Rekening Bank Pribadi Kaum Milenial untuk Atasi Dampak Krisis Iklim - Pilihan Editor - www.indonesiana.id
x

Sumber ilustrasi: shutterstock.com

jendry Kremilo

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 21 Mei 2022

Senin, 21 November 2022 08:11 WIB

  • Pilihan Editor
  • Topik Utama
  • Rekening Bank Pribadi Kaum Milenial untuk Atasi Dampak Krisis Iklim

    Presiden Jokowi menegaskan  keseriusan Indonesia dalam pengendalian perubahan iklim. Di juga mengajak seluruh dunia melakukan aksi nyata konservasi lingkungan secara universal. Kini, apa yang bisa dilakukan generasi milenial? Para remaja bisa memulainya dengan membuat ‘The Personal Bank Account’ atau Rekening Bank Pribadi, tempat menyimpan hal-hal baik yang menjadi tabungan masa depan. Termasuk menyimpan dan melakukan kebiasaan-kebiasaan baik demi mengatasi dampak perubahan iklim.

    Dibaca : 688 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Prolog

     Pada Mei 2021 silam Presiden Joko Widodo dalam KTT P4 bertajuk Partnering for Green Growth and Global Goals 2030 yang diselenggarakan secara virtual di negeri ginseng Korea Selatan mewanti-wanti terkait perlunya pembangunan berkelanjutan, inklusivitas dan ketahanan pangan  demi menjaga keberlangsungan kehidupan manusia dan seluruh makhluk hidup lainnya di muka bumi. Sebagaimana yang dilansir Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), Presiden menuliskan banyak hal di dalamnya dengan memandang megatren dunia.

    Secara kompleks, Bappenas menunjukkan megatren dunia yang kemungkinan terjadi di tahun 2045, seperti: (1) Jumlah penduduk dunia yang semakin besar, (2) Penduduk kota yang semakin banyak, (3) Output negara yang mencapai 71 persen dari total output dunia, (4) Perdagangan Internasional, dan lain-lain.

    Dari megatren yang dimunculkan Presiden Jokowi  itu muncul ketegasan komitmen dan keseriusan kolektif Indonesia dalam pengendalian perubahan iklim dan mengajak seluruh dunia untuk melakukan aksi nyata konservasi lingkungan secara universal. Salah satu isu penting dari orientasi pencapapaian KTT tersebut  berkaitan dengan pembangunan berkelanjutan. Hal itu tentu beralasan mengingat saat ini ragam perubahan pesat  baik dibidang ekonomi dan sosial budaya memicu eksploitasi dan ekstensifikasi terhadap alam dan lingkungan. Ini menimbulkan fenomena pemanasan global dan dampak perubahan iklim yang saat ini secara nyata semakin dirasakan.

    Hal itu diafirmasi dengan data  Bappenas terkait dengan pemanasan global dan perubahan iklim akan semakin meningkat. bila dibandingkan dengan periode tahun 1961-1990, rata-rata suhu di Indonesia diproyeksikan meningkat 0,8 hingga 1,0 0C antara tahun 2020 hingga 2050. Berangkat dari data Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) Panel Antarpemerintah Tentang Perubahan Iklim yang dibentuk PBB), mengindikasikan adanya peningkatan suhu global sebesar 1.1 hingga 6.4 derajat dalam rentang abad 21.

    Adanya peningkatan temperatur udara pada galibnya akan membuat perubahan iklim yang tidak normal, sulit diprediksi dan berimbas pada kerusakan  alam dan lingkungan. Berangkat dari realitas tersebut, mahasiswa  sebagai generasi milenial yang saat ini tengah merangkai hidup di dunia perkuliahan menjadi sorotan utama dalam pencapaian empat pilar itu terutama pada sektor pembangunan berkelanjutan. Para mahasiswa menjadi isu utama dari segala asa yang hendak dibangun Indonesia. Para mahasiswa dipilih karena para mahasiswa atau kita adalah orang-orang yang produktif di tahun 2045.

    Kendati demikian, kita perlu melihat masa kini dimana minimnya partisipasi milenial  baik dalam diskursus maupun langkah praktis terhadap upaya konservasi lingkungan menjadi keprihatinan khusus .Hal itu senada dengan opini yang disampaikan Juru Kampanye Hutan Greenpeace Indonesia, Arie Rompas, yang menyebut partisipasi  milenial  untuk berkontribusi aktif dalam pembangunan berkelanjutan amat diperlukan. Generasi muda diharapkan menjadi pionir perubahan dan  pembangunan ulang Indonesia yang lebih baik, berkeadilan dan berkelanjutan. Lantas, bagaimana cara agar para mahasiswa menyiapkan diri demi mewujudkan  keberhasilan pembangunan berkelanjutan dan upaya seperti apa yang dapat dilakukan untuk mengatasi dampak perubahan iklim?

