x

Keputusan atasan yang melahirkan baris perlawanan

Iklan

SyahrulNur

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 7 April 2023

Jumat, 7 April 2023 21:56 WIB

Medioker yang Memaknai dan Menginsafi Hukum Jante

Dewasa ini, menurut saya menjadi seorang medioker merupakan jalan hidup yang memiliki kesan realistis tersendiri untuk menjalani citra kehidupan yang sesungguhnya Absurd, menderita, pengulangan keabadian, nihil? Dalam hal ini kiranya tiap-tiap individu memiliki pandangan yang berbeda atas dasar keyakinan yang berbeda pula

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Sebagai seseorang yang telah lama memproklamirkan diri menjadi seorang medioker, saya merasa mendapat pencerahan baru, walaupun hanya sampulnya saja yang baru. Itu terjadi ketika mendapati suatu hukum bernama janteloven dalam novel Sang Zahir karya Paul Coelho.

Berangkat dari ketertarikan saya akan poin-poin yang disampaikan dalam hukum tersebut, mengawali saya untuk mencari informasi lebih detail di laman pencarian. Saya mendapati bahwa Hukum Janteloven ini ditulis oleh seorang penulis asal Denmark bernama Aksel Sandemose dalam salah satu bukunya yang berjudul En Flyktning Krysser Sit Spoor (Seorang Pengungsi Melintasi Jalurnya). Hukum Jante lahir karna produk budaya dari Norwegia dan menjadi perangkat norma sosial yang berlaku, singkatnya seperti itu. 

Jadi, di suatu desa bernama Jante para penguasa di sana mengumumkan sebuah aturan --dalam tulisan aslinya sepuluh poin aturan-- yang mengatur bagaimana orang harus bersikap, bukan sikap medioker tentunya. Akan tetapi saya heran ketika membaca pada butir-butir aturan yang tertera, entah kenapa pikiran saya merasakan adanya kesamaan dengan hal-hal prinsipil seorang medioker, yang dewasa ini saya amini. 

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Adapun beberapa aturan tersebut yang jika dimaknai ala seorang medioker, ialah:

1) Kalian bukan siapa-siapa jangan pernah menganggap kalian lebih tahu daripada kami

Ini sih hal paling primordial bagi seorang medioker, jika musti menganggap dirinya bukan siapa- siapa. Toh dunia akan tetap eksis jika ia ada atau tak ada , toh pemilu presiden akan tetap berjalan empat tahun sekali jika ia ada atau tiada. Dan bagaimanapun seorang medioker yang baik tak ingin mendahului Sang Empunya selalu melihat apa adanya sebagaimana adanya, gak muluk-muluk harus nerobos arus. 

2) Kalian sama sekali tidak penting;

Seorang medioker kudu menganggap dirinya tak terlalu penting, karna tentunya tak ada orang yang merasa perlu bergantung padanya. Selalu mengamini cepat atau lambat ia akan digantikan: entah itu di dunia kerja, pertemanan atau di hati seseorang, Uhhukk. Bukan karna umur, bukan, memang kita tak begitu penting-penting amat sih. 

3) Kalian tidak bisa melakukan apapun dengan benar, pekerjaan kalian tidak berarti;

Ya, kita biasa-biasa saja dan kita menerimanya, memang begitu adanya. Perihal gawean juga percis adanya, seorang medioker hanya akan mengambil slip gaji dan jatah cuti ketika bekerja, tak mencurahkan segenap hati dan pikirannya pada pekerjaan apalagi sampai kudu menjilat atasan, hooeek.

4) Jika kalian tidak menentang kami kalian akan hidup bahagia, selalu terima sepenuh hati apa yang kami katakan dan jangan pernah mentertawakan pendapat kami;

Sudah jadi rahasia umum jika sebagian medioker menerima ketentuan yang diberikan Sang Empunya, tak perlu memaki atau menentang jika harapan tidak sampai pada tujuan atau usaha tidak dikompensasi dengan keberhasilan. Singkatnya nrimo ing pandum, semua telah termaktub. Pada akhirnya ia akan merasa "bahagia"  dengan beberapa hikmah yang ada, walaupun gini-gini aja. 

Demikianlah, beberapa isi aturan dari Hukum Jante berdasarkan sudut pandang saya sebagai seorang medioker. Intinya sikap menerima, tidak perlu merasa menonjolkan diri, dan merasa gini-gini aja merupakan pilihan paling sentosa. 

Terakhir saya akan mengutip kutipan demotivasi dari ustadz demot kang Syarif

"Menyerahlah hidup sudah ada pemenangnya. "

Catatan: "Kami" yang ada berada dalam aturan diinterpretasikan sebagai entitas superlatif, Tuhan. 

 

 

 

 

Ikuti tulisan menarik SyahrulNur lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Penumbra

Oleh: Taufan S. Chandranegara

1 hari lalu

Terkini

Terpopuler

Penumbra

Oleh: Taufan S. Chandranegara

1 hari lalu