Tim Bayangan, Kreativitas dan Inovasi, Nadiem? - Analisis - www.indonesiana.id
x

Nadiem

Supartono JW

Pengamat
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Selasa, 27 September 2022 13:20 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Tim Bayangan, Kreativitas dan Inovasi, Nadiem?

    Kreativitas dan inovasi selalu lahir dari eksperimen. Banyak catatan menulis, kebanyakan dari eksperimen berakhir dengan kegagalan. Tetapi, menghukum kegagalan dari sebuah eksperimen. Artinya, mengerdilkan eksperimen dan tanpanya tidak akan pernah ada kreativitas dan inovasi. (Supartono JW.27092022)

    Dibaca : 1.432 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Kreativitas dan inovasi selalu lahir dari eksperimen. Banyak catatan menulis, kebanyakan dari eksperimen berakhir dengan kegagalan. Tetapi, menghukum kegagalan dari sebuah eksperimen. Artinya, mengerdilkan eksperimen dan tanpanya tidak akan pernah ada kreativitas dan inovasi. (Supartono JW.27092022)

    Sebutan Tim Bayangan yang kemudian diluruskan dan diakui salah istilah, sejatinya saya sebut sebagai bukti kreativitas dan Inovasi nyata sang Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, danTeknologi (Menristekdikti) Nadiem Anwar Makarim. Pasalnya, sejak Indonesia merdeka, inilah kali pertama Menristekdikti membuat terobosan di bidang pendidikan, menyelaraskan dengan kemajuan zaman dan teknologi.

    Kreatif dan inovatif, berani tabrak aturan!

    Kasus Tim Bayangan di Kemenristekdikti yang digagas Nadiem, bila dihubungankan dengan peraturan, tata cara dll, tentu akan terjadi benturan dan kesalahan di sana-sana. Namun, bicara tentang kreatif dan inovatif, kuncinya memang harus berani membuat sesuatu yang baru. Dan, pasti akan menabrak aturan yang sudah ada.

    Coba simak dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) tentang kata kreatif dan inovatif itu. Kreatif adalah memiliki daya cipta; memiliki kemampuan untuk menciptakan, bersifat (mengandung) daya cipta. Di mana setiap langkah kreatif menghendaki kecerdasan otak dan imajinasi. Sementara inovatif berarti bersifat memperkenalkan sesuatu yang baru, bersifat pembaruan (kreasi baru).

    Sesuai maknanya, maka bicara tentang kreatif dan inovatif, tentu sesuatu yang awalnya belum ada, dibuat menjadi ada. Maka, risikinya akan menabrak berbagai hal bila sesuatu yang kreatif dan inovatif itu diterapkan.

    Kasus kreatif dan inovatif, sepanjang zaman akan berlaku sama, yaitu menabrak aturan, etika, regulasi, dll yang sudah ada. Dengan begitu, apa yang dilakukan oleh Nadiem dengan Tim Bayangan, menurut saya tidak salah sesuai definisi kreatif dan inovatif. Sebab, saya sendiri berkali-kali, dalam pekerjaan, selalu berani menabrak aturan demi terwujud praktik hasil kreativitas dan inovasi itu.

    Bila pada akhirnya ada pihak yang mempermasalahkan upaya kreatif dan inovatif yang dianggap salah prosedur dan menuduh dengan hal-hal negatif, sampai dianggap ada upaya korupsi, kolusi, nepotisme (KKN), itu adalah risiko dari sebuah upaya kreatif dan inovatif.

    Sebab kreatif dan inovatif akan berurusan dengan kesalahan aturan dll, maka sumber daya manusia (SDM) Indonesia, banyak bersembunyi di balik peraturan/regulasi untuk tidak berbuat salah dengan melakukan terobosan kreatif dan inovatif. Padahal memang dasarnya malas, tidak cerdas intelegensi, personality, lemah literasi, matematika, dan sains.

    Kreatif dan inovatif lebih cepat dari aturan

    Kreativitas, inovasi, dan perkembangan teknologi sedemikian cepat dan akan selalu menuntut perubahan. Dalam banyak kasus kecepatan kreativitas dan inovasi, para pelakunya (di dunia pendidikan, dunia usaha, dll) utamanya yang bergerak di bidang teknologi, lebih cepat dibandingkan dengan kecepatan birokrasi untuk membuat peraturan dan prosedur yang bisa memayungi praktik para pelakunya yang belum pernah ada.

