Sejarah Nama

Selasa, 12 September 2023 10:51 WIB
Bagikan Artikel Ini
img-content0
img-content
Iklan
img-content
Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Siapa nama anakmu? Apakah nama anakmu diambil asal cetus, atau memiliki sejarah seperti nama anak Herman? Baiklah, begini sejarahnya.

Mereka bertemu di depan pintu Kantor Pos Besar di kawasan Johar, Semarang. Herman hendak masuk, Daisy hendak keluar. Saat itu sekitar pukul 12.30. Herman belum makan siang dan masih ada waktu sebelum jam istirahat habis. Lelaki jangkung itu mengajak perempuan langsing itu untuk makan siang di warung soto ayam dekat kantor pos.

Mereka makan soto dengan sangat pelan. Herman tak ingin pertemuan itu cepat berlalu. Daisy bercerita bila ia sedang pulang kampung, karena sepupunya menikah. Tahun baru kurang seminggu, saat itu –tahun 1999 segera berakhir. Daisy ke kantor pos untuk mengirim kartu selamat tahun baru kepada teman-temannya –mayoritas novelis.

Daisy itu anak jaksa. Dahulu, Herman mengira Daisy akan menjadi jaksa seperti papanya. Tetapi, perempuan berkulit putih itu mengatakan bila ia tak pandai berdebat. Daisy dewasa memilih menjadi editor di penerbit ternama. Itu fakta yang unik. Sepengetahuan Herman, Daisy banyak bicara, tapi perempuan berambut sebahu itu mengaku tak pandai berdebat.

Mereka berpisah saat kelas 2 SMA. Daisy pindah ke Surabaya mengikuti tugas baru papanya di Kota Pahlawan itu. 

“Papa sudah pensiun. Rumah yang dulu itu rumah dinas. Papa dan Mama tinggal di rumah kami di daerah Seteran, dekat Simpang Lima,” kata Daisy.

“Ya, aku tahu daerah itu. Ada sebuah Akademi Bahasa di sana. Beberapa kali aku lewat daerah itu,” sahut Herman.

“Sekarang aku tinggal di Jakarta, sepuluh menit dari kantor penerbit tempatku berkerja,” kata Daisy.

“Boleh aku tahu alamatmu di Jakarta?”

“Tentu saja,” sahut Daisy, lalu menyerahkan kartu nama.

Herman membuka kancing jaket denim, memasukkan kartu nama itu ke saku kemeja seragam kantornya.

“Apa itu surat?” tanya Daisy menatap amplop pink di saku kemeja Herman yang mengintip dari balik jaket denim.

“Oh, bukan,” kata Herman. “Ah, maksudku, Hera, adikku titip surat untuk temannya. Karena surat titipan inilah kita bisa bertemu hari ini.”

“Oh, aku kira...” sahut Daisy tersenyum. “Aku masih tiga hari lagi di Semarang. Kalau ada waktu, kau mainlah ke rumahku...”

“Tentu!” Herman cepat menukas. “Kalau nanti malam, kau ada waktu?”

Hari itu Herman meminjam Corolla DX coklat milik ayah untuk menghabiskan malam bersama Daisy. Herman tidak tahu apakah gadis berwajah bulat itu menganggap kebersamaan malam itu sebagai kencan atau bukan. Herman sudah girang melihat Daisy senantiasa tersenyum, tergelak, dan sesekali pipinya merona merah.

Herman mengajak Daisy nonton film di Manggala Theatre di utara Simpang Lima, pada pertunjukan terakhir. Sebuah film Hollywood, entah apa judulnya, yang penting nonton dan bisa berdekatan dalam gelap bersama Daisy. Usai nonton, Herman mengajak Daisy nongkrong di Simpang Lima. Ngobrol sambil minum teh poci.

Iseng, Herman bercanda bagaimana kalau mereka menghabiskan sisa malam di kamar losmen.

Daisy melotot.

“Makanya, jangan kebanyakan baca Enny Arrow!”

Herman terbahak.

