lain. Semua itu kosong. Semua itu hambar. Dan setiap kali dia berbaring atau duduk-duduk seorang diri di beranda yang luas sambil memandang kebun teratur di kelilingnya, dengan perasaan sedih di hati, dia menyadari bahwa  yang dia perlukan sebetulnya adalah seorang anak., Rumah besar yang didiaminya kurang semarak dengan tidak adanya suara kana-kanak sehat yang renyah, berteriak, tertawa atau menjerit.

    Sejak membeli La Barka, dengan diam-diam Monique mulai meminta nasehat dokter kenalan baiknya dengan biaya dari ibunya sendiri. Menurut hasil pemeriksaan yang teliti, dokter dapat menarik kesimpulan bahwa kesuburan Monique amat tipis. Dia menyarakan agar Daniel yang memeriksakan diri untuk melihat beda serta persamaan titik yang ada. Daniel tidak pernah menganggap itu sebagai hal penting. Dengan berbagai alasan yang remeh temah dan ringan ia selalu menghindari waktu-waktu pembicaraan mengenai hal tersebut.

    Sedikit demi sedikit jarak mulai terbentang di antara Monique dan suaminya. Delapan tahun perkawinan diangggapnya lebih dari cukup untuk menunggu kedatangan seoarang anak. Sikap Daniel yang masa bodoh semula dikira karena rasa bahagia yang telah ,mencukupi kebutuhan. Tetapi kemudian Monique mulai melihat bneberapa sikap masa bodoh lain yang lebih menyakitkan perasaan. Campur tangan dalam hal-hal kecil hingga kepada soal-soal yang penting dari orangtua Daniel tidak bisa dibenarkan.

    Dari waktu  itulah suami-istri yang dia kenal itu semakin kelihatan seperti dua musuh yang selalu saling mencari kesalahan masing-masing untuk berksempatan meletuskan pertengkaran. Karena kecewa, Monique semakin merasakan kesepiannya. Tidak hentinya dia mencari sebab, mengapa seorang laki-laki dapat berubah begitu cepat.

    Ketika mereka hidup di ibu kota, berjahuan dari orangtua serta mertua, tidak ada kebun, tidak ada rumah, semua berjalan dengan baik. La Barka justru merupakan tempat di mana segala kesukaran serta watak yang sebenarrnya tersingkap. Dia mulai mengenal sifat-sifat asli suaminya. Yang dikehendakinya adalah laki-laki tegas. Laki-laki yang mengawini perempuan di luar lingkungan keluarga, berarti dia harus meninggalkan kalangan keluarganya sendiri untuk menjalani hidupnya bersama istri,

    Singkatnya, kemudian mereka berangkat ke Vietnam. Diharapkannya perbedaan-perbedaan akan hilang dan jarak yang terhampar antara dia dan Daniel akan mengecil. Tetapi jurang bertambah dalam. Daniel tidak lagi menangkap getar-getar kehendak istrinya. Malam hari ketika mereka tidak berkewajiban keluar, berdua mereka makan, diladeni oleh seorang pembantu. Kalimat-kalimat percakapan mereka semakin hari semakin terbatas. Kadang kala, pada hari-hari yang luar biasa, misalnya pada hari-hari di mana Monique menerima surat dari keluarganya atau kawan-kawannya yang hidup di Jepang dan Italia, percakapan akan beragam sedikit oleh kabar-kabar yang baru diterima. Sesudah itu, Daniel akan duduk di belakang mejanya, tinggal di sana hingga tertidur, atau hingga pukul satu atau dua lewat.

    Beberapa kali, Monique mengatasi keenggananya, mencoba menggugah nafsu suaminya. Yang didapatkannya hanyalah dua atau tiga ciuman di bibir yang tidak langsung. Hingga pada suatu hari Monique merasa bosan  dan menyarankan Daniel pergi ke dokter. Tetapi seperti juga pada waktu-waktu yang lampau, suaminya menganggap hal itu sebagai sesuatu yang tidak penting. Dikatakannya, ia tidak bernafsu untuk tidur dengan istri atau pun perempuan lain. Tidak perlu orang lain atau seorang dokter mengetahui hal itu. Itu adalah urusannya sendiri.

