x

Iklan

Syarifuddin Abdullah

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Senin, 13 Februari 2023 05:57 WIB

Pertempuran dan Adu Drone di Langit Ukraina

Dilihat dari segi peralatan tempur yang digunakan kedua pihak yang berseteru, ada dua perkembangan signifikan dalam Perang Ukraina: pertama, di darat akan terjadi pertempuran adu tank, setelah Amerika dan Jerman memutuskan memberikan bantuan tank kepada militer Ukraina pada 25 Januari 2023; kedua, di langit Ukraina diperkirakan akan semakin seru pertempuran dan adu drone.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Pada Oktober 2022, di berbagai platform media sosial, beredar viral sebuah video yang memperlihatkan drone (pesawat nirawak) milik Ukraina beradu manuver dan akhirnya berhasil menabrak dan menjatuhkan drone milik Rusia.

Konon inilah kasus pertama yang memperlihatkan adegan dogfight (pertempuran sengit di udara) antar drone. Pada kesempatan lain, giliran drone Rusia yang menyerang drone Ukraina.

Sejak Agustus 2022, Rusia berkali-kali dikabarkan melancarkan serangan ke berbagai titik sasaran strategis di Ukraina dengan menggunakan drone, jenis Shahed 136 produksi Iran. Tapi berkali-kali pula militer Ukraina mengklaim berhasil menjatuhkan serangan drone Rusia, yang buatan Iran.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Apapun itu, langit Ukraina telah menjadi ajang pertempuran antar drone, yang riil dan pertama dalam sejarah perang global. The Economist (20 Oktober 2022) menyebutnya: Ukraine is the testing ground for 21th-century warfare (Ukraiana menjadi ajang uji coba perang abad ke-21). Dan bagi Iran, Perang Ukraina juga telah-dan-sedang menjadi medan uji coba sekaligus peluang mempromosikan kecanggihan drone Shahed Iran.

Keunggulan serangan drone

Serangan dengan drone jauh lebih murah dibanding menyerang musuh dengan rudal. Harga satu unit rudal jenis Patriot atau NASSAMS sekitar 1 juta USD bahkan lebih. Sementara harga drone berkisar 20 ribu hingga 50 ribu USD.

Dan saat ini sudah muncul jenis drone generasi baru, populer dengan nama quadcopters, yang berukuran lebih kecil, lebih murah, dan bisa juga dilengkapi alat pembom. Apalagi, secara teknis, drone kecil lebih sulit dideteksi posisinya oleh radar dan karena itu lebih sulit dibidik untuk ditembak jatuh.

Kekurangan quadcopters karena memiliki baling-baling di bagian atasnya, dan kamera yang mengarah ke bawah (bumi). Pada 2 Desember 2022, satu unit drone Rusia membuang granat ke arah drone Ukraina. Granat itu tidak diledakkan, tapi berhasil menyentuh dan merusak baling-baling drone Ukraina, yang akhirnya jatuh.

Sebaliknya, Ukraina juga sudah mengembangkan jenis drone yang dapat menembak jatuh drone musuh. Dan diasumsikan, militer Ukraina akan terus mendapatkan batuan teknologi drone dari NATO dan sekutunya.

Kasus 2011

Jika ditelusuri ke belakang, persentuhan militer Iran dengan teknologi drone sudah berlangsung lebih dari satu dasawarsa. Ini periode yang cukup untuk menguasai suatu bidang teknologi.

Pada Juli 2011, seorang anggota Parlemen Iran Ali Aghazadeh Dafsari mengatakan, Garda Nasional Iran berhasil menembak jatuh pesawat mata-mata Amerika, yang terbang di sekitar wilayah Fordow (terletak dekat kota Qom, yang sering dicurigai sebagai salah salah satu lokasi pengayaan uranium bahwa tanah di Iran).

Namun ketika itu, Garda Nasional Iran merespon dan  menjelaskan dengan berdiplomasi bahwa pesawat yang ditembak jatuh itu adalah target dalam latihan militer, bukan pesawat AS.

