Raja Memen - Fiksi - www.indonesiana.id
x

Kisah Pewayangan

Kang Nasir Rosyid

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Selasa, 29 November 2022 10:30 WIB

  • Fiksi
  • Topik Utama
  • Raja Memen

    Kisah Pewayangan yang menggambarkan perubahan perilaku saat jadi pemimpin.

    Dibaca : 915 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Ki  Dalang mengisahkan lagi lakon Ketika Petruk jadi Raja.

    Alkisah, para punggawa Kerajaan Amartapura yang punya jabatan, sebetulnya sudah mulai muak dengan ulah Petruk, namun mereka tak punya kuasa untuk membantah apalagi melawan titah Petruk yang sekarang jadi raja.

    Janji Petruk untuk mensejahterakan rakyat saat sebelum jadi raja, ternyata banyak yang tak sesuai dengan kenyataan. Bahkan saat ini, Petruk lebih banyak anjangsana ke kerajaan lain guna mencari popularitas dibanding dengan bagaimana caranya semua program kerajaan yang sudah disepakati bersama  bisa terlaksana. Bagi Petruk, citra diri lebih penting dari pada memikirkan program kerajaan, toh, sudah ada para punggawa kerajaan yang mengurusi soal itu.

    Sejak Petruk jadi raja,  ia yang awalnya akrab dengan para punakawan, satu persatu punakawan mulai meninggalkan Petruk. Persoalannya --mungkin--  sudah tidak ada kesesuaian pandangan politik atau bisa juga  soal  lainnya yang sifatnya material. Hanya para punakawan yang bermental bebek dan barisan  oportunis yang masih bertahan bahkan masih dipercaya Petruk sebagai tim di luar struktur birokrasi kerajaan yang bisa memberikan bisikan terhadap Petruk yang bergelar  Sri Baginda Prabu Kantong Bolong itu.

    Petruk yang berperawakan agak kurus, hidung mancung dan perut buncit bin cemplu, saat ini sedang menata diri, ia manfaatkan jabatannya  untuk kesejahteraan pribadinya sebagai raja. Berdalih untuk kenyamanan bekerja, fasilitas  raja harus terpenuhi. Istana dan singgasana harus mewah, makanya semua pernak pernik  serta ornamen singgasana dan istana yang sebetulnya masih bagus untuk ukuran Kerajaan Amartapura harus  diganti dengan yang baru.

    Rakyat di  erajaan Amartapura sebetulnya faham, bahwa Petruk senang mendapat pujian, makanya ingin dipandang wah sebagai raja. Disamping itu, dalam dirinya juga  sesungguhnya muncul sikap phobia. Petruk tidak mau memakai fasilitas yang dulu dipakai raja sebelumnya lantaran dianggap satu legasi dari sistem pemerintahan Kerajaan lama.  Petruk ingin menunjukkan satu legasi dirinya sebagai raja yang baru.

    Saat Petruk menjadi narawicara untuk kegiatan apapun di kerajaan, ia akan nagih honorariumnya sebagai narawicara termasuk juga uang transportnya. Para punggawa tambah judeg, mumet bin puyeng, ternyata Petruk minta kepada para punggawa agar pengawal pengawal pribadinya termasuk para punakawan yang menjadi tim atau pengawal di luar struktur Kerajaan diberikan uang transpor.

    Tentu saja para punggawa kerajaan kedodoran karena harus mengeluarkan dana non bujeter kerajaan terkait uang transpor. Dari mana? Ya, dari kantong pribadi atau patungan sesama punggawa kerajaan. Bahkan mungkin mengutak atik anggaran biaya supaya bisa meng-cover permintaan Petruk, walaupun secara aturan tidak ada tuntunannya.

    Karena  perilaku Petruk yang demikain, saat ini  dikalangan internal kerajaan atau para punggawa Keraajaan Amartapura, Petruk terkenal bukan hanya sebagai Sri Baginda Prabu Kantong Bolong, tetapi sudah mendapat gelar baru  dengan sebutan   Raja Memen alias Raja Lumayanan.

    Ikuti tulisan menarik Kang Nasir Rosyid lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.