Demit Berambut Api

Rabu, 13 September 2023 21:10 WIB
Bagikan Artikel Ini
img-content0
img-content
Iklan
Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Dari balik pohon-pohon karet bermunculan makhluk bertubuh pendek dan hitam, mata merah menyala, dan berambut api yang berkobar-kobar. Tempat itu seketika terang benderang. Puluhan bahkan mungkin ratusan makhluk berambut api itu mengarahkan pandangan pada Arifin yang duduk bersila di gubug. Serempak mereka mendekat ke gubug dengan gerakan mengendap-endap seperti sedang mengintai mangsa.

Arifin menghentikan Vario merahnya setelah keluar dari jalan raya. Di depannya terbentang jalan berbatu, di kanan kirinya hutan karet. Sepuluh kilometer lagi ia akan sampai ke desa Sumurwatu. Lelaki 27 tahun itu menarik napas panjang, memantapkan hati dan mengumpulkan keberanian. Setelah berdoa, ia melajukan motornya hati-hati.

Sekitar 700 meter memasuki hutan karet, ban belakang motor Arifin bocor. Arifin bimbang, haruskah ia kembali ke jalan raya dan mencari tempat tambal ban? Tetapi, pikiran lain membulatkan tekad untuk terus melanjutkan perjalanan. Arifin menuntun motornya dalam keadaan mesin hidup agar lampu depan menyala. Ia berharap menemukan tempat tambal ban.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

“Ya, Allah, bila hamba punya kebaikan, tolong, jadikan kebaikan itu untuk menolongku keluar dari kesulitan ini,” Arifin menggumamkan doa.

Arifin nyaris putus asa. Hampir satu kilometer ia menuntun motor, tetapi belum juga bertemu tempat tambal ban. Haruskah ia menuntun motor sepanjang berkilo-kilometer lagi? Kembali, Arifin memanjatkan doa yang sama.

Peluh membasahi wajah dan kemeja koko Arifin. Ia membuka ritsleting jaket hitamnya, agar tubuhnya mendapatkan angin segar. Pada saat itulah semangat Arifin terbit lagi. Ia melihat seberkas cahaya di kejauhan. Ia bergegas menuntun motornya. Alhamdulillah, cahaya itu berasal dari sebuah gubug bertuliskan: Tambal Ban.

Gubug itu kecil, sekira 2 x 3 meter, terbuat dari kayu yang tampak kusam dan kelam. Ada sebuah bilik dan ruang terbuka di mana terdapat sebuah divan kayu sengon dan bertikar pandan.

Di atas divan tergantung lampu yang sinarnya temaram, mungkin lampu 5 watt. Di tepi divan, duduk seorang lelaki tua, kurus, dan berwajah pucat. Mungkin lelaki tua itu selalu begadang menunggu lapak tambal bannya, sehingga wajahnya seperti tak berdarah. Lelaki tua itu tampak melamun dan tak menyadari kehadiran Arifin.

“Assalamu’alaikum. Biasa bantu saya, Mbah?” sapa Arifin, kakinya sigap menjungkit standar samping motornya. “Ban belakang motor saya bocor, Mbah.”

Lelaki tua itu tidak menjawab salam, tetapi menoleh dan menatap Arifin. Arifin tertegun, dadanya berdebar, melihat sepasang mata lelaki tua itu begitu cekung sehingga tampak seperti tak punya bola mata.

Lelaki tua itu berdiri, mendekati motor Arifin dan mengamati ban belakang.

“Silakan duduk,” kata lelaki tua, suaranya berat dan tanpa eskpresi. Ia mengeluarkan peralatan tambal ban dan segera menunaikan tugasnya.

Arifin duduk di divan. Mengamati sekeliling. Gelap dan sepi sekali. Bagaimana lelaki tua itu sanggup hidup di tempat seperti ini, pikir Arifin. Arifin mengeluarkan ponsel dari saku jaket, hendak menghubungi seseorang untuk mengabarkan mungkin dirinya akan datang terlambat. Tetapi, tak ada sinyal.

Arifin melihat jam di ponselnya; pukul 19.05. Oh, sudah masuk isya. Ia bertanya pada lelaki tua itu pakah punya air untuk wudu? Lelaki tua itu menunjuk galon air mineral yang dilengkapi kran di sudut gubug.

“Tapi itu air untuk minum, Mbah,” kata Arifin.

“Pakai saja,” sahut lelaki tua.

Arifin menurut, memakai air mineral itu untuk wudu, lalu salat isya di divan sengon itu. Usai salat, ia berzikir. Ia begitu khusyuk beribadah, sehingga tidak menyadari yang terjadi di sekelilingnya.

Dari balik pohon-pohon karet bermunculan makhluk bertubuh pendek dan hitam, mata merah menyala, dan berambut api yang berkobar-kobar. Tempat itu seketika terang benderang. Puluhan bahkan mungkin ratusan makhluk berambut api itu mengarahkan pandangan mereka pada Arifin yang duduk bersila di gubug. Serempak mereka mendekat ke gubug dengan gerakan mengendap-endap seperti sedang mengintai mangsa.

Langkah mereka terhenti ketika lelaki tua di gubug itu berdiri di dekat motor. Lelaki tua itu menggeram, bersuara dengan nada tertentu, seakan sedang bicara dengan makhluk berambut api.

“Dia orang baik. Jangan ganggu dia!” kata lelaki tua.

Satu makhluk berambut api melompat mendekati lelaki tua.

“Dia tampan. Aku akan membawanya untuk kujadikan suami anakku,” kata makhluk itu.

