Filsafat Stoa, Jalan Ninja Menuju Bahagia - Analisis - www.indonesiana.id
x

Digital Photography by Tasch 2022

MUHAMMAD MIFTAH FARID

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 3 Desember 2022

Minggu, 4 Desember 2022 08:09 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Filsafat Stoa, Jalan Ninja Menuju Bahagia

    Sebuah berita opini perihal filsafat stoa atau filsafat teras yang saat ini menjadi solusi atau jalan ninja menuju bahagia.

    Dibaca : 578 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Stoikisme, atau biasa juga disebut dengan Stoa adalah sebuah filsafat barat. Filsafat Stoa adalah salah satu aliran atau mazhzab Yunani kuno yang didirikan di kota Athena, Yunani, oleh Zeno dari Citium pada awal abad ke-3 SM. Filsafat  stoikisme baru resmi pada tahun 108 SM. Zeno, Kleanthes dari Assos dan Chrysippus adalah orang yang sangat berjasa dalam mempertahankan sekolah stoa. Cleanthes menyumbangkan gagasan tentang hubungan etika dengan iman atau teologi. Sedangkan Chrysippus menuliskan 705 buku (90%) literatur sebagai doktrin stoikisme, yaitu telaah tentang perbintangan astronomi.

    Ajaran sekolah atau mazhab stoa sangat luas dan beragam, tetapi dapat disimpulkan bahwa pijakannya adalah meliputi perkembangan logika (terbagi dalam retorika dan dialektika), fisika, dan etika (memuat teologi dan politik). Pandangan yang mencolok tentang etika adalah bagaimana manusia memilih sikap hidup dengan menekankan apatheia, hidup pasrah atau tawakal menerima keadaannya di dunia. Sikap tersebut merupakan cerminan dari kemampuan nalar manusia, bahkan kemampuan tertinggi dari semua hal.

    Stoikisme populer hingga kurang lebih lima abad (3 SM-3 M), selanjutnya mempengaruhi banyak pemikir Kristen, baik dalam dunia akademis maupun sikap hidup. Fokus filsafat stoikisme adalah dalam bidang etika. Stoa memiliki perbedaan tajam dengan gagasan intelektual tua lainnya, yaitu epikureanisme dan skeptisisme.

    Stoikisme merupakan aliran filsafat yang paling berhasil dan sangat berpengaruh dalam aliran Filsafat Yunani Kuno karena relevansinya terhadap sikap manusia dan sistem pemerintahan saat itu. Orang-orang Stoik percaya bahwa emosi negatif yang menghancurkan manusia dihasilkan dari keputusan yang salah, dan bahwa seorang sophis, yaitu orang yang memiliki "kesempurnaan moral dan intelektual," tidak akan pernah mengalami emosi-emosi yang merusak kebahagiaan, misalnya marah berlebihan, panik berlebihan, sedih berlebihan, dsb.

    Seorang Stoik, seperti kata Epictetus hendaknya tidak banyak bicara tentang ide-ide besar, apalagi kepada orang-orang awam, melainkan bertindak selaras dengan apa yang dipikirkannya tentang kebaikan. Hal ini dibedakan dengan istilah filsuf atau filosof (pecinta kebijaksanaan) yang hanya menyukai ide-ide kebijaksanaan, tetapi biasanya gagal melakukan ide-ide kebijaksanaan itu (sophia).

    Stoikisme adalah cara hidup yang menekankan dimensi internal manusia, seorang Stoik dapat hidup bahagia ketika ia tidak terpengaruh oleh hal-hal di luar dirinya. Di mata kaum Stoa, Logos Universal (Sang Ilahi) adalah yang menata alam semesta ini dengan rasional, senegatif apa pun kejadian yang menimpa, seorang Stoa yang bijak akan melihat kejadian tersebut sebagai bagian dari tenunan indah ilahi atau Logos. Ia akan menyesuaikan kodrat rasional dirinya sebagai manusia dengan hukum alam (hukum sebab akibat) dari Alam Semesta.

    Landasan ajaran Stoa meminjam tiga elemen filsafat yang berkembang di Akademia yang didirikan oleh Aristoteles yakni logika atau rasio, materi atau fisika, dan etika. Tema-tema yang sering dibicarakan terkait dimensi manusia sebagai fokus utama, di antaranya mengenai takdir, kehendak bebas, pemeliharaan Ilahi, dan kejahatan.

    Ajaran Stoa yang paling menonjol adalah bagaimana manusia bertindak menurut keteraturan hukum alam yang diselenggarakan yang Ilahi. Kleanthes menulis beberapa versi dalam ekspresi gamblang sebuah daya tarik elemen yang didesakkan oleh imannya. Sikap hidup yang menyelaraskan diri dengan kehendak ilahi yang tampak dalam sikap hidup menyelaraskan diri dengan keteraturan alam ini disebut sebagai etika katekontik. Dalam Stoa mula-mula, ajaran Stoa selalu melibatkan peran dewa-dewa dalam miologi Yunani Kuno. Demikian para pem ikir etika Kristen yang dipengaruhi filsafat Stoa juga selalu melibatkan Allah dalam konstruksi etikanya.

    Oleh karema itu filsafat stoa sering digunakan oleh orang orang untuk lepas dari rasa lelah atau stress karena filsafat ini memngajarkan untuk para penikmat filsafat stoa untuk menerima apapun yang terjadi dengan rasa ikhlas namun filsafat ini bagaikan dua buah mata pisau yang memiliki dampak positif dan negative tergantung dari penganut filsafat ini dampaknya positifnya penganut filsafat ini akan lebih ikhlas menerima apapun yang terjadi sedangkan dampak negatifnya penganut filsafat ini dapat bersikap apatis. Jadi gunakan dan pelajari filsafat stoa ini dengan bijak karena banyak orang mempelajari filsafat ini mereka mendapatkan bahagia karena filsafat stoa jalan ninja menuju bahagia.

    Ikuti tulisan menarik MUHAMMAD MIFTAH FARID lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.