    Sebegitu egoisnya seorang laki-laki. Dia tidak bisa membayangkan betapa cengkeraman kejam dapat dirasakan oleh perempuan yang menghendaki tidur dengan laki-laki, betapapun salehnya perempuan itu. Alam menggariskan berbagai tanda yang memisahkan kedua jenis makhluk. Tetapi yang lebih ngeri lagi ialah adanya perbedaan naluri masing-masing untuk bisa mengecap kepuasan bergaul sementara. Masyarakat telah memastikan bahwa dunia ini untuk pihak laki-laki. Yang terang, dunia yang modern yang Rina kenal dan yang dikenal Monique lebih memudahkan seorang lelaki yang haus akan tubuh perempuan daripada sebaliknya.

    Seorang lelaki mdemiliki seribu kemungkinan untuk memuaskan diri. Mereka bisa pergi ke pelosok mana pun dan berkesempatan menemukan  apa yang mereka butuhkan. Mereka bisa pergi ke mana pun pada waktu apa pun untuk kepuasan sejenak mengelus tubuh-tubuh pasangannya dengan membayar sejumlah uang. Kepanasan yang bergolak di tubuhnya dapat dilepaskan bersama naluri yang terpuaskan, kepuasaan mutlak yang sejak manusia mengenalnya, merupakan satu dari kebutuhan-kebutuhannya seperti juga makan, minum, bergerak, dan bernapas.

    Monique menganggap pemuasan kebutuhan itu merupakan hal pokok bagi tubuh dan rohani. Sewaktu dia sendiri terbaring di tempat tidur di malam hari, tidak satu buku atau pikiran lain pun dapat menenangkan desakan yang bergolak di dalam dirinya. Baginya kebutuhan itu berupa dua tujuan:  ketenangan saraf dan seorang bayi. Monique menanggungnya selama dua tahun. Lalu pada suatu hari dia memutuskan untuk pulang ke Prancis.

    Hari itu hujan di pelabuhan. Daniel ada di sana. Sikap laki-laki itu tidak berubah, bahkan semakin mendekati kekanak-kanakan, seperti orang-orang muda yang berumur belasan tahun, Kepada kawan-kawan, Monique menjelaskan keberangkatannya untuk mengawasi pekerjaan perbaikan La Barka.

    ***

    Demikianlah, pada bab-bab selanjutnya, dikisahkan kehidupan Francine, Sophie,  Yvonne, dan Christine. Mereka semua menghadapi persoalan dalam kehidupan perkawinanya, termasuk Rina sendiri. Dikisahkan juga pertemuannya dengan orang-orang yang ditemuinya  La Barka. Rumah Monique ternyata merupakan pusat pertemuan bagi teman-teman dan keluarga yang berkunjung sebentar atau menginap beberapa waktu lamanya. Semua dicatat dengan tekun oleh Rina.

    Membaca novel ini Anda akan mengenali aneka problem yang dihadapi pasangan suami-istri. Nh. Dini mengungkapkan perasaan-perasaan wanita dari sudut pandang wanita. Secara halus Nh. Dini juga membicarakan soal kemungkinan persamaan hubungan antara laki-laki dan wanita. Jadi membaca novel ini memang perlu kesabaran dan keterbukaan pikiran. Sebab apa yang dikisahkan adalah tokoh-tokoh dengan budaya dan nilai-nilai Eropa modern yang bisa jadi “berbeda” buat perempuan Indonesia. Intinya, dalam novel ini dikisahkan perkawinan yang hancur dengan berbagai sebab. Tetapi di La Barka itu juga ada harapan penyembuhan trauma perkawinan.

    ***

    Para wanita  dalam novel ini – mestinya juga semua orang pada umumnya – ingin hidup behagia. Ingin perkawinan mereka berjalan lama. Tetapi persoalan sering datang tanpa diduga. Dan tidak semua orang sanggup menerima keadaan atau perlakuan yang diterimanya kemudian. Lalu masing-masing orang memilih jalan hidupnya sendiri dalam menyongsong masa depannya..