Kasus pada Juli 2011 itu diduga kuat bahwa obyek udara yang ditembak tersebut adalah drone Amerika, kemungkinan jenis Predator. Setelah jatuh ke darat, Iran menahan bangkai drone tersebut, dan menegaskan menolak menyerahkannya ke pihak Amerika.

Sejak peristiwa di langit Fordow inilah, Iran diasumsikan mulai meneliti dan terus mengembangkan teknologi drone, antara lain dengan mempelajari teknologi drone Amerika yang ditembak jatuh di kawasan Fordow tersebut.

Jejak dan aksi drone Iran di Ukraina

Awalnya Iran membantah mensuplai drone kepada Rusia. Namun pada Nopember 2022, Iran akhirnya mengakui pengiriman drone ke Rusia  sambil menegaskan bahwa pengiriman drone ke Rusia telah dilakukan sebelum perang Ukraina.

Fakta menunjukkan, drone Iran mulai dioperasikan oleh Rusia dalam perang Ukraina sejak Agustus/September 2022.

Di Ukraina, Rusia lebih sering melancarkan serangan drone dengan pola serangan sekali jalan (“one-way attack)” atau suicide drones atau kamikaze drone. Artinya, drone itu lebih difungsikan sebagai "peluru kendali", yang dianggap hilang-atau-hancur di sasarannya. Artinya tidak didesain untuk diterbangkan kembali ke pangkalannya.

Dan sejak Oktober 2022, Rusia mengoperasikan Shahed-131 (produksi Iran) dengan nama Geran (Geranium)-1 dan Shahed-136 dengan nama Geran-2 untuk menyerang target-target strategis di Ukraina.

Perubahan nama dari Shahed menjadi Geran ini diduga karena Rusia menginstal peralatan navigasi GLONASS ke drone Shahed-136 agar lebih akurat. Beberapa sumber menyebutkan, sebelumnya ada delegasi Iran berkunjung ke Moskow untuk mendirikan pabrik di Rusia, yang mampu memproduksi 6 ribu drone, yang didesain oleh teknisi dari Iran.

Dengan kemampuan jelajah ratusan kilometer, diklaim hingga 2.500 km, Rusia meluncurkan serangan drone ke Ukraina dari Semenanjung Crimea, untuk menjangkau sasaran di bagian tengah dan barat Ukraina.

Keunggulan dan kelemahan drone Shahed Iran

Drone Shahed Iran hanya mampu membawa hulu-ledak (warhead) yang kecil, seberat 33-66 pound bahan peledak berkeluatan tinggi (high explosives). Bandingkan misalnya dengan bom seberat 100 pound yang dapat dibawa oleh pesawat jet pembom.

Drone Iran berukuran lebih kecil, mampu terbang rendah, kecepatannya relatif lamban dan terbuat dari bahan utama plastik, dan karena itu konon sulit dideteksi radar.

Hanya suara mesin drone Shahed Iran memang sangat bising, karena menggunakan mesin jenis MD550 buatan China, dan konon bisa terdengar dari jarak sekian kilometer. Bahkan disebut suaranya seperti suara mesin gergaji mesin chainsaw atau suara mesin pemotong rumput (lawnmower).

Untuk menangkal dan mengimbangi serangan drone Rusia, militer Ukraina menggunakan sistem pertahanan udara antara lain IRIS-T buatan Jerman, Aspide produksi pan-European, NASAMS (National Advanced Surface-to-Air Missile System) buatan Amerika; Crotale dan Hawk surface-to-air missile (SAMs) dari Perancis dan Spanyol.

Mungkin untuk mengantisipasi kemungkinan perang Ukraina akan berlangsung lebih lama, Rusia dikabarkan telah memesan sekitar 2.000 (dua ribu) unit drone Shahed Iran, yang sekali lagi, harganya sekitar 20,000 USD per unit.

Harga per unit drone Iran itu jauh lebih murah dibandingkan misalnya dengan rudal udara-udara (air-to-air missiles) atau rudal interceptor berbasis bumi (ground-based interceptors), yang harganya berkisar 400.000 USD hingga 1,2 juta USD per unit.