    Rekening Bank Pribadi: Langkah Praktis Menuju Pembangunan Berkelanjutan dan Pencegahan Dampak Perubahan Iklim

    Dilansir dari situs United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization (UNESCO) disebutkan empat dimensi dalam upaya pembangunan berkelanjutan jangka panjang yakni; dimensi ekologis (lingkungan), dimensi ekonomi, dimensi sosial dan dimensi politik. Keempat pilar pembangunan berkelanjutan tersebut seyogyanya diimplementasikan secara bersamaan agar orientasi dunia dalam mengatasi kemiskinan, kesenjangan, dan perubahan iklim dalam bentuk aksi nyata dapat terlaksana secara komprehensif.

    Melihat pentingnya peran pembangunan berkelanjutan terhadap keberlangsungan kehidupan, selayaknya kaum muda  terkhusus mahasiswa sebagai intelektual mengambil peran aktif dalam rangka konservasi lingkungan dan pengendalian iklim. Kontribusi dan partisipasi aktif tersebut tidak selalu merujuk pada aksi luar biasa,tetapi dimulai dari dalam diri sendiri melalui aksi konkret dalam kehidupan sehari-hari. Oleh sebab itu penulis menawarkan  gagasan “Rekening Bank Pribadi”(RBP) sebagai implementasi dari upaya pembangunan berkelanjutan dan upaya untuk mencegah dan mengatasi dampak perubahan iklim.

    Pemikiran mengenai RBP bermula dari Sean Covey yang pernah membuat sebuah buku berjudul The 7 Habits of Highly Effective Teens atau “7 Kebiasaan Remaja yang Sangat Efektif”. Dari ketujuh kebiasaan yang ia tawarkan kepada para remaja, ia mengajak para remaja untuk memulainya dengan membuat ‘The Personal Bank Account’ atau Rekening Bank Pribadi. Rekening Bank Pribadi (RBP) adalah tempat di mana kita menyimpan hal-hal baik yang mampu menjadi tabungan kita di masa depan.

    Rekening Bank Pribadi adalah usaha untuk mengalahkan keegoisan diri dan mengisi diri dengan hal-hal positif. Baginya, RBP itu hampir mirip dengan rekening bank pada umumnya. Semakin banyak hal baik yang kita pikirkan, kita ucapkan, dan kita buat, akan semakin banyak simpanan yang kita punya. Sedangkan, semakin banyak hal-hal negatif yang kita pikirkan, ucapkan, dan buat, akan membuat simpanan kebaikan yang telah kita isi terkuras habis. Penulis akan menunjukkan bagaimana RBP yang sehat ini memiliki peran yang relevan bagi proses pembangunan berkelanjutan dan upaya mengatasi dampak perubahan iklim.

    1. a)  Lakukan Perbuatan Kecil dan Sederhana

    Hal pertama yang dibutuhkan untuk mencapai tahap RBP yang sehat adalah melakukan perbuatan-perbuatan baik yang kecil-kecil. Untuk konteks mahasiswa salah satu langkah kecil dan sederhana yang dapat diwujudkan oleh kaum muda adalah dengan meminimalisir intensitas penggunaan kendaraan bermotor ketika berpergian ke tempat yang dekat atau membiasakan menggunakan kendaraan alternatif seperti sepeda atau berjalan kaki, sehingga dapat meminimalisir akumulasi polusi udara, selain membuang sampah pada tempatnya, serta tidak melakukan pembakaran limbah pada area sekitar juga menjadi langkah konkret yang dapat diimplementasikan.

    Sebab secara tidak langsung dengan membiasakan hal-hal sederhana tersebut kita berpartisipasi dalam merealisasikan pembangunan berkelanjutan terutama pada dimensi ekologis, dengan menjaga dan merawat lingkungan. Dengan membiasakan secara terus menerus, sektor transportasi sebagai kontributor utama gas rumah kaca, terutama emisi karbon dioksida dapat semakin diminimalisir.