    Oleh karena itu, dilansir dari siaran pers Deputi Bidang Pers, Protokol dan Media Sekretariat Presiden, terkait fenomena tersebut, Presiden Joko Widodo (Jokowi) memiliki pandangannya sendiri. Saat menjadi pembicara kunci pada Bali Fintech Agenda yang digelar di Manganpura Hall, Hotel The Westin Resort, Kabupaten Badung, pada Rabu, 11 Oktober 2018.

    Presiden mengingatkan kembali akan sebuah langkah visioner yang dilakukan Bill Clinton ketika menghadapi masalah serupa dalam kurun 90-an lalu.

    "Hal yang memungkinkan terjadinya booming internet pertama ini adalah sebuah keputusan visioner dari pemerintahan Bill Clinton untuk menciptakan sebuah tatanan regulasi yang dikenal dengan dua prinsip: light touch dan safe harbor," kata Presiden.

    Regulasi itu pada intinya memungkinkan para inovator untuk terus berkembang tanpa khawatir menabrak aturan yang sebelumnya berlaku.

    "Hasilnya, inovasi tumbuh pesat dan tidak hanya menghasilkan peningkatan kesejahteraan dan keuntungan ekonomi, tapi juga menempatkan pondasi bagi internet modern saat ini," kata Presiden.

    Kreativitas dan inovasi selalu lahir dari eksperimen. Banyak catatan menulis, kebanyakan dari eksperimen berakhir dengan kegagalan. Tetapi, menghukum kegagalan dari sebuah eksperimen. Artinya, mengerdilkan eksperimen dan tanpanya tidak akan pernah ada inovasi.

    "Dengan demikian, akan bertentangan bila kita bicara tentang perlunya inovasi namun menghukum kegagalan secara berlebihan (dengan regulasi yang mengekang)," tutur Jokowi.

    Oleh karenanya, Presiden memandang regulasi pemerintah yang mengekang atau membatasi gerak kreatif para pelaku usaha hanya akan mendorong mereka semakin menjauh bahkan melebihi ruang lingkup yang diatur.

    Presiden juga mengakui bahwa pihaknya masih memiliki pekerjaan besar soal keterbukaan regulasi terhadap inovasi tersebut dalam birokasi di Indonesia. Dirinya memahami bahwa apa yang dilakukan Bill Clinton di masa lalu adalah sebuah kebijakan yang tetap relevan dan realistis untuk mendukung tumbuh suburnya inovasi di masa kini.

    Saya terkesan dan mendukung Nadiem yang akui salah

    Apa yang dilakukan Nadiem dengan Tim Bayangan, tidak dilakukan oleh menteri lainnya, memang menjadi fenomena tersendiri. Sebagai rakyat jelata yang selalu intens dan dekat dengan dunia kreativitas dan inovasi, kali ini saya terkesan dan mendukung Nadiem dengan terobosan yang eksperimen.

    Perkara kemudian dipersoalkan karena ada aturan yang ditabrak dan dicurigai ada KKN dan lainnya, semua tentu dapat ditelusuri dan diproses. Namun, kreativitas dan inovasi itulah yang memang lebih penting dan harus berani dilakukan. Apakah kreativitas dan inovasi nantinya akan berhasil dan berdampak signifikan terutama di ranah Kemenristekdikti, itu tentu akan ada penilaian dan evaluasi tentang kreativitas dan inovasi, apakah gagal atau berhasil.

    Yang pasti, apa yang dilakukan oleh Nadiem, bahkan baru terbuka dan diketahui publik sampai DPR RI, saat Nadiem menyampaikan memiliki organisasi di luar Kemendikbudristek yang bertugas membantu Kemendikbud dalam mendesain kebijakan dalam rangkaian United Nations Transforming Education Summit di markas besar PBB, langsung membuat berbagai pihak di Indonesia kebakaran jenggot.

    Saat itu Nadiem berbagi tentang praktik transformasi teknologi dalam pendidikan di Indonesia, mengaku memiliki tim yang terdiri atas 400 manajer produk hingga ilmuwan data. Mengungkapkan bahwa Tim ini bekerja untuk Kemendikbudristek.

    "Kami sekarang memiliki 400 manajer produk, insinyur perangkat lunak, ilmuwan data yang bekerja sebagai tim yang melekat untuk kementerian," kata Nadiem dalam video yang diunggah di Instagram @nadiemmakarim pada Rabu (21/9/2022).