Jejak dan aksi drone Iran di Timur Tengah

Sejak 2021, Iran diduga mulai mensuplai drone untuk Hezbullah di Lebanon. Juga kepada milisi Al-Houti di Yaman. Bahkan Al-Houti Yaman konon bisa memproduksi varian Shahed dengan nama drone Waid.

Di puncak-puncak perang Yaman, milisi Al-Houti bisa melancarkan serangan rata-rata sekitar 25 drone setiap bulan ke wilayah Saudi Arabia. Sementara di Ukraina, Rusia melancarkan serangan rata-rata sekitar 200 drone Shahed setiap bulan.

Selain itu, Iran diduga mensuplai drone Shahed-136 kepada proksinya milisi Syiah di Irak (tapi drone Shahed-136 di Irak dikenal dengan nama lain: Murad-6).

Pada 14 Mei 2019, milisi Syiah di Irak dikabarkan meluncurkan drone Shahed-136 dari wilayah Irak untuk menyerang pipa minyak timur-barat milik Aramco (east-west oil pipeline) di bagian tengah Saudi Arabia.

Iran juga dicurigai menggunakan wilayah Irak sebagai lokasi peluncuran drone Shahed-136, yang menyasar lokasi penyulingan minyak Saudi Arabia di Abqaiq dan Khurais, pantai timur Saudi Arabia, pada 14 September 2019.

Bahkan Iran pun diduga mensuplai drone kepada kelompok Hamas di Jalur Gaza, yang kadang digunakan untuk menyerang target di Israel.

Sebelumnya, pasukan Garda Revolusi Iran, pada 28 Agustus 2014, mengumumkan telah menembak jatuh sebuah drone yang diduga milik Israel, yang sedang mencoba mendekati reaktor nuklir Natanz di Iran, dan disebutkan drone Israel itu diluncurkan dari salah satu negara bekas Uni Soviet di utara Iran.

Selanjutnya, pasukan Garda Revolusi Iran, pada 20 Juni 2019, mengumumkan telah menembak jatuh sebuah drone jenis RQ-4 Global Hawk milik Amerika Serikat, yang sedang terbang di atas wilayah udara Iran. Seorang pejabat AS kepada kantor berita Associated Press secara tidak langsung mengakui peristiwa tersebut, saat menegaskan bahwa drone itu ditembak jatuh saat terbang di ruang udara internasional di atas Selat Hormuz.

Kasus teranyar, pada 15 November 2022, di lepas pantai Oman, sebuah kapal tanker gas Pacific Zircon, yang dioperasikan perusahaan milik miliarder Israel (Idan Ofer), diserang dengan drone yang berhasil merusak lambung tanker, namun tanpa korban cedera. Tetapi ada sumber lain yang menyebutkan, serangan itu berhasil menewaskan kapten kapal tanker. Israel langsung menuding bahwa Iran yang melakukan serangan dengan menggunakan drone Shahed-136.

Serangan terhadap tanker gas Pacific Zircon di Laut Arab itu mengindikasikan bahwa drone Shahed 136 Iran mampu membidik sasaran bergerak dengan presisi tinggi, di tengah laut pula.

Menggempur sistem pertahanan udara musuh dengan squad drone

Pada 02 Nopember 2022, sosial media propaganda Iran mengunggah video simulasi, yang menggambarkan gempuran (swarm) yang melibatkan sebanyak 30 unit drone Shahed-136, yang diluncurkan dari lokasi yang berbeda-beda, lalu bergerak secara simultan untuk menyerang satu lokasi ladang produksi minyak di Timur Tengah.

Model serangan dengan modus menggempur atau lebih tepatnya "menghujani" target dengan rombongan drone inilah, konon merupakan modus serangan paling ditakuti dan diantisipasi oleh musuh-musuh Iran. Sebab serangan gempuran drone itu diasumsikan akan membuat kewalahan sistem pertahanan udara musuh, betapa pun canggihnya pertahanan udara tersebut, misalnya sekelas Iron Dome milik Israel.