    Sebagai orang Jawa, Reni yang masih memegang budaya Jawa berserta nilai-nilainya, akhirnya juga dapat menerima nasibnya. Mungkin saja dia akhirnya mengerti bagaimana orang Jawa menggapai kebahagiaan seperti yang diajarkan Ki Ageng Suryomemgtaram. Dia mengerti bagaimana harus berdamai dengan dirinya sendiri

    Kita sering mendengar bahwa dalam hidup itu kita tak selalu mendapatkan apa yang kita mau. Kita pun tak bisa merancang hidup bak membangun gedung atau jembatan layang, yang serba matematis, serba teknokratis. Dalam roda kehidupan, kadang di atas, kadang di bawah. Kadang senang, kadang susah.

    Tapi, dalam kenyataan, selalu ada satu-dua orang yang kecewa ketika keadaan berubah. Selalu ada orang yang tak bisa puas dan berdamai dengan hatinya, dengan apa yang diperolehnya pada suatu masa. Mungkin mereka mengira bahwa harta benda (semat), kehormatan (drajat), kekuasaan (kramat), bisa menghapus rasa susah selamanya. Jas licin, arloji bermerek, rumah mewah, popularitas, dianggap mampu membuat senang hati selamanya.

    Padahal, menurut Ki Ageng Suryomentaram, pendiri aliran kebatinan Kawruh Begja (Ilmu Bahagia), bahwa dalam hidup itu --siapa pun dia, apapun jabatannya-- pastilah sebentar senang, sebentar susah. Tak mungkin orang senang selamanya, susah selamanya. Dan sumber susah-senang ini adalah keinginan kita, yang kadang mulur  (membengkak), kadang mungkred  (menyusut).

    Kenyataan bahwa setiap orang mengalami sebentar senang sebentar susah itu, menurut Ki Ageng, merupakan kebenaran dalam hidup. Kebenaran itu harus dimengerti oleh setiap orang, agar ia bisa hidup secara benar dan sehat. Orang yang berpegang pada kebenaran itu akan mencapai "rasa damai", "rasa sama", "rasa tabah", dan "rasa bebas atau tidak konflik dengan kenyataan yang dialami" dalam hidupnya, dalam menghadapi apa saja. Rasa-rasa semacam itu menjadi dasar bagi kebahagiaan hidup manusia dan keharmonisan dalam pergaulan dengan orang lain. Pendeknya, ia akan masuk dalam "surga ketentraman".

    Sebaliknya, jika tidak mengerti akan kebenaran itu, ia akan berbuat sesuatu yang tidak sejalan dengan kodrat keinginan yang semestinya, sehingga ia jatuh ke dalam jurang neraka “rasa iri dan sombong”, serta “rasa sesal dan khawatir”. Dan rasa-rasa ini menjadi sumber munculnya konflik, pertengkaran, atau perselisihan, sehingga mendatangkan penderitaan.

    Apakah itu berarti kita harus pasrah, tak berbuat apa-apa? Tentu saja tidak. Bagaimanapun, manusia tetap mempunyai kebutuhan-kebutuhan pokok, keinginan atau harapan lain. Yang menjadi soal adalah jika kebutuhan, keinginan atau harapan itu, melebihi dari kemampuan kita yang sebenarnya, kenyataan kita yang sesungguhnya. Dan kita tak pernah mau mengakui kelemahan, kekurangan, serta ketololan kita sendiri. Selalu saja kita tergoda untuk merasa paling pintar, paling bijaksana, paling tidak berdosa, dan seterusnya.

    Karena itu, ketahuilah dirimu sendiri (pangawikan pribadi). Kenalilah perasaan, keinginan, dan pikiranmu. Setelah itu, tak ada salahnya kita berdamai dengan kenyataan yang kita terima, sesuai dengan kemampuan kita. Toh dalam diri setiap orang, tak ada yang "senang selamanya, susah selamanya". Kesempurnaan berupa "senang atau bahagia selamanya" itu tak ada dalam kenyataan kita. Jadi, mari berdamai dengan hati kita.

