Ternyata Lebih 19 Juta Penduduk Indonesia Mengalami Gangguan Mental

Rabu, 12 Oktober 2022 18:27 WIB
Bagikan Artikel Ini
img-content0
img-content
Iklan
Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Kesehatan mental sudah menjadi perhatian secara global. Di Indonesia masih banyak warga negara yang mengalami gangguan mental. Dari hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018, lebih dari 19 juta penduduk berusia di atas 15 tahun mengalami gangguan mental emosional, dan lebih dari 12 juta remaja/pemuda mengalami depresi.

Tepat tanggal 10 Oktober, setiap tahunnya dunia memperingati sebagai hari kesehatan mental. Sebenarnya secara sekilas kesehatan mental sering dianggap sebelah mata atau seperti trash issue (isu gak penting). Penulis bakal coba menarik ke belakang, tentang history dari topik pembahasan kita kali ini yakni mental health.

Ternyata pendalaman soal kesehatan mental sudah dikenal pada zaman pra-Ilmiah (zaman animisme & zaman naturalisme). Dikarenakan dengan kepercayaan mengenai jiwa-jiwa yang dikuasai oleh roh-roh/dewa-dewa, serta dari zaman naturalisme gangguan fisik dan mental juga sudah terjadi. Ini diakibatkan dari alam (naturalisme) dan gangguan fisik dan mental yang biasa dipengaruhi oleh roh-roh atau dewa-dewa (animisme).

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

 

Barulah sejak abad-19 di Jerman yakni sekitar tahun 1875 Masehi, pembahasan mengenai kesehatan mental sudah menjadi fokus penelitian para pemikir waktu itu. Selanjutnya pertengahan abad ke-20, pembahasan kesehatan mental lebih sangat jauh berkembang. Disebabkan kemajuan ilmu serta teknologi modern. Kemudian, kesehatan mental menjadi seperti ilmu praktis yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Terlepas dari itu, di Amerika mulai berkembang psikologi abnormal dan psikiatri serta pengobatan ilmiah terhadap mereka yang terkena gangguan mental.

Masuk pada tahun 1796 Benyamin Rush, pada waktu itu membangun rumah sakit yang dikhususkan bagi para penderita gangguan mental. Laki-laki dan perempuan ruangannya dipisah. Selanjutnya muncullah beberapa tokoh seperti Dorothea Lynde Dix dan Clifford Whittingham Beers yang mengembangkan ide, pemikiran terkait perkembangan kesehatan mental. Uniknya Clifford Whittingham Beers adalah salah satu mantan pasien di beberapa rumah sakit jiwa yang berbeda, kemudian Beers bisa bangkit dari gangguan mental yang dideritanya waktu itu. Sehingga Dorothea dan Beers lebih menekankan pada pencegahan gangguan mental dan pertolongan yang diperuntukkan bagi orang-orang yang lemah, terpinggirkan dan miskin.

Beers merupakan salah satu orang yang menjadikan gerakan kesehatan mental ini bisa menjadi perhatian dunia. Sekitar tahun 1975 The World Federation For Mental Health dan The World Health Organization (WHO) terbentuk, yang dimana sebelum adaa WHO terlebih dahulu Organisasi Mental Hygiene dulunya.

Kalau ditinjau berdasarkan pengertiannya kesehatan mental merupakan kondisi dimana seseorang dapat melakukan aktivitas untuk mengembangkan potensi dirinya (produktif), dari segala aspek perkembangan, baik itu cara berpikir, mengontrol emosional yang sangat optimal serta yang paling penting ialah tentang bagaimana diri kita mampu berinteraksi dengan orang lain bersama lingkungan sekitar kita.