Ilustrasi: jika serangan gempuran itu terdiri dari 30 drone, sistem pertahanan udara musuh mungkin dapat menggagalkan atau menembak jatuh sebagian besar (misalnya sebanyak dua pertiganya atau 20 drone). Namun sisanya (10 drone) diasumsikan akan tetap melenggang menuju dan menghancurkan targetnya.

Iran dan teknologi drone

Sejauh ini, di kawasan regional Timur Tengah, ada tiga negara yang terpublikasi memiliki kemampuan teknologi untuk memproduksi drone secara massal yaitu Iran, Israel dan Turki (drone Bayraktar). Tak satupun negara Arab. Dan fakta ini menunjukkan Iran memiliki keunggulan militer terhadap semua negara Arab.

Seperti diketahui, tiap teknologi memiliki karakter bawaan untuk berinovasi. Artinya, kecanggihan drone Iran akan terus berinovasi dan berkembang. Munculnya beberapa varian drone Shahed (131, 136, 129), lalu Mohajer-6 dan Arash-2 menunjukkan adanya inovasi tersebut.

Bahkan disebutkan, Iran telah mampu memproduksi drone lebih canggih, jenis Unmanned Combat Aerial Vehicles (UCAVs) seperti Shahed-129 atau Mohajer-6, yang konon sekelas atau mendekati kecanggilan drone Predator Amerika atau drone Bayraktar Turki, dengan durasi terbang lebih lama, jelajah terbang lebih jauh, mampu bermanuver secara lebih presisi, dan bisa menembak target bergerak.

Terkait drone UCAVs, Iran diduga telah memproduksi dan memiliki drone jenis Arash-2, yang memiliki bobot lebih berat dan jangkauan jelajah yang lebih jauh, dan tentu daya hancur yang lebih signifikan.

Cukup menarik bahwa pengembangan teknologi drone Iran ini justru terjadi ketika Iran dalam posisi terblokade. Kita tahu, Iran diembargo ekspor minyaknya sejak 2010. Selanjutnya pada 2018, Amerika memberlakukan sanksi maximum pressure (tekanan maksimal) terhadap Iran dengan tujuan utama mencegah total ekspor minyak mentah Iran.

***

Kesimpulannya, fakta bahwa Rusia membeli dan menggunakan drone Shahed Iran dalam perang Ukraina adalah sebuah kebanggaan tersendiri bagi Iran, baik secara militer ataupun secara ekonomi. Seorang pengamat pro Iran bahkan sesumbar menegaskan: Iran telah menjelma sebagai negara “super power drone” di kawasan Timur Tengah.

Tentu bisa dibayangkan kualitas drone Iran, jika Rusia saja yang merupakan salah satu negara yang memiliki teknologi militer canggih di dunia, akhirnya memilih menggunakan drone produksi Iran dalam perang riil, yang akan menentukan hidup-matinya masa depan Rusia.

Dilihat dari segi peralatan tempur yang digunakan kedua pihak yang berseteru, ada dua perkembangan signifikan dalam Perang Ukraina: pertama, di darat akan terjadi pertempuran adu tank, setelah Amerika dan Jerman memutuskan memberikan bantuan tank kepada militer Ukraina pada 25 Januari 2023; kedua, di langit Ukraina diperkirakan akan semakin seru pertempuran dan adu drone.

Syarifuddin Abdullah | 12 Februari 2023/ 20 Rajab 1444H

Sumber bacaan antara lain: economist.com; washingtoninstitute.org;

Sumber foto: screen-shot dari video berjudul “Why Iranian Shahed Drones Are So Difficult To Track & Destroy l Russia-Ukraine War”, produksi akun Crux.

Ikuti tulisan menarik Syarifuddin Abdullah lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Epigenesis

Oleh: Taufan S. Chandranegara

5 hari lalu

Kembang Jepun

Oleh: Handoko Widagdo

Kamis, 15 Februari 2024 10:19 WIB

Terpopuler

Epigenesis

Oleh: Taufan S. Chandranegara

5 hari lalu

Kembang Jepun

Oleh: Handoko Widagdo

Kamis, 15 Februari 2024 10:19 WIB