x

image: iStock

Iklan

Supartono JW

Pengamat
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Kamis, 7 Desember 2023 06:39 WIB

Drama Orang-orang yang Maunya Dimengerti

Drama tentang orang-orang egois dan individualis, terus terjadi di negeri ini. Dari lapisan rakyat jelata, sampai pemimpin negeri. Perbuatan yang maunya dimengerti bahkan tidak kenal musim. Mengapa di negeri ini selalu kekeringan akan orang-orang yang rendah hati?

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Menjadi orang yang mengerti orang lain/pihak lain, mendeskripsikan adanya kompetensi keilmuan, pendidikan, keagamaan yang bersemayam . Berpadu, dipraktikkan dalam kehidupan. Tercermin dalam tindakan, sikap, serta perbuatan, karena kekayaan pikiran, kekayaan hati, dan kerendahan hati seseorang. (Supartono JW.06122023)

Egois

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Setiap orang yang telah berilmu, berpendidikan, taat beragama, kemudian kaya pikiran, kaya hati, berbudi, tahu diri, tahu berterima kasih, dan rendah hati, tentu akan dengan mudah dapat mengenali red flag dan toxic kepada orang lain. Sebaliknya, orang-orang telah berilmu, berpendidikan , namun kurang taat pada agama, masih miskin pikiran, miskin hati, miskin berbudi, tahu tahu diri, tidak tahu berterima kasih, dan tidak rendah hati, tentu belum mampu menyadari keberadaan dirinya sendiri. Bahkan akan dengan mudah dan enteng melakukan perbuatan dan tindakan red flag dan toxic kepada orang lain.

Red flag dan toxic

Secara harfiah, kata red flag berasal dari bahasa Inggris. Artinya bendera merah. Sementara dilansir dari laman Collins Dictionary, kata red flag adalah kata yang juga digunakan untuk menunjukkan kondisi berbahaya atau tanda bahwa sesuatu seharusnya dihentikan. Kata lainnya, istilah red flag dapat digunakan untuk menunjukkan sesuatu yang mencurigakan atau membahayakan. Sebab, red flag dapat berupa tanda-tanda atau indikator yang menunjukkan bahwa sesuatu tidak seperti yang diharapkan. Istilah ini sering digunakan dalam berbagai konteks, seperti dalam hubungan antar sesama manusia, pekerjaan, bisnis hingga politik.

Red flag juga sering digunakan untuk menunjukkan bahwa sesuatu tidak seperti yang seharusnya dalam bidang bisnis atau politik. Misalnya, red flag dapat mengacu pada kebijakan atau praktik yang tidak etis atau tidak sesuai dengan standar yang diterima secara umum. Bahkan hadirnya media sosial (medsos), membuat para netizen dan anak-anak muda menggunakan red flag sebagai bagian dari bahasa gaul. Kata red flag ini banyak digunakan khususnya dalam konteks hubungan antar sesama. Termasuk dalam konteks hubungan kekeluargaan dan percintaan.

Simpulnya, red flag adalah tanda bahaya atau kondisi yang tidak sehat, tidak beres, tidak kondusif, dll, dalam suatu hubungan. Seperti adanya sekadar memanfaatkan, maunya enak sendiri, maunya untung sendiri, pura-pura tidak tahu, tidak jujur, berbuat bohong dan berbohong, maunya hanya dimengert, posesif berlebihan, kecurigaan dan lain sebagainya. Karenanya, "hubungan/kekelurgaan/pekerjaan/bisnis" dll, sebaiknya diakhiri.

Senafas dengan red flag, toxic adalah sikap beracun yang ada pada orang-orang yang sudah ada bakat red flag. Meningkat dari perilaku negatif red flag, si toxic, biasanya memiliki kepribadian menyusahkan dan memberikan dampak negatif kepada orang sekitarnya serta yang menjalin "hubungan". Terkait toxic, sama seperti pengidap red flag, semua orang dapat berpotensi menjadi pribadi yang red flag dan toxic, begitu pun dengan diri kita sendiri. Juga dapat merujuk pada seseorang yang susah merasakan kebahagiaan, suka memandang orang lain miliki sifat yang buruk, hidupnya penuh dengan rasa curiga, suka mengeluh serta jarang merasakan kepuasaan. Tidak pandai bersyukur. Tidak pernah selesai dengan dirinya sendiri.

Siapa pun yang terjangkit red flag atau toxic, salah satu ciri yang mudah dicermati adalah bersikap, bertindak, berbuat, dan berperilaku egois, individualis, mementingkan diri sendiri. Mirisnya, karena sebab masih miskin pikiran dan miskin hati, banyak orang tidak menyadari kalau dirinya egois dan individualis dalam berinteraksi atau berhubungan dengan siapa pun, kapan pun, di mana pun, dalam konteks apa pun.

Selalu mau menang sendiri, mau enak sendiri, maunya mendominasi, tidak peduli, tidak punya simpati-empati, tidak tahu diri, tidak tahu berterima kasih, tidak tahu membalas budi. Parahnya, tidak pernah mau instrospeksi dan merefleksi diri. Tidak pernah mengucapkan meminta maaf, meski pun telah membuat masalah dan membuat kesalahan, tidak bertanggung jawab. Yah, orang-orang yang terjangkit red fleg dan toxic akan selalu maunya dimengerti, tetapi tidak mau mengerti. Tidak mau mengikuti aturan. Tidak bertanggung jawab. Maunya menentukan. Bertindak tanpa berpikir kemampuan dan perasaan orang lain. Maunya dituruti.

Drama tentang orang-orang yang maunya dimengerti alias orang-orang yang egois, individualis, terus terjadi di negeri ini. Dari lapisan rakyat jelata, sampai pemimpin negeri, terus berkolaborasi membikin polusi degradasi moral, terlebih di musim politik sekarang. Perbuatan yang maunya dimengerti bahkan tidak kenal musim. Padahal saat musim hujan, mustahil akan ada kasus kekeringan. Saat musim kemarau, mana mungkin ada banjir? Tetapi mengapa di negeri ini selalu kekeringan akan orang-orang yang rendah hati? Mengapa di negeri ini selalu banjir orang-orang yang maunya dimengerti?

 

Ikuti tulisan menarik Supartono JW lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Numerik

Oleh: Taufan S. Chandranegara

4 hari lalu

Terpopuler

Numerik

Oleh: Taufan S. Chandranegara

4 hari lalu