x

Iklan

Raja Azhar

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 30 Agustus 2023

Rabu, 13 September 2023 15:08 WIB

Ibu Kota Nusantara Jangan Seperti Naypidaw

Pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) sebagai ibu kota baru Indonesia disatu sisi merupakan perkembangan yang menarik, namun disisi lain sangat riskan. Gambaran kegagalan beberapa negara ketika memindahkan ibu kota mereka menghantui kita. Contohnya seperti Naypidaw, ibu kota baru Myanmar. Maka dari itu, beberapa aspek harus diperhatikan pemerintah agar IKN tidak seperti itu nantinya. #cintaindonesia

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Wacana pemindahan ibu kota negara ke wilayah Penajam Paser Utara tentu membuat banyak orang terkejut awalnya. Karena, meski banyak rumor yang membahas hal ini sebelumnya, rasa-rasanya topik ini hanya akan menjadi wacana saja. Namun, tidak terasa, kurang dari setahun lagi kita akan mulai menyaksikan ibu kota baru tersebut fungsional, terutama pada saat perayaan HUT RI berikutnya tahun depan nanti.

 

Sebagai seseorang yang hidup di kawasan DKI Jakarta, saya tentu memiliki banyak sekali harapan pada Ibu Kota Nusantara (IKN). Saya sendiri sebenarnya bukan warga ibu kota, karena tepatnya saya tinggal di wilayah Kabupaten Bekasi, salah satu wilayah penyangga atau kota satelit dari Jakarta. Meski begitu, hampir seluruh kegiatan saya, baik pendidikan atau pekerjaan, selalu berkaitan dengan Jakarta. Oleh karena itu, saya mengenal Jakarta sangat baik, termasuk hal-hal buruk yang perlu dibenahi di sana.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

 

Jakarta, sebagai sebuah ibu kota, bisa dibilang memerlukan banyak sekali “operasi kecantikan” dan juga perbaikan. Beragam masalah menghinggapi wilayah paling metropolitan di Indonesia ini, mulai dari masalah macet, banjir dan polusi hingga  masalah lainnya. Berganti kepemimpinan, dari satu gubernur ke gubernur lain, hingga saat ini dibawah seorang Pejabat Gubernur (PJ). Berbagai program kerja yang dicanangkan juga nampaknya tidak bisa menyembuhkan berbagai permasalahan yang seperti “penyakit” abadi bagi Jakarta ini.

 

Gebrakan pemindahan ibu kota ini sangat menarik saya sebagai salah satu orang yang ter-afiliasi dekat dengan Jakarta. Secara pribadi, tentu saya berharap dengan pemindahan ibu kota ini akan mengurangi beban yang harus ditanggung oleh Jakarta. Berkurangnya penduduk dengan berpindahnya beberapa penduduk ke IKN tentu akan membantu hal tersebut. Maka, akhirnya saya bisa bermimpi Jakarta yang bebas dari macet, banjir dan polusi. Sehingga Jakarta bisa lebih leluasa menyelesaikan permasalahan-permasalahannya yang disebutkan sebelumnya. Dan, pada akhirnya Jakarta bisa lebih baik dan bersih, serta tertata lagi.  Namun, lebih dari itu, sebagai salah satu masyarakat Indonesia, saya berharap IKN bisa menjadi ibu kota yang jauh lebih baik dari Jakarta saat ini.

 

IKN sendiri bukan sebuah kota yang “dipromosikan” menjadi ibu kota, melainkan sebuah tempat antah-berantah yang dibangun ibu kota di atasnya. Seharusnya, pemerintah lebih mudah mengatur wilayah tersebut dengan baik dan brilian. Permasalahan dasar di Jakarta seperti banjir, seharusnya tidak terjadi di IKN. Karena seharusnya pemerintah telah menyiapkan saluran drainase yang lebih baik dari Jakarta, termasuk kabel-kabel yang ada di udara bisa mengikuti model negara maju, ditanam di bawah tanah. Dan juga sistem transportasi umum yang ter-integrasi juga akan lebih mudah disiapkan di kota yang baru didirikan tersebut.

 

Selain masalah fungsional pada beberapa poin infrastruktur, IKN juga harus memiliki kualitas baik dalam sisi adaptif nya. Karena IKN terletak di Kalimantan, bukan Jawa yang merupakan titik pusat pembangunan Indonesia, sehingga banyak aspek lain yang harus diperhatikan. Mulai dari aspek keamanan militer, hingga keramahan pada lingkungan.