Kemudian dari ruang lingkup kesehatan mental, sebenarnya banya sekali. Seperti kesehatan mental lingkup keluarga, kesehatan mental di tempat pendidikan, tempat kerja, kesehatan mental ketika berpacaran, bahkan kesehatan mental pada bidang politik, hukum, sosial ekonomi dan ruang lingkup kehidupan beragama. Masing-masing ruang lingkup memiliki peran serta fungsi yang sangat signifikan, kalau dipandang dari aspek kesehatan mental. Contohnya lingkup keluarga, bagaimana hubungan keharmonisan serta kenyamanan antar suami dan istri, orang tua dan anak pun sesama keluarga.

Kalau berdasarkan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, secara tersirat menyematkan tentang bagaimana kesehatan mental itu mesti tetap dilindungi serta saling menghargai dan menghormati akan hak yang melekat pada diri manusia yaitu hak asasi manusia. Terdapat pada BAB XA Hak Asasi Manusiaa dari Pasal 28A sampai 28J. Dari situlah lahir Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 Tentang Hak Asasi Manusia, disitu kalian bisa membacanya dan diuraikan secara detail akan hak-hak manusia yang harus menjadi perhatian warga negara Indonesia.

Di Indonesia masih banyak warga negara yang mengalami gangguan mental. Dari hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018, menunjukkan lebih dari 19 juta penduduk berusia di atas 15 tahun mengalami gangguan mental emosional, sedangkan lebih dari 12 juta penduduk usia remaja/pemuda mengalami depresi. Padahal diumur-umur segitu manusia bisa dikatakan, waktu produktif terbaiknya ada di masa remaja/pemuda. Makanya jangan heran jaman sekarang, banyak kaum-kaum milenial/Generasi Z baru aja ditimpah satu masalah atau tugas dari sekolah/kampus, dikit-dikit pergi healing……

Gak ada salahnya sih buat pergi healing, tapi keseringan healing bisa menghambat kerjaan atau sesuatu karya yang pengen kita buat atau mungkin membuat plan-plan ke depan. Sebenarnya manusia kalau secara mental, itu pasti pernah ngalamin yang namanya gangguan mental (stress, depresi, bipolar dll). Biasanya gangguan mental atau biasa disebut tekanan mental, diterima ketika ada suatu kerjaan, tugas, kemudian ditambah lagi masalah yang berkaitan dengan hubungan bersama pacar, teman, kerabat kerja pun anggota keluarga. Ini yang membuat kita menjadi stress, pikiran sudah berantakkan, sehingga membuat fokus kita turun.

Ngomong-ngomong soal kesehatan mental, pasti gak bisa lepas dari yang namanya gangguan mental. Oh iya, dari beberapa sumber yang penulis baca ternyata gak tuh yang namanya sakit mental, cuman ada istilah gangguan mental. Menurut penulis setiap orang pasti pernah yang namanya ngerasain gangguan mental atau gejala awal dari gangguan mental. Coba kalian cek diri kalian hari ini apakah sedang mengalami gejala awal gangguan mental, contohnya perasaan sedih, cemas, susah makan, gak mood, halusinasi, marah berlebihan, teriak-teriak gak jelas, ketawa-ketawa sendiri dan lain sebagainya.

Dari beberapa indikasi, sebenarnya kita pernah dalam posisi tersebut. Akan tetapi, gejala-gejala gangguan mental apa bila terus kita lakukan, sebaiknya penulis menyarankan untuk segeranya ke ahlinya (psikolog atau dokter psikiater) agar dapat cerita/curhat terkait problem yang kalian lagi hadapin. Atau kalian bisa sharing ke penulis, mana tau penulis bisa membantu mencarikan solusi masalah kalian. Heheheee…

Selanjutnya ada dua faktor yang memperngaruhi orang mengalami gangguan mental, seperti faktor biologis (gangguan sell saraf otak, kelainan bawaan, riwayat gangguan mental dari orang tua/keluarga) dan faktor psikologis (kejadian menyedihkan, kehilangan orang yang kita cintai, ditinggal nikah, perceraian atau ditinggal mati oleh pasangan, introvert bergaul dengan orang lain), bahkan kesepian karena jomblo juga masuk dalam kategori gangguan mental karena faktor psikologis. Santai guys, walaupun jomblo terkadang merasa kesepian, tapi biarlah itu jangan terlalu sering terjadi.