    Atas hal tersebut, banyak pihak langsung bersuara hingga sampai sejumlah anggota Komisi X Dewan Perwakilan Rakyat, yang membidangi pendidikan, mencecar Nadiem, ihwal pembentukan tim atau organisasi bayangan di tubuh Kementerian. Dalam rapat kerja Komisi X DPR kemarin, anggota Dewan menilai Nadiem bergerak sendiri tanpa ada kejelasan mengenai program yang dilakoni tim tersebut.

    Apa yang dilakukan oleh DPR, sesuai aturan dan kewenangannya pun adalah benar. Termasuk ada pihak yang meminta Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) melakukan audit terhadap tim bayangan yang dibentuk oleh Nadiem, juga benar.

    Alasannya, tim bayangan Nadiem tidak efisien jika diterapkan dan dapat mengundang pemikiran adanya praktik kolusi di kementerian. Bahkan disebut, tim bayangan itu adalah sebuah inefisiensi. Keuangan negara sedang tidak baik-baik saja. Tim bayangan itu bisa mengundang interpretasi adanya kolusi. BPK dapat melakukan audit untuk memastikan tidak ada uang negara yang disalahgunakan, ujar pihak lain yang dilansir di berbagai media nasional, Senin (26/9/2022).

    Memang, tim Bayangan' di dalam sebuah kementerian baru pertama kali ini ada dalam sepanjang sejarah Republik Indonesia. Secara struktural di sebuah kementerian ada banyak pejabat yang jumlahnya mencapai ribuan mulai dari Sekretaris Jenderal (Sekjen) hingga staf.

    Kemudian, tim berjumlah 400 orang yang berasal dari GovTech Edu yang berada di bawah PT Telkom Indonesia dan menjalin kontrak dengan Kemendikbudristek, dibayar dengan anggaran Kemendikbudristek.

    Saya juga terkesan dengan kreativitas dan inovasi Nadiem yang mengaku salah dalam penggunaan istilah organisasi bayangan. Menurut Nadiem, tim tersebut sejatinya merupakan vendor yang dapat digunakan layananannya oleh para direktur jenderal (dirjen) Kemendikbudristek.

    "Mungkin ada sedikit saya kesalahan dalam menggunakan kata shadow organization. Yang saya maksud itu sebenarnya organisasi ini adalah mirroring terhadap kementerian kami," ujar Nadiem saat rapat kerja dengan Komisi X DPR RI, di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Senin (26/9/2022).

    Nadiem juga menerangkan, maksud dari mirroring itu adalah setiap dirjen dapat menggunakan tim tersebut untuk membantu mengimplentasikan kebijakannya melalui platform teknologi. Menurut dia, hal itulah yang dipuji oleh berbagai macam negara saat dia memberikan penjelasan dalam rangkaian United Nations Transforming Education Summit di markas besar Persatuan Bangsa Bangsa (PBB).

    Terus kreatif dan inivatiflah Nadiem. Tapi jangan lupa, pekerjaan rumah (PR) besar Kemenristekdikti adalah memperbaiki nilai PISA Indonesia di mata dunia. Literasi, matematik, dan sains masih rendah, sebab terus ada masalah pada Kurikulum Pendidikannya, ujung tombaknya, yaitu guru dan sekolah dalam kompetensinya.

    Tularkan keberanian bereksperiman kreatif-inivatif di Kemenristekdikti sampai ke akar-akar stakeholder pendidikan terkecil, hingga kata kreatif dan inovatif menjadi tradisi dan budaya di semua ranah, khususnya bidang pendidikan, dan umumnya bidang lain. Agar bangsa ini lepas landas dari imej bangsa pemakai produk asing, bangsa copypaste, dan sejenisnya. Perangi dengan eksperimen dan eksperimen, kretivitas dan kreativitas, inovasi dan inovasi.

    Jangan takut salah dan gagal. Jangan takut menabrak regulasi dan aturan, bila yakin eksperimen, kreativitas, inovasi yang dibuat untuk kemaslahatan umat. Untuk kemajuan bangsa dan negara. Untuk kecerdasan SDM Indonesia. Demi keadilan dan kesejagteraan rakyat Indonesia. Demi martabat, nama bangsa dan negara, di mata dunia.

    Ikuti tulisan menarik Supartono JW lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.