Cantik - Fiksi - www.indonesiana.id
x

Sumber ilustrasi: lasvegasmagazine.com

Ikhwanul Halim

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Kamis, 29 September 2022 16:58 WIB

  • Fiksi
  • Topik Utama
  • Cantik

    Klub malam itu gelap dan dipenuhi asap yang berputar-putar di atas lutut dalam arus lambat. Lampu warna-warni berkedip mengubah asap dari hijau menjadi biru menjadi merah dan kembali lagi. Ada orang-orang yang bergerak dalam kegelapan. Tubuh bergerak dan berhenti. Di sana untuk sesaat, di tempat lain di waktu berikutnya. House music yang memekakkan telinga. Di latarnya terdengar suara orang berbicara dan berteriak dan menjalani hidup dengan keras.

    Dibaca : 511 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Klub malam itu gelap dan dipenuhi asap yang berputar-putar di atas lutut dalam arus lambat. Lampu warna-warni berkedip mengubah asap dari hijau menjadi biru menjadi merah dan kembali lagi. Ada orang-orang yang bergerak dalam kegelapan. Tubuh bergerak dan berhenti. Di sana untuk sesaat, di tempat lain di waktu berikutnya. House music yang memekakkan telinga. Di latarnya terdengar suara orang berbicara dan berteriak dan menjalani hidup dengan keras.

    Thomas berdiri di dekat bar dan berteriak minta bir. Bartender itu memberinya wiski dan Coke sebagai gantinya. Dia membayar terlalu banyak untuk itu dan meminumnya dua teguk, masing-masing terlalu manis.

    Ada orang-orang berkerumun di sekelilingnya, saling menabrak satu sama lain, mencari jalan mereka ke lantai dansa. Dia bertukar pandang dengan orang-orang yang tidak dia kenal dan tidak akan pernah dia kenal. Mata mereka akan bertemu dan terkadang berlama-lama, melayang bolak-balik, tidak yakin tetapi selalu penuh harapan.

    Thomas sendirian, tapi begitu juga semua orang dengan caranya sendiri. Dia tampak tidak terganggu olehnya. Dia adalah bagian dari sesuatu di sana meskipun dia tidak mengerti mengapa, dan dia tidak peduli.

    Seorang wanita meninggalkan dari lantai dansa. Tinggi  kurus dan cantik dengan cara yang kuno. Tiga puluhan, tapi mungkin lebih.

    Wajahnya berantakan dengan riasan dan kelelahan dan tanda-tanda pertama usia yang bersembunyi dengan sangat hati-hati di bawah mata dan bibir. Ikal alami rambutnya tidak diluruskan dengan baik. Dia berjalan dengan goyah. Sepatu tumit biru setajam belati tampak tidak pada tempatnya dalam gelap. Dia melihat sekeliling, mencari sesuatu seperti jalan keluar, dan melihat Thomas sebagai gantinya, bersandar di palang.

    "Halo," kata Thomas, melihat dari balik bahunya untuk mencari teman-temannya yang datang bersamanya, tetapi dia tidak dapat menemukan mereka di lampu yang berpendar pelangi.

    "Bagaimana kabarmu?"

    "Di mana ... ehm," wanita itu terdiam sejenak, lupa. "Halo."

    Thomas tertawa. "Kamu mencari seseorang?”

    "Hmm?" dia bergumam. “Bukan, tidak, aku… Ya. Ya, maaf. Di … di mana… Oh, aku mencari apa tadi?”

    "Kamar kecil?"

    "Ya itu. Konyol. Terima kasih. Terima kasih."

    "Itu tepat di tikungan," Thomas menunjuk. "Di belakang tangga."

    "Di mana?" Dia mengikuti arah telunjuk Thomas, tetapi tampak semakin bingung karenanya.

    “Tanda merah besar. Ladies. Tak mungkin salah."

    "Terima kasih." Wanita itu tersenyum, ragu-ragu sejenak, lalu berjalan ke arah kamar kecil.

    Orang-orang menabraknya. Musik berdentam, berdenyut dan berisik. Wanita itu berhenti di tengah jalan dan melihat ke belakang.

    Thomas melambai. Dia tersenyum, lalu berjalan kembali padanya.

    "Halo lagi," sapa Thomas.

    "Hai."

    "Mau aku tunjukkan di mana kamar kecil?"

    "Kamu sangat cantik."

    "Apa?"

    "Aku bilang kamu sangat cantik."

    Thomas terdiam, tidak tahu harus berkata apa atau bagaimana harus bereaksi.

    "Terima kasih," katanya. "Kamu juga."

    Wanita itu tersenyum. Berkedip mesku tak menutup mata.

    "Tidak."

    "Tidak?"

    "Aku tidak cantik."

    "Tentu saja kamu cantik."

    "Aku benar-benar tidak cantik."

    "Kamu sangat cantik."

    "Kamu belum melihatku."

    "Aku sedang melihatmu sekarang."

    "Kamu belum melihatku dalam terang."

    Wanita itu memalingkan muka. Senyumnya masih ada di sana dan bibirnya tak gemetar, tetapi matanya basah dan maskaranya luntur meleleh bagai darah.

    Seseorang memanggil Thomas dari seberang lantai dansa. Sekelompok orang yang akan dia temui. Mereka berteriak mengatakan sesuatu kepadanya, tetapi dentum musik mengalahkan semua suara.

    "Teman-temanmu," kata Wanita itu. "Kamu sebaiknya pergi."

    Thomas berhenti. Dia menatap teman-temannya dan kemudian kembali padanya.

    "Pergi," katanya. “Silakan—”

    Thomas menciumnya. Rasanya hanya mereka berdua di bar dan tidak ada yang melihat.

    Mereka berciuman. Dan musik, lampu, dan orang-orang memudar. Ruangan itu tetap bergerak, tetapi mereka berdiri diam hanya untuk saat itu. Mereka berciuman.

    Dan kemudian saat itu berlalu, suara-suara terdengar kembali, dan wanita itu membuka matanya.

    Thomas menyeka lipstik dari sudut bibirnya dan tersenyum. Dia mencoba memikirkan sesuatu untuk dikatakan, apa pun untuk memperpanjang momen, tetapi tidak bisa dan sepertinya lebih baik seperti itu.

    Thomas pergi dan bergabung dengan teman-temannya. Suara mereka bergabung dengan yang lain dan hilang dalam dengungan elektronik house music. Hanya bayangan lain di lampu.

    Wanita itu menyentuh bibirnya. Dia merogoh tas dan mengeluarkan ponselnya. Dia menggunakan kamera untuk memeriksa penampilannya. Kemudian dia tersenyum, merapikan rambutnya, lalu menyimpannya.

    Berjalan melewati kerumunan dan keluar melalui pintu depan. Sepertinya tidak ada yang memperhatikan. Musik terus diputar, dan orang-orang terus menari, dan lampu-lampu berkelap-kelip dan membutakan.

    Kamar kecil di kota besar.

    Orang-orang selamanya mencari satu sama lain dalam kegelapan.

     

    Tangsel, 29 September 2022

    Ikuti tulisan menarik Ikhwanul Halim lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.