x

Aspal. Ilustrasi Pembangunan Jalan

Iklan

Indŕato Sumantoro

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 12 Juli 2020

Rabu, 18 Oktober 2023 13:32 WIB

Aspal Impor dan Aspal Buton di Mata dan Hati Pemerintah Indonesia

Bagaimana kalau pemerintah berani memberikan solusi, kesempatan, dan peluang, kepada para calon Investor untuk mau berinvestasi di bidang industri hilirisasi aspal Buton. Tetapi produk hasil dari industri hilirisasi aspal Buton ini hanya untuk tujuan ekspor saja. Tidak boleh untuk digunakan di dalam negeri. Di dalam negeri harus menggunakan produk aspal impor.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Usia aspal Buton tahun depan akan genap 1 abad. Tetapi mirisnya, aspal Buton masih belum mampu mensubstitusi aspal impor. Siapakah yang harus paling bertanggung jawab mengenai masalah ini? Sudah tentu pemerintah Indonesia? Pemerintah itu siapa? Pemerintah itu adalah organisasi yang memiliki kekuasaan untuk membuat dan menetapkan hukum bersama Undang-Undang serta kewenangan untuk mengatur komunitas di wilayah tertentu, atau negara.

Indonesia sudah 78 tahun merdeka. Tetapi memerintah lebih senang mengimpor aspal daripada mau memanfaatkan aspal Buton. Dan Indonesia sudah mengimpor aspal selama 43 tahun lebih. Sampai kapankah Indonesia akan mengimpor aspal terus? Kelihatannya sampai waktu yang tidak terbatas. Karena sampai saat ini masih belum ada pernyataan resmi dari pemerintah mengenai kapan Indonesia akan berswasembada aspal.

Sebenarnya apa sih maunya pemerintah, mengapa lebih suka mengimpor aspal, daripada memanfaatkan aspal Buton? Sudah jelas bahwa impor aspal itu pasti untung besar. Sedangkan kalau mau memproduksi aspal Buton sendiri, belum tentu untung. Jadi mengapa yang dilihat oleh pemerintah adalah mengenai aspal impor versus aspal Buton hanyalah masalah untung versus rugi? Mengapa tidak melihat aspal Buton dari sudut pandang antara produk impor versus produk lokal? Mengapa tidak melihat aspal Buton dari sisi bahwa impor itu adalah menjajah negeri sendiri secara ekonomi versus swasembada aspal adalah harga diri dan berdaulat? Dan yang paling penting dan utama adalah memanfaatkan aspal Buton itu adalah amanah UUD’45, Pasal 33, Ayat 3.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Rasanya tidak mungkin pemerintah tidak paham sama sekali mengenai amanah UUD’45, Pasal 33, Ayat 3. Sejatinya apa tujuan pemerintah mengimpor aspal? Sedangkan deposit aspal alam di Pulau Buton jumlahnya sangat melimpah. Jawaban klasik pemerintah adalah karena produk aspal Buton masih belum mampu bersaing dengan produk aspal impor, baik dari volume, harga, maupun kualitas. Padahal sudah banyak penelitian yang menyatakan dan membuktikan bahwa kualitas aspal Buton lebih baik daripada kualitas aspal impor. Dan harga aspal Buton bisa lebih murah daripada harga aspal impor. Lalu alasan-alasan lain apa lagi yang akan dikatakan oleh pemerintah?

Pak Jokowi telah datang ke Pulau Buton pada tanggal 27 September 2022. Dan pak Jokowi sudah memutuskan akan stop impor aspal pada tahun 2024. Apa latar belakang, dasar pemikiran, dan alasan tehnis, pak Jokowi akan stop impor aspal pada tahun 2024? Apakah dengan stop impor aspal, otomatis aspal Buton akan mampu mensubstitusi aspal impor? Logika dan akal sehat mana yang telah digunakan oleh pak Jokowi? Dan anehnya lagi, setelah pak Jokowi memutuskan akan stop impor aspal, tidak ada penjelasan sedikitpun lebih lanjut mengenai apa tindak lanjut, rencana taktis dan strategis, dan upaya mitigasi yang akan dilakukan oleh pemerintah untuk mempersiapkan diri dalam menghadapi momentum akan stop impor aspal pada tahun 2024 tersebut.

Dari fakta tak terbantahkan ini telah menunjukkan dengan jelas bahwa Indonesia sudah mengimpor aspal selama 43 tahun lebih. Dan Indonesia tidak memiliki target yang jelas dan terukur kapan akan berswasembada aspal. Dan juga tidak ada persiapan yang jelas dan terukur untuk menghadapi momentum Indonesia akan stop impor aspal pada tahun 2024. Maka dapat disimpulkan bahwa pemerintah memang telah menutup mata, dan lari dari kenyataan, bahwa sejatinya aspal Buton memiliki potensi besar untuk mensubstitusi aspal impor.

