Blessing Youth, Komunitas Pemuda untuk Layanan Informasi dan Pengobatan Masyarakat Miskin di Kabupaten Belu, NTT

Sabtu, 5 Agustus 2023 08:21 WIB
Bagikan Artikel Ini
img-content0
img-content
Iklan
Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Blessing Youth, Komunitas pemuda di Kabupaten Belu, NTT melakukan kegiatan sosial untuk memberikan penyadaran mengenai kesehatan dan layanan pengobatan gratis bagi kelompok masyarakat dengan tingkat ekonomi mengengah ke bawah. Inovasi dalam pemberian layanan ini mendapatkan apresiasi SATU Indonesia Award.

Minimnya informasi kesehatan di kalangan keompok masyarakat yang dimiskinkan menjadi akar masalah kondisi kesehatan masyarakat memprihatinkan.

Menghadapi situasi itu, Oktavia H.D. Christy, perempuan yang berprofesi sebagai apoteker memikirkan berbagai gagasan dan kegiatan yang dapat menjangkau langsung masyarakat menengah ke bawah, dan memecahkan masalah kesehatan kelompok miskin itu.

Pada tahun 207, Oktavia--panggilan akrab Oktavia H.D. Christy, mengembangkan Program Public Health. Melalui organisasi ini, Oktavia dan kawan-kawannya mengembangkan komunitas Blessing Youth di Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur NTT).

Kegiatan yang dikembangkannya, tak hanya penyuluhan kesehatan, tetaou juga bakti sosial dengan agenda pengobatan gratis, dan kunjungan ke panti asuhan untuk berbagi kasih.

"Segala macam kegiatan dilakukan komunitas Blessing Youth murni bertujuan sosial. Komunitas berusaha membantu masyarakat menengah ke bawah yang membutuhkan pengobatan, dan informasi penting mengenai kesehatan," kata Oktavia.

Komunitas Blessing Youth menjaring orang-orang dengan kepedulian yang sama untuk memberkati sebagian masyarakat Belu. Komunitas ini sampai saat ini terus mendukung Oktavia, selain orang tua dan keluarganya. Seluruh kegiatan menggunakan dana swadaya dari pribadi Oktavia dan keluarganya. Apabila dana yang dibutuhkan kurang, akan mengajak kerja sama beberapa pihak, seperti Puskesmas dan Gereja.

"Saat ini, jumlah pemuda yang tergabung dalam komunitas adalah 10 orang, dan 4 orang selalu berpartisipasi," ungkap Oktavia.

Ia terus melakukan pengembangan program, sehingga semakin bertambah luas. Sebut misalnya. melakukan kerja sama dengan Palang Merah Indonesia PMI) untuk kegiatan donor darah.

"Kesadaran masyarakat akan pentingnya melakukan donor darah masih sangat rendah," ujarnya.

Dengan pengembangan program ini akan meningkatkan kesadaran masyarakat tentang donor darah, dan tertarik melakukannya. Dengan begitu, manakala stok darah di PMI menipis, masyarakat dengan sukarela melakukan donor darah.

Ketika kegiatan Blessing Youth mendapatkan sponsor, komunitas memberikan bantuan susu dan vitamin gratis untuk anak usia 5-11 tahun di berbagai tempat. Kebanyakan dari mereka merupakan anak–anak yang mengalami kurang gizi.

Program Public Health memiliki keunggulan karena langsung menyentuh kebutuhan masyarakat menengah ke bawah. Program juga memberikan tambahan wawasan pentingnya kesehatan, masyarakat Belu bisa mulai belajar hidup sehat.

Apa saja tantangannya? Setiap gagasan dan program untuk masyarakat pasti tak terelakkan dari berbagai tantangan. Pelaksanaan program Public Health ini terkendala jauhnya jarak yang harus ditempuh dalam penyuluhan dan pelayanan. Apalagi medan jalannya dalam kondisi rusak.

"Bayangkan, jarak itu membutuhkan waktu 3-4 jam dengan akses jalan berbatu," ungkap Oktavia.

Sebagai gagasan individu yang dibiayai dengan dana prbadi, tentu saja segi finansial menjadi tantangan paling serisu. Apalagi memang belum ada sponsor jangka panjang untuk setiap kegiatannya. Bersama komunitas Oktavia terus berusaha membangun kerja sama dengan pihak lain, agar program yang disusun tetap bisa berjalan dengan lancar.

Program-program yang dikembangkan sudah bisa dirasakan warga dari beberapa desa atau kelurahan, dan panti asuhan. Mereka mendapatkan informasi dan layanan kesehatan.

Dengan bakti sosial untuk layanan pengobatan gratis dan sosialisasi kesehatan, banyak masyarakat yang tertolong. Seorang ibu penderita asma dengan kondisi ekonomi menengah ke bawah, misalnya, tidak mampu membeli obat. Saat udara dingin, asma yang dideritanya akan kambuh.

"Melalui bakti sosial, ibu itu mendapatkan obat gratis, dan pemeriksaan dari dokter," kata Oktavia.

Dengan program Public Health, masyarakat tidak perlu pergi jauh dan turun ke kota untuk mendapatkan pemeriksaaan dan obat. Para penghuni panti asuhan merasa bahagia dan mendapat banyak perhatian, sebab perhatian menjadfi hal terpenting yang mereka butuhkan.

Menurut Oktavia, kegiatan sosialisasi kesehatan mencakup tentang Dagusibu Obat (Dapatkan, Gunakan, Simpan, Buang). Penyuluhan ini sedikit banyak telah mengubah pemahaman masyarakat mengenai di mana tempat mendapatkan obat yang benar,

Mereka juga cara menggunakan obat yang benar, cara menyimpan obat yang benar, dan cara membuuang obat yang sudah kadaluarsa atau rusak dengan benar.

"Sebelumnya, masyarakat sangat awam. Demikian juga dengan materi sosialisasi kesehatan lainnya," kata Oktavia.

Desa yang telah terjangkau program bakti sosial sebanyak 3 desa, yakni Desa Silawan, Lahurus, dan Kakuluk Mesak menjadi penerima manfaat bakti sosial. Sedangkan 5 daerah yang menerima manfaat dari kegiatan penyuluhan kesehatan mencakup desa Fulur, Leowalu, Kelurahan Beirafu, Berdao, dan Umanen. Panti yang mendapatkan kunjungan rutin Panti Asuhan Mercy, Panti SLB Tenubot, Panti Alma, dan Panti SLB Sesekoe.

Setiap kali bakti sosial dan pengobatan gratis biasanya masyarakat yang datang mencapai 100–200 orang. Sedangkan untuk penyuluhan dan sosialisasi kesehatan, masyarakat bisa mencapai 20–50 orang.

"Dari adanya program, sebanyak 30–40% masyarakat menjadi lebih peduli dengan kesehatan. Antusiasme masyarakat mengikuti program juga tinggi, rerata 70–80%," ungkap Oktavia.

Sebagai perintis gagasan, Oktavia berkomitmen penuh terus melanjutkan program, dan terus berinovasi dalam pengembangan program. Dengan begitu, masyarakat mendapatkan manfaat, semakin sadar pentingnya kesehatan. Regenerasi diambil dari anggota komunitas yang sudah banyak berkontribusi, memahami visi, dan misi komunitas secara keseluruhan.[]

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Bagikan Artikel Ini
img-content
Mukhotib MD

Pekerja sosial, jurnalis, fasilitator pendidikan kritis

0 Pengikut

Baca Juga











Artikel Terpopuler