x

Berderma

Iklan

Bryan Jati Pratama

Penulis Indonesiana | Author of Rakunulis.com
Bergabung Sejak: 19 Desember 2022

Selasa, 6 Juni 2023 09:17 WIB

Filsafat Kepemilikan: The Wealth As I See It

Sambil tersenyum beliau berkata: Engkau salah Aisyah, semuanya tersisa untuk kita kecuali kepalanya.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Setelah bersusah payah para hukama mencari makna, nampaknya yang dimaksud orang kaya adalah yang paling sedikit keperluannya. Begitu kata Hamka dalam bukunya yang berjudul Tasawuf Modern. Kesimpulan ini bukannya tanpa dasar. Sebab Tuhan disebut sebagai Yang Maha Kaya karena Dia tidak memerlukan apa-apa.

Namun pendapat para hukama ini memiliki celah. Karena bisa juga ke-Mahakayaan Tuhan disebabkan karena Dia memiliki segalanya. Lalu pendapat mana yang paling tepat dalam mendefinisikan kekayaan?
 
Saya kira sebab yang pertama lebih masuk akal. Satu-satunya kemungkinan orang bisa disebut kaya adalah karena sedikit keperluannya. Sebuah konsekuensi logis bahwa disebut "Maha Kaya" karena tidak memerlukan apa-apa sehingga yang sedikit memerlukan apa-apa disebut "kaya" saja.
 
Jika Tuhan Maha Kaya karena memiliki segalanya, maka orang tidak mungkin bisa disebut kaya. Suatu kemustahilan bahwa kayanya seseorang adalah dengan sebanyak-banyak memiliki. Karena segala kepunyaan yang dimiliki orang itu —termasuk dirinya sendiri— sejatinya adalah milik Tuhan.
 
Lebih lanjut, uraian diatas memahamkan kesadaran saya bahwa Tuhanlah pemilik segalanya. Konsep "milik" yang selama ini saya kenal, bahwa orang dapat memiliki sesuatu, tidak lain adalah suatu kekeliruan. Selain daripada itu, orang yang memiliki sesuatu mesti memerlukan sesuatu —minimal keperluan untuk menjaga dan mempertahankan apa yang menjadi miliknya. Sebab hukum pertama tadi berbunyi "orang kaya adalah yang paling sedikit keperluannya" maka "semakin bertambah keperluan, semakin miskinlah dia".
 
Semakin banyak milik, semakin miskin hidup. Jika begitu, bagaimana mungkin orang yang memiliki sesuatu itu disebut kaya?
 
Pemikiran ini yang mengubah pandangan saya tentang arti dari kepemilikan. Dari situ saya melihat bahwa kita hanya dapat memiliki sesuatu apabila ia sudah tidak lagi memilikinya. Sehingga terlepas segala jenis keperluan kita terhadap sesuatu itu. Lucu bukan? Tapi berdasarkan cara berfikir diatas, ini adalah suatu kebenaran yang tak terbantahkan.
 
Contohnya, ketika kita berderma uang kepada peminta-minta, putuslah keperluan kita terhadap uang itu. Hilang keperluan kita untuk mempertahankannya dan sirna keinginan kita untuk membelanjakannya. Islam menyebut hal ini sebagai sedekah. Logika bermain disini, dengan bersedekah, hilang keperluan kita terhadap apa yang kita sedekahkan, sehingga makin sedikit keperluan kita dan makin kayalah kita. Tentu di sembarang tempat kita sering mendengar bahwa sedekah itu mangayakan.
 
Ada sebuah kisah ketika Aisyah menyajikan hidangan kambing kepada Rasulullah:
 
Rasulullah bertanya, "Wahai Aisyah, apakah sudah engkau berikan kepada Abu Hurairah tetangga kita?"
 
"Sudah ya Rasulullah."
 
Kemudian Rasulullah bertanya lagi, "Bagaimana dengan Ummu Ayman?"
 
Aisyah kembali menjawab, "Sudah ya Rasulullah."
 
Kemudian Rasulullah bertanya lagi tentang tetangga-tetangganya yang lain, adakah sudah diberi masakan tersebut sampai Aisyah merasa penat menjawab pertanyaan-pertanyaan beliau.
 
"Apa yang tersisa untuk kita?" kembali Rasulullah bertanya.
 
 "Sudah habis ku berikan ya Rasulullah, tidak ada yang tersisa untuk kita kecuali kepalanya."
 
Sambil tersenyum beliau berkata, "Engkau salah Aisyah, semuanya tersisa untuk kita kecuali kepalanya".
 
Bukan berarti orang tidak boleh memiliki harta yang banyak. Kaya itu tidak dilarang, miskin juga bukan suatu hal yang wajib. Namun harta yang kita miliki itu sekiranya jangan sampai menjadi "milik" kita. Ketika si kaya merasa bahwa hartanya adalah miliknya, maka sebenarnya ia miskin. Begitu juga orang miskin yang terlalu menginginkan sesuatu untuk menjadi miliknya. Siang malam waktunya dihabiskan untuk berandai-andai dan mendamba. Maka ia lebih miskin.
 
Kualitas kayanya seseorang dapat dijumpai pada orang kaya yang tidak pernah sedetikpun menganggap bahwa hartanya adalah miliknya. Dan pada orang miskin yang bersyukur. Karena dengan rasa syukur itu, kita mencukupkan diri dengan apa yang ada, tidak menginginkan sesuatu yang berlebih dan mendamba hal yang tidak-tidak. Semakin banyak bersyukur, semakin cukup kebutuhan. Semakin cukup kebutuhan, semakin sedikit keperluan. Dan semakin sedikit keperluan, semakin kayalah kita.
 
Dengan pemahaman seperti itu dalam memaknai kekayaan, saya menyadari bahwa "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, maka akan Aku tambahkan nikmatku kepadamu" adalah sebuah kalimat yang benar-benar menakjubkan.

Ikuti tulisan menarik Bryan Jati Pratama lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Biomorfik

Oleh: Taufan S. Chandranegara

1 hari lalu

Terpopuler

Biomorfik

Oleh: Taufan S. Chandranegara

1 hari lalu