Pukul dua dini hari Herman sampai rumah.
***
Minggu pagi, sinar matahari sudah menerobos melalui jendela kamar yang terbuka. Pasti ibu yang membuka jendela itu. Tubuh Herman lelah, karena semalam menikmati kenangan bersama Daisy. Tadi, usai salat subuh Herman tidur lagi dan bangun sudah pukul tujuh lebih sedikit.

Herman mandi, kemudian sarapan. Setelah itu ke ruang tengah untuk membaca koran. 

Suara ketukan pintu. Herman segera membukanya. Seorang gadis berkulit coklat, rambut sebahu, bercelana panjang hitam dan kemeja kotak-kotak, berdiri di teras. Matanya berkaca-kaca. Di dekat kakinya tergeletak tas besar.

“Mawar? Sama siapa kamu ke sini?”

“Sendiri. Naik ojek,” suara Mawarni, gadis itu, terdengar bergetar.

Herman mempersilakan Mawarni masuk. Duduk di ruang tamu, Mawarni menangis.

“Apa yang terjadi?” tanya Herman.

“Ibuku wafat.”

“Innalillahi....” ucap Herman. “Kapan?”

“Tadi jam enam. Tadi ayah nelpon, aku harus segera pulang. Jenazah ibu akan dikubur kalau aku sudah datang.”

“Aku turut berduka, Mawar. Lalu, apa yang bisa aku bantu?”

“Bisa kamu antar aku ke Batang?”

“Tentu, tentu,” Herman bergegas menemui ayah dan ibu. Berpamitan. 

Herman meminjam mobil ayah untuk mengantar Mawarni. Sepanjang perjalanan, Mawarni terus-menerus sesenggukan. Herman harus senantiasa membesarkan hati perempuan manis itu. 

Mawarni itu rekan kerja Herman di sebuah bank daerah. Herman sebagai Analis Kredit dan Mawarni sebagai teller. Mawarni itu teller yang ramah. Banyak nasabah senang dengan senyum manisnya. 

Herman sering makan siang bersama Mawarni di warung depan kantor. Bila ada waktu senggang, mereka ngobrol. Mawarni itu anak tunggal. Ayahnya punya dua toko bangunan. Ibunya punya penyakit jantung. Kadang, mata Mawarni berkaca-kaca ketika bercerita tentang ibunya. Pada saat itulah, dada Herman suka berdesir-desir dan perlahan-lahan tunas cinta pun bersemi di hatinya.

Beberapa kali Herman berkunjung ke tempat kos Mawarni. Ada saja alasan lelaki itu untuk mengunjunginya. Namanya juga lelaki, harus banyak akal; tanya alamat nasabah, numpang berteduh karena hujan, atau apalah. Sungguh, Herman jatuh hati pada Mawarni.

Herman menulis surat cinta untuk Mawarni. Herman tak berani nembak langsung. Sudah dua kali Herman berniat ngomong “aku cinta kamu”, tetapi ketika berhadapan dengan Mawarni, lidahnya kelu.

Kemarin Herman hendak mengirim surat cinta itu melalui kantor pos. Tetapi, skenario berubah. Herman bertemu Daisy. Sudah lama ia tertarik pada Daisy. Sejak kecil. Cinta lama bersemi kembali. Apalagi, ketika mereka menikmati malam minggu bersama, Herman merasa Daisy menujukkan gelagat menyukainya. 

Daisy juga lebih cantik daripada Mawarni. Daisy banyak bicara, Herman pendiam. Perpaduan yang serasi. Wajarlah, bila Herman berniat membelokkan cintanya dari Mawarni ke Daisy. 

“Aku bingung, Herman,” kata Mawarni ketika mobil memasuki kota Kendal.

“Bingung soal apa?”

“Di telepon, ayah bilang ibu pernah berwasiat. Ibu minta dikubur setelah aku menikah. Tetapi dengan siapa aku harus....menikah?”

Herman tertegun. Herman menoleh dan Mawarni pun menoleh. Mereka bertatapan. Sorot mata Mawarni penuh harap.

Pukul 10 pagi mereka sampai ke Desa Limpung, sebelah tenggara kota Batang, Jawa Tengah. Beberapa orang menyambut kedatangan mereka. Herman mendengar beberapa orang berbisik.

“Ganteng, ya?”

“Iya. Putih, kayak bule.”