Mengapa pemerintah selama ini selalu mengabaikan potensi aspal Buton yang besar untuk mensubstitusi aspal impor? Adapun, oleh karena pemerintah sendiri tidak pernah mau menjelaskan kepada rakyat, maka rakyat hanya bisa menduga-duga, dan berprasangka saja. Seperti isu-isu yang telah berkembang di tengah-tengah masyarakat, Indonesia mengimpor aspal dari Singapura, dan negara-negara lain. Jumlahnya cukup signifikan, 1,2 juta ton per tahun. Aspal minyak adalah ampas atau residu dari hasil proses pengilangan minyak. Harga aspal minyak bergantung sekali kepada harga minyak bumi dunia. Sehingga apabila harga minyak bumi naik, maka harga aspal minyak juga naik. Tetapi ingat, aspal minyak itu sebenarnya adalah ampas atau residu dari hasil proses pengilangan minyak. Jadi secara nilai ekonomis seharus harganya rendah dan murah. Tetapi nyatanya diekspor ke Indonesia, mungkin dengan harga yang sangat tinggi atau mahal. Sehingga kemungkinan, keuntungan yang akan diperoleh para importir aspal adalah sangat besar. Dan mungkin juga bahwa hal ini yang telah terjadi dan memicu bahwa Indonesia sudah meng impor aspal selama 43 tahun lebih, dan sampai saat ini masih belum memiliki target kapan akan berswasembada aspal, karena keuntungan impor aspal adalah sangat besar.

Bukti lain, adalah ketika pak Jokowi mengundang para Investor untuk berinvestasi di bidang industri hilirisasi aspal Buton, tidak ada satupun Investor yang merasa tertarik. Mengapa? Seharusnya pemerintah mencaritahu, mengapa tidak ada satupun Investor yang tertarik dengan undangan pak Jokowi ini? Mungkin para Investor sudah tahu, bahwa pemerintah tidak serius ingin membangun dan mengembangkan industri hilirisasi aspal Buton. Apa yang telah pak Jokowi katakan selama ini, kelihatannya hanya merupakan sekedar wacana dan pencitraan belaka. Karena kalau saja pak Jokowi serius ingin mewujudkan industri hilirisasi aspal Buton, maka pemerintah wajib membuat Undang-Undang: “Aspal Buton wajib diproduksi dan digunakan untuk mensubstitusi aspal impor”.

Setelah kita tahu bahwa masalah aspal impor dan masalah aspal Buton itu adalah masalah yang pelik, dan sarat politis. Tidak semudah dan sesederhana seperti apa yang terlihat dengan mata, dan dirasakan dengan hati. Apa rencana dan tindakan tegas pemerintah selanjutnya? Kalau masalah aspal impor dan masalah aspal Buton dapat diibaratkan sebagai “fenomena gunung es”, di mana di atas permukaan yang kelihatan seolah-oleh tidak ada masalah. Tetapi sejatinya yang terlihat di bawah permukaan, dan yang tidak tampak, masalahnya adalah sangat besar sekali. Mungkin oleh karena itu wakil-wakil rakyat di DPR selama ini merasa tenang-tenang saja. Karena sejatinya tidak ada masalah apa-apa yang terlihat oleh mata dan dirasakan oleh hati.

Untuk mencarikan solusi bijak dan cerdas dari permasalahan yang rumit dan kompleks sehubungan dengan aspal impor versus aspal Buton, bagaimana kalau pemerintah berani memberikan solusi, kesempatan, dan peluang, kepada para calon Investor untuk mau berinvestasi di bidang industri hilirisasi aspal Buton. Tetapi produk hasil dari industri hilirisasi aspal Buton ini hanya untuk tujuan ekspor saja. Tidak boleh untuk digunakan di dalam negeri. Di dalam negeri harus menggunakan produk aspal impor.

Silahkan pemerintah dan DPR mempelajari usulan dan gagasan inovatif dan breakthrough ini. Dengan demikian masalah aspal impor versus aspal Buton mudah-mudahan sudah dapat diselesaikan dengan baik dan adil. Dan tidak akan ada satu pihakpun yang merasa dirugikan. Apabila pemerintah dan DPR sudah setuju, maka akan banyak sekali para Investor yang berminat. Mengapa? Karena kualitas aspal Buton adalah yang terbaik di dunia. Pemerintah jangan memandang remeh dan sebelah mata dengan potensi besar dari aspal Buton yang dapat mendunia. Mudah-mudahan Presiden yang baru nanti, hasil dari Pemilu 2024, akan mampu melihat dengan mata dan merasakan dengan hati bahwa sejatinya potensi aspal Buton sejatinya adalah sangat besar di mata dan hati Dunia.

Ikuti tulisan menarik Indŕato Sumantoro lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Terpopuler