“Ini wilayahku. Jangan ganggu dia!” sahut lelaki tua.

“Baik. Aku akan membawanya setelah pergi dari sini.”

“Silakan, bila ia menoleh ke belakang saat kalian kejar. Bila tidak, maka aku akan menjaganya,” kata lelaki tua.

“Baik! Akan kubuat dia menoleh ke belakang. Anakku pasti senang mendapatkan suami tampan,” sahut makhluk itu, lalu melompat mundur dan memberi kode dengan tangan pada teman-temannya sesama makhluk berambut api. Merekapun menghilang dalam sekejap.

Arifin membuka mata usai berzikir. Ia beranjak mendekati lelaki tua yang telah merapikan peralatan tambal ban.

“Sudah selesai, Mbah?”

Lelaki tua mengangguk.

“Terima kasih, Mbah. Berapa, Mbah?”

“Bawa saja.”

“Maksud, Mbah?”

“Cepatlah pergi dari sini. Apapun yang terjadi, jangan sekalipun kamu menoleh ke belakang!”

“Kenapa, Mbah?”

“Cepat pergi dari sini!” perintah lelaki tua.

Arifin menurut. Setelah mengucapkan terima kasih, ia bergegas melanjutkan perjalanan. Melajukan motor dengan kecepatan sekitar 50 km/jam dan berharap sampai ke tujuan sebelum pukul 20.00.

Dari spion kanan dan kiri, Arifin melihat makhluk berambut api muncul dari balik pepohonan karet. Makin lama makin banyak, melompat, berlari mengejar Arifin. Pemuda itu sudah mengetahui hal itu akan terjadi. Ia tahu tentang mitos demit berambut api yang muncul di hutan karet. Sekarang ia mengalami sendiri dikejar demit-demit itu.

Arifin teringat pesan lelaki tua penambal ban. Arifin mengarahkan pandangannya ke depan. Tak sekalipun ia berniat menoleh ke belakang. Bila ia menoleh ke belakang, maka dedemit itu akan membawanya ke alam lain. Dedemit itu hanya menggoda, sepanjang Arifin tidak menoleh ke belakang.

Meski begitu, sebagai manusia normal, dada Arifin berdebar kencang mengalami kejadian mistis itu. Arifin melafazkan doa-doa, memohon kekuatan batin pada Sang Ilahi. Ia menambah kecepatan motornya.

Tetapi semakin kencang motornya melaju, semakin banyak dedemit itu bermunculan dari balik pohon karet. Sekarang hutan karet itu menjadi benderang. Arifin dapat melihat jalanan dengan jelas, sehingga tanpa ragu ia terus menambah kecepatan motornya. Dedemit itu masih mengejar Arifin seperti srigala mengejar mangsa.

Sekilas, Arifin melirik speedometer. Astaga, 120 km/jam! Meski begitu ia dapat menguasai laju kendaraannya, menikung dengan mudah, meliuk-liuk seperti pembalap. Subhanallah, kekuatan apa yang membuatnya begitu lihai mengendari motornya?

Di depan sudah tampak kerlip lampu dari rumah penduduk. Arifin melirik spion kanan, dedemit itu telah berkurang, dan semakin dekat Arifin ke perkampungan, dedemit itu pun menghilang.

Arifin sampai di rumah Pak Karmijan, orang yang mengundangnya untuk mengisi pengajian. Malam ini Pak Karmijan mengadakan walimahan pernikahan putri sulungnya.

Alhamdulillah, Pak Ustaz sudah datang,” ucap Pak Karmijan, setelah Arifin memarkirkan motor. “Tadi saya menelepon Pak Ustaz, tapi tidak nyambung.”

“Maaf, Pak. Tadi saya juga hendak nelpon Bapak, tapi tak ada sinyal,” sahut Arifin.

“Ya, sudah, yang penting Pak Ustaz sudah datang. Mari, Pak. Para tamu sudah menunggu, sudah jam 8 lebih,” kata Pak Karmijan. Lelaki paro baya itu terkejut ketika melihat kondisi motor Arifin.

“Apa yang terjadi dengan motor Pak Ustaz?” tanya Pak Karmijan.

“Maksud Pak Karmijan?”

“Lihat, Ustaz,” kata Pak Karmijan. “Saya tak habis pikir, bagaimana Ustaz bisa pergi dengan ban motor seperti ini?”

Arifin membelalak melihat motornya. Ban belakang robek, velg penyok dan beberapa jerujinya patah. Begitu pula ban depan, sama hancurnya.

Subhanallah,” gumam Arifin.

“Apa yang terjadi, Ustaz? Ustaz bertemu dedem....”

“Nanti saya ceritakan,” sahut Arifin, lalu beranjak menuju mimbar siap mengisi pengajian.

Diam-diam Arifin juga bertanya dalam hati. Apa yang membuat motornya melaju demikian kencang seperti terbang? Dan, ketika teringat pada lelaki tua penambal ban, dada Arifin berdebar dan tengkuknya merinding.

***SELESAI***

Bagikan Artikel Ini
img-content
Sulistiyo Suparno

Penulis Indonesiana

0 Pengikut

img-content

Menari Bersama Bidadari

Sabtu, 21 Oktober 2023 13:57 WIB
img-content

Jangan Pacari Kakakku

Senin, 16 Oktober 2023 09:43 WIB

Baca Juga











Artikel Terpopuler











Terpopuler di Peristiwa

img-content
img-content
img-content
img-content
img-content
Lihat semua