Kecupan Rere

Kamis, 14 September 2023 07:24 WIB
Bagikan Artikel Ini
img-content0
img-content
Iklan
img-content
Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Juna berjanji pada lelaki berbadan tegap itu untuk tidak mencium Rere. Namun, apa yang terjadi?

Juna berdiri di teras sebuah rumah yang dindingnya bercat merah bata. Tak ada bel di sekitar pintu, sehingga Juna harus mengetuk, mungkin dengan ketukan yang keras, karena pintu rumah itu tampak tebal dan kokoh. Bila pintu itu terbuka, Juna akan berhadapan dengan sosok tinggi, tegap, tegas. Juna menghela napas sebagai persiapan akhir sebelum tangannya mengetuk pintu.


Menunggu beberapa saat, Juna menghela napas lagi untuk menenangkan dadanya yang berdegup-degup.


Pintu terbuka. Di hadapannya berdiri sosok seperti yang Juna bayangkan. Sosok itu lelaki berkaos oblong doreng hijau, menatap tajam pada Juna.


“Selamat siang, Om,” Juna sedikit membungkukkan badan dan mundur selangkah. Jantungnya berdebar, tetapi ia tak mau gentar. Juna sudah tahu siapa lelaki yang berdiri di depannya, dan sudah mempersiapkan segalanya untuk menghadapi lelaki itu.


“Siang,” lelaki doreng itu menatap Juna.


“Rere ada, Om?”


Sosok di hadapan Juna itu lelaki bertubuh tinggi dan tegap, mengamati Juna dari kaki hingga kepala. Juna berusaha tenang, karena yakin telah tampil serapi mungkin. Ujung baju seragam yang semula ia keluarkan, telah ia selipkan ke dalam pinggang celana. Ia telah pula menyisir rambut dengan jari-jari tangannya.


“Ada. Kamu siapa?”


“Saya Juna, Om. Teman sekelas Rere.”


“Ada perlu apa?” sahut lelaki itu, lalu dengan gerakan mata, ia berkata: “Duduk.”
Juna menurut. Ia duduk di kursi di sudut teras, sementara si tuan rumah duduk di kursi dekat pintu. Juna duduk dengan posisi tegak, tanpa menyandarkan punggung, meniru cara duduk si tuan rumah.


“Tadi kau bilang, kau teman Rere?” lelaki itu menoleh, masih dengan posisi duduk tanpa menyandarkan punggung.


“Ya, Om.”


“Teman atau pacar?”


Juna gugup. Tangannya gemetar.


“Mm, ...anu, Om....”


“Jangan bohong, teman atau pacar?”


“Saya...pacar Rere, Om,” Juna menundukkan kepala.


“Jangan menunduk. Tatap saya!”


Juna menegakkan kepala.


“Sudah pegang tangan Rere?” tanya lelaki itu, tatapannya menyelidik.


“Apa, Om?”


“Kamu sudah pegang tangan anak saya?”


Juna berpikir sejenak.


“Sudah, Om. Sekali. Waktu menyeberang jalan hendak ke Gramedia.”


“Sudah cium Rere?”


Kening Juna berkeringat.


“Belum, Om,” suara Juna bergetar.


“Bagus! Berani kau cium Rere, saya hajar kamu!” lelaki itu mengepalkan tangan kanan lalu memukul paha kanannya sendiri.


“Ingat itu!” katanya tegas.


“Ya, Om.”


“Janji?”


“Janji apa, Om?” tanya Juna, bingung.

“Bahwa kau tidak akan mencium anak saya!”


“Ya, Om. Saya janji.”


Lelaki itu berdiri.


“Berdiri!” perintahnya.


Juna menurut. Ia berdiri berhadapan dengan lelaki itu.


“Ikuti kata-kata saya!”


“Siap, Om.”


“Saya berjanji tidak akan mencium Rere. Bila saya melanggar janji saya, maka saya siap untuk tidak bertemu Rere selamanya.”


Juna menirukan kata-kata itu.


“Bagus!” lelaki itu duduk, lalu memerintahkan Juna untuk duduk pula.


Keringat sudah membasahi wajah Juna. Juna hendak menyeka keringat, tetapi ia takut bila tindakannya dianggap salah oleh purnawirawan tentara di depannya itu.


“Kamu ingin bertemu Rere?”


“Ya, Om. Tadi Rere tidak masuk sekolah. Saya coba hubungi, tapi hape Rere nggak aktif, Om.”


“Rere masih tidur, istirahat. Dia demam. Semalam dia tidur lupa menutup jendela kamar. Saya suruh dia mematikan hape, biar tenang istirahatnya.”


“Oh, maaf kalau saya mengganggu, Om.”


“Tidak apa. Sekarang kau pulang saja. Biarkan Rere istirahat.”


“Ya, Om. Kalau begitu saya permisi dulu, Om.” Juna bangkit, lalu mencium tangan lelaki itu. Juna membungkukkan badan ketika berpamitan.


Juna mendekati Satria hitamnya di halaman. Menungganginya, memakai helm half face berkaca hitam, memencet tombol starter. Mesin motor menderu sesaat.


