x

Aspal. Ilustrasi Pembangunan Jalan

Iklan

Indŕato Sumantoro

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 12 Juli 2020

Senin, 23 Oktober 2023 10:03 WIB

Hilirisasi vs Re-industrialisasi, Konsep Ekonomi Mana yang Paling Cocok untuk Aspal Buton?

Intinya, kalau pemerintah baru nanti benar-benar jujur dan tulus ingin berjuang dan mengabdi untuk kesejahteraan rakyat, maka pasti rakyat secara bergotong royong juga akan berjuang demi kemajuan bangsa dan negara.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Pemilihan Umum untuk memilih Presiden baru, pengganti pak Jokowi, sudah berada di depan pelupuk mata. Tahun 2024, adalah tahun politik yang sudah lama ditunggu-tunggu oleh rakyat untuk menyalurkan aspirasi rakyat dalam menentukan pilihan hati, siapakah pemimpin negara yang terbaik?. Memang tidak mudah untuk menentukan pilihan, karena semua calon presiden mengaku mereka adalah pemimpin negara yang terbaik. Jadi bagaimana cara dan kiat-kiat kita untuk mampu membedakan, siapakah calon presiden yang tulus berjuang untuk rakyat? Dan siapakah calon presiden yang berjuang untuk oligarki? Hal ini sangat menarik untuk kita kaji dan analisa bersama.

“Hilirisasi” adalah program pemerintah untuk pembangunan, kebanggaan pak Jokowi. Menurut pak Jokowi, hilirisasi nikel sudah berhasil dengan sangat sukses, dan menguntungkan negara. Oleh karena itu program hilirisasi harus dilanjutkan terus oleh presiden yang baru nanti. Apakah program hilirisasi itu? Hilirisasi adalah suatu proses transformasi ekonomi berkelanjutan dimana kebijakan industrialisasi berbasis komoditas bernilai tambah tinggi, menuju struktur ekonomi yang kompleks. Agar lebih mudah dipahami, sejatinya hilirisasi adalah proses atau strategi pemerintah untuk meningkatkan nilai tambah komoditas yang dimiliki. Dengan hilirisasi, komoditas yang tadinya diekspor dalam bentuk mentah atau bahan baku, menjadi barang jadi atau setengah jadi.

Pak Jokowi sudah berkali-kali menekankan bahwa Indonesia bakal melakukan program hilirisasi untuk semua sumber daya alam. Tidak terbatas untuk sektor pertambangan saja, tetapi juga untuk pertanian, perkebunan, kehutanan, hingga kelautan. Tetapi mengapa pak Jokowi hanya membanggakan keberhasilan dari hilirisasi nikel saja? Mana keberhasilan-keberhasilan dari hilirisasi-hilirisasi komoditas lainnya? Mana hilirisasi aspal Buton? Padahal pada tahun 2024 nanti, usia aspal Buton akan mencapai 1 abad. Tetapi mirisnya, apal Buton masih belum mampu mensubstitusi aspal impor. Apakah program hilirisasi pak Jokowi sudah terbukti benar-benar sukses, dan oleh karena itu perlu dilanjutkan?

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Salah satu calon presiden ternyata memiliki visi yang mirip dengan “hilirisasi”, yang disebut sebagai “re-industrialisasi”. Kunci dari visi re-industrialisasi ini adalah menggeser fokus kita dari sektor industri yang padat modal, ke industri yang padat karya. Hal ini didorong keras oleh keadaan ekonomi di Indonesia, dimana pada saat ini pembukaan lapangan kerja sudah dirasakan sangat penting dan mendesak sekali untuk mengurangi penggangguran yang kini menjadi masalah besar di seluruh dunia.

Indonesia memiliki sumber daya aspal alam di Pulau Buton, Sulawesi Tenggara, yang jumlah depositnya terbesar di dunia? Bukankah hal ini sungguh sangat luar biasa? Tetapi mengapa pak Jokowi telah gagal mewujudkan industri hilirisasi aspal Buton? Mungkin harus ada studi dan evaluasi khusus yang mendalam mengenai fenomena gagalnya hilirisasi aspal Buton ini di era pemerintahan pak Jokowi, untuk mencaritahu dan menentukan konsep bisnis model seperti apa, yang paling cocok untuk diaplikasikan agar aspal Buton mampu mensubstitusi aspal impor.

Apakah konsep re-industrialiasi ini cocok digunakan untuk aspal Buton? Adapun re-industrialisasi akan fokus kepada padat karya, dan bukan padat modal. Apakah industri aspal Buton ini padat karya? Berikut ini adalah pemikiran dan gagasan untuk menjadi perhatian, pertimbangan, dan tindaklanjut dari para calon presiden.