Mawarni memeluk seorang lelaki setengah baya.

“Apakah dia....?” lelaki itu bertanya.

Mawarni mengangguk, lalu menoleh pada Herman dan berkata, “Herman, kenalkan ini ayahku.”

Herman menjabat tangan lelaki itu. Mereka masuk rumah. Di ruang depan yang luas, jenazah ibu Mawarni membujur berselimut kain batik di sebuah dipan. Ada sebuah meja berkaki pendek di ruang itu dan seorang lelaki tua berjenggot dan berbaju koko duduk bersila.

Lelaki berjenggot itu berdiri dan menjabat tangan Herman.

“Sudah siap?” tanya lelaki berjenggot itu pada ayah Mawarni.

“Siap, Kiai.”

Herman duduk bersila. Kiai itu mengajari Herman apa yang harus ia lakukan dan ucapkan. Setelah Herman menyatakan siap, prosesi pun berlangsung. Herman dan kiai itu berjabatan tangan. Ketika kiai itu mempererat jabatan tangannya, Herman cepat berkata, “Saya terima nikahnya Mawarni binti Samsul dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan uang satu juta rupiah dibayar .... utang!”

***
Tahun berapa sekarang? Anak mereka sudah lulus SMA. Herman dan Mawarni dalam perjalanan menggunakan Avanza silver ke Yogyakarta. Mereka mengantar anak tunggal mereka menuju tempat kosnya. Lusa anak mereka mulai kuliah. Empat atau lima tahun lagi anak mereka akan menjadi guru SD, semoga.

Sesampai di Sleman, sang anak meminta Herman mampir ke sebuah SPBU. Sang anak buru-buru ke toilet. Herman dan Mawarni menunggu di mobil.

Herman memeriksa ponsel, mungkin ada e-mail atau WA masuk. Di sampingnya, Mawarni masih lekat memandang ke arah pintu toliet, seperti menerawang sesuatu. Ketika Herman bertanya apa yang ia pikirkan, Mawarni menjawab, “Sampai saat ini aku masih tak mengerti, mengapa kamu memberi nama anak kita Daisy?”

Herman tertegun, tetapi sigap menjawab, “Anak kita cantik, tinggi semampai, banyak bicara tapi tak pandai berdebat. Kupikir Daisy nama yang cantik untuknya.”

“Mengapa bukan Desi?” tanya Mawarni.

“Desi? Anak kita lahir April, akan aneh kalau bernama Desi.”

“Mengapa bukan Aprilia?” kejar Mawarni.

Herman nyaris kehabisan alasan.

“Yeah, seperti kataku tadi. Daisy nama yang cantik untuk anak kita. Itu nama yang cocok untuk semua bulan kelahiran. April, Desember, tak masalah,” kata Herman tersenyum. 

“Tidak ada sebab lain?” tanya Mawarni seperti menyelidik.

“Sebab lain apa?”

“Ya, sudah, kirain.....,” Mawarni menggantung ucapannya. 

Herman tidak tahu apakah Mawarni tahu bila dirinya sempat berniat membelokkan cinta pada perempuan lain; perempuan cantik, banyak bicara tapi tak pandai berdebat? 

Hmm, kapan mereka akan sampai Yogya? 
***SELESAI***
Sulistiyo Suparno, lahir di Batang, 9 Mei 1974. Karyanya berupa cerpen dan cerita anak tersiar di media lokal dan nasional. Bukunya yang telah terbit novel remaja Hah! Pacarku? (2006) serta antologi cerpen bersama Bahagia Tak Mesti dengan Manusia (2017) dan Sepasang Camar (2018). Bermukim di Limpung, Batang, Jawa Tengah.

Bagikan Artikel Ini
img-content
Sulistiyo Suparno

Penulis Indonesiana

0 Pengikut

img-content

Menari Bersama Bidadari

Sabtu, 21 Oktober 2023 13:57 WIB
img-content

Jangan Pacari Kakakku

Senin, 16 Oktober 2023 09:43 WIB

Baca Juga











Artikel Terpopuler











Terpopuler di Peristiwa

img-content
img-content
img-content
img-content
img-content
Lihat semua