    1. b)  Bersikap Peduli Terhadap Lingkungan

    Salah satu gagasan dalam RBP yang di gaungkan oleh Sean Covey berkaitan dengan kejujuran dan kepedulian. Kejujuran dimaknai sebagai sikap reflektif terhadap  diri dan sesama. Dalam konteks tulisan ini,kejujuran dan kepedulian tidak sekedar dipahami sebagai relasi interpersonal sesama manusia,tetapi lebih dari itu kejujuran dan kepedulian dibangun atas dasar kesatuan dengan alam. Hal itu senada dengan konsep deep ecology  yang digagas Arne Naes seorang Antropolog Norwegia,yang menegaskan bahwasannya konsep yang kita miliki tentang diri kita saling berhubungan dengan lingkungan alam yang dimilikinya dan dengan komunitas makhluk hidup yang hidup bersama di dalamnya.

     Kepedulian terhadap ekosistem alam sebagai bagian tak terpisahkan dari manusia, sehingga sebagai generasi muda segala bentuk eksploitasi dan upaya kerusakan terhadap alam secara berlebihan harus diperjuangkan secara jujur dan aktif. Kepedulian dapat dimulai dengan hal-hal sederhana seperti merawat  lingkungan disekitar,melakukan kegiatan reboisasi, serta memupuk kecintaan terhadap lingkungan sebagai “saudara”.

    Hal ini tentu adalah wujud konkret dari pemenuhan dimensi sosiologis dari pembangunan berkelanjutan yang mana dimensi sosial mendorong adaptasi  nilai-nilai dan perubahan dalam ruang lingkup kebudayaan untuk merekonsiliasi tindakan manusia dengan lingkungan dan mengoptimalkan hubungan sosial untuk generasi mendatang.

    1. c)  Bersikap Aktif Terhadap Isu Global

    Mahasiswa sebagai generasi milenial, selayaknya ikut berkontribusi dalam pembangunan berkelanjutan dan upaya mengatasi dampak perubahan iklim, partisipasi aktif seorang mahasiswa dapat dimulai dari lingkungan kampus dengan mengikuti ragam organisasi yang berbasis pada perlindungan lingkungan,memanfaatkan program kampus seperti Kuliah Kerja Nyata (KKN) dan KKL sebagai wahana untuk melakukan sosialisasi terhadap masyarakat mengenai dampak buruk perubahan iklim.

    Akhir Kata

    Pada galibnya,pembangunan berkelanjutan dan upaya mencegah dan mengatasi dampak perubahan iklim  adalah tanggung jawab moral mahasiswa sebagai generasi penerus bangsa. Mahasiswa adalah generasi emas bangsa yang memiliki jiwa visioner, kreatif, inovatif, pemikiran kritis, idealisme, dan kecakapan intelektual yang mumpuni. Semua hal tersebut merupakan modal berharga dalam upaya menjaga keberlangsungan ekosistem ekologis agar tidak berdampak destruktif terhadap manusia dan alam.

     Mahasiswa harus menepis keengganannya untuk peduli dengan lingkungan dan iklim .Semua upaya itu dapat dimulai dengan implementasi konkrit penciptaan Rekening Bank Pribadi dengan melakukan hal-hal kecil dan sederhana,jujur dan peduli terhadap lingkungan serta mengembangkan talenta dan  berpartisipasi aktif dalam aksi ekologis yang mewadahi pembentukan diri dan bagaimana “seharusnya” melihat alam.

    Oleh karena itu, mahasiswa sebagai suksesor visi pembangunan berkelanjutan selayaknya dapat memulai untuk melihat alam sebagai bagian tak terpisahkan dari kehidupan.

     

     

     

    Daftar Pustaka

    Covey,Sean. (2001). 7 Kebiasaan Remaja yang Sangat Efektif. Jakarta: Binapura Aksara

    “Bappenas-PBB Rilis Laporan 2021, Bahas 5 Pilar Tujuan Pembangunan Berkelanjutan” Bappenas.co.id (7November2022), https://bappenas.go.id/berita/bappenas-pbb-rilis-laporan-2021-bahas-5-pilar-tujuan-pembangunan-berkelanjutan-ff3B5

    Adiyanto (6 November 2022) Bersatu Selamatkan Bumi, Media Indonesia.com https://mediaindonesia.com/opini/535296/bersatu-selamatkan-bumi

    5 Prinsip Pembangunan Berkelanjutan, Kompas.com, https://www.kompas.com/skola/read/2022/09/09/150000569/5-prinsip-pembangunan-berkelanjutan

    Ikuti tulisan menarik jendry Kremilo lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.