Pabrik ekstraksi aspal Buton dengan kapasitas 40.000 ton per tahun membutuhkan dana sebesar Rp 75 milyar. Jumlah karyawan sekitar 30 orang. Hal ini menunjukkan bukan padat karya. Tetapi ini padat modal. Tunggu dulu. Coba kita lihat definisi “padat karya” itu. Padat karya merupakan kegiatan pembangunan yang lebih banyak menggunakan tenaga manusia jika dibandingkan dengan tenaga mesin. Tujuan utama dari program padat karya adalah untuk membuka lapangan kerja bagi masyarakat, terutama yang mengalami kehilangan penghasilan atau pekerjaan tetap.

Dalam hal ini kita harus melihat masalah aspal Buton dari sisi lain. Pandangan dan kacamata kondisi Indonesia pada saat ini, dimana hutang negara sudah menggunung. Rakyat bertanya. Siapakah calon presiden yang tulus berjuang untuk rakyat? Dan siapakah calon presiden yang berjuang untuk oligarki? Kita pasti akan memilih calon presiden yang tulus berjuang untuk rakyat. Rakyat Indonesia sendiri. Dan bukan rakyat yang lain. Jadi sekarang bagaimana caranya agar pembangunan Indonesia tidak harus selalu bergantung kepada hutang negara kepada Investor asing, atau oligarki? Konsep re-industrialisasi mungkin adalah jawabannya.

Secara umum, pengertian “padat karya” adalah menciptakan lapangan kerja baru. Mungkin kita dapat mengembangkan wawasan kita lebih luas lagi dengan mengikuti teori “Cashflow Quadrant” dari Robert T. Kiyosaki. Mungkin pengertian padat karya dapat dianggap sebagai “Employee” (E), “Self-Employed” (SE), “Business-Owner” (B), atau “Investor” (I). Jadi selama ini pengertian kita bahwa “padat karya” itu adalah hanya sebagai “Employee” saja. Kita bekerja untuk uang. Tetapi bagaimana kalau pengertian “padat karya” sekarang kita perluas lagi, antara lain menjadi “Investor”? Uang bekerja untuk kita.

Pabrik ekstraksi aspal Buton kapasitas 40.000 ton per tahun, memerlukan dana Rp 75 milyar. Oleh karena itu, apabila satu orang Investor mau berinvestasi sebesar Rp1 milyar, maka akan diperlukan 75 orang. Dan apabila satu orang Investor mau berinvestasi sebesar Rp 5 milyar, maka akan diperlukan 15 orang. Dengan menggunakan prinsip berpikir ini, maka pabrik ekstraksi aspal Buton sudah akan dapat segera terwujud. Dan kita tidak perlu menunggu Investor besar, Investor asing, atau oligarki. Rakyat sendiri juga bisa jadi Investor, dimana uang bekerja untuk kita. Gagasan ini cocok sekali bagi rakyat Indonesia yang memiliki cukup dana untuk membantu dan menunjang pembangunan negara. Jadi intinya, Indonesia tidak harus selalu berhutang kepada Investor asing, atau oligargi. Tetapi bisa melakukan urun dana atau crowed funding , mengumpul dana untuk berinvestasi secara swadaya.

Mungkin pemikiran ini adalah masukan yang baik untuk para calon presiden Pemilu 2024 untuk tulus berjuang untuk rakyat. Pabrik ekstraksi aspal Buton kapasitas 40.000 ton per tahun adalah salah satu contoh kecil dari sekian banyak kemungkinan-kemungkinan lain untuk re-industrialisasi sektor sumber daya alam. Dimana Investornya adalah rakyat Indonesia sendiri. Bukan Investor asing, atau oligarki. Selain re-industrialisasi akan bertujuan untuk menciptakan lapangan kerja bagi “Employee”, tetapi juga untuk “Self-Employeed”, “Business-Owner”, dan “Investor”.

Sekarang bagaimana pemerintahan baru nanti mau berinisiatif untuk membuat sebuah kebijakan strategis, melaksanakan sebuah “Pilot Project” untuk mewujudkan industri hilirisasi aspal Buton dengan menggunakan gagasan re-industrialisasi ini. Dan “Pilot Project” ini akan merupakan sebagai acuan utama untuk mengembangkan re-industrialisasi sektor-sektor sumber daya alam yang lain.

Intinya, kalau pemerintah baru nanti benar-benar jujur dan tulus ingin berjuang dan mengabdi untuk kesejahteraan rakyat, maka pasti rakyat secara bergotong royong juga akan berjuang demi kemajuan bangsa dan negara. Di setiap kesulitan, selalu ada kemudahan. Kemudahan itu datangnya dari Allah SWT. Sejatinya, rakyat sudah tidak sabar lagi. Kapankah presiden baru akan mulai tulus berjuang untuk mewujudkan re-industrialisasi industri aspal Buton?.

 

Ikuti tulisan menarik Indŕato Sumantoro lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Terpopuler