Menonton Televisi di Losmen

Jumat, 6 Oktober 2023 13:05 WIB
Bagikan Artikel Ini
img-content0
img-content
Iklan
Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

“Kalian harus buang televisi dari rumah kalian, atau kutukan akan datang lagi ke dusun kita!”

Saya tersiksa karena memendam rindu menonton televisi. Sejak menikahi Ningrum, anak Kepala Dusun Kamulyan, dua tahun yang lalu, hubungan saya dengan televisi terputus. 

Mbah Karmo alias kakek Ningrum, melarang warga dusun memiliki televisi. Sungguh, diam-diam saya sering berdoa agar Mbah Karmo cepat mati!

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Dahulu, beberapa warga Dusun Kamulyan memiliki televisi. Saat bapak-bapak nongkrong di warung, ibu-ibu bercengkerama di teras rumah seorang warga, anak-anak muda berkumpul di pos ronda, mereka asyik membicarakan tayangan drama atau ketoprak di televisi.

Ketika stasiun televisi swasta bermunculan, banyak warga yang membeli televisi. Acara di televisi-televisi swasta itu menarik dan lebih longgar dalam menayangkan film-film Barat.

Anak-anak muda mulai berubah. Sebagian dari mereka mengecat rambut dengan warna merah atau kuning, memakai celana jins robek, menindik telinga, para pemudi mulai berani memakai celana pendek atau kaos ketat. 

Kalau malam Minggu beberapa pemuda terlihat mabuk minuman keras di pos ronda. Bahkan, mulai ada pemudi yang hamil di luar nikah dan terpaksa keluar dari sekolah.

Mbah Karmo, saat itu masih menjadi Kepala Dusun, merasa cemas. Mbah Karmo menemui beberapa ulama di dusunnya, meminta mereka mengeluarkan fatwa haram untuk televisi, tetapi tak ada yang berani. 

Mbah Karmo mengumpulkan warga di Balai Dusun. Dengan berapi-api Mbah Karmo berpidato. 

“Apa kalian tidak menghargaiku lagi sebagai Kepala Dusun? Baiklah, itu tidak masalah. Tetapi kalian telah melupakan tradisi leluhur dusun kita, itu yang akan jadi masalah. Kalian mulai malas melakukan sedekah bumi. Kalian lebih mementingkan menonton televisi. Baiklah, kalau itu yang kalian mau, tunggu saja, bencana akan melanda dusun kita!”

Beberapa hari setelah Mbah Karmo berpidato campur amarah itu, seorang pemuda mati terpatuk kobra saat berburu burung, beberapa rumah tertimpa longsoran tebing. 

Ada lagi, sebuah mobil doplak (mobil bak terbuka) yang sarat ibu-ibu pengajian mogok di jalan menanjak, melorot lalu meluncur masuk jurang. Lima warga tewas, yang lainnya terluka parah dan cacat permanen.

Mereka yang selamat dari kecelakaan itu menemui Mbah Karmo, meminta lelaki yang gemar berolah kanuragan dan olah kebatinan itu memaafkan mereka. 

Kata Mbah Karmo, leluhur dusun mereka marah karena warga telah melupakan tradisi leluhur. Dusun mereka telah dikutuk oleh para leluhur. Warga dusun berjanji akan melakukan ritual-ritual warisan leluhur.

“Satu lagi,” kata Mbah Karmo. “Kalian harus buang televisi dari rumah kalian, atau kutukan akan datang lagi ke dusun kita!”

Untuk yang satu ini, warga bimbang. Membuang televisi, berarti mereka akan berpisah dengan artis-artis idola mereka. Tetapi, mereka merasa ngeri bila kutukan datang lagi.

Meski terpaksa, warga sepakat membuang atau menjual televisi mereka. Anak-anak menangis karena tak bisa lagi menonton Dora Emon. Selama beberapa minggu warga gelisah karena kehilangan kotak ajaib yang sekian lama telah jadi hiburan murah. Namun, lama-lama mereka jadi terbiasa dan benar-benar melupakan televisi.

Ketika Mbah Karmo lengser karena pembatasan usia, posisi Kepala Dusun digantikan oleh anaknya, Satrio alias ayah Ningrum. Tradisi hidup tanpa televisi terus berlangsung. Beberapa warga berusaha membujuk agar Satrio membatalkan aturan larangan memiliki televisi, tetapi ia tidak berani.

Kalau bertemu di sawah, beberapa warga juga membujuk saya untuk memengaruhi mertua agar membatalkan aturan yang tidak moderat itu. Apalah daya saya? 

“Kata mertua saya, selama Mbah Karmo masih hidup, mustahil kita bisa punya televisi,” kata saya mengutip ucapan mertua.

Jadi, selain saya, banyak warga yang diam-diam berdoa agar Mbah Karmo cepat mati!
***
Suatu hari, saya dan istri kondangan ke teman saya di kota. Pulang dari kondangan, istri meminta menginap di losmen, karena melelahkan kalau harus pulang hari itu juga.

Di kamar losmen itu ada televisi. Istri saya senang sekali. Ia begadang semalaman. Paginya, ketika saya sedang mengemas pakaian, istri saya merajuk.

“Jangan sekarang. Pulang besok atau lusa saja, ya, Mas?”

Saya menatap beberapa saat wajah istri yang memelas. Sorot matanya menyimpan harap sepenuh hati. Saya mengangguk. Anggaplah kami berbulan madu kedua, dan siapa tahu di losmen ini istri saya bisa hamil. Hahaha! 

Istri melonjak dan memeluk saya. 

Seperti dendam, istri saya menuntaskan hasrat hiburannya. Ia memainkan remote control sesuka hati, sepanjang waktu. Istirahat sejenak untuk salat, makan, mandi. Begitu pula saya. Setelah itu kami duduk lagi di ranjang dan sesekali berebut remote control. 

Tiga hari kami menghabiskan waktu menonton televisi di losmen. Pada hari keempat, kami bersiap untuk pulang. Ponsel istri saya berdering. Istri saya tampak tegang.

“Ada apa?” tanya saya.

“Bapak nelpon. Kakek meninggal. Terpeleset di kamar mandi.”

“Innalillahi ...”

Saya dan istri bertatapan. Entah siapa yang memulai, kami serempak mengucap, “Alhamdulillah.”
***SELESAI***

Bagikan Artikel Ini
img-content
Sulistiyo Suparno

Penulis Indonesiana

0 Pengikut

img-content

Menari Bersama Bidadari

Sabtu, 21 Oktober 2023 13:57 WIB
img-content

Jangan Pacari Kakakku

Senin, 16 Oktober 2023 09:43 WIB

Baca Juga











Artikel Terpopuler











Terpopuler di Peristiwa

img-content
img-content
img-content
img-content
img-content
Lihat semua