Mata Melotot Tapi Tidak Melihat - Humaniora - www.indonesiana.id
x

Photo by Darius Bashar on Unsplash

Bambang Udoyono

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 3 Maret 2022

Senin, 12 September 2022 06:14 WIB

  • Humaniora
  • Topik Utama
  • Mata Melotot Tapi Tidak Melihat

    Banyak orang memiliki mata raga yang awas. Tapi mereka tidak memiliki mata nalar dan mata hati yang tajam. Maka apa yang mereka lihat dengan mata raga tidak menimbulkan pemikiran atau pencerahan. Idealnya kita memiliki mata raga, mata nalar, dan mata hati yang tajam. Ketika ketiga mata kita sudah awas barulah kita mampu melihat kenyataan dengan lebih lengkap, tidak hanya sebagian saja.

    Dibaca : 586 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Mata Melotot Tapi Tidak Melihat

    Bambang Udoyono, penulis buku

     

    Dalam bahasa Jawa ada frasa Moto mlorok ora ndedelok.  Mata melotot tapi tidak melihat.  Itulah arti harafiah dari kalimat bahasa Jawa tersebut.  Maksudnya bukan tentang mata yang sakit tapi itu adalah gambaran orang yang hanya mampu melihat dengan mata raganya.   Tidak ada masalah dengan kesehatan mata raganya.  Masalahnya adalah pada kemampuannya melihat dengan mata nalar dan mata hati.

     

    Apa yang kita lihat dengan mata raga akan masuk ke pikiran.  Di sana keterangan itu akan diolah.  Pendidikan, ilmu, pengalaman, latar belakang sosial ekonomi, budaya akan menentukan kemampuannya mengolah keterangan yang masuk tersebut.   Semakin tinggi ilmu nalarnya maka akan semakin baik kemampuannya mengolah.  Selain ke pikiran ada kemungkinan keterangan itu akan sampai ke hati.  Di sana keterangan tadi juga akan diolah.  Hanya hati yang sehat, bersih dan tercerahkan sajalah yang mampu mengolah dengan baik.

     

    Kalau nalarnya tumpul  dan hatinya sakit dan kotor maka orang itulah yang dimaksud memiliki moto mlorok ora ndedelok, matanya melotot tapi tidak melihat.    Konon Isaac Newton menemukan hukum gravitasi karena melihat sebuah apel yang jatuh.  Setiap hari jutaan orang sejak dulu sudah melihat buah yang jatuh.  Tapi hanya Isaac yang mampu mengolahnya sehingga menemukan hukum tersebut.  Dengan mata nalarnya dia melihat hukum ciptaan Allah di alam.  Sejatinya hukum fisika itu adalah ayat kauniyah.  Ayat Allah yang ada di jagad raya.  Orang Jawa menyebutnya Sastro kang tan tinulis, sabdo kan tan winedar.  Artinya sastra yang ak tertulis, sabda yang tak terucap.  Hanya bisa dipahami dengan olah pikir yang intensif.   

     

    Hukum Allah tentang kehidupan sudah tercatat dengan gamblang dan rinci di dalam kitab suci Al Qur’an.  Selain kemampuan literasi, dibutuhkan hati yang sehat dan bersih untuk memahami ajaranNya.  Hati yang kotor dan sakit susah memahaminya.

     

    Tentang harta misalnya.  Hati yang bersih dan sehat akan mampu melihat bahwa harta sejatinya adalah mutlak milik Allah. Milik sejati manusia adalah apa yang diberikan, bukan apa yang ditimbun.  Nafsunyalah yang menumbuhkan keserakahan sehingga apabila punya dua lembah emaspun dia tidak akan puas.

     

    Dari Abu Hurairah, Nabi bersabda, “Kekayaan bukanlah banyak harta benda, akan tetapi kekayaan adalah kekayaan hati.”  (Hadis riwayat Bukhari Muslim)

    Hamba berkata, "Harta-hartaku." Bukankah hartanya itu hanyalah tiga: yang ia makan dan akan sirna, yang ia kenakan dan akan usang, yang ia beri yang sebenarnya harta yang ia kumpulkan. Harta selain itu akan sirna dan diberi pada orang-orang yang ia tinggalkan." (HR. Muslim )

     

    Dalam QS Al-Anfal [8]: Allah berfirman:

    Apa saja yang kamu infakkan pada jalan Allah niscaya akan dibalasi dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan).

    “Berimanlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan nafkahkanlah sebagian hartamu yang Alla telah menjadikanmu menguasainya. Maka, orang-orang yang beriman di antaramu dan menafkahkan sebagian hartanya memperoleh pahala yang besar.” (QS. Al-Hadid: 7)

     

    “Dan apa saja yang kamu infakkan, Allah akan menggantinya dan Dia-lah Pemberi rizki yang terbaik.”  (QS. Saba’/34: 39) 

     

    Abu Dzar radhiallahu ‘anhu mengatakan, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bertanya, “Wahai Abu Dzar apakah engkau memandang bahwa banyaknya harta itu adalah kekayaan sebenarnya?” Saya menjawab, “Iya, wahai rasulullah.” Beliau kembali bertanya, “Dan apakah engkau beranggapan bahwa kefakiran itu adalah dengan sedikitnya harta?” Diriku menjawab, “Benar, wahai rasulullah.” Beliau pun menyatakan, “Sesungguhnya kekayaan itu adalah dengan kekayaan hati dan kefakiran itu adalah dengan kefakiran hati”  [HR. An-Nasaai dalam al-Kubra: 11785; Ibnu Hibban: 685].

     

    Ketika Rasulullah SAW bertanya kepada Aisyah tentang seekor kambing yang disembelih, apakah yang tersisa darinya Aisyah, Aisyah menjawab, “Tidak ada yang tersisa kecuali bagian bahunya.” Nabi Muhammad SAW bersabda, “Tersisa seluruhnya kecuali bagian bahunya.” (HR. Muslim)

    Jadi jelas bahwa kekayaan bukan hanya materi dan apa yang dimiliki sejatinya adalah apa yang diberikan, bukan yang disimpan apalagi ditimbun.

     

    Jadi monggo menjaga masukan dan asupan agar tidak hanya mata raga yang awas, tapi juga mata hati.  Kalau sudah lengkap tiga mata awas semua – mata raga, mata nalar dan mata hati- maka anda akan menjadi manusia trinetra.  Bahkan mungkin bisa weruh sak durungé winarah (melihat ke masa depan)

    Ikuti tulisan menarik Bambang Udoyono lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.






    Oleh: Dien Matina

    3 hari lalu

    Antre

    Dibaca : 198 kali