    Dalam dunia Barat, dikenal salah satu aliran filsafat yang juga bermaksud untuk menggapai kebahagiaan atau kedamaian dalam hidup nyata, yakni Stoikisme. Aliran ini sekarang banyak digandrungi orang Indonesia, bahkan oleh generasi muda. Stoikisme ini menarik karena ia bukan sekadar wacana teoritis, tetapi juga perilakau hidup konkret. Menurut kaum Stoik, filsafat pertama-tama berhubungan dengan bagaimana seseorang mesti menjalani hidupnya. Bagi mereka, teori atau wacana filosofis hanya perlu sejauh membantu cara hidup tertentu. Stoikisme bertujuan agar manusia mencapai kemerdekaan diri yang diperoleh karena selaras dengan kosmos (Alam Semesta) yang mengelilinya. Intinya,  Stoikisme ini  merupakan usaha untuk menggapai kedamaian hati dalam hidup nyata. Selanjutnya mengenai Stoikisme, kita akan perbincangkan di lain kesempatan.

    ***

    Masih ingin tahun lebih jauh tentang Nh. Dini? Berikut riwayat singkatnya yang sudah banyak bertebaran di berbagai media. Bakat kepengarangan Nh. Dini berkembang, terutama karena dorongan ayahnya yang selalu menyediakan bacaan baginya. Nh. Dini sendiri baru menyadari bahwa bakat menulisnya muncul ketika gurunya di sekolah mengatakan bahwa tulisannya merupakan yang terbaik di antara tulisan kawan-kawannya dan tulisannya itu dijadikan sebagai contoh tulisan yang baik.  Dia  memupuk bakatnya dengan mengisi majalah dinding di sekolahnya. Dia juga menulis esai dan sajak secara teratur dalam buku hariannya.

    Pada 1952, sajaknya dimuat dalam majalah Budaja dan Gadjah Mada di Yogyakarta dan juga dibacakan pada acara "Kuntjup Mekar" di Radio Jakarta. Cerpennya dimuat dalam majalah Kisah dan Mimbar Indonesia, seperti Kelahiran (1956), Persinggahan (1957), dan Hati yang Damai (1960). Juga cerita-cerita pendeknya seperti Penungguan (1955), Pagi Hudjan (1957), Pengenalan (1959), Sebuah Teluk (1959), dan Hati yang Damai (1960). Lalu cerpen  Seorang Paman (1960)  dimuat di Gelanggang, lembar kebudayaan majalah Siasat.  Nh. Dini juga menulis naskah drama yang disajikan di RRI Semarang. Dia mendapat penghargaan SEA Write Award di bidang sastra dari Pemerintah Thailand pada tahun 2003. Masih banyak karya Nh. Dini yang lainnhya.

    Pada 1960, Nh. Dini dipersunting seorang diplomat Perancis, Yves Coffin, yang pada saat itu sedang bertugas selama empat tahun di Indonesia. Setelah menikah, mereka pindah ke Jepang. Setahun kemudian (1961), lahir anak pertamanya yang diberi nama Marie Glaire Lintang. Dari Jepang mereka pindah ke Kamboja. Tahun 1967 lahir  anak kedua,  Louis Padang ,di L'Hay-'les Roses, Perancis. Akhirnya, mereka menetap di Perancis. Rumah tangga pasangan Nh. Dini dan Yves Coffin ini retak setelah mereka jalani selama lebih kurang dua puluh tahun.

    Setelah menyelesaikan urusan perceraiannya, tahun 1980 Nh. Dini kembali ke tanah air dalam keadaan sakit kanker. Setelah kesehatannya pulih, Nh. Dini aktif menulis dan membimbing anak-anak di desa Kedung Pani, sambil memupuk bakat menulis anak-anak bersama pondok bacaannya di Pondok Sekayu, di desa Kedung Pani, Semarang pada tahun 1986. Setelah Nh. Dini pindah ke Yogyakarta, Pondok Baca itu dipindah pula ke Yogyakarta di alamat Nh. Dini, Graha Wredha Mulya 1-A (2003). Selain itu, Nh. Dini juga mempunyai pondok baca cabang Jakarta, dan di Kupang Timur. 

    • Atmojo adalah penulis yang meminati bidang filsafat, hukum, dan seni.

                                                                        ***

    Ikuti tulisan menarik atmojo lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.