x

Sumber foto: pixabay.com, desain dengan PowerPoint

Iklan

Sulistiyo Suparno

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 19 Juli 2023

Kamis, 14 September 2023 18:44 WIB

Cinta yang Tak Mungkin Bersatu

“Aku mencintaimu, Vemmy. Aku mencintaimu....”

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Malam ini Marina mengajakku nonton balap liar di Jalan Arteri. Banyak anak muda di sana. Sungguh, aku cemas berada di sana.


“Nanti kalau ada razia, bagaimana?” tanyaku.


“Tenang. Wali Kota sudah mengizinkan jalan ini untuk balapan, kok. Tapi dibatasi, dari jam delapan sampai dua belas malam saja. Itu pun hanya malam Minggu. Kalau di hari lain, ya kena razia,” sahut Marina.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan


Banyak motor sport berjajar di pinggir jalan. Motor-motor bagus dan mahal, kalau jatuh dan rusak, apa tidak sayang, ya? Marina menyeret tanganku. Kukira sahabatku itu hendak mencari lokasi untuk menonton. Ternyata, Marina mengajakku ke deretan motor itu. Marina menyentuh bahu seseorang yang berdiri membelakangi kami. Seseorang itu menoleh. Juna!


“Hai, apa kabar?” sapa Juna pada Marina, lalu beralih menatapku dan tersenyum. “Vemmy? Kamu datang?”


Jujur, dengan pakaian pembalap Juna tampak keren. Dadaku berdegup menatap sosok gagah di depanku. 


“A-aku...Ya, aku datang. Marina mengajakku,” Ah, tubuhku gemetar. Oh, tidak. Aku harus tenang. Diam-diam aku mengambil napas.


“Terima kasih kamu mau datang, Vemmy. Doakan, semoga aku menang, ya?” Juna menatapku. Debar di dadaku makin tak beraturan.


“A-aku...ya, semoga kamu menang,” sahutku.


Juna tersenyum bahagia, lalu berjalan menuju motornya, bersiap untuk bertanding. 
Di sampingku, Marina juga tersenyum-senyum. Aku melotot dan kuinjak kakinya. “Pasti kalian sekongkol!” kataku. Marina meringis.
***
Hatiku luluh juga. Siang ini aku menerima permintaan Juna untuk membonceng Ninja 250 hijaunya. Aku punya Vario, tetapi ibu melarang aku membawanya ke sekolah. Tiap hari aku berangkat dan pulang sekolah naik bus kota.


Juna menyerahkan helm half face pink padaku.


“Selain aku, apa ada cewek lain yang pernah pakai helm ini?” tanyaku.


“Ada dan selalu, tiap hari.”


“Siapa?” sergahku curiga.


“Adikku,” sahut Juna menyeringai. “Tapi hari ini aku sudah telpon Annisa adikku. Aku suruh dia pulang naik bus kota saja.”


“Oh,” aku tersenyum lega.


Sepanjang perjalanan, di boncengan, aku tersenyum-senyum dan menikmati debaran di dada yang membahagiakan. Juna mengendarai motornya hati-hati, seakan sedang mengantar sesuatu yang istimewa. 


Kami bercakap-cakap sebagaimana dua orang yang ingin saling mengenal. Sesekali kami tertawa. Sesekali Juna mengerem mendadak motornya, lalu aku memukul punggungnya dengan manja. Aih!


Mendekati daerah tempat tinggalku, aku meminta Juna berhenti di depan sebuah warnet.
“Sudah sampai, ya?” tanya Juna.


“Aku turun di sini saja.”


“Rumahmu mana?” Juna tengok ke segala arah.


“Sampai sini saja. Selanjutnya biar aku jalan kaki,” kataku gugup.


Rupanya Juna mengerti, dan dia pun tersenyum.


“Baiklah. Lain kali aku antar kamu sampai rumah, ya?”


Aku hanya tersipu dan mengangguk. Aku segera menyeberang. Sampai di tengah jalan, aku berhenti, menunggu lalu-lintas sepi. Dadaku berbedaran tiada henti. Apa Juna masih menatapku yang berdiri di tengah jalan, ya? Ah, aku ingin juga menatap Juna. Aku ingin sekali. Maka, kupalingkan wajahku.


Di seberang jalan, kulihat Juna masih duduk di motornya. Juna melambaikan tangan ketika melihatku menoleh. Juna meniupkan sebuah ciuman jarak jauh. Ah, wajahku terasa hangat. Tetapi aku terlalu malu untuk membalas ciuman jarak jauh itu. Aku hanya bisa tersipu. 


Tanpa sadar, aku ceroboh melangkah. Kudengar klakson menyalak panjang, sesuatu melesat cepat, kurasakan tubuhku melayang, dan detik berikutnya kurasakan kepalaku membentur sesuatu yang keras. Selanjutnya semua menjadi gelap.


Apa ini? Aku melihat Juna berteriak memanggil namaku, berlari ke tengah jalan, lalu membopong tubuh seorang gadis berseragam putih abu-abu. Kepala gadis itu berlumuran darah. Aku juga melihat sebuah motor tergeletak dan seorang pemuda terkapar di jalan.


Sebuah mobil bak terbuka berhenti. Juna dibantu beberapa orang membaringkan tubuh gadis itu ke bak mobil. Mobil melaju. Kulihat Juna duduk di samping gadis yang berbaring di bak mobil itu. Sesekali Juna memeluk gadis itu dan kudengar tangis cowok itu.


“Aku mencintaimu, Vemmy. Aku mencintaimu....”


Aku pun mencintaimu, Juna. Tetapi kita tidak mungkin bersatu. Bahkan, untuk menyentuhmu pun aku tak bisa. Kita sudah berbeda alam.
***SELESAI***

Sulistiyo Suparno, lahir di Batang, 9 Mei 1974. Karyanya berupa cerpen, dongeng, esai, tersiar di koran Radar Bromo, Suara Merdeka, Solopos, majalah Bobo, serta media lainnya, baik cetak maupun daring. Sehari-hari membantu istri jualan soto ayam. Bermukim di Limpung, Batang, Jawa Tengah.

Ikuti tulisan menarik Sulistiyo Suparno lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Terkini

Terpopuler