Hantu Penghuni Kamar Depan

Rabu, 13 September 2023 21:09 WIB
Bagikan Artikel Ini
img-content0
img-content
Iklan
img-content
Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Hendra melihat pendar cahaya dari sela pintu kamar depan. Hendra yakin telah mematikan lampu kamar itu, sebelum tidur. Siapa yang telah menyalakan lampu kamar depan?

Dua minggu setelah menikah, Hendra Leksono dan Marisa Handayani menempati rumah di pinggiran kota yang mereka sewa dengan harga tertentu untuk jangka waktu satu tahun, untuk percobaan. Kalau betah, mereka akan memperpanjang masa sewa, bahkan mungkin akan membeli rumah itu. 

Ada tiga kamar tidur di rumah itu. Dapur dengan jendela menghadap halaman belakang, yang membuat Marisa antusias karena bisa menatap hamparan rumput dan pepohonan di halaman itu.

Hendra adalah seorang dosen dan Marisa seorang pengarang. Biasanya, pukul 9 malam Hendra sudah tidur di kamar belakang. Sedangkan Marina menulis cerpen, novel, atau tulisan lainnya di kamar depan sampai pukul 2 dini hari.

Seperti biasa, alarm di smartphone Hendra berdering pada pukul 3 dini hari. Itu kebiasaan Hendra sejak lajang. Lelaki itu lantas bangun, sementara Marina masih terlelap. 

Hendra melangkah ke dapur, memanaskan air. Mengambil cangkir, kopi, gula, dan sendok dari lemari dapur yang menempel di dinding; menaruhnya satu-satu ke meja berbentuk lingkaran kecil. Sambil menunggu air mendidih, Hendra membuka laptop, bersiap mengetik materi kuliah hari itu.

Suara langkah kaki dari luar dapur membuat Hendra berhenti mengetik. Hendra menoleh, tampak remang di sana.

“Marisa? Kaukah itu?” panggilnya.

Hendra beranjak menuju ruang tengah. Ia membiarkan ruangan itu tetap temaram. Ia mendekat ke kamar depan dekat ruang tamu. Ia ingat, di kamar depan ada sebuah lemari pakaian yang masih kosong. Sebuah springbed ukuran kecil tempat istrinya biasa berbaring sejenak melepas penat setelah mengarang. Di dekat jendela ada meja tempat Marisa biasa menulis cerpen.

Hendra melihat pendar cahaya dari sela pintu kamar depan. Hendra yakin telah mematikan lampu kamar itu, sebelum tidur. Siapa yang telah menyalakan lampu kamar depan? 

Hati-hati Hendra membuka pintu kamar depan dan jantungnya serasa berhenti. Di kamar itu, duduk seorang anak lelaki kecil menghadap meja sedang membaca buku. Anak itu menoleh, wajahnya seputih kapas, menatap tajam pada Hendra.

Hendra gemetar, menutup pintu, hendak berlalu tetapi tak mampu mengerakkan kaki. Pintu kamar terbuka sendiri, anak kecil itu berdiri di ambang pintu, menatap Hendra. Anak itu tersenyum kaku, dan melalui gerakan tangan ia meminta Hendra untuk masuk ke kamar. Hendra menurut tanpa tahu mengapa ia melakukannya.

Anak itu menunjuk kursi dekat meja, meminta Hendra untuk duduk. Ia mengambil buku di meja, membuka-buka halaman buku itu, lalu menyerahkan pada Hendra. Anak itu duduk di tepi ranjang, diam memandang Hendra seperti menunggu sesuatu.

“Kamu siapa?” tanya Hendra lirih.

Anak itu menunjuk dada kirinya. Hendra membaca tulisan bordir di piyama biru yang dikenakan anak itu.

“Alex. Namamu Alex?” tanya Hendra.

Anak itu mengangguk, lalu diam dan menatap Hendra. Ia menunjuk buku yang dipegang Hendra.

“Kamu meminta saya membaca buku dongeng ini?”

Anak itu mengangguk.

Hendra menatap buku itu yang sudah terbuka pada halaman 10. Kancil dan Buaya, Hendra menggumamkan judul dongeng pada halaman itu. Lalu ia mulai membacakan dongeng untuk anak itu.

Lima menit kemudian pintu kamar itu terbuka. Muncul Marisa dengan wajah bertanya. Hendra gugup, buku di tangannya jatuh ke lantai kamar.

“Kamu sedang apa?” tanya Marisa, mengedarkan pandangan ke penjuru kamar.

“Aku?” Hendra memungut buku dari lantai dan spontan menoleh ke arah ranjang. Tak ada siapa pun di ranjang itu. “Sedang membaca buku dongeng,” Hendra berusaha tersenyum, dan diam-diam melirik ranjang. Ke mana anak kecil itu?

Marisa menatap Hendra seperti menyelidik. 

“Ya, sudah,” kata Marisa. “Lain kali jangan tinggalkan kompor yang menyala. Bahaya.”

Hendra tersadar dan ingat dengan dapur, kompor, dan kopi.

“Apakah air sudah mendidih?” tanya Hendra.

“Tentu saja,” sahut Marisa. “Berapa lama kamu memanaskan air? Ketel menjerit begitu keras, membuatku terbangun.”

Dalam hati Hendra berkata, itu alarm yang manjur untuk membangunkanmu. Tetapi ia tidak mengucapkan pikirannya itu. Ia bergegas menuju dapur dan Marisa menyusul di belakang. Sudah ada dua cangkir kopi di meja dapur.

“Kamu yang membuatnya?” tanya Hendra.