Ketika merasa bahwa diri kita lagi sedang tidak baik-baik saja secara psikis, sebaiknya bisa langsung pergi ke ahlinya untuk menanyakan terkait derita mental yang dirasakan. Jangan pula kalian mengisi kuesioner yang dimana ada pengecekkan mental atau menggali potensi diri sendiri lewat pengisian kuesioner tersebut. Bagi penulis validasinya itu sangat tidak masuk akal. Lebih tidak usah mengecek kondisi mental kalian seperti link-link kuesioner ada yang diinternet. Gak relevan sama sekali.

Kemarin tepat tanggal 10 Oktober 2022, penulis membuat caption di Instagram (@yafetronaldies) terkait hari kesehatan mental, isi captionnya penulis menyampaikan beberapa hal salah satunya adalah faktor eksternal (pergaulan dan lingkungan sekitar) itu dapat mempengaruhi kesehatan mental kita terbentuk. Bahkan amat mengerikan sekali ketika faktor eksternal dapat membuat seseorang terkena gangguan mental.

Anyway, seseorang dapat terkena gangguan mental itu bisa melalui perkataan/tutur kata kasar, negatif, merendahkan, menghina dari orang lain. Ini yang membuat korban (terkena gangguan mental), mengalami kepikiran terus hingga sampai pada tahap dimana korban merasa sudah tidak berguna lagi, atau bahkan lebih mengerikannya korban dapat melakukan bunuh diri, akibat hinaan, caci maki, bullying dari orang banyak. Lidah emang gak bertulang, sangking gak bertulang lidah dapat bergerak dan mengeluarkan kata-kata sesukanya. Lidah seperti racun yang mematikan, sangat sulit untuk menguasainya.

Di era sekarang gangguan mental sangat rawan terjadi. Apalagi mereka-mereka yang bermain sosial media, pasti sering kali mengalami yang namanya gejala awal gangguan mental (halusinasi, sedih, stress dll). Apalagi ketika seseorang rame-rame dihujat di sosial media (Instagram, twitter, tiktok dll), ini yang kadang membuat psikis dari seseorang menjadi drop. Aktivitas atau kerjaan bisa menjadi terhambat. Malu untuk berhubungan sosial kembali.

Diberbagai kota-kota besar, masih banyak ditemui cara penanganan yang tidak tepat bagi para penderita (korban) gangguan mental. Penderita dianggap sebagai makhluk aneh, sehingga banyak penderita yang diasingkan oleh masyarakat. Hal ini sangat mengecewakan karena dapat mengurangi kemungkinan untuk seseorang penderita pulih.

Jadi buat kalian sekali lagi, yang ngerasa saat ini depresi, bipolar, stress, saran penulis segeralah pergi ke ahlinya untuk segera mendapatkan penanganan yang baik. Karena bagaimana pun juga kesehatan mental itu sama pentingnya dengan kesehatan fisik. Ketika mental kita sehat, makanya banyak hal-hal di dalam kehidupan kita bisa lakukan (produktif/berkarya/berinovasi).

Terakhir penulis mau ngucapain selamat Hari Kesehatan Mental Se-dunia 10 Oktober 2022, dengan tema Make Mental Health & Well-being For All a Global Priority.

Thanks...

Bagikan Artikel Ini
img-content
Yafet Ronaldies

Penulis Indonesiana

0 Pengikut

img-content

Tanduk-tanduk Oposisi

Senin, 18 Maret 2024 05:59 WIB
img-content

Serba-serbi Pesta Demokrasi 2024

Minggu, 10 Maret 2024 17:01 WIB

Baca Juga











Artikel Terpopuler