 

Pulau Kalimantan sendiri berbatasan darat langsung dengan Malaysia. Tentu ini akan lebih riskan bagi IKN untuk bertahan. Berbeda dengan pulau jawa yang tidak memiliki perbatasan langsung dengan negara lain. Maka, aspek pertahanan ini harus dipikirkan secara matang. Karena, kini Indonesia memiliki 2 titik utama pertahanan. IKN di Kalimantan sebagai pusat pemerintahan, dan juga Jakarta yang akan terus menjadi pusat perekonomian negara secara masif. Postur pertahanan yang diperbesar, sekaligus penyediaan alutsista baru yang berteknologi tinggi tentu diperlukan, agar TNI mampu mempertahankan kedua wilayah utama ini. Tentu, saat ini ancaman itu terasa “jauh” sekali untuk dipikirkan. Namun, ancaman itu bisa terasa sangat dekat nantinya jika kondisi politik global berubah secara cepat. Dengan pergerakan yang dinamis, dengan contoh terbaik adalah Perang Rusia vs Ukraina yang pada akhirnya meletus, Indonesia benar-benar harus menyiapkan aspek ini pada pertahanan IKN. Seperti peribahasa berkata, siapkan payung sebelum hujan, maka kita harus bersiap atas segala kemungkinan ini.

 

Sementara itu, selain karena kota ini merupakan kota yang baru didirikan, sehingga tentu akan lebih maju tata kelola-nya, IKN juga harus memperhatikan aspek eco-friendly, karena letaknya juga yang berbatasan dengan hutan Kalimantan. Hutan yang disebut sebagai “paru-paru Indonesia dan dunia”. Jangan sampai pembangunan ibu kota di daerah tersebut justru membawa pengaruh buruk kepada lingkungan, namun seharusnya menjadi tonggak pelestarian alam di Kalimantan, yang lebih serius untuk ditangani oleh pemerintah. IKN juga harus bisa hidup bersisian dengan alam, sehingga solusi untuk penghijauan bukan lagi dengan pembuatan taman kota secara berlebihan, namun “hanya” bagaimana menjaga kelestarian hutan di sekitarnya, termasuk dengan memaksimalkan sistem transportasi massal nantinya. Dan, untuk pembangunan kawasan eco-friendly ini, pemerintah juga diharapkan tidak “menyingkirkan” penduduk asli di sekitar wilayah tersebut, seperti yang terjadi di Pulau Rempang akhir-akhir ini. Selain perlu hidup bersisian dengan alam, pemerintah yang akan membangun IKN dengan segala aspek modern dan kemajuannya, harus bisa merangkul masyarakat asli sana, baik anggota suku-suku seperti dayak dan penduduk lainnya. Jangan sampai dengan dalih mencintai Indonesia, unsur utama dari Indonesia, yakni masyarakat itu malah ter-intimidasi nantinya. Karena, Cinta Indonesia adalah kata indah yang benar-benar harus dilakukan dengan memikirkan semua kemungkinan, dan semua kepentingan. Dan, saya percaya bisa melakukan hal tersebut.

 

Jika hal ini telah dipenuhi, tentu pada akhirnya IKN akan menjadi sebuah kebanggan bagi warga Indonesia. Dan usaha pemerataan penduduk Indonesia bisa berjalan optimal, tidak hanya terpusat di Jawa, namun bisa menyebar, terutama ke pulau seperti Kalimantan, Sulawesi dan lainnya. Ketika IKN berhasil memberi kenyamanan, maka tentunya IKN tidak akan menjadi ibu kota yang gagal seperti beberapa ibu kota negara lain, contohnya Naypidaw, ibu kota Myanmar yang baru. Semoga pada akhirnya, baik pemerintah saat ini dan pemerintahan selanjutnya bisa membuat IKN lebih maju, dan selain menjadi pusat pemerintahan, juga bisa menjadi pusat ekonomi berikutnya setelah Jakarta.  Jika itu terjadi, mimpi Indonesia emas di tahun 2045 bukan hanya omong kosong, tapi sesuatu yang akan menjadi kenyataan

Ikuti tulisan menarik Raja Azhar lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Biomorfik

Oleh: Taufan S. Chandranegara

1 hari lalu

Terpopuler

Biomorfik

Oleh: Taufan S. Chandranegara

1 hari lalu