“Apa kamu punya istri lain yang siap membuatkan kopi?” sahut Marisa, duduk di hadapan Hendra. Hendra tersenyum, mengangkat cangkir, menghirup aroma kopi, lalu menyeruputnya pelan-pelan. 

“Akan kukatakan sesuatu padamu,” kata Hendra, menatap Marisa. “Kalau kita punya anak, kamar mana untuk anak kita?”

“Aku belum memikirkannya,” jawab Marisa, menyeruput kopi.

“Kamu harus memikirkannya,” Hendra memegang tangan Marisa. “Menurutku kamar depan untuk anak kita.”

“Jangan,” sergah Marisa.

“Mengapa?”

“Maksudku,” Marisa memperbaiki posisi duduknya. “Sesekali bolehlah kita pakai kamar depan untuk anak kita. Tetapi, menurutku, kamar tengah lebih cocok untuk anak kita. Kamar tengah dekat dengan kamar kita. Kalau perlu kita buatkan pintu penghubung, agar kita dapat memantau anak kita setiap saat.”

“Mengapa bukan kamar depan?” tanya Hendra.

“Kamar depan untuk ruang kerjaku merangkap kamar tamu.”

Hendra mengangguk-angguk. Itu alasan yang logis dan ilmiah.

“Baiklah,” kata Hendra mengakhiri diskusi. “Kamar tengah untuk anak kita, kamar depan untuk ruang kerja merangkap kamar tamu.”

***
Sebagai seorang pengarang, Marisa tak punya jam kerja layaknya dosen seperti Hendra. Setiap saat adalah jam kerja baginya. Tetapi, seperti orang kebanyakan, Marisa punya kebiasaan. 

Usai makan malam, perempuan 26 tahun itu masuk ke kamar depan dekat ruang tamu. Menulis cerpen, novel, artikel, atau apapun yang ingin ia tulis, biasanya sampai pukul 2 dini hari kemudian menyusul Hendra di kamar belakang untuk tidur. Bangun pukul 5 pagi ketika Hendra mencium pipi atau bagian tubuh lainnya.

Sementara Marisa menulis di kamar depan, Hendra duduk di ruang tengah menonton televisi. Sebenarnya, lelaki 30 tahun itu tidak benar-benar menonton televisi. Ia selalu berpikir untuk menceritakan pada Marisa tentang kamar depan dan anak kecil berpiyama biru, yang selalu ia temukan tiap dini hari. Tetapi, Hendra tak mau Marisa takut lalu meminta pindah. Hendra sudah cocok dan nyaman dengan rumah itu.

Berpikir demikian, Hendra memilih untuk menyimpan rahasia tentang hantu kecil di kamar depan.

Minggu pagi. Usai jalan-jalan, Marisa menuju dapur untuk menyiapkan sarapan. Hendra duduk di teras, menunggu loper datang mengantarkan koran. Tak lama kemudian, loper itu pun datang. Hendra langsung mencari halaman sastra dan menemukan cerpen berjudul Anak Lelaki Berpiyama Biru karya Marisa Handayani.

Pada satu bagian cerpen itu tertulis: 

Malam itu hujan turun begitu hebat, keluarga itu hendak berangkat tidur. Suami dan isterinya menuju kamar di bagian belakang, sedangkan si anak yang berusia 10 tahun ke kamar depan dekat ruang tamu.

Entah bagaimana caranya, muncul dua orang berpenutup kepala dari arah dapur yang gelap. Mereka menyekap suami istri itu di kamar. Mengikat dengan tali yang telah mereka persiapkan. Seorang dari tamu tak diundang itu hendak membekap mulut suami istri itu dengan lakban, ketika tiba-tiba muncul si anak yang langsung memukul-mukul orang itu.

“Alex, jangan!” si istri berteriak.

Tetapi terlambat, orang berpenutup kepala menepis tubuh anak kecil berpiyama biru hingga terpental ke belakang. Kepala anak itu membentur sudut meja rias, lalu terkapar di lantai dan tak bergerak.

Itu malam yang sangat mengerikan bagi suami isteri itu karena telah kehilangan anak semata wayang mereka. Anak lelaki yang meski bisu sejak lahir, tetapi sangat membahagiakan dan membanggakan bagi mereka. Kini anak lelaki kesayangan mereka itu telah tiada.

Beberapa bulan sejak kejadian itu, suami isteri itu menjual rumahnya, lalu pindah entah ke mana, tak ada yang tahu. Yang terjadi kemudian, beredar kabar bahwa di rumah itu kerap muncul penampakan seorang anak kecil berpiyama biru. Anak kecil itu selalu meminta dibacakan dongeng pada orang yang menghuni rumah itu. 
***SELESAI***
Sulistiyo Suparno, penulis cerpen kelahiran Batang, 9 Mei 1974. Cerpen-cerpennya tersiar di Jawa Pos, Suara Merdeka, Kedaulatan Rakyat, Minggu Pagi, Solopos, dan media cetak lainnya. Sehari-hari membantu istri jualan soto ayam. Bermukim di Limpung, Batang, Jawa Tengah.

Bagikan Artikel Ini
img-content
Sulistiyo Suparno

Penulis Indonesiana

0 Pengikut

img-content

Menari Bersama Bidadari

Sabtu, 21 Oktober 2023 13:57 WIB
img-content

Jangan Pacari Kakakku

Senin, 16 Oktober 2023 09:43 WIB

Baca Juga











Artikel Terpopuler











Terpopuler di Peristiwa

img-content
img-content
img-content
img-content
img-content
Lihat semua