“Tunggu!”


Juna mematikan mesin motornya. Menarik ke atas kaca helmnya.


“Ya, Om?”


“Kau pemuda jujur, kau jantan. Tolong jaga Rere dengan baik. Dan ingat selalu janjimu!”
Juna tersenyum dan mengangguk. Menghidupkan lagi mesin motornya, lalu melajukannya meninggalkan rumah itu. Hari masih siang. Cuaca masih panas, tapi hati Juna terasa sejuk.
***
Juna duduk di lantai gazebo di halaman belakang rumah. Luas gazebo itu sekira 3 x 3 meter, terbuat dari kayu jati pilihan, berbentuk joglo. Tak ada kursi, hanya ada meja kecil dengan kaki-kaki rendah, berada di tengah-tengah lantai. Lantainya terbuat dari kayu pula, sehingga hangat dalam cuaca apapun.


Juna duduk bersandar pada dinding gazebo yang terbuat dari anyaman bambu. Sementara kedua kakinya selonjor. Pergelangan kaki kanannya berbalut gips. Kemarin Juna jatuh dari motor ketika menghindari kucing yang melintas tiba-tiba di jalan dekat rumah. Hari ini Juna tidak masuk sekolah.


Hari ini seseorang akan menengoknya. Juna memilih menunggu di gazebo agar ia bisa menyelonjorkan kaki kanannya.


“Halo, ganteng.”


Juna menoleh. Seseorang yang dinanti telah datang.


Rere tersenyum menampakkan deret giginya yang putih dan rapi. Beberapa helai ujung rambutnya berkibar terhembus angin sore. Rere duduk di dekat Juna.


“Bagaimana kakimu?”


“Masih sakit. Tapi melihat senyum kamu, rasa sakit itu hilang.”


“Gombal,” Rere mencubit lengan Juna.


Rere menaruh plastik putih bawaannya di meja, lalu membuka isinya. Hmm, beberapa buah jeruk, kulitnya yang oranye tampak begitu segar. Rere mengambil satu jeruk, lalu mengupasnya.


“Aku suapi, ya?”


Juna mengangguk.


Jarak Juna dan Rere begitu dekat. Juna dapat mencium harum tubuh Rere. Juna menatap lekat-lekat wajah kekasihnya. Sepasang mata Rere yang bercahaya, hidung yang mancung, bibir yang merah merekah, membuat jantung Juna berdegupan.


Lalu mereka saling bertatapan. Juna mendekatkan wajah, sementara jantungnya berdegup makin kencang. Rere memejamkan mata, seakan siap menerima apa yang akan terjadi selanjutnya. Ketika wajah mereka makin dekat, tiba-tiba Juna menarik wajahnya.


“Tidak,” seru Juna memalingkan wajah.


Rere membuka mata.


“Kenapa?” tanya Rere seperti kecewa.


“Aku sudah berjanji pada ayah kamu. Aku tidak akan mencium kamu.”


Rere tersenyum.


“Oh, tentang itu?”


“Kamu sudah tahu?” Juna menatap Rere.


Rere mengangguk.


“Ayah sudah cerita. Kata ayah, kamu cowok jujur, cowok jantan. Sekarang pun kamu sudah membuktikan, kalau kamu cowok jantan.”


Juna bergerak memperbaiki posisi duduknya, sedikit menjauh dari Rere. Tetapi Rere malah mendekat, seakan sengaja mengejar Juna. Lalu Rere melancarkan gerakan yang tak terduga oleh Juna.


Cup! Sebuah kecupan dari Rere mendarat di pipi kiri Juna.


Juna membelalak.


“Rere...kamu....”


“Kamu yang berjanji tidak akan mencium aku, tapi aku tidak,” Rere tersenyum dan matanya bergerak-gerak nakal. “Ayah tidak memintaku berjanji untuk tidak mencium kamu. Mungkin ayah lupa.”


Kali ini Juna yang tersenyum. Juna tidak lagi memperbaiki posisi duduknya agar menjauh dari Rere. Juna membiarkan Rere mendekatkan jarak dengan dirinya. Juna sudah siap bila Rere akan mengecupnya lagi. Juna sudah siap, benar-benar sudah siap.

***SELESAI***
Sulistiyo Suparno, lahir di Batang, 9 Mei 1974. Karyanya berupa cerpen tersiar di koran Radar Bromo, Solopos, Suara Merdeka, Minggu Pagi, dan media lainnya. Juga menulis dongeng yang tersiar di majalah Bobo, Suara Merdeka, Solopos, dan media lainnya. Sehari-hari membantu istri jualan soto ayam. Bermukim di Limpung, Batang, Jawa Tengah.

Bagikan Artikel Ini
img-content
Sulistiyo Suparno

Penulis Indonesiana

0 Pengikut

img-content

Menari Bersama Bidadari

Sabtu, 21 Oktober 2023 13:57 WIB
img-content

Jangan Pacari Kakakku

Senin, 16 Oktober 2023 09:43 WIB

Baca Juga











Artikel Terpopuler











Terpopuler di Peristiwa

img-content
img-content
img-content
img-content
img